"Kamu yakin?" tanya Dimas.
Mobilnya berhenti di seberang toko kue, di bawah pohon trembesi yang daunnya berguguran ke kap mesin. Hasna menurunkan kaca spion kecil di sisi penumpang dan merapikan kerudung biru mudanya. Hasil kontrol tadi pagi masih ada di tasnya: tensi 132, bengkak berkurang, dokter bilang ia boleh beristirahat di mana saja asal tenang dan kembali kontrol Kamis. Koper kecilnya ada di bagasi, dan belum ada yang tahu ia berniat menginap di rumah malam ini. Tidak satu pun dari itu alasan yang cukup untuk menyeberang jalan dan masuk ke toko perempuan yang sejak lama ia anggap saingan. Sepanjang jalan dari Bogor ia sudah mengulang kalimat-kalimatnya dalam hati, dan tiap kali kalimat itu terdengar lebih kecil dari yang ia butuhkan.
"Tidak," jawab Hasna jujur. "Tapi aku sudah di sini."
"Kita bisa pulang."
"Dim." Hasna menoleh. "Kalau aku pulang sekarang, aku akan mikirin ini seminggu. Aku lebih suka mikirin setelah tahu."
Dimas diam, lalu membuka pintu dan berputar membukakan pintu untuknya. Ia tidak mengulurkan lengan, hanya menunggu. Hasna menarik napas, mengambil lengan itu sendiri, dan menyeberang jalan dengan langkah yang disengaja pelan.
Lonceng kecil di pintu toko berdenting.
•||•
Revan sedang mengikat kardus kue pesanan ketika lonceng itu berbunyi, dan ia mengangkat wajah dengan senyum untuk pelanggan. Senyumnya bertahan satu detik.
Hasna berdiri di ambang pintu, bergandengan dengan lengan Dimas. Kerudungnya rapi, bibirnya diberi warna, dan ia tersenyum cerah seperti iklan. Revan sudah lama serumah dengan perempuan itu. Ia tahu persis kapan senyum Hasna sungguhan dan kapan sedang dipakai.
Ia sempat memberi tahu lewat pesan bahwa pagi ini ia di toko menemani Fina. Ia tidak menyangka Hasna benar-benar datang.
"Pagi," kata Hasna ringan. "Aku mau beli kue."
"Mbak Hasna!" Pita muncul dari balik rak roti dengan celemek berbedak tepung. Matanya membesar, melirik lengan Hasna di lengan Dimas, lalu ke Revan, lalu kembali ke lengan itu. Ia merunduk ke Fina yang sedang menata etalase dan berbisik, cukup keras untuk didengar seluruh toko. "Mbak Fin, itu bukan Bos Revan."
"Pita," kata Fina pelan.
"Iya, Mbak. Saya ke belakang."
Fina menegakkan tubuh. Bergonya abu-abu dan wajahnya agak pucat di bawah lampu toko, tetapi suaranya tenang. "Silakan masuk, Mbak Hasna. Mau duduk? Ada kursi di pojok."
"Nanti." Hasna melenggang ke etalase, menarik Dimas bersamanya. "Yang ini apa?"
"Bolu stroberi. Yang kemarin."
"Aku mau dua. Satu untukku, satu untuk..." Hasna menoleh pada Dimas dengan tatapan yang terlalu lembut. "Sayang, kamu mau yang mana? Cokelat atau keju?"
Dimas, yang tidak pernah dipanggil begitu dalam hidupnya, tidak bergerak sama sekali. Rahangnya mengeras. "Terserah."
"Dia bilang terserah," kata Hasna kepada Fina, riang. "Dua-duanya saja, Fin. Tolong dibungkus yang cantik."
"Baik, Mbak."
Fina mengambil dua kotak dan menalinya dengan pita tanpa tergesa. Tangannya mantap, tidak ada gemetar, tidak ada tatapan yang diarahkan ke Revan untuk meminta pertolongan. Ia menyerahkan kotak itu dengan dua tangan, sama seperti ia menyerahkan kotak kardus kepada Revan di dapur hari Jumat, dan berkata, "Gulanya sudah kukurangi, Mbak. Yang untuk Mas Dimas juga."
Hasna menerimanya dan, sesaat, tidak tahu harus berkata apa.
Revan menaruh gunting. Ia memperhatikan sandiwara itu dari balik meja kasir dan, anehnya, tidak merasakan apa pun yang seharusnya ia rasakan. Tidak ada panas di dada, tidak ada dorongan menarik tangan Hasna dari lengan Dimas. Yang ia lihat hanya wajah Hasna di bawah warna bibirnya: kantong di bawah mata, dagu yang lebih runcing, dan jari-jari yang menggenggam lengan Dimas terlalu kencang, buku-bukunya pucat.
