Revan tidak tahu jam berapa tepatnya ia berhenti bisa merasakan punggungnya.
Kursi lipat di samping ranjang rawat itu keras, dan lampu kecil di sudut kamar hanya memberi cahaya kuning yang cukup untuk melihat garis wajah Fina. Pukul dua lebih, kata jam dinding. Suster Citra baru saja keluar setelah mencatat suhu: tiga puluh delapan koma enam, turun dari tiga puluh sembilan, dan Iqbal sudah meninggalkan pesan bahwa mereka harus menunggu pagi untuk hasil darah berikutnya.
Dalam kepalanya masih terputar bisikan Langga malam tadi di sisi ranjang. Jaga Ibu. Tiga kata, dari anak yang dulu ia sebut bodoh karena tidak bisa mengeja angka empat puluh.
Revan menegakkan badan, memeriksa selimut Fina, dan memastikan jari-jarinya tidak menyentuh kulitnya. Ia sudah memutuskan malam ini ia hanya akan menjaga. Tidak lebih.
"Mama..."
Revan membeku.
Suara itu serak dan terbawa napas yang pendek-pendek. Fina tidak membuka mata. Kepalanya bergerak pelan di bantal, dahinya mengernyit seperti anak kecil yang dikejar sesuatu dalam tidurnya.
"Mama, jangan pergi... Fina ikut."
Dada Revan mengencang. Ia tidak berani bergerak.
"Ibu..." Fina menarik napas dan suaranya berubah, lebih rendah, seperti menirukan seseorang yang pernah menasihatinya. "Jangan lepasin Revan. Jangan lepasin Revan, Nak. Laki-laki itu bisa berubah."
Revan menunduk. Bahunya turun pelan-pelan. Kalimat itu, nasihat Ibu Arini yang ia ketahui hanya lewat potongan cerita Fina di balkon, sudah ada dalam diri istrinya selama sembilan tahun. Ia tidak pernah melihat betapa dalam kalimat itu menancap.
"Mas..."
Napasnya berhenti sekejap.
"Mas jangan marah," bisik Fina, dan air mata mengalir dari sudut matanya ke bantal, tanpa suara. "Langga nggak bodoh. Dia belajar... dia belajar kok, Mas. Jangan marah. Jangan marah sama Langga."
Revan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia menutup rapat-rapat karena kalau tidak, ada suara yang akan keluar dan ia tidak berhak mengeluarkannya di ruangan ini. Dalam demam, di antara semua yang bisa ia igaukan, Fina masih membela anaknya dari amarah suaminya.
Ia teringat wajah Langga ketika kertas ulangan itu diletakkan di meja makan, angka empat puluh berwarna merah di pojok, dan anak itu menunduk menunggu vonis. Ia ingat apa yang ia katakan malam itu. Ia ingat juga bahwa Fina berdiri di dapur dengan nampan di tangan, dan tidak membela dirinya sendiri, hanya melangkah dua kali ke sisi Langga dan menaruh tangan di pundak kecil itu. Sekarang, dalam demam yang membakar, perempuan itu masih melakukan hal yang sama.
Ia mendengarkan sampai igauan itu menipis. Napas Fina melambat, dan tubuhnya kembali tenang.
•||•
Subuh belum datang, tapi langit di jendela mulai pucat. Revan sudah berdiri dan duduk lagi tiga kali ketika ia melihat kelopak Fina bergerak.
"Dek?"
Fina membuka mata. Pandangannya tersesat sebentar di langit-langit, kemudian menemukan wajah Revan dan terdiam di sana. Bibirnya kering dan pecah-pecah.
"Langga?" tanyanya parau.
"Di rumah sama Mbak Marni. Aman. Tadi malam kamu demam tinggi, sekarang sudah turun." Revan mengambil gelas dengan sedotan dan mendekatkannya ke bibir Fina. "Minum sedikit."
Fina menyedot sedikit, lalu menurunkan kepala. Matanya masih setengah redup. "Mas belum tidur."
"Belum."
"Mbak Hasna..."
