Lampu kamar Langga sudah dimatikan, tinggal lampu tidur berbentuk planet yang menyala jingga di meja belajar. Seprai astronomi Langga tertutup separuh oleh selimut Bima, karena tamu kecil itu menolak tidur di kasur tambahan dan memilih menyelinap ke sisi tembok seperti kucing yang sudah memutuskan tempatnya.
"Mas," bisik Bima.
"Hm."
"Mas masih bangun?"
"Kalau Mas sudah tidur, Mas nggak bisa jawab 'hm'."
Bima terkikik, lalu diam. Langga meraih kacamatanya dari meja, memakainya, dan memandang langit-langit yang ditempeli stiker bintang. Sejak punya kacamata, bintang-bintang itu ternyata punya ujung yang runcing. Dulu ia kira semuanya bulat.
"Mas." Suara Bima mengecil. "Tadi sore Mama nangis di kamar mandi. Aku dengar. Habis itu Mama keluar dan bilang matanya kemasukan sabun."
"Mungkin memang sabun."
"Mama nggak pakai sabun mata." Bima menggeser tubuhnya sampai bahunya menempel di bahu Langga. "Kalau Papa pisah sama Mama, Bima ikut siapa?"
Langga tidak langsung menjawab. Ia ingat Kakek pernah bilang, orang yang berpikir sebelum bicara tidak akan menyesal sesudahnya. Ia juga ingat Ibu pernah bilang, anak laki-laki tidak boleh membohongi adiknya, sekecil apa pun kebohongan itu.
"Bima ikut Mama," katanya akhirnya. "Karena Mama yang melahirkan Bima. Tapi Papa tetap Papa Bima, dan Mas tetap Mas Bima."
"Mas Langga tetap Mas aku?"
"Ya iyalah. Kamu pikir Mas bisa dikembalikan ke toko?"
"Tapi nanti nggak serumah."
"Rumah Oma Nenek di Bogor itu nggak jauh. Mas sudah lihat di peta." Langga menelan ludah, karena ia sebenarnya tidak yakin seberapa dekat itu. "Kita tetap adik-kakak. Nggak ada yang bisa pisahin. Papa nggak bisa, Mama nggak bisa, hakim juga nggak bisa."
"Hakim itu apa?"
"Orang yang pakai baju hitam dan palu. Tapi itu kalau nanti. Sekarang belum."
Bima terdiam. Dalam gelap, tangan kecilnya menyusup mencari tangan Langga, dan Langga membiarkannya. Jari-jari mereka saling menemukan. Hangat dan agak lengket, mungkin bekas puding tadi malam.
"Janji ya, Mas, jaga aku."
"Janji."
"Aku juga jaga Mas." Bima berpikir. "Aku jagain biar Mas nggak jatuh dari skuter lagi."
"Itu bukan salah skuternya."
"Itu salah Papa yang gendong aku dulu."
Langga menahan napas. Kalimat itu lewat begitu saja dari mulut adiknya, ringan, tanpa tahu bobotnya, dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Luka di dagunya sudah menutup lama, tinggal garis tipis, tetapi di dalam kepalanya hari itu masih terang: Papa berlari, Papa mengangkat Bima, Papa lupa ada anak lain di aspal.
"Itu sudah lewat," katanya pelan. "Papa sudah minta maaf. Langga maafin."
"Tapi Mas masih ingat."
"Masih. Tapi Mas ingat yang lain juga sekarang. Papa waktu pameran bilang, di depan semua orang di sekolah, bahwa Papa bangga." Ia terdiam sejenak. "Itu juga Mas ingat."
"Mas takut nggak?" tanya Bima. "Hari Kamis. Ibu mau dioperasi."
Langga menatap bintang-bintang runcing di langit-langit lebih lama dari yang perlu. Perutnya mendadak terasa seperti ada kerikil kecil yang menggelinding. "Takut."
"Aku juga."
"Ibu bilang takut itu boleh. Asal nggak dipelihara." Langga mengatur napas sebagaimana Ibu mengajarinya, tarik lewat hidung, buang pelan lewat mulut. "Jadi kita takut sebentar saja, habis itu kita gambar."
"Gambar apa?"
"Gambar Ibu pulang. Pakai kacamata, tapi Ibu yang pakai."
"Ibu nggak pakai kacamata."
"Di gambar boleh."
Bima terkikik, dan tawa kecil itu menenangkan Langga lebih dari nasihat siapa pun.
