Revan menyadari ada sesuatu yang berbeda sebelum ia sempat menyebut apa itu.
Hasna sudah kembali ke kamar mereka sejak Senin malam. Ia tidur sendiri di sisi ranjang yang paling jauh dari pintu, dan pagi harinya turun ke ruang makan dengan kardigan abu-abu dan muka bantal, seolah ia tidak pernah pergi ke Bogor. Revan tidak bertanya kenapa ia pulang. Ia hanya menaruh segelas air hangat di dekat tangannya, dan Hasna meminumnya tanpa bicara.
Selasa berlalu seperti itu; sorenya Reffa menyusul dari Bogor dengan koper kecil. Rabu pagi, ruang makan sudah dipenuhi dua perempuan yang menolak mengalah.
"Santannya ditinggal saja," kata Reffa. Ia berdiri di depan kompor dengan celemek bunga-bunga, memotong sayur sop dengan kecepatan orang yang sedang membuktikan sesuatu. "Hasna harus rendah garam, rendah lemak. Mama bawa resep dari dokter di Bogor."
"Hasna menantu saya," balas Ressie dari ujung meja. Ia duduk tegak dengan teh melati di depannya, baru turun dari kamar atas setelah dua hari mengurung diri. "Saya sudah merawat tiga orang hamil dalam keluarga ini. Saya tahu pantangan yang betul."
"Tiga? Yang mana saja?"
"Saya sendiri, dua kali, dan sepupu Wira."
"Dua kali," ulang Reffa. "Satu bayinya tidak sempat pulang, ya."
Ruang makan hening. Revan menegang di pintu. Ressie tidak berkedip, tetapi jemarinya di gagang cangkir memutih, dan Reffa menyadari kalimatnya terlalu jauh sedetik terlambat. Mulutnya terbuka untuk meminta maaf, lalu ia menutupnya lagi karena gengsi.
"Cukup."
Hasna berdiri di ambang tangga dengan satu tangan di pegangan. Suaranya tidak tinggi, tetapi dua perempuan itu menoleh serentak seperti anak sekolah.
"Cukup, Ma. Mama berdua." Hasna menatap ibunya, lalu ibu mertuanya. "Aku nggak mau jadi hadiah yang diperebutkan. Mama Reffa masak untukku, Mama Ressie temani aku kontrol. Aku butuh kalian berdua, dan aku nggak butuh kalian saling menusuk di meja makan."
"Hasna, Mama cuma..."
"Aku tahu."
Reffa menunduk, mengambil pisau kembali. Ressie meluruskan taplak yang tidak kusut. Tidak ada yang meminta maaf, tetapi ketika Hasna duduk, Ressie menggeser piring buah ke arahnya dan Reffa menaruh semangkuk sop di depannya, dan keduanya berpura-pura tidak saling melihat.
Revan memandang Hasna. Ia tidak pernah mendengar suara itu sebelumnya. Itu suara perempuan yang akhirnya berhenti meminta perlindungan.
•||•
Menjelang sore Revan turun mengambil kopi dan berhenti di ambang dapur.
Dua perempuan berdiri berdampingan di depan kompor. Hasna memegang sendok kayu, mengaduk panci kecil, dan Fina memotong daun bawang di talenan dengan gerakan teratur. Mereka tidak bercakap dan tidak saling menatap. Tapi ketika Hasna mengulurkan tangan ke rak bumbu, Fina menggeser garam ke arahnya tanpa diminta. Ketika Fina mencari sendok, Hasna sudah menyodorkan satu.
"Terlalu cair," kata Hasna.
"Tambah berasnya sedikit."
"Aku tahu."
"Aku cuma bilang."
Hasna mendengus. Tapi ia menambahkan beras. Beberapa menit kemudian ia mencicipi dari ujung sendok, menyipitkan mata, lalu tanpa suara menyodorkan sendok yang sama ke arah Fina. Fina menyesap sedikit. Mereka bertukar pandang sebentar seperti dua juri yang tidak sepakat tetapi tidak mau berdebat.
"Kurang jahe," kata Fina.
"Itu bubur, bukan wedang."
"Tapi kurang."
"Ya sudah, ambil sendiri."
Fina mengambil jahe dari kulkas, mengupasnya, dan memarutnya di atas panci Hasna. Hasna membiarkan, bahkan menggeser panci agar lebih dekat ke tangannya. Revan memandang kedua punggung itu dan merasakan sesuatu yang rumit bergerak di dadanya: lega, karena dua orang yang selama ini hanya bertemu di tangga kini berada di ruang yang sama dan tidak ada yang berdarah. Dan gelisah, karena keakraban semacam itu tidak pernah ia usahakan. Ia tidak berhak atasnya. Ia melihatnya seperti penonton di luar kaca.
