Toko kue itu hening. Bahkan kipas angin di sudut langit-langit seperti berputar lebih pelan.
Hasna menunggu jawaban dengan tangan mengepal di sisi tubuh. Ia sudah siap pada banyak kemungkinan: Fina membentak, Fina menangis, Fina meminta Revan membelanya. Ia tidak siap pada apa yang terjadi, yaitu Fina menutup etalase kaca dengan satu tangan, merapikan ujung bergonya, dan berkata dengan nada yang sama seperti menawarkan kue.
"Bukan di sini, Mbak."
"Kenapa?"
"Pita menguping dari balik pintu dapur sejak tadi, dan sebentar lagi jam makan siang." Fina tersenyum tipis, nyaris tak kelihatan. "Mbak baru dari dokter. Mbak harus duduk, bukan berdiri di depan etalase. Malam ini di rumah saja. Di ayunan belakang, setelah anak-anak tidur."
"Aku belum yakin mau pulang ke rumah itu."
"Mbak Hasna." Fina menatapnya lurus. "Itu rumah Mbak juga."
Kalimat itu sederhana dan nyaris tanpa tekanan, dan karena itulah Hasna terdiam. Dari ujung matanya ia melihat Revan, yang berdiri membeku di dekat kasir dengan mulut terbuka setengah.
"Fin, aku..."
"Mas, pesanan kardus itu belum diikat," kata Fina tanpa menoleh. "Tolong ya."
Revan menutup mulut dan kembali ke kardusnya. Hasna memperhatikan itu dengan perasaan yang aneh: Fina tidak memerintah Revan, ia hanya memberinya pekerjaan supaya ia tidak ikut campur, dan Revan menurut. Bertahun-tahun Hasna menyaksikan Revan tak pernah menurut kepada siapa pun kecuali ibunya. Ia melihat Dimas melalui kaca pintu, bersandar di mobil dengan tangan di saku.
"Baik," kata Hasna. "Malam ini."
Ia mengambil dua kotak kue yang tadi ia pesan, meninggalkan uang di atas kaca, dan melangkah keluar tanpa menunggu kembalian.
•||•
Pukul sepuluh malam rumah itu sudah gelap kecuali satu lampu teras. Fina menunggu di ayunan gantung di taman belakang, dengan selimut tipis di bahu dan dua cangkir wedang jahe di meja kayu kecil di sampingnya. Cangkir yang satu ia taruh di sisi yang kosong.
Revan sudah tidur di sofa kamar Langga setelah menemani anak itu membaca. Fina sengaja tidak membangunkannya. Ia mendengar pintu kaca bergeser pelan, lalu langkah kaki yang berhenti agak jauh di belakangnya.
"Aku nggak minta ini," kata Hasna.
"Aku tahu, Mbak. Tapi tadi Mbak bilang mau bicara."
Hasna datang dan duduk di ujung ayunan yang lain, menjaga jarak setengah meter. Ayunan itu berderit ketika bobotnya turun. Ia mengenakan kardigan abu-abu dan memegang perutnya dengan satu tangan, seperti ia lakukan tanpa sadar sejak lama. Mereka sama-sama diam, memandang kolam renang yang airnya kelam dan memantulkan lampu.
"Kamu menang," kata Hasna.
"Tidak ada yang menang, Mbak."
"Jangan pura-pura rendah hati, Fin. Aku lihat sendiri hari ini. Dia ambilkan kursi buatku, dia tanya tensiku, dan dia sama sekali nggak lihat aku." Suara Hasna tidak keras. Ia lebih terdengar seperti menyebut hasil hitungan yang sudah dicek berulang. "Kamu nggak perlu berbuat apa-apa. Dia memilih kamu."
Fina menggenggam cangkirnya. Wedang jahe itu hangat di telapak, dan ia memikirkan kalimat berikutnya dengan hati-hati. "Mas Revan belum memilih siapa pun, Mbak. Dia sendiri bilang menunggu bayi lahir."
"Itu cuma sopan santun."
"Mungkin." Fina tidak membantah. "Tapi bayi itu bukan sopan santun."
Hasna menoleh. Matanya di bawah lampu teras tampak sembap. "Aku capek, Fin. Aku bahkan nggak punya tenaga untuk membencimu. Padahal aku sudah berusaha dari tadi siang."
Itu bukan permintaan maaf. Fina tahu persis, dan Hasna juga. Tapi pengakuan itu keluar dengan suara yang jujur, dan Fina merasa ia tidak punya hak untuk membalas dengan yang kurang dari jujur.
