Pagi itu Langga memakai seragamnya dengan dasi kupu-kupu yang sudah rapi, dan ia berdiri di ambang kamar Fina dengan tas di punggung seperti orang yang hendak berangkat bertugas, bukan sekolah.
"Ibu."
"Hm?" Fina sedang memakai bergo di depan cermin kecil di lemari. Ia melihat bayangan anaknya di kaca, kacamata, dahi yang berkerut, bibir yang dikatupkan rapat.
"Nanti pulang, Ibu yang cerita ke Langga dokternya bilang apa. Jangan cuma Papa yang cerita." Langga menarik napas. "Papa suka lupa bagian pentingnya. Waktu Langga dapat empat puluh, Papa cuma ingat angkanya, bukan sebabnya."
Fina berbalik dan berlutut di depannya, perlahan, karena pinggangnya masih nyeri bila ditekuk terlalu cepat. Ia memegang kedua bahu kecil itu. "Ibu janji. Langga dengar semuanya dari Ibu. Yang bagus dan yang tidak."
"Yang tidak bagus juga?"
"Yang tidak bagus juga. Langga sudah besar."
Langga memeluknya sebentar, canggung dan erat, lalu berlari turun menyusul Pak Ucup. Fina memandang pintu yang ditinggalkan terbuka, mengatur napas, dan memakai kaus kakinya sendiri.
•||•
Ruang praktik Iqbal pukul sepuluh lebih padat daripada biasa. Revan duduk di kursi di samping Fina dengan jaket di pangkuan. Suster Citra berdiri di dekat pintu. Iqbal duduk di belakang meja dengan layar yang memunculkan gambar abu-abu: potongan tubuh, bayangan putih dan hitam yang bagi Fina tak lebih dari awan buruk.
Di kursi sebelah Iqbal duduk seorang pria berumur lima puluhan, berkacamata tipis, dengan tangan terlipat di atas map dan wajah yang tenang tanpa dibuat-buat.
"Bu Fina, Pak Revan, ini dr. Hendra. Beliau yang akan menangani operasi."
"Saya Hendra." Pria itu menyalami Revan, lalu mengangguk kepada Fina tanpa mengulurkan tangan, seolah paham jarak yang nyaman. "Saya sudah membaca riwayat Ibu dan hasilnya. Saya langsung saja, kalau Ibu berkenan. Ibu lebih suka mendengar apa adanya, saya dengar."
"Silakan, Dok."
"Tumor Ibu menyusut sekitar sepertiga dibanding gambar awal. Itu kabar baik. Belum ada tanda penyebaran. Itu kabar baik juga." Ia mengetuk layar dengan ujung pulpen. "Kabar yang kurang baik, letaknya dekat pembuluh darah besar. Karena itu operasi tidak bisa menunggu, dan tidak boleh ditunda. Operasi pengangkatan sebagian ginjal. Saya akan berusaha mempertahankan sebanyak mungkin jaringan sehat, apalagi Ibu hanya punya satu."
Revan tidak bergerak di sampingnya. Fina merasakan tegangnya lewat bangku.
"Jadwalnya Kamis, dua pekan lagi."
"Risikonya?" tanya Fina.
"Pendarahan. Itu yang paling besar." Dr. Hendra menatapnya lurus. "Dalam sebagian kecil kasus, bila pendarahan tidak terkendali, saya terpaksa mengangkat seluruh ginjal demi menyelamatkan nyawa Ibu. Bila itu terjadi, Ibu akan perlu cuci darah. Saya tidak akan menyembunyikan itu."
"Terima kasih sudah jujur."
"Itu hak Ibu."
"Dok." Revan menegakkan badan. "Kalau seluruhnya diangkat dan cuci darah, istri saya... masih bisa hidup panjang?"
"Banyak pasien hidup bertahun-tahun dengan cuci darah, Pak. Tidak mudah, tapi bisa." Dr. Hendra melirik map. "Dan dalam kasus Ibu Fina, ada riwayat operasi lama di sisi kiri. Itu memperumit, tapi bukan berarti tidak tertangani."
Revan menoleh. Fina menangkap pertanyaan di matanya, dan ia menggeleng sedikit, hampir tak terlihat. Nanti, Mas. Revan menelan pertanyaan itu untuk kesekian kalinya.