Ia ingin bertanya apa yang terjadi malam itu. Hasna pulang tanpa memberi tahu, dan Fina pagi harinya tersenyum lebih tenang. Tetapi Hasna melihat ke arahnya, sekilas, dan menggeleng nyaris tak kelihatan. Fina juga tidak menoleh. Revan menelan pertanyaannya dan mengambil cangkir kopinya tanpa suara.
Bunyi mesin mobil berhenti di halaman.
"Tamu," kata Mbak Marni dari lorong. "Bapak besar, Pak."
•||•
Wira turun dari mobil dengan tongkat di tangan kiri, jaket tipis, dan wajah yang terlalu lelah untuk orang yang hanya menempuh perjalanan beberapa jam. Ia memeluk Revan sebentar, menepuk bahunya, dan langsung bertanya di mana Fina.
"Di dapur, Pa. Bersama Hasna."
"Papa mau bicara. Berdua saja."
"Kakek!"
Langga berlari dari pintu depan dengan tas sekolah memantul di punggung dan kacamata yang bergeser di hidung. Ia berhenti satu langkah di depan Wira, mendongak, dan mengetuk gagang kacamatanya dengan bangga.
"Lihat, Kek. Langga bisa lihat daun di pohon mangga satu-satu. Kemarin Langga hitung, ada tiga puluh tujuh di dahan yang paling bawah."
Wira berlutut dengan susah payah, tongkatnya bergeser, dan memegang kedua bahu cucunya. Matanya naik turun di wajah anak itu, di bingkai kacamata, di hidung yang mirip hidung Revan. "Bagus sekali, sayang."
"Kakek kok nangis?"
"Kakek kelilipan." Wira tertawa kecil, mengusap mata dengan punggung tangan. "Nanti Kakek lihat gambar daunmu. Sekarang Kakek mau bicara dulu sama Ibu, boleh?"
"Boleh. Tapi jangan lama-lama, nanti Ibu capek."
Revan membawa ayahnya ke kamar Fina di lantai bawah dan membiarkan Wira masuk. Ia mengira akan pergi, tetapi langkahnya berhenti di lorong, beberapa meter dari pintu yang tidak tertutup rapat. Fina datang dari dapur sambil mengelap tangan di celemek, melewati Revan dengan senyum sopan, dan masuk. Pintu didorong, tetapi celah selebar jari tetap tersisa.
Seharusnya ia pergi. Ia tahu itu.
"Pa, jangan lagi," suara Fina terdengar tertahan. "Papa sudah janji."
"Papa tahu."
"Sampai aku bangun, Pa. Itu kata Papa sendiri. Kalau Papa cerita sekarang, Mas Revan akan..."
"Papa tidak kuat, Fin." Suara Wira pecah, lalu pelan. Revan belum pernah mendengar ayahnya bersuara seperti itu. "Papa lihat kamu kurus begitu, lihat kamu pakai kerudung itu di rumah, lihat Revan masih berjalan seperti orang buta. Papa tidak kuat diam."
"Tolong, Pa."
Hening. Revan menggenggam kusen pintu. Ia seharusnya mendorong dan masuk. Janji apa? Pengorbanan apa? Kalimat itu sudah dua kali ia dengar dalam dua minggu, dan setiap kali ia menurut ketika diminta menunggu.
Tetapi ada sesuatu yang lebih penting. Ia sudah meminta Fina untuk percaya pelan-pelan. Ia tidak bisa menuntut Fina membuka satu rahasia dengan cara mencurinya dari balik pintu.
Ia mengetuk. Dua kali, pelan, lalu mendorong pintunya.
Wira duduk di tepi ranjang, tongkat bersandar di lututnya, matanya basah dan cepat-cepat menunduk. Fina di sebelahnya memegang sebuah buku catatan kecil bersampul biru tua, dengan pena terselip di antara halaman. Begitu pintu terbuka, jarinya bergerak cepat. Buku itu menutup dengan bunyi pendek, dan Fina menaruhnya di pangkuan, tangan menimpa sampulnya.
"Mas," katanya. Senyumnya tidak sampai ke mata. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa," kata Revan. "Aku hanya mau tanya Papa mau minum apa."
"Teh saja, Van," jawab Wira tanpa mengangkat wajah.
Fina tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya tetap di atas sampul biru itu, menekannya pelan, seperti menahan sesuatu agar tidak ikut terbuka.