Ia keluar dari balik kasir.
"Na."
"Hm?"
"Kamu sudah makan?" Revan mengambil kursi lipat dari sudut dan menaruhnya di belakang Hasna. "Duduk. Tensimu tadi berapa? Dokter bilang apa? Kamu nggak boleh berdiri lama."
Hasna berkedip. Hanya itu yang ia dapat dari Revan, pertanyaan yang sama persis yang ia dengar tiga puluh kali dari perawat. "Kamu..."
"Dimas." Revan menatap sahabatnya. "Makasih sudah antar. Aku tahu itu jauh dari Bogor."
"Gampang," jawab Dimas pendek.
Hasna menarik tangannya dari lengan Dimas, perlahan, dan duduk di kursi lipat itu. Suaranya turun satu oktaf, sudah tanpa nada iklan.
"Kamu nggak cemburu?"
Pertanyaan itu jatuh di tengah toko seperti piring pecah. Fina menunduk, merapikan kotak yang sudah rapi. Di balik pintu dapur ada suara panci dipindah, jelas Pita menguping.
Revan berlutut agar sejajar dengan matanya. "Aku senang ada orang yang menjagamu, Na. Beneran. Aku senang kamu nggak sendirian."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang jujur."
Hasna menatapnya lama. Lalu bahunya mulai bergetar dan ia menutup mulut dengan punggung tangan, sama seperti waktu di rumah sakit. Ia menunduk, bangkit tiba-tiba, menyambar tasnya, dan berjalan keluar tanpa menoleh. Lonceng berdenting di belakangnya.
•||•
Trotoar di depan toko panas dan berbau knalpot. Hasna berdiri bersandar pada tiang listrik, matanya dipejamkan, bernapas melalui hidung seperti yang diajarkan perawat.
Langkah Dimas berhenti satu meter darinya.
"Mau minum?"
"Aku mau marah," kata Hasna. "Aku mau marah, tapi nggak bisa. Dia nggak cemburu, Dim. Dia malah nanya tensiku."
"Iya."
"Dulu waktu aku ngobrol sama klien laki-laki di pesta, dia diam seminggu. Sekarang aku gandeng kamu di depan istrinya, dan dia ambilkan kursi." Hasna tertawa sedih. "Berarti aku memang sudah selesai buat dia."
"Na."
"Jangan bilang itu nggak benar."
Sebuah ojek lewat dengan penumpang membawa balon. Di seberang, penjual gorengan mengipas arangnya tanpa peduli ada perempuan hamil yang hampir runtuh di bawah tiang listrik.
"Aku nggak mau bilang apa-apa." Dimas menarik napas, dan nadanya berubah, tidak keras, tetapi ada tepi di dalamnya. "Tapi aku mau kamu tahu satu hal. Tadi aku nggak keberatan kamu pegang lengan aku. Aku keberatan jadi alat."
Hasna membuka mata.
"Aku bukan alat, Na. Kalau kamu mau bikin dia cemburu, kamu bisa bayar orang lain. Aku datang ke sini karena kamu minta, tapi aku nggak mau dipakai untuk membuktikan sesuatu yang sudah kamu tahu jawabannya."
Kata-kata itu tidak dilontarkan dengan marah. Justru karena itu menusuk. Hasna merasakan pipinya panas, dan ia mau membantah, tetapi tidak ada bantahan yang jujur.
"Maaf," katanya akhirnya, sangat pelan.
"Aku nggak minta maaf."
"Aku tahu. Itu bagian paling menyebalkan dari kamu." Hasna mengusap sudut matanya dengan ujung jari supaya warna bibirnya tidak pindah. Ia menegakkan punggung. "Tunggu di mobil. Aku masuk lagi."
"Mau ngapain?"
"Ada yang harus kukatakan. Bukan buat Revan." Hasna mengangkat dagu. "Aku sudah menonton sandiwara ini cukup lama."
Lonceng kembali berdenting. Toko sudah sepi dari suara, hanya Revan berdiri kaku di belakang kasir dan Fina di balik etalase dengan tangan di atas kaca. Hasna melewati Revan tanpa memandang, berhenti tepat di depan Fina, dan menatapnya langsung. Fina balas menatap, tidak mundur, tidak menunduk.
"Fina," kata Hasna. "Aku mau bicara. Sekarang."