Revan berdeham. "Dok, apakah jadwalnya bisa digeser? Istri saya yang satu lagi hamil, perkiraan lahir mendekati tanggal itu."
Fina menoleh. Ia sudah tahu pertanyaan itu akan datang, dan tetap saja kalimat "istri saya yang satu lagi" menusuk sedikit, bukan karena salah, melainkan karena benar.
Dr. Hendra tidak berkedip. "Tidak bisa, Pak. Kemo tidak boleh ditunda lebih lama dan tumor terlalu dekat pembuluh besar. Setiap pekan kita tunggu, risikonya naik. Tapi saya mengerti dilemanya." Ia membuka map. "Kita buat rencana cadangan. Kalau istri Bapak melahirkan lebih dulu, Bapak ke sana. Itu prioritas. Ibu Fina sudah di tangan tim yang baik. Ada yang bisa mendampingi istri Bapak di sana?"
"Sahabat saya, Dimas, dan ibu mertua saya," jawab Revan, dan Fina menangkap betapa pahit kalimat itu di lidahnya.
"Cukup. Dan sampai hari itu, Bapak tetap di sisi Ibu Fina."
"Dan keputusan di meja operasi?" tanya Fina.
Dr. Hendra menarik selembar kertas. "Itu yang perlu Ibu tanda tangani. Kalau di tengah operasi ada keputusan besar, misalnya mengangkat seluruh ginjal, keputusan itu harus diambil oleh orang yang Ibu tunjuk. Biasanya suami. Boleh lewat telepon, asalkan ada dua saksi dari pihak keluarga yang mendengar langsung."
Fina memandang kertas itu. Tiga paragraf padat, tanda silang kecil, garis tanda tangan di bawah. Ia sudah membacanya sepanjang malam kemarin, ketika Revan tidur di kursi di sisi ranjangnya dan mengira ia tidak melihat.
Ia mengambil pulpen, menulis nama lengkapnya, dan tangannya tidak gemetar.
"Safina Afriza Hanifa." Ia mengembalikan kertas itu. "Kalau terjadi sesuatu, keputusannya di tangan suami saya."
Dari sudut matanya ia melihat Revan menunduk, rahangnya mengeras, ibu jarinya menekan buku jari satu per satu.
•||•
Revan keluar lebih dulu. Ia berkata ia perlu ke kamar kecil, tapi langkahnya melewati kamar kecil dan berhenti di ujung lorong, di depan jendela besar yang menghadap taman parkir. Bahunya naik turun. Fina menyusul pelan, dengan tas di tangan, dan berdiri satu langkah di belakangnya.
"Mas."
"Sebentar." Suaranya serak. "Aku butuh sebentar."
Fina menunggu. Dari balik jendela, seekor burung merpati mendarat di pagar besi dan terbang lagi. Beberapa orang melintas dengan kursi roda dan infus berjalan. Tidak ada yang menengok.
"Mereka bilang keputusanku." Revan masih menatap kaca. "Mereka bilang aku yang menentukan ginjalmu, Fin. Aku, yang tidak mengangkat telepon, yang tidak pernah menemanimu satu kali pun sebelum bulan lalu."
"Karena itu aku menunjuk Mas."
Revan berbalik. Matanya merah dan basah, dan ia tidak menyembunyikannya. Fina mendapati dirinya sedang memandang laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal sembilan tahun lalu.
"Kenapa aku?"
"Karena Mas yang paling takut kehilanganku sekarang," kata Fina pelan. "Orang yang takut kehilangan akan berpikir dua kali sebelum memutuskan sesuatu yang tidak bisa dibatalkan."
Revan membuka mulut, menutupnya lagi, dan tidak menemukan kata. Fina tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di sampingnya, menghadap jendela yang sama.
"Aku sudah baca semua risikonya, Mas," katanya setelah beberapa lama. "Semalam, dua kali. Aku tidak takut pada kertas itu. Yang kutakutkan hal lain, dan itu urusanku dengan Tuhan." Ia menarik napas. "Sabtu aku buka toko. Hari kopi terakhir."
Revan tertawa pendek di sela napasnya yang basah. Di antara semua jawaban yang mungkin, itu yang paling jujur.