Kamis datang sepekan kemudian, dan selama enam hari itu Wira dua kali menelepon hanya untuk bertanya apakah Fina sudah makan. Selang infus itu tipis dan bening, dan Revan sudah menghitung tetesnya sampai seratus lebih sebelum ia sadar ia sedang menghitung.
Kursi di samping ranjang kemo terlalu rendah untuk badannya. Ia duduk dengan lutut menekuk, tas besar berisi bantal leher, termos teh jahe, dan sebuah gulungan benang di pangkuannya, karena Fina minta dibawakan. Pagi tadi ia sempat mengira itu untuk menghabiskan waktu. Sekarang ia tahu bukan.
"Boleh?" tanyanya pelan, sebelum menyentuh tangan Fina yang bebas dari jarum.
"Boleh."
Ia menggenggamnya. Jari Fina dingin, tipis, dan kulitnya lebih kering dibanding dua minggu lalu. Fina memejam sebentar, menarik napas, lalu membuka mata dan mengambil gulungan benang dari tas.
Dua jarum rajut tipis, benang krem lembut dan sedikit gulungan merah muda pucat. Fina mengaitkannya dengan jari yang terlatih, tangan kirinya yang berinfus bergerak lamban. Revan memperhatikan bahwa ia merajut dengan satu tangan hampir tanpa melihat, seperti orang yang menjahit di kegelapan.
"Kamu bisa merajut," katanya bodoh.
"Dari kecil. Mama yang ajari." Fina menghitung jahitan dengan bibir bergerak tanpa suara. "Ini kecil. Selimut bayi."
"Untuk siapa?"
Fina diam sedetik. "Untuk Mbak Hasna. Atau lebih tepatnya untuk adik bayi. Aku belum bilang, jadi Mas jangan bilang."
Revan memandang gulungan merah muda itu, dan dadanya mengencang tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. Perempuan ini duduk dengan racun mengalir ke nadinya demi mengusir racun lain di tubuhnya, dan yang ia pikirkan adalah selimut untuk anak orang yang... Ia tidak menyelesaikan kalimat itu bahkan di kepalanya.
Pintu terbuka. Iqbal masuk dengan map di tangan dan suster Citra di belakangnya, selalu setengah langkah di belakang. Ia tersenyum ke arah Fina, mengangguk singkat kepada Revan, dan memeriksa selang tanpa banyak kata.
"Hitung darahnya turun lagi," katanya sambil menutup map. "Belum berbahaya, tapi lebih rendah dari yang saya mau. Kita lanjut hari ini, tapi mulai sekarang kalau ada demam, jangan tunggu. Langsung telepon."
"Demam berapa, Dok?" tanya Revan.
"Tiga puluh delapan ke atas. Jangan menunggu pagi, jangan menebak sendiri. Telepon saya atau langsung datang." Iqbal menatap Revan sebentar, dan tatapannya sopan dan dalam sekaligus. "Mengerti, Pak?"
"Mengerti."
Setelah Iqbal pergi, Fina melanjutkan rajutannya. Tangan mereka masih bersentuhan, dan tak ada yang melepasnya.
•||•
Pukul empat sore Fina menyadari tubuhnya salah.
Ia sudah pulang, sudah berbaring di kamar dengan selimut tebal, tapi dinginnya datang dari dalam, merambat dari tulang. Gigi-giginya mulai beradu. Ia menarik selimut sampai dagu dan tetap menggigil, kemudian panas menyusul, mendadak, seperti dinyalakan dari belakang mata.
Ia mencoba bangun dan lantai berputar. Kakinya tidak menemukan sandal, tangannya meraba tepi nakas dan menjatuhkan gelas kosong. Gelas itu tidak pecah, hanya menggelinding pelan ke bawah ranjang, dan bunyi itu terdengar jauh sekali, seperti dari rumah orang lain. Ia teringat pesan Iqbal pagi tadi, tiga puluh delapan ke atas, dan hampir tertawa karena angka itu tiba-tiba terlalu kecil.
"Mas," panggilnya, dan suaranya tak terdengar seperti miliknya.
Revan muncul dalam hitungan detik, entah dari mana. Telapak tangannya di dahi Fina, dan wajahnya berubah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia mengambil termometer dari laci, meletakkannya di ketiak Fina, dan menunggu sambil menahan napas.
"Tiga puluh sembilan koma dua."
"Jangan panik."
"Aku tidak panik." Suara Revan bergetar. "Pak Ucup! Mobil!"
