Pagi itu Revan menemukan Fina di meja makan dengan bergo yang belum pernah ia lihat. Hitam, tepiannya krem, jatuhnya lembut di pelipis. Ia berhenti di ujung tangga dengan satu tangan masih di susuran.
"Itu baru?"
"Baru." Fina mengaduk bubur di mangkuknya tanpa mengangkat mata. Ada sesuatu di sudut bibirnya yang berusaha tidak tampak. "Dikasih orang."
"Siapa?"
"Rahasia."
Revan menunggu, tetapi Fina hanya menyuap buburnya dan menatap jendela. Ia tahu cara membaca wajah istrinya setelah beberapa pekan terakhir belajar membacanya dari awal: yang ini bukan rahasia yang menyakitkan. Ini rahasia yang disimpan karena hangat, dan ia tidak berhak merusaknya.
"Bagus," katanya. "Cocok."
Fina mendongak. Ia tampak heran sebentar, seperti sudah bersiap membela diri dan tidak jadi perlu. "Terima kasih, Mas."
"Aku keluar sebentar. Dimas ngajak ketemu." Revan menarik kursi, tidak duduk, hanya memegang sandarannya. "Boleh?"
"Mas tidak perlu minta izin untuk ketemu sahabat sendiri."
"Aku minta izin untuk meninggalkan kamu dua jam di hari Sabtu. Itu beda."
Fina meletakkan sendoknya. Beberapa detik ia memandang Revan, kemudian tersenyum, kecil dan lelah dan tulus. "Boleh, Mas. Langga sama Bima lagi menggambar di ruang tengah, Mbak Marni ada. Pergilah."
Dari ruang tengah terdengar suara Langga, tinggi dan serius. "Bima, itu bukan kuda, itu kambing!"
"Kuda!"
"Kuda nggak punya jenggot!"
Fina menutup mulut dengan punggung tangan, bahunya berguncang. Revan ikut tersenyum sebelum sempat menahan diri. Di ambang pintu ia berbalik sekali lagi, memandang bergo hitam itu, memandang istrinya yang sedang berusaha tidak tertawa, dan membawa gambaran itu bersamanya keluar rumah seperti membawa batu hangat di saku.
•||•
Kafe itu masih sama. Meja bundar di dekat jendela, kursi rotan yang berderit kalau diduduki terlalu cepat, dan aroma kopi yang tidak pernah Revan suka tetapi selalu ia pesan karena Dimas. Di sinilah, beberapa pekan lalu, Dimas membentaknya sampai pelayan menoleh. Di sini juga Dimas mengucapkan kalimat yang sampai sekarang kadang datang kembali di tengah malam: Gue mencintai Hasna.
Dimas sudah duduk. Secangkir chamomile di depannya, uapnya lurus naik. Ia memakai kemeja biru yang digulung sampai siku dan tidak tersenyum.
"Teh hijau?" tanyanya tanpa menyapa.
"Teh hijau."
Dimas memberi isyarat kepada pelayan. Revan duduk, dan untuk beberapa saat tak seorang pun bicara. Pelayan meletakkan cangkir. Revan memegangnya dengan dua tangan seperti orang kedinginan, padahal siang itu hangat.
"Lo udah bicara sama dia," kata Dimas.
Revan mengangguk. "Beberapa minggu lalu. Semuanya. Nggak ada yang gue sembunyiin."
"Hasna cerita. Dia bilang lo jujur sampai nyakitin." Dimas memutar cangkirnya setengah putaran. "Dia juga bilang dia sudah tahu sebelum lo buka mulut."
"Dia memang selalu duluan tahu."
"Itu bedanya dia dari kita berdua."
Revan menatap permukaan tehnya. Ada riak halus yang tidak ia sebabkan. Tangannya sendiri yang bergetar. "Dim, Kamis ini. Operasi Fina jam tujuh lewat tiga puluh dan gue nggak bisa geser. Hasna sudah cukup bulan, kapan saja bisa lahir. Dokter Hendra bilang, kalau dua-duanya jatuh di hari yang sama, gue cuma bisa di satu tempat."
"Gue udah baca jadwalnya. Reffa kirim ke gue semua."
"Reffa kirim?"
"Dia bukan musuh lo. Dia cuma ibu yang takut." Dimas mengangkat bahu. "Gue sudah ambil cuti dari hari Selasa. Mobil gue ada di rumah Reffa, tangki penuh. Kalau Hasna kontraksi jam berapa pun, gue yang nyetir."
