Kotak kardus putih itu tergeletak di meja kamar, tutupnya terbuka, bolu stroberinya tinggal separuh.
Hasna menatapnya dari tepi ranjang. Dua hari ia mengunyah potongan demi potongan, kecil-kecil, seperti sedang melakukan sesuatu yang dilarang. Rasanya pas. Manis yang tidak menusuk, lembut, dan ia tahu persis siapa yang menakar gulanya setengah. Ia membencinya, dan ia tidak berhenti makan.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Reffa masuk membawa nampan berisi nasi tim dan segelas air jahe.
"Sarapan."
"Ma, aku bisa turun."
"Tensi 130 belum boleh turun tangga bolak-balik." Reffa menaruh nampan, melirik kotak kue, dan tidak bertanya apa pun. Itu cara Reffa menunjukkan bahwa ia melihat semuanya. "Dimas telepon. Jam sepuluh dia sampai."
Hasna menyendok nasinya pelan. "Dia kemarin juga ke sini."
"Itu yang Mama bilang ke Revan." Reffa duduk di kursi rias. "Dua tahun kamu SMA dia yang antar jemput kamu. Mama kira dulu kalian kakak-adik. Mama baru paham waktu resepsi kamu menikah, saat Dimas berdiri paling belakang di pelaminan dengan wajah orang yang menahan batuk."
Sendok Hasna berhenti. "Mama nggak pernah bilang."
"Mama bukan orang yang membuka luka orang lain. Tapi sekarang kamu sendirian, dan ada laki-laki yang datang tiap kali kamu jatuh." Reffa menatap putrinya lurus. "Tanya dia sendiri, sayang. Jangan menebak. Menebak itu yang bikin kamu salah menikah."
"Mama kok jadi bijak sekali pagi ini."
"Mama sudah lama bijak. Kamu yang tidak pernah mau dengar." Reffa berdiri, merapikan taplak meja yang tidak miring. Tangannya sedikit gemetar. "Mama tidak mau lihat kamu menangis lagi di kamar mandi, Hasna. Cukup sekali, waktu kamu kelas tiga dulu. Mama tidak tahu kenapa waktu itu, dan sekarang Mama tidak mau tidak tahu lagi."
Hasna tidak menjawab. Tapi setelah Reffa keluar, ia menaruh sendoknya dan menatap cermin kecil di dinding. Wajah yang menatap balik tampak asing: pucat, rambut tak tersisir, mata yang terlalu lama tidak diberi tidur.
Ia menyisir rambutnya sebelum jam sepuluh.
•||•
Dimas datang membawa roti isi cokelat dari toko langganan di Jakarta, masih hangat dalam kantong kertas cokelat. Reffa menyambutnya di pintu, mengambil kantong itu dan berkata bahwa ia perlu ke warung. Itu alasan terburuk yang pernah Hasna dengar, dan ia nyaris tertawa.
"Ke kebun saja," kata Hasna. "Aku boleh duduk di sana, dokter bilang boleh."
Mereka berjalan pelan. Dimas menyodorkan lengan, Hasna tidak mengambilnya, tapi ia berjalan cukup dekat sampai ujung kerudungnya menyentuh lengan baju Dimas. Di bawah pohon jambu ada bangku kayu yang catnya mengelupas. Mereka duduk dengan satu jengkal di antara mereka.
Hasna sudah menyiapkan kalimat ini sejak pagi, dan ternyata semuanya hilang.
"Dim."
"Hm?"
"Mama bilang kamu suka aku sejak SMA."
Dimas tidak menoleh. Rahangnya bergerak sekali. Dari balik pagar terdengar suara motor lewat, lalu hilang.
"Benar?" desak Hasna.
"Benar."
Satu kata, dan Hasna merasa lantai kebun bergeser di bawah kakinya. Ia sudah tahu jawabannya. Ia tahu sejak Reffa duduk di kursi rias itu. Tapi mendengarnya diucapkan sendiri, tanpa dibungkus apa pun, rasanya lain.
"Sejak kapan persisnya?"
"Kelas dua. Waktu kamu menangis di tangga belakang kantin karena nilai kimia." Dimas menatap tangannya. "Revan lewat, kamu pura-pura nggak nangis. Aku lihat kamu pura-pura, dan aku nggak bisa lupa."
"Dan Revan?"
"Revan sahabat aku. Kamu pilih dia." Dimas menarik napas. "Aku nggak minta apa-apa, Na. Aku nggak minta kamu berhenti sama dia, nggak minta kamu pilih aku. Aku cuma nggak mau kamu sendirian waktu jatuh. Itu saja."
