Antrean hari kopi sudah mengular sampai trotoar sebelum Fina selesai membalik papan Buka. Biasanya yang datang kebanyakan pelanggan tetap, tetapi hari ini wajah-wajah di luar kaca bercampur dengan wajah yang tak ia kenal: seorang bapak dengan topi petani, dua mahasiswi berjaket, perempuan paruh baya yang membawa rantang. Entah siapa yang menyebarkan kabar bahwa Sabtu ini adalah Sabtu terakhir sebelum Fina berhenti sementara.
"Mbak Fin, sudah banyak sekali," bisik Pita dari balik mesin kasir, matanya sudah merah padahal belum ada yang dibayar. "Aku nggak kuat, Mbak."
"Kuat, Ta. Ayo."
Revan berdiri di balik meja kopi dengan celemek yang terlalu pendek untuk badannya. Fina mendampinginya dengan duduk di kursi tinggi, sesuai perintah dokter, sambil mengarahkan tiap tuangan air dengan suaranya saja. Ia telah mengajari Revan menyeduh sejak pagi, dan hari ini ia memberinya tugas yang ia sebut sebagai ujian: menyeduh secangkir untuk pelanggan sungguhan.
"Pelan, Mas. Dari tengah, melingkar. Jangan menuang ke pinggir kertas."
"Aku menuang ke tengah."
"Itu pinggir."
"Itu tengah."
"Mas."
Revan menuang lagi, kali ini dengan wajah orang yang sedang menjinakkan bom. Pita terkikik sambil menahan air mata. Cangkir pertama disodorkan kepada bapak bertopi petani, yang mencicipinya, menahan napas sesaat, dan berkata dengan tulus, "Enak, Mas."
"Bohong," kata Fina.
"Sedikit pahit, Bu. Tapi enak."
"Terima kasih, Pak," kata Revan serius, seolah baru menerima penghargaan.
Perempuan paruh baya dengan rantang antre berikutnya. Ia memesan satu cangkir, membayar, kemudian tidak pergi. Ia menatap Fina lama sekali, lalu bergerak ke samping meja dan, tanpa kata, memeluknya. Pelukan yang hangat, sedikit bau minyak kayu putih, dengan tangan yang menepuk-nepuk punggung Fina pelan.
"Saya tahu, Nak," bisiknya. "Saya dulu juga begini. Sudah dua belas tahun. Kamu pasti sembuh. Ibu titip doa."
Fina tidak sanggup menjawab. Ia mengangguk di bahu perempuan itu, membiarkan air matanya membasahi kain bajunya, sampai Pita di belakang tidak lagi menahan diri dan terisak keras.
"Mbak Fin, aku nggak bisa," kata Pita sambil menyeka hidung dengan lengan seragam. "Aku nggak bisa liat Mbak begini."
"Ta, antrean."
"Iya, Mbak." Pita menghirup ingus. "Pesanan berikutnya!"
Dari meja pojok Langga memperhatikan semuanya dengan krayon terhenti di tangan. Ketika antrean sedikit longgar ia turun dari kursi dan menarik ujung gamis Fina.
"Ibu, Nenek tadi kenapa peluk Ibu?"
"Dia orang baik, sayang. Dia pernah sakit seperti Ibu, dan dia sembuh."
"Berarti Ibu juga sembuh?"
Fina merunduk sampai matanya sejajar dengan mata di balik kacamata itu. Ia sudah berjanji Kamis pagi untuk menceritakan yang bagus dan yang tidak. "Ibu belum tahu, Langga. Tapi Ibu akan berusaha, dan banyak orang yang berdoa untuk Ibu. Hari ini sudah ada seratus lebih."
Langga berpikir serius, kemudian menghitung dengan jari. "Langga mau tambah. Langga mau doa seratus satu."
Ia kembali ke kursinya dan menggambar lagi dengan tekun, bibirnya komat-kamit.
•||•
Menjelang siang, bel pintu berdenting dan Taya masuk lebih dulu dengan ransel di punggung, disusul Iqbal yang mengenakan kaus polo dan celana kain. Langga, yang sejak pagi duduk di meja pojok menggambar papan menu, mengangkat kepala dan berseru.
"Kak Taya!"
"Langga! Kamu pakai kacamata dan makin keren!" Taya langsung duduk di sebelahnya tanpa diundang. "Aku bawa spidol baru. Yang glitter."