Pintu kamar terbuka sedikit, tanpa bunyi. Cahaya lorong menyelinap masuk, membentuk garis tipis di lantai.
Revan berdiri di sana.
Langga tahu sudah berapa lama ia di situ dari caranya berdiri: kaku, satu tangan masih di gagang pintu, seperti orang yang masuk ke rumah orang lain. Matanya merah.
"Papa dengar semua?" tanya Langga.
"Sebagian." Suara Revan serak. "Boleh Papa masuk?"
"Boleh."
Revan masuk dan duduk di tepi kasur. Kasur itu melesak sedikit, dan Bima langsung menggeser kakinya supaya muat. Revan menatap kedua anak itu bergantian, tangan di lututnya yang terkepal lalu terbuka, terkepal lalu terbuka.
"Papa nggak akan bohong," katanya. "Papa belum tahu apa yang akan terjadi sama Papa dan Mama Hasna. Kami masih bicara. Tapi yang Papa tahu pasti, Bima, Papa tetap Papa kamu. Dan Langga..." Ia menarik napas. "Papa nggak akan membiarkan kalian berdua pisah. Papa akan atur. Papa akan..."
"Papa."
Langga duduk, kacamatanya miring. Ia memandang wajah ayahnya dari dekat, dan ia melihat sesuatu yang dulu tidak pernah ada di sana: ketakutan yang tidak disembunyikan.
"Papa nggak usah janji apa-apa," ujarnya. "Papa tinggal ada."
Revan membuka mulut. Tidak ada kata yang keluar.
"Janji itu gampang. Papa dulu janji mau ke pameran juga, tapi nggak datang." Langga mengatakannya tanpa nada menyalahkan, seperti membacakan fakta dari buku pelajaran. "Tapi waktu pameran Papa datang dan berlutut. Itu bukan janji. Itu ada. Langga lebih suka yang itu."
Bima menguap lebar. "Aku juga lebih suka yang ada."
Revan menunduk. Bahunya bergerak sekali. Ia mengulurkan kedua lengannya, lalu berhenti. "Boleh Papa peluk kalian?"
Bima sudah lebih dulu menabrak dadanya. Langga menyusul, pelan, sambil memegangi kacamatanya yang nyaris jatuh. Mereka bertiga duduk begitu, kusut di antara selimut, sampai napas Bima melambat dan berat di bahu ayahnya.
•||•
Fina berdiri di lorong lantai atas dengan segelas air yang sudah lama dingin di tangannya. Ia tadinya hendak mengantar air itu ke kamar anak-anak, tetapi di depan pintu yang tidak rapat ia mendengar suara Langga, dan kakinya berhenti sendiri.
Ia mendengar semuanya. Dari "hakim" sampai "Papa tinggal ada".
Beberapa waktu kemudian Revan keluar dari kamar anak-anak sambil menutup pintu perlahan. Ia tidak melihat Fina. Ia berjalan lurus ke kamar mandi di ujung lorong, masuk, dan menutup pintu itu juga. Terdengar air keran mengalir deras, jauh lebih deras dari yang dibutuhkan untuk cuci tangan.
Fina tidak mendekat. Ia mengenal bunyi air yang dipakai untuk menutupi sesuatu. Ia sendiri sudah memakainya bertahun-tahun, di kamar mandi yang sama, di malam-malam ketika tidak ingin Langga mendengar.
Ia bersandar di dinding dengan gelas di dadanya dan membiarkan Revan menangis sendirian selama yang ia perlukan. Ketika keran akhirnya dimatikan, ia sudah kembali di depan pintu kamar tidur, seolah baru lewat.
Pintu kamar mandi terbuka. Wajah Revan basah, matanya merah, dan ia mengerjap ketika melihat Fina.
"Air," kata Fina, menyodorkan gelasnya. "Dingin. Maaf."
Revan menerimanya. Jemari mereka tidak bersentuhan. Ia meminum seluruhnya sampai habis.
"Kamu dengar," katanya, bukan bertanya.
"Sebagian." Fina berbohong sedikit. "Cukup untuk tahu anakmu lebih berani dari kita berdua."
"Dia bilang Papa tinggal ada."
"Berarti tinggallah, Mas." Fina menunduk ke gelas kosong di tangan Revan, lalu ke pintu kamar anak-anak yang tertutup. "Itu permintaan yang paling gampang dan paling susah. Tapi dia yang minta, bukan aku."