"Kamu nggak minta apa-apa?" Suara Hasna naik setengah nada. "Kamu duduk di pernikahanku. Kamu lihat anakku lahir. Kamu bawa bubur waktu aku mau pecah, dan kamu nggak bilang apa-apa selama ini, Dim. Selama ini."
"Aku nggak mau jadi alasan kamu bertahan atau pergi." Dimas akhirnya menoleh, dan matanya merah tapi tegas. "Kalau kamu bertahan, aku mau itu karena kamu mau. Kalau kamu pergi, aku mau itu karena kamu siap. Bukan karena ada aku di ujungnya."
Hasna bangkit dari bangku. Terlalu cepat, kepalanya berputar sedetik. Dimas ikut berdiri, tangannya setengah terulur, lalu berhenti di udara dan turun lagi.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Aku nggak bilang." Dimas menggeleng. "Mamamu yang bilang. Aku masih berencana membawa ini sampai mati."
"Itu bodoh."
"Iya."
"Itu bodoh banget." Hasna mengusap wajah dengan kedua tangan. Ia marah. Ia marah pada Dimas yang diam begitu lama, pada dirinya yang tidak pernah menoleh ke belakang pelaminan, pada Revan yang punya sahabat sebaik ini dan tetap menyia-nyiakan istrinya. Dan di tengah semua itu ada sesuatu yang lain, yang tidak ia sebut: lega, seperti orang yang akhirnya diberi nama untuk penyakit yang lama ia derita.
Lalu ia menggeleng sambil menahan senyum yang tidak ia izinkan muncul.
"Dua laki-laki yang mencintaiku," katanya. "Satu lupa caranya, satu nggak berani bilang. Hebat, ya aku."
"Na..."
"Jangan." Hasna mengangkat tangan. Ia berdiri beberapa saat menatap daun jambu yang bergoyang, lalu berbalik. "Aku nggak janji apa-apa, Dim. Aku bahkan belum tahu aku sedang apa."
"Aku nggak minta janji."
"Aku tahu. Itu yang bikin kamu menyebalkan."
Dimas hampir tersenyum. Mereka duduk lagi, kali ini lebih dekat. Roti cokelat dibuka dan dimakan setengah-setengah, tanpa banyak bicara. Burung kecil kembali ke dahan.
•||•
Menjelang siang Reffa kembali dari warung dengan tangan kosong. Ia melihat dua orang di bawah pohon dan memutuskan jemuran harus diangkat. Padahal tidak ada jemuran.
Dari teras Bima muncul dengan buku cerita di dada dan berhenti di ujung kebun, ragu mendekat. Ia menatap mamanya, lalu Dimas, lalu roti di tangan mereka.
"Om Dimas, Bima boleh minta rotinya?"
"Boleh, Jagoan. Yang cokelat masih ada satu di kantong."
Bima menerimanya dengan dua tangan, berterima kasih dengan sopan yang mengejutkan, dan kembali berlari ke dalam. Hasna melihat anak itu menoleh dua kali dari ambang pintu, seperti memastikan Om Dimas dan Mama masih duduk di tempat yang sama. Dadanya mengencang. Anaknya sudah belajar mengintip, belajar mengawasi siapa yang datang dan siapa yang pergi, dan itu bukan pelajaran yang ia inginkan untuk Bima.
Hasna memperhatikan punggung ibunya dari bangku, lalu menoleh ke Dimas. Ada satu pikiran yang sejak tadi berputar, dan ia tidak yakin itu pikiran yang sehat.
"Besok Senin kontrol, kan?" katanya.
"Jam sepuluh. Aku sudah tanya jadwalnya ke Revan."
"Aku mau pulang besok."
Dimas menatapnya. "Ke Jakarta? Dokter bilang..."
"Dokter bilang boleh asal kontrol. Kontrolnya di Jakarta." Hasna merapikan ujung kerudung dengan jari yang tidak benar-benar tenang. "Aku mau lihat rumahku sendiri, Dim. Aku mau lihat dia."
"Dia siapa?"
"Dua-duanya." Hasna menatap lurus ke depan. "Antar aku ke Jakarta besok. Aku mau Revan lihat."
Dimas tidak bertanya lihat apa. Ia hanya mengangguk perlahan, dan Hasna tahu, dari cara ia menelan ludah, bahwa laki-laki itu mengerti persis apa yang sedang dipertaruhkan, dan tetap bersedia ikut.