Bau soto menyusup ke kamar rawat sebelum pintunya sempat terbuka lebar.
Fina yang setengah duduk di ranjang, bersandar pada dua bantal, mengenali aroma itu lebih dulu daripada wajah di baliknya: kunyit, serai, dan sedikit bawang goreng yang gosong sengaja. Ia menegakkan punggung terlalu cepat dan infus di punggung tangannya menarik.
"Ibu?"
Ibu Arini berdiri di ambang pintu dengan rantang susun tiga di tangan kanan dan tas anyaman di bahu. Rambutnya yang memutih disanggul rapi, kebayanya sederhana, dan wajahnya lebih tua dari yang Fina ingat di pemakaman Papa, seperti ada lipatan baru yang ditambahkan semalam. Di belakangnya Revan membawa tas kecil, dan ia mengangguk hormat sebelum menyingkir memberi jalan.
"Revan yang telepon Ibu kemarin pagi," kata Arini. Ia berjalan ke ranjang dengan langkah pelan dan menaruh rantang di meja. "Katanya kamu demam. Ibu tidak bisa tidur."
"Ibu tidak perlu repot-repot."
"Kamu anak Ibu." Arini menyentuh pipi Fina dengan punggung tangan, memeriksa suhunya seperti dulu ketika Fina masih kecil dan menolak sarapan. "Kurus sekali. Kamu makan, ya."
Revan pamit membeli kopi di kantin bawah dan meninggalkan mereka. Pintu menutup tanpa bunyi.
Arini membuka rantang. Soto bening dengan irisan telur, soun, dan tauge, masih mengepul. Ia menyendok sedikit ke mangkuk kecil dan menyodorkan ke Fina, memperhatikannya makan seperti ibu yang takut anaknya lupa cara menelan.
"Enak," kata Fina, dan matanya panas tanpa alasan yang jelas.
"Jangan menangis dulu. Habiskan."
Ponsel di nakas bergetar. Layarnya menampilkan foto kiriman Pita: etalase toko hari Sabtu, papan menu yang ditulis ulang dengan kapur warna-warni, dan di bawahnya satu baris besar, Cepat sembuh, Mbak Fin, kopinya kami jaga. Di belakang papan itu tampak Pita memegang gelas kopi dengan senyum yang jelas dipaksakan.
"Siapa?" tanya Arini.
"Pita. Pegawai toko." Fina tersenyum sambil menghapus sudut matanya. "Hari ini hari kopi. Mereka buka tanpa aku."
"Bagus. Toko itu harus bisa berjalan tanpa kamu. Itu tandanya kamu membangunnya dengan benar."
Fina menghabiskan setengah mangkuk. Arini menunggu sampai sendok terakhir diletakkan, lalu menarik kursi dan duduk, dan tangannya yang keriput menggenggam jari Fina yang berinfus.
"Fina, Ibu mau bilang sesuatu. Dengarkan sampai habis."
"Iya, Bu."
"Dulu waktu kamu telepon Ibu, kamu bilang suamimu menikah lagi dan kamu mau pulang. Ibu bilang bertahan." Arini menatap tangan mereka. "Ibu bilang jangan lepaskan Revan, demi Langga. Ibu bilang itu karena Ibu sendiri bertahan dengan Papa kamu bertahun-tahun, tanpa cinta, dan Ibu kira itulah cara perempuan hidup. Ibu mengajarkan kamu apa yang Ibu tahu. Cuma itu yang Ibu punya."
"Ibu tidak salah."
"Ibu salah kalau itu membuatmu tersiksa." Suara Arini tidak naik, tetapi tegas. "Ibu bertahan karena tidak punya pilihan. Kamu punya. Kamu pintar, kamu punya toko, kamu punya pilihan. Ibu mau kamu tahu itu, supaya kamu tidak mengira bertahan itu satu-satunya cara jadi anak yang baik."
Fina menunduk. Rambutnya yang tipis tertutup bergo, dan air mata jatuh ke selimut tanpa suara.
"Satu lagi." Arini membuka tas anyaman, merogoh bagian dalam, dan mengeluarkan amplop cokelat polos yang sudah agak lusuh di sudutnya. Tulisan tangan di depannya miring ke kanan, tinta biru: Untuk Safina. "Ini titipan Papa."
Fina tidak bergerak.