"Dia yang menyuruhku tinggal di sini. Dia bilang dia ada Mama dan Dimas." Revan melihat sesuatu bergerak di wajah Fina, bukan cemburu, lebih mirip rasa bersalah. "Dia baik-baik saja, Dek. Jangan pikirkan itu sekarang."
"Mbak Hasna orang baik."
"Iya."
"Mas jangan lupa itu."
"Aku tidak akan lupa."
Fina memejam sebentar, lalu membuka lagi. "Terus kenapa Mas masih di sini?"
Revan menaruh gelas. Ia sudah menyusun kalimat ini seharian tanpa yakin akan mengucapkannya, tapi malam ini kalimat itu terasa lebih berat kalau ditahan.
"Fin, aku mau minta maaf. Boleh aku bicara?"
Fina memandangnya, lambat, dan mengangguk.
"Aku nggak mau minta maaf secara umum. Itu gampang, dan itu yang selalu kulakukan, bilang 'maaf ya' lalu mengira selesai." Suaranya rendah, tersendat. "Jadi aku sebut satu-satu. Aku tidak mengangkat teleponmu waktu kamu kontraksi, sembilan tahun lalu. Kamu bersalin sendirian dengan orang asing, dan aku sedang sibuk entah apa. Aku jarang mau duduk makan semeja denganmu. Aku lebih sering membiarkan kursimu kosong. Aku menggendong Bima lebih dulu, di depan Langga yang berdarah, dan aku melihat Langga melihatku."
Fina tidak bergerak. Hanya matanya yang bergerak, mengikuti.
"Aku menyebut Langga bodoh. Di depan kamu, di depan dia. Aku membandingkannya dengan Bima seolah anak itu barang. Dan di mobil, waktu aku menyebut kamu murahan..." Revan menutup mata sebentar. "Kamu tidak pantas mendengar itu. Siapa pun tidak pantas."
"Aku ingat," kata Fina pelan. "Aku ingat tiap katanya. Aku pikir Mas tidak sadar itu menyakitkan."
"Waktu itu aku sadar. Aku cuma memilih tidak peduli."
Fina memandangnya lama, dan Revan tidak mengalihkan mata, karena ia merasa itu satu-satunya hal yang pantas ia lakukan saat ini: membiarkan dirinya dilihat tanpa pembelaan.
Hening. Mesin pendingin di dinding berdengung pelan.
"Itu semua," lanjutnya, "bukan salah kamu, bukan salah siapa pun. Itu aku."
Fina menatap langit-langit lama. Ketika bicara, suaranya sangat tenang, dan karena itu terdengar lebih tajam dari bentakan.
"Mas melakukan ini karena aku sekarat?"
"Tidak." Revan menjawab terlalu cepat dan menyesal. Ia mengatur napas. "Maksudku, aku tahu kamu akan bertanya begitu. Dan aku tidak bisa membuktikan sebaliknya, Fin."
"Kenapa?"
"Karena aku tolol." Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. "Karena aku sudah mencintaimu sebelum kamu sakit parah, dan aku tidak sadar sampai terlambat. Aku tahu kedengarannya seperti yang dikatakan orang yang menyesal setelah kehilangan. Aku tidak bisa membuktikan itu. Kalau aku bilang sudah sejak di Bandung, kamu bisa bilang aku mengarang. Kalau aku bilang sejak kamu mengaku sakit, kamu bilang itu kasihan."
Fina tidak menyangkal.
"Yang bisa kulakukan cuma ini." Revan mengangkat wajah. "Tetap di sini. Malam ini, besok, minggu depan, sesudah itu. Aku tidak tahu cara lain."
Cukup lama tidak ada jawaban. Revan sempat mengira Fina sudah tertidur lagi. Namun tangan Fina bergerak di atas selimut, mencari. Jari-jarinya yang dingin menemukan jari telunjuk Revan, mengaitkannya, dan menggenggamnya lemah.
"Fin..."
Fina tidak menjawab. Matanya sudah terpejam, napasnya melandai, tapi genggamannya tidak lepas. Revan duduk diam di antara cahaya kuning dan cahaya pagi pertama yang menyusup dari tirai, menahan jari yang digenggam itu, tidak berani menggerakkannya sedikit pun.