Buku catatan bersampul biru itu tergeletak terbuka di meja ruang tengah, tepat di bawah lampu, seakan seseorang sengaja menaruhnya di tempat yang paling gampang dilihat.
Revan berhenti di anak tangga terakhir. Wira sudah berangkat subuh tadi ke Bandung untuk kontrol rutinnya, kamar tamu atas kosong dan rapi, dan rumah masih sepi. Ia mendengar Fina di dapur menyalakan kompor. Bunyi koreknya, lalu bunyi air.
Ia seharusnya tidak melihat. Ia sudah memutuskan semalam, di sebelah ranjang Langga, bahwa ia tidak akan mencuri satu kata pun dari buku itu.
Tetapi bukunya terbuka, dan tulisan tangan Fina rapi dan miring ke kanan, dan baris pertama yang jatuh ke matanya bukan rahasia.
Resep bubur sumsum kesukaan Langga. Takaran santan, daun pandan yang diikat simpul, catatan di pinggir: kalau nggak mau lengket, jangan berhenti mengaduk.
Di bawahnya gambar kecil dua tali sepatu, panah, dan langkah-langkahnya: satu, silangkan. Dua, selipkan. Tiga, buat telinga kelinci. Revan membaca itu dan tenggorokannya mengeras. Ia tidak pernah tahu siapa yang mengajari Langga menalikan sepatu. Ia kira anak itu belajar sendiri.
Halaman berikutnya: doa sebelum tidur, ditulis dua kali dengan huruf Arab dan arti di bawahnya, agar Langga hafal ketika takut gelap.
"Mas sudah baca?"
Revan terlonjak. Fina berdiri di ambang dapur dengan dua cangkir di tangan, bergo abu-abunya bergeser sedikit.
"Aku tidak membaca lebih dari ini," katanya cepat. "Aku cuma melihat satu halaman. Bukunya terbuka."
"Aku yang membukanya." Fina menaruh satu cangkir di depannya. Teh hijau, kali ini dengan uap yang masih naik. "Aku nggak mau Mas menebak-nebak. Tebakan Mas lebih menyeramkan dari isinya."
Revan memandang lantai. "Papa tadi malam bilang 'tidak kuat'. Kamu menulis resep dan cara menalikan sepatu. Aku mau tanya apakah..."
"Mas mau tanya apakah aku menyerah."
"Iya."
Fina duduk dan menyentuh sampul buku itu dengan ujung jari. "Aku tidak menyerah, Mas. Aku berjaga-jaga. Beda."
"Apa bedanya?"
"Orang yang menyerah berhenti menulis hal yang ia mau lakukan besok." Fina menatap uap teh. "Aku masih menulis rencana untuk Sabtu. Aku masih memikirkan menu kopi untuk Sabtu. Tapi kalau tubuhku tiba-tiba memutuskan lain, Langga harus tahu cara menalikan sepatunya tanpa bertanya pada orang yang salah."
Revan ingin membantah dan tak ada yang bisa dibantah. Ia menatap gambar tali sepatu itu lagi. Tangan yang menggambar panah-panah kecil itu, ia sadar, juga tangan yang tiap pagi menalikan sepatu anaknya tanpa seorang pun pernah mengucapkan terima kasih.
"Aku nggak tahu siapa yang mengajari Langga menalikan sepatu," katanya jujur.
"Aku. Waktu dia masih kecil. Mas lagi sibuk di kantor."
Itu bukan tuduhan. Fina mengatakannya seperti menyebut hari dalam seminggu, dan justru karena itu Revan merasa kalimatnya jatuh lebih berat dari tuduhan apa pun.
"Aku nggak memintamu percaya itu sekarang," kata Fina lagi. "Tapi aku mau kamu tahu aku tidak menyembunyikan apa-apa soal ini."
"Soal ini," ulang Revan pelan.
Fina diam, dan diamnya cukup jelas. Revan mengangguk.
•||•
Toko dibuka pukul sepuluh, dan hari ini bukan hari kopi. Hanya ada dua pelanggan sebelum jam makan siang, dan Pita menggunakan sepi itu untuk mengelap rak yang sudah bersih.