"Papa menulis ini beberapa hari sebelum meninggal. Dia minta Ibu simpan, dan baru diberikan kalau ... Ibu lihat saatnya. Ibu pikir saatnya sekarang, bukan karena kamu sakit, tapi karena kamu sudah punya orang yang menjagamu." Arini menaruh amplop itu di telapak tangan Fina. "Pesannya satu. Bukalah kalau kamu sudah memilih bahagia, bukan karena terpaksa."
"Bahagia yang bagaimana, Bu?"
"Ibu tidak tahu. Itu urusanmu." Arini tersenyum, akhirnya, senyum kecil yang pecah-pecah. "Yang Ibu tahu, kamu akan tahu kalau sudah waktunya."
Fina memandang amplop itu. Tebalnya tidak sampai satu lembar penuh. Ia menekannya dengan ibu jari, merasakan sesuatu di dalamnya, kertas tunggal yang dilipat. Lalu dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap, ia membuka laci nakas dan menyelipkannya di bawah tisu dan buku doa kecil. Ia menutup laci. Tidak ada yang bicara.
•||•
Revan sedang menunggu di lorong dengan dua gelas kopi kertas ketika Arini keluar untuk membuang sisa air di wastafel. Ia mengira perempuan itu akan lewat begitu saja. Tapi Arini berhenti di depannya, menegakkan tubuhnya yang kecil, dan menatap mata Revan tanpa berkedip.
"Duduk dulu," katanya. "Ibu mau bicara."
Revan menaruh kopi di bangku besi di sepanjang dinding dan duduk. Arini duduk dengan jarak satu kursi.
"Kamu sudah menonton video Papa Arga," kata Arini. Itu bukan pertanyaan.
"Sudah, Bu."
"Berapa kali?"
Revan terdiam. "Tiga kali. Malam itu saja."
"Dan sesudahnya?"
"Sesudahnya aku mencoba melakukan apa yang Papa minta." Revan mengusap wajahnya. "Aku belum sampai."
Arini mengangguk pelan. Pandangannya jatuh pada lantai lorong yang mengilap. "Ibu ini orang tua, Revan. Ibu tidak punya kuasa atas hidup kalian. Tapi Ibu mau bilang satu hal sebelum Ibu pulang." Ia menarik napas. "Kamu sudah menonton Papa. Sekarang tontonlah hidupnya, yaitu Fina. Papa tidak meminta kamu menyelamatkan dia. Papa meminta kamu melihatnya."
"Aku melihat, Bu."
"Sungguh?" Arini menatapnya. Bukan marah, hanya ingin tahu. "Sembilan tahun, Revan."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tidak sanggup, bilang. Ibu yang akan membawa Fina pulang, dan tidak ada yang menyalahkan siapa pun."
Ia teringat video itu, wajah Arga yang menua di layar laptop, suara yang pecah ketika ia menyebut nama anaknya. Sejak malam itu Revan mengira ia sudah mengerti apa yang diminta darinya. Ia baru sadar sekarang bahwa mengerti dan melakukan adalah dua jarak yang berbeda, dan ia baru menempuh sebagian kecil dari yang kedua.
Revan menggenggam gelas kopi sampai kertasnya melesak di jarinya. Ia ingin mengatakan sesuatu yang dramatis dan meyakinkan, tetapi ia sudah belajar dari semalam bahwa kata-kata tidak berguna dalam keadaan seperti ini.
"Aku tidak akan membiarkan dia pulang tanpa aku, Bu," katanya akhirnya. "Kecuali kalau dia sendiri yang memintanya."
Arini memandangnya lama. Lalu ia bangkit, merapikan kebayanya, dan berjalan ke arah lift tanpa menjawab.
•||•
Di kamar, Fina menunggu hingga langkah mereka menjauh sebelum membuka laci lagi. Amplop cokelat itu tergeletak di bawah tisu. Ia mengusap tulisan di depannya dengan ujung jari, nama yang ditulis tangan orang yang dulu jarang memeluknya, dan tidak membukanya.
Pintu terbuka. Fina menutup laci tepat sebelum Revan masuk membawa dua gelas kopi kertas yang sudah dingin.
"Ibu titip pesan," katanya.
"Pesan apa?"
"Sotonya dihabiskan. Sisanya urusan kita."
Fina nyaris tertawa, dan tangannya masih di atas laci.