Iqbal berhenti di depan meja. Ia tidak menatap Fina terlalu lama, hanya sekilas yang cukup sopan. "Selamat siang, Bu Fina. Pak Revan. Saya antar Taya, dia memaksa. Boleh saya pesan teh hijau?"
"Boleh, Dok," kata Fina. Revan sudah meraih teko tanpa ditanya.
Iqbal menerima gelasnya, menyesap, dan mengangguk kepada Revan seperti kepada sesama laki-laki yang saling tahu sesuatu tanpa perlu membahasnya. Ia menaruh dua lembar uang besar di atas meja kasir. Pita membuka mulut untuk menolak.
"Kembaliannya tidak usah," kata Iqbal. "Tolong buat Taya jajan es krim sama Langga."
Taya dan Langga sudah sibuk. Kertas karton besar tergelar di meja pojok, dan di pusat karton itu Taya menulis dengan huruf-huruf bergelombang berkilau: KOPI UNTUK IBU FINA. Langga menggambar cangkir dengan uap yang membentuk hati, kemudian menghapus hati itu dan menggantinya dengan matahari berkacamata.
"Kenapa dihapus?" tanya Taya.
"Hati itu buat Mama Hasna. Matahari buat Ibu. Ibu suka matahari."
Fina mendengar kata-kata itu dari seberang ruangan dan harus berpaling ke mesin kopi supaya tidak ada yang melihat wajahnya.
•||•
Pukul empat toko mulai sepi. Kopi habis, kue tinggal dua potong, dan poster karton sudah tertempel di kaca etalase, miring sedikit tetapi gagah. Pita menyapu sambil bersenandung dengan suara serak. Revan melepas celemek dan menggantungnya di paku, dan Fina memperhatikan bahwa ia melakukannya dengan hormat, seperti menggantung seragam tugas.
Ponsel Revan bergetar di meja kasir. Ia melirik layar, mengerutkan dahi, lalu mengangkatnya.
"Halo. Iya, Pak, selamat sore." Ia diam mendengarkan. Wajahnya berubah sedikit, tidak banyak. Fina melihat jari-jarinya mengetuk meja sekali. "Dua bulan. Ke mana? ... Saya mengerti. Itu penugasan yang saya tunggu-tunggu." Hening lagi. "Pak, mohon sampaikan terima kasih saya kepada direksi, tapi saya tidak bisa."
Fina menegakkan punggung.
"Tidak, bukan soal bayaran. Ada urusan keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan." Revan menarik napas. "Tolong diberikan kepada yang lain. Saya sungguh minta maaf. Terima kasih."
Ia menutup telepon dan menaruhnya di meja dengan layar menghadap bawah.
"Mas," kata Fina pelan, "itu penugasan yang Mas incar dua tahun."
"Ya."
"Kenapa menolak?"
"Karena kamu operasi dua pekan lagi, dan Hasna melahirkan di antaranya, dan Langga baru bisa melihat papan." Revan mengangkat bahu, seolah itu hitungan paling sederhana di dunia. "Aku tidak mau jadi orang yang jauh lagi. Kantor akan menemukan orang lain. Keluarga ini tidak."
Fina menunduk menatap tangannya yang berminyak kopi. Tidak ada yang bisa ia bantah.
"Mas tidak menyesal?"
"Aku menyesal banyak hal." Revan mengambil lap dan mulai mengelap meja yang sudah bersih, kebiasaan baru yang tangannya lakukan sendiri. "Yang ini tidak termasuk. Aku sudah mencari-cari penyesalan itu sepanjang telepon tadi, dan tidak ketemu."
Dari seberang ruangan, Pita berhenti menyapu dan pura-pura meneliti sudut yang sama untuk ketiga kalinya. Taya mengacungkan spidol glitter kepada Langga, dan Iqbal sudah menggandeng ransel anaknya menuju pintu, melewati ambang tanpa menoleh ke belakang.
Fina mengamati punggung itu pergi, kemudian memandang laki-laki yang mengelap meja di hadapannya. Ia menyadari sesuatu yang ganjil: hatinya tidak lagi berdebar meminta kepastian. Ia hanya lelah, dan lelah itu hangat.
Sesudah beberapa saat ia berkata, "Selasa aku mau merekam sesuatu untuk Langga. Mas jangan masuk dulu."
Revan tidak bertanya apa yang akan direkam. Ia meraih lap sekali lagi, mengelap noda yang tidak ada, lalu berkata ke arah etalase, "Aku di dapur kalau perlu." Di kaca, poster karton itu berkilau tertimpa lampu sore, huruf-huruf glitternya miring ke satu sisi.