"Dia minta apa-apa nggak? Semalam, maksud gue."
"Kerupuk mentah." Dimas hampir tersenyum. "Reffa melarang karena tensi. Gue bilang gue nggak lihat apa-apa, gue cuma lewat dapur. Hasna makan dua keping dan menangis karena enaknya."
Revan merasakan sesuatu di dadanya mengendur dan mengencang sekaligus. Ia menaruh cangkir dan menunggu sampai suaranya bisa dipercaya.
"Gue percaya sama lo," katanya. "Kalau Hasna jatuh, lo ada di sana. Itu... itu satu-satunya hal yang bikin gue bisa tidur seminggu ini."
"Jangan bilang gitu seolah gue lagi nolong lo."
"Gue nggak..."
"Gue ke sana buat Hasna dan bayinya. Bukan buat lo." Dimas mengatakannya pelan, tanpa marah, hanya jelas. "Kalau lo mau berterima kasih, berterima kasihlah nanti ke dia."
"Oke."
"Dan satu lagi." Dimas menatapnya lurus. "Kalau pada akhirnya lo lepas dia, dan gue nggak bilang itu pasti terjadi, gue cuma bilang kalau, lepas dengan hormat. Jangan pakai surat, jangan lewat pengacara tanpa duduk berhadapan. Jangan bikin dia merasa dibuang. Dia sudah cukup lama merasa jadi nomor dua di rumahnya sendiri, dan lo tahu itu."
Kalimat itu mengenai tepat di tempat yang sudah lama Revan hindari. Ia memandang keluar jendela. Seorang bapak sedang mengajari anak perempuannya mengendarai sepeda di trotoar, roda bantunya berdecit.
"Gue tahu," katanya. "Gue ngerti sekarang. Telat sembilan tahun, tapi gue ngerti."
"Telat, iya." Dimas tidak memberinya jalan keluar. "Tapi lo ngerti. Itu lebih dari yang bisa gue bilang soal banyak orang."
Revan tertawa pendek, getir. Ia mengusap wajah dengan telapak tangan. "Lo benci sama gue nggak, sih?"
"Hampir tiap hari." Dimas menyesap chamomile-nya. "Tapi lo sahabat gue sejak kelas satu SMA. Jadi gue cari cara lain." Matanya turun ke kantung mata Revan. "Lo sendiri kelihatan kayak orang yang tidur di kursi."
"Gue memang nggak tidur nyenyak. Tiap bunyi di rumah gue kira telepon rumah sakit."
"Sudah bilang ke Fina?"
"Dia yang nyuruh gue pakai bantal tambahan." Revan menyeringai tipis. "Dia bilang kalau gue ambruk, siapa yang urus Langga."
Hening lagi, tetapi lain sifatnya. Pelayan lewat mengganti gelas air. Di meja sebelah, dua perempuan tertawa pada layar ponsel.
"Dim." Revan memutar cangkirnya. "Kalau suatu hari nanti... kalau Hasna dan lo..."
"Stop."
"Gue cuma mau bilang..."
"Gue bilang stop, Van." Dimas meletakkan cangkir dengan bunyi kecil. Rahangnya mengeras sebentar sebelum ia mengurainya. "Jangan kasih gue Hasna seperti barang yang lo oper ke temen karena merasa bersalah. Dia bukan hadiah."
"Gue nggak bermaksud..."
"Gue tahu lo nggak bermaksud. Tapi itu yang bakal kedengaran." Dimas menarik napas dan melepaskannya pelan.
Revan memandangnya lama. Orang yang duduk di depannya ini, yang tadi malam mungkin kurang tidur sama seperti dirinya, adalah satu-satunya manusia yang pernah ia dengar membentak dirinya sendiri demi kebaikan orang lain.
"Lo bener," ucapnya.
"Kadang-kadang gue bener."
"Jadi gue harus apa?"
"Nggak usah apa-apa." Dimas menyunggingkan sudut bibir, tipis sekali, nyaris tidak kelihatan. "Cukup lo nggak jadi musuh."
Revan terdiam. Kemudian, tanpa banyak pertimbangan, ia mengulurkan tangan melintasi meja. Dimas menatap tangan itu sedetik, dua detik, seperti menilai ketulusannya. Ia menjabatnya. Genggamannya keras, tidak lama, dan hangat.
"Teh lo dingin," kata Dimas.
Revan menunduk. Tehnya memang sudah dingin, dan ia belum meminumnya sama sekali.