Fina menunggu sampai pelanggan terakhir pergi, lalu memanggil Pita ke dapur kecil di belakang. Dari saku gamisnya ia mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan plastik berbentuk cangkir.
"Ini kunci cadangan toko. Pegang ya, Ta."
Pita memandang kunci itu seakan benda itu panas. "Kan Mbak Fin yang buka tiap hari."
"Kamis depan aku kemo. Kadang aku nggak sanggup datang sampai besoknya. Kalau tokonya harus dibuka, kamu yang buka." Fina meletakkan kunci itu di telapak Pita dan menutup jari-jarinya satu per satu. "Pesanan, kas, kontak pemasok, semua kamu sudah tahu. Aku cuma mau kamu tenang, bukan takut."
"Mbak Fin..."
"Aku nggak ke mana-mana. Ini cuma jaga-jaga."
Pita mengedip dengan cepat, dan air matanya turun tanpa izin. Ia mengusapnya dengan lengan baju yang masih berdebu tepung, justru meninggalkan garis putih di pipi. "Saya nggak mau pegang ini, Mbak. Pegang ini rasanya kayak Mbak... kayak pamit."
"Bukan pamit." Fina tersenyum, dan memegang bahu perempuan itu. "Kunci itu supaya kamu punya satu hal lagi yang bisa kupercayakan. Orang yang percaya itu nggak pamit, Ta. Dia pasti pulang."
Pita memeluknya terburu-buru, dan Fina membiarkannya, mengusap punggungnya.
•||•
Revan menunggu di luar toko, di trotoar dekat tempat sampah besi yang sudah penuh karung plastik. Ia tidak menceritakan apa pun kepada Fina soal yang ia putuskan pagi ini. Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan bungkus rokok yang tinggal tiga batang, dan korek Zippo perak yang tutupnya sudah berwarna kusam.
Fina keluar dari toko tepat saat ia mengangkat tutup tempat sampah.
Revan tidak mengatakan apa-apa. Ia melempar bungkus itu, lalu korek itu, dan dua benda itu jatuh ke dasar dengan bunyi logam di antara kantong plastik. Ia menutup tutupnya, mengusap telapak tangan di celana, dan berbalik. Tangannya terasa aneh, ringan dan gelisah, seperti anggota badan yang kehilangan pekerjaan. Kebiasaan itu akan datang lagi tiap kali ia gugup, ia tahu. Hari ini ia memilih menanggungnya dengan tangan kosong.
Fina hanya memandangnya. Ia tidak bertepuk tangan. Ia tidak berkata bahwa itu perlu atau tidak perlu. Tetapi matanya turun sebentar ke tangan Revan yang kosong, kemudian naik lagi, dan sudut bibirnya bergerak seperti hendak tersenyum.
"Mas bisa kembali ambil kalau mau," katanya.
"Tidak."
"Oke."
Lonceng toko berdenting di belakang mereka. Hasna masuk dengan kotak kue di tangan dan Dimas menunggu di mobil. Ia berhenti di depan etalase dengan wajah canggung orang yang sedang menjalankan tugas yang tidak ia sukai.
"Yang keju Senin kemarin terlalu manis," kata Hasna. "Boleh ditukar yang cokelat?"
"Boleh, Mbak." Fina membuka kotak, memeriksa, dan menggantinya tanpa menanyakan apa-apa. "Yang cokelat gulanya sudah dikurangi, lebih pahit sedikit."
"Aku suka yang pahit."
"Aku ingat."
Hasna menatapnya sebentar. Tidak ada tajam. Tidak ada manis. Hanya dua orang yang tahu terlalu banyak tentang satu sama lain dan tidak keberatan untuk sekali ini.
"Makasih, Fin."
"Sama-sama, Mbak."
Hasna pergi, dan Revan menyaksikan keduanya berpisah tanpa satu pun kalimat yang menyakiti. Ia ingin tahu apa yang terjadi malam itu di ayunan. Ia memutuskan lagi untuk tidak bertanya.
Fina menutup etalase dan menoleh kepadanya. Wajahnya tenang, tetapi ada kelelahan tipis di bawah matanya, yang akhir-akhir ini sulit disembunyikan.
"Kamis depan kemo, Mas," katanya. "Aku tahu Mas ingat."