"Boleh pulang, Bu Hasna," kata dokter kandungan itu, menutup map dengan senyum yang akhirnya terlihat sungguh-sungguh. "Tensinya sudah dua hari di bawah 140. Tapi saya ulangi: istirahat total. Jangan angkat yang berat, jangan naik tangga berkali-kali, jangan menahan pikiran yang membuat dada sesak. Kontrol dua kali seminggu di sini."
"Boleh istirahatnya di luar Jakarta, Dok?" tanya Hasna.
Revan, yang berdiri di dekat jendela memegang tas berisi pakaian kotor, menoleh. Reffa di sisi ranjang tidak menoleh sama sekali. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan putrinya.
"Selama bisa ke sini tepat waktu dan ada yang menjaga, boleh. Di mana?"
"Bogor. Rumah Mama."
"Itu dua jam kalau macet, ya." Dokter menimbang. "Tidak apa-apa, asal dijaga dan tidak telat kontrol. Kalau ada pusing hebat atau pandangan kabur, jangan menunggu. Langsung ke rumah sakit terdekat."
Setelah dokter keluar, kamar itu menjadi sunyi lagi. Hasna duduk di tepi ranjang dengan kerudung abu-abu dan tas kecil di pangkuan. Ia memandang Revan, benar-benar memandang, bukan melewati seperti empat hari terakhir.
"Aku mau istirahat di Bogor," katanya. "Sama Bima. Setidaknya sebulan."
"Sebulan." Revan mengulang pelan.
"Aku tidak bisa tenang di rumah itu, Van. Bukan karena Fina jahat. Dia tidak pernah jahat." Hasna mengatakannya tanpa getir, dan justru itu yang membuat Revan terdiam. "Tapi aku lihat dia di dapur, aku lihat kamu lihat dia, dan tensiku naik sendiri. Aku mau satu bulan tanpa itu."
"Aku mengerti."
"Aku belum memilih apa pun, Van." Hasna menggenggam tali tasnya. "Aku cuma butuh udara. Aku punya syarat."
"Sebut saja."
"Datang kalau kamu mau lihat anakmu. Bima, dan ini." Ia menepuk perutnya. "Tapi tidak bersama dia."
Reffa akhirnya menoleh, matanya tajam menunggu reaksi Revan. Revan menunduk memikirkan kalimat itu, menimbangnya seperti menimbang barang yang berat dan berbahaya. Ia tidak suka. Ia tahu itu tidak adil bagi Fina. Tetapi ia juga tahu ini bukan waktunya melawan.
"Setuju," katanya. "Aku datang sendiri. Jumat, kalau kamu izinkan."
"Jumat jam empat. Mama yang atur."
Reffa mengangguk sekali, singkat, dan bahunya turun sedikit.
•||•
Mereka sampai di rumah menjelang pukul dua. Mobil Reffa mengikuti di belakang mobil Revan dan berhenti di depan pagar, mesin dibiarkan menyala. Bima sudah berdiri di teras dalam seragam sekolah yang sama dengan kemarin, menunggu sejak pagi dengan kaki menggoyang gelisah.
"Mama!"
Hasna turun pelan, berpegangan pintu mobil. Bima berlari tetapi berhenti satu langkah di depannya, mendadak ingat peringatan Mbak Marni agar tidak menabrak perut mamanya. Ia memeluk pinggang Hasna dengan sangat hati-hati, dan Hasna memejamkan mata dengan wajah yang selama empat hari tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Pak Ucup dan Mbak Marni mengangkat koper dari kamar atas ke bagasi mobil Reffa. Revan berdiri di ruang tengah, memperhatikan bayangan di tangga.
Fina berdiri di anak tangga ketiga, tangannya di pegangan, bergo abu-abu dan wajah pucat. Ia tidak turun. Ia menunggu sampai Hasna lewat di bawah, memegang lengan Reffa, dan Hasna berhenti satu detik di depan tangga. Mereka bertatapan, dua perempuan yang bertahun-tahun berbagi atap dan tidak pernah sekali pun benar-benar saling melihat.
"Fin," kata Hasna.
"Mbak."
Hanya itu. Hasna melanjutkan langkah, dan Reffa mendengus pelan ketika melewati Fina. Pintu depan terbuka dan menutup.
Revan melihat bahu Fina sedikit merosot.
"Aku nggak akan menahan Mas ke Bogor," katanya pelan, tanpa menoleh. "Mas boleh pergi tiap kali Mbak Hasna mengizinkan. Dia istri Mas, dan dia sedang mengandung anak Mas."
"Dia minta aku datang tidak bersama kamu."
"Aku sudah menduga." Fina tersenyum tipis. "Itu hak Mbak Hasna. Aku tidak berhak keberatan."
"Aku keberatan."
"Mas boleh keberatan. Tapi Mas tetap pergi sendiri." Fina menatapnya sekilas, lalu menunduk. "Mas bilang mau membuktikan. Mulai dengan hal-hal yang tidak enak."
Revan tidak sempat menjawab, karena dari halaman terdengar suara Bima memanggil.
Di bawah pohon mangga, dua anak laki-laki berdiri berhadapan dengan serius, seperti dua diplomat yang akan menandatangani perjanjian. Bima memegang piring kecil berisi kue kering bentuk bintang, dan ia mematahkan satu bintang tepat di tengah dengan sangat hati-hati.
"Setengah buat Mas."
Langga menerimanya. "Makasih, Bim."
"Nanti Bima pulang lagi," kata Bima. Suaranya naik turun, menahan sesuatu. "Mama bilang cuma sebulan. Tapi sebulan itu lama, ya, Mas?"
"Lama banget." Langga menatap lantai sebentar. Lalu ia mengeluarkan selembar kertas dari saku celana, dilipat empat, dan menyodorkannya. "Ini buat kamu. Buat dipajang di Bogor."
Bima membuka lipatannya. Di dalamnya ada dua anak laki-laki bergandengan tangan di depan rumah besar berpagar, yang satu berkacamata, yang satu bertopi, dan di atas mereka matahari yang tersenyum dengan pipi bulat.
Bima menatap gambar itu sampai matanya merah.
"Mas." Ia menelan ludah. "Jangan lupa pakai kacamata, ya."
"Iya."
"Jangan dilepas pas main bola. Nanti hilang."
"Iya, Bim."
Bima menoleh ke arah teras dan melihat Fina berdiri di ambang pintu. Tanpa pikir panjang ia berlari, memeluk perutnya erat-erat, dan membenamkan wajah di gamisnya. Fina menunduk dan menaruh tangan di punggung anak itu dengan lembut.
"Ibu, Bima pergi dulu."
"Iya, sayang. Jaga Mama Hasna dan adik bayinya, ya."
"Ibu juga jaga Mas Langga."
"Pasti."
"Bima!" Suara Reffa dari pagar, tertahan dan kaku. "Ayo, Nak."
Bima melepas pelukan, mengusap hidung dengan lengan baju, lalu berlari mengikuti neneknya.
Mobil Reffa berbelok di ujung jalan, dan Langga masih berdiri di bawah pohon mangga sambil menggenggam setengah bintang kue, menatap jalanan kosong lama sekali setelah debunya hilang.
•||•
Rumah terasa seperti ruangan yang baru dibuang isinya.
Revan berdiri di dapur menjelang magrib. Mbak Marni menyalakan lampu ruang makan lalu pergi, dan di meja hanya ada satu teko kecil berisi sisa teh hijau dari pagi kemarin. Tidak ada bunyi televisi. Tidak ada langkah kaki kecil di tangga. Ressie mengurung diri di kamar atas sejak mobil Reffa berangkat, dan Wira belum kembali dari Bandung.
Ia mengambil dua cangkir dari rak tanpa berpikir. Menuang air panas, memasukkan daun teh, menunggu warnanya berubah menjadi hijau pucat yang sudah ia hafal. Uap naik pelan.
Satu cangkir ia genggam sendiri. Satu lagi ia geser ke ujung meja, di dekat kursi yang biasa diduduki Fina, dan tidak ia sentuh.
Ia menyesap teh di tangannya, hangat dan sedikit pahit. Dari lantai atas terdengar pintu kamar Fina menutup pelan. Revan menunggu, sampai uap dari cangkir kedua habis, sampai teh itu dingin dan cangkirnya menjadi sekadar benda di atas meja yang tidak diminta siapa pun.