Cangkir teh hijau itu masih ada di ujung meja dapur ketika Revan turun pagi harinya. Dingin, warnanya sudah menggelap, dan permukaannya berkerut seperti kulit.
Fina berdiri membelakanginya di depan kukusan. Ia mengangkat cangkir itu, menghirup baunya, lalu menuangkan isinya ke wastafel tanpa komentar. Ia mencuci cangkirnya dua kali.
"Itu buat kamu," kata Revan akhirnya. "Kemarin."
"Aku tahu." Fina tidak menoleh. "Tapi tehnya sudah mati, Mas. Daun tehnya terlalu lama direndam, jadi pahit. Kalau mau menyeduh buat orang lain, jangan ditinggal."
"Orang lain itu kamu."
"Kalau begitu lain kali bilang. Aku turun."
Revan menelan jawabannya. Di meja sudah tersedia kotak kardus putih yang diikat pita tipis, dan dari kukusan keluar bau stroberi yang manis dan hangat. Fina mengangkat tutupnya, memeriksa bolu kecil di dalamnya dengan tusuk gigi.
"Ini buat Mbak Hasna," katanya. "Gulanya aku kurangi setengah, garamnya tidak kupakai sama sekali. Dokter bilang boleh asal sedikit. Aku sudah tanya Mbak Marni, Mbak Hasna dulu paling suka stroberi."
"Dia bilang tidak mau Mas datang bersama kamu."
"Aku tidak ikut, Mas. Cuma kuenya." Fina menutup kotak dan mengikat pitanya. "Jangan tulis namaku. Kalau ditanya, bilang saja dari dapur rumah. Kalau Tante Reffa melarang, itu urusan Mas."
Ia menyodorkan kotak itu dengan dua tangan. Revan menerimanya, dan jari mereka tidak bersentuhan. Ia sempat berpikir untuk bertanya apakah ini tidak melanggar syarat Hasna. Lalu ia sadar Fina sudah memikirkan itu, semalaman mungkin, dan memutuskan Revan yang menanggung akibatnya.
Itu pembuktian pertama. Tidak enak, dan tidak ada yang melihat.
Mereka sampai di Bogor menjelang pukul empat. Rumah Reffa berpagar hijau dengan halaman penuh pot bunga, dan Pak Ucup baru mematikan mesin ketika pintu rumah terbuka. Reffa berdiri di ambang dengan tangan terlipat. Di belakangnya Bima sudah berlari ke halaman.
"Papa!"
Revan berlutut dan menangkap anak itu. Bima memeluk lehernya erat, lalu mundur dan menatap kantong buah serta buku cerita bergambar di tangan Revan. "Ini buat Bima?"
"Buat Bima. Yang buah buat Mama."
"Oma Nenek, Papa bawa buku!" seru Bima, dan Reffa mengangguk sambil memanggil cucunya masuk untuk cuci tangan. Bima menghilang. Halaman tiba-tiba sepi.
"Ada aturan di rumah ini," kata Reffa. Suaranya rendah dan rapi, seperti orang yang sudah menyusun kalimat itu sejak kemarin. "Hasna butuh tenang. Tidak ada yang menyebut nama Fina. Tidak ada yang membawa kabarnya. Kamu paham?"
"Paham, Ma."
"Bagus." Reffa menatap kotak kardus di tangan Revan satu detik terlalu lama. "Dia di belakang. Tensinya tadi pagi 130. Jangan bikin naik."
•||•
Teras belakang menghadap kebun kecil berisi pohon jambu dan sebaris bunga kertas. Hasna duduk di kursi rotan dengan bantal di punggung dan selimut tipis di lutut. Wajahnya lebih kurus dari yang Revan ingat di rumah sakit, tulang pipinya terlihat, tetapi matanya jernih. Ia tidak lagi seperti orang yang menahan napas.
"Kamu tepat waktu," kata Hasna.
"Aku berangkat dari pagi."
"Duduk, Van."
Revan duduk di kursi sebelahnya dengan jarak satu lengan. Mereka sama-sama menatap kebun. Seekor burung kecil melompat di dahan jambu, lalu terbang.
"Aku lelah," kata Hasna tanpa menoleh. "Itu saja yang bisa kukatakan sekarang. Bukan marah. Bukan juga sudah memaafkan. Aku cuma mau tenang sebulan, dan kalau bisa tidak mikir sama sekali."
"Kamu boleh tidak mikir."