"Aku membenci Mbak," katanya.
Hasna terdiam.
"Tiga tahun pertama. Waktu Mbak datang ke rumah ini dengan koper pink dan Revan membawakannya naik tangga." Fina menunduk menatap cangkir. "Tiap Mbak tertawa di ruang tengah, aku di kamar menutup telinga. Aku berdoa supaya Allah menghapus rasa itu, dan lama sekali doaku nggak dijawab. Lalu suatu pagi aku sadar aku capek. Capek benci. Ternyata itu lebih berat daripada capek dimadu."
"Kenapa kamu cerita ini?"
"Karena Mbak bilang nggak punya tenaga. Aku mau Mbak tahu Mbak nggak sendirian di situ."
Ayunan bergoyang pelan oleh angin. Di rumah tetangga terdengar televisi, lalu mati. Hasna menggigit bibir bawah, memandang kolam. Ia ingin mengatakan sesuatu yang tajam dan tidak menemukannya.
"Aku nggak mau melahirkan di rumah Mama," katanya akhirnya. Lebih pelan dari semua kalimat sebelumnya. "Rumah Mama bagus, dekat, Mama baik. Tapi di sana aku tamu. Anakku harus lahir di rumah ayahnya. Ini rumahku juga, Fin."
"Ini rumah Mbak juga."
"Walau ada kamu di dalamnya?"
"Walau ada aku," kata Fina. "Aku nggak akan mengusir Mbak dari rumah ini. Aku nggak punya hak, dan aku nggak mau."
Hasna mengembuskan napas panjang, dan bahunya turun. Di depan mereka sebuah daun jatuh ke kolam, menimbulkan lingkaran kecil yang melebar lalu hilang.
"Gencatan," kata Hasna. Ia mengucapkannya seperti kata asing. "Bukan damai. Aku belum bisa. Aku masih ingat kamu berdiri di tangga waktu aku pergi ke Bogor. Kamu bilang cuma 'Mbak', padahal kamu yang sakit. Aku belum maafkan caramu menyimpan itu dari aku."
"Aku nggak minta dimaafkan."
"Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang menyerang perempuan kurus yang kepalanya botak." Hasna memalingkan wajah. "Jadi gencatan. Aku tinggal di sini sampai anakku lahir. Kamu tinggal di sini. Kita nggak saling menusuk."
"Aku setuju."
Hasna terdiam sebentar. Tangannya bergerak di atas perut, pelan. "Kemo itu sakit?"
Fina tidak menduga pertanyaan itu. "Bukan sakit yang seperti luka, Mbak. Lebih seperti tubuh lupa caranya jadi dirinya sendiri. Mual, lemas, kadang aku lupa kata paling gampang." Ia menimbang. "Tapi yang paling sakit itu pas Langga lihat aku muntah, dan dia pura-pura nggak lihat."
"Anak itu..." Hasna tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menelan ludah. "Aku takut, Fin. Melahirkan, tensiku, semua. Aku nggak pernah takut sebelum ini."
"Mbak boleh takut."
"Kamu takut juga?"
"Setiap malam," jawab Fina jujur. "Tapi aku sholat dulu, baru takut."
Hasna mengangguk kecil. Hanya itu, dan tidak ada yang menambahkan apa-apa.
"Dan makananmu enak," kata Hasna datar, seakan menuntut agar kalimat itu tidak dicatat. "Bolu itu. Aku makan semuanya."
Fina tersenyum, kali ini sungguhan. "Aku tahu. Tadi sore Mbak Marni lapor, kotaknya kosong waktu ia membereskan koper Mbak."
"Kurang ajar si Marni."
Mereka tidak tertawa, tetapi udara di antara mereka berubah sedikit. Hasna menegakkan tubuh, mengambil cangkir wedang jahe yang tersedia di sampingnya, dan menyesapnya dengan wajah masam. "Ini pedas."
"Gulanya sudah kukurangi."
"Dasar."
Hasna memegang cangkir itu lama sebelum bicara lagi, dan ketika bicara, ia tidak menatap Fina.
"Satu hal lagi."
"Ya, Mbak?"
"Jangan bilang Revan kita bicara." Ia berdiri, menarik kardigannya rapat. "Aku nggak mau dia mengira ini sesuatu yang dia berhak tahu. Ini urusan kita berdua."