"Iya," kata Revan.
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya pada mulanya. Ia tidak tahu cara menyederhanakan hal sebesar itu untuk anak sembilan tahun, jadi ia memilih jujur dan pendek, seperti yang ia janjikan pada dirinya sendiri sejak Langga lahir.
"Dulu, sebelum Papa kenal Ibu, Kakek sakit. Ginjal Kakek rusak. Ibu mau memberi satu miliknya, dan dokter bilang cocok. Jadi Ibu memberi. Itu operasi pertama Ibu."
"Yang bekasnya di pinggang Ibu?"