Dalam perjalanan Fina bersandar pada pundaknya, tubuhnya menggigil dalam bungkusan selimut, dan ia mendengar Revan menelepon Iqbal dengan nada rendah dan cepat, seperti orang yang menyusun kalimat sambil berlari. Bahu Revan keras dan hangat, dan lengannya yang melingkar tidak menekan, hanya menjaga agar ia tidak miring setiap kali mobil berbelok. Tadi di tangga ia sempat bertanya, "Boleh Mas pegang supaya tidak jatuh?" dan Fina menjawab dengan anggukan lemah. Revan tidak meminta lebih, dan itu cukup bagi Fina. Di sela kabut panas ia sempat berpikir, anehnya tenang, bahwa ini tak seperti yang ia bayangkan. Ia selalu mengira jika ada hari seperti ini, ia akan menghadapinya sendirian.
Iqbal menunggu di pintu IGD. Ia memeriksa, mengambil darah, dan kembali dengan wajah serius.
"Infeksi, Bu Fina. Daya tahan tubuh Ibu sedang rendah sehabis kemo, dan kuman sedikit saja bisa jadi masalah besar. Ibu harus dirawat. Kira-kira lima hari, sampai demam turun dan hitung darah naik."
"Lima hari," kata Fina lemah. "Langga..."
"Langga aman, Dek." Revan menunduk. "Boleh Mas pegang tanganmu?" Fina mengangguk kecil, dan ia menggenggam tangannya yang lain. "Aku urus semuanya."
Fina memejamkan mata. Di balik kelopaknya ia masih melihat gulungan benang merah muda itu.
•||•
Revan keluar dari ruang rawat dan berdiri di lorong yang berbau antiseptik, memegang ponsel dengan dua tangan.
Nada sambung berbunyi lama. Ia sudah hampir menutup ketika suara Hasna terdengar, serak dan setengah terjaga.
"Van?"
"Na, Fina masuk rumah sakit. Demam tinggi, infeksi. Dokter bilang lima hari. Aku mau tinggal di sini malam ini." Ia berhenti. "Kalau kamu butuh aku di rumah, aku pulang."
Sunyi satu detik, dua detik. Di latar belakang terdengar suara televisi dan denting sendok di mangkuk.
"Tinggal di sana," kata Hasna.
"Tapi tensimu..."
"Tensiku baik-baik saja. Aku ada Mama dan Dimas." Hasna berhenti. "Dimas sudah di sini, tadi bawa jeruk. Mama Reffa tidak akan membiarkan aku mengangkat piring pun. Kamu pikir aku akan jatuh?"
"Tidak."
"Kalau begitu tinggal." Suara Hasna turun, nyaris tidak terdengar. "Van, jangan datang ke sini dengan wajah itu kalau Fina belum membaik. Aku nggak mau lihat."
"Terima kasih, Na."
"Jangan terima kasih. Cuma jangan telepon aku tiap jam."
Sambungan terputus. Revan menyandarkan dahi ke dinding lorong yang dingin dan menarik napas, menahan sesuatu yang bergerak di dadanya, rasa syukur yang menyakitkan.
Malam itu, menjelang jam kunjung berakhir, Pak Ucup membawa dua anak laki-laki ke lantai empat. Langga masih mengenakan seragam, kacamatanya miring, sedangkan Bima memeluk boneka kelinci lusuh dari kamarnya. Perawat mengizinkan lima menit.
Mereka berdiri di sisi ranjang. Fina tertidur, wajahnya pucat, napasnya dangkal dan teratur. Bima menaruh kelinci itu di dekat bantal dan merapikan telinganya yang terlipat.
"Ibu sakit apa lagi, Pa?" bisiknya.
"Badan Ibu lagi capek sekali, Bim. Jadi kumannya gampang masuk. Dokter bantu supaya kumannya pergi."
"Berapa lama?"
"Beberapa hari."
"Kelincinya boleh nginap?"
"Boleh."
Bima mengangguk puas dan mundur ke sudut kursi. Langga memandang Ibu lama sekali tanpa bicara, tangannya menggenggam gambar yang dilipat empat. Ia tidak menaruhnya di dekat bantal seperti kelinci Bima. Ia hanya memegangnya, kuat, seperti benda yang belum diizinkan untuk dilepas.
Revan membungkuk, bertanya apakah ia mau duduk. Langga menggeleng. Ia menariknya sedikit ke sudut dan berbisik di telinga Revan, kata demi kata, seakan menitipkan sesuatu yang sangat mudah pecah.
"Pa, jaga Ibu."