"Kamu pikir aku bisa?" Hasna tertawa kecil, pendek. "Tapi di sini lebih gampang. Di rumah itu aku bangun dan yang pertama kulihat adalah kamar di ujung lorong."
Revan tidak menjawab. Ia menaruh kotak kardus di meja rotan di antara mereka dan menggesernya sedikit ke arah Hasna.
"Apa itu?"
"Kue."
Hasna menatap pita tipis di tutupnya. Jari-jarinya bergerak ke simpul, ragu, lalu membuka kotak itu. Bau stroberi naik pelan. Ia diam lama sekali. Mata Revan tidak lepas dari wajahnya.
"Aturan Mama," kata Hasna akhirnya.
"Aku tahu."
"Kamu melanggarnya."
"Iya."
"Atas perintah siapa?"
"Tidak ada yang memerintah. Dia cuma bilang kalau ditanya, jawab dari dapur rumah." Revan menarik napas. "Aku nggak pandai berbohong lagi, Na. Aku sudah janji."
Hasna tidak menjawab. Ia menutup kotak, lalu meletakkannya di pangkuan di atas selimut, kedua tangan menumpu di tutupnya. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia tidak mengatakan apa pun tentang Fina. Tetapi ia tidak mengembalikan kotak itu, dan Revan memutuskan itu sudah merupakan jawaban.
"Papa."
Bima berdiri di pintu kaca, memeluk buku cerita barunya. Rambutnya basah karena dicuci tangan terlalu bersemangat. Ia melirik ke dalam rumah, ke kiri, ke kanan, lalu menyelinap keluar dan merapat ke sisi kursi Revan.
"Mama, Bima bawa Papa sebentar, ya. Cuma ke pohon."
"Lima menit," kata Hasna.
Bima menarik tangan Revan ke bawah pohon jambu dan merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan kertas lipat berisi gambar, yang di sudutnya ada noda krayon. Dua anak laki-laki bergandengan di depan rumah pagar hijau, yang satu bertopi, yang satu berkacamata, dan matahari di atas mereka punya dua mata.
"Buat Mas Langga," bisik Bima. "Bima gambar rumah Oma Nenek. Biar Mas tahu Bima di mana."
"Nanti Papa sampaikan."
Bima mengusap hidungnya. Lalu ia mendongak dan menanyakan sesuatu yang jelas sudah ia simpan sejak Rabu.
"Papa pilih siapa?"
Revan tidak bisa langsung bernapas. Anak kecil itu menatapnya tanpa berkedip, dan di mata itu tidak ada tuduhan, hanya kebutuhan untuk tahu.
Ia berlutut. "Papa tidak bisa jawab itu seperti kamu tanyakan, Bim. Yang bisa Papa janjikan, Papa pilih jadi Papa yang benar buat kalian berdua. Buat kamu dan buat Mas Langga. Itu Papa janji, dan Papa tidak akan bohong."
"Dua-duanya?"
"Dua-duanya."
Bima mengangguk, serius, seperti orang yang sedang mencatat. Lalu ia berlari kembali ke teras.
•||•
Revan pamit menjelang magrib. Hasna sudah masuk ke kamar, kue di tangannya, dan hanya mengangkat dua jari dari balik pintu kaca.
Pak Ucup sudah menunggu di dekat mobil. Revan hendak membuka pintu ketika Reffa muncul dari teras samping dan berhenti di sebelahnya. Perempuan itu tidak membawa apa pun, dan justru karena itu Revan merasa harus berhati-hati.
"Kotak tadi," kata Reffa. "Mama lihat."
"Ma, aku..."
"Mama tidak akan melarang. Hasna menyimpannya, itu cukup." Reffa menatap lampu jalan yang mulai menyala. "Tapi Mama mau tanya satu hal, dan kamu jangan pura-pura bodoh."
Revan menunggu.
"Dimas sering ke sini. Anak itu setia sekali. Dua kali dalam dua hari, bawa roti, bawa buah, tidak minta apa-apa." Reffa menoleh. "Kamu tahu kenapa?"
Revan memegang pintu mobil lebih erat. Di seberang jalan seorang pedagang mulai menurunkan tenda.
"Dimas sahabatku, Ma."
"Sahabat tidak membawa bubur tanpa kecap." Reffa membuka pintu rumahnya sedikit. "Hasna itu anak Mama. Mama tahu siapa yang datang waktu anak Mama butuh, dan siapa yang datang waktu sempat. Hati-hati, Van."
Pintu menutup. Revan berdiri di sana sampai Pak Ucup berdeham dan bertanya apakah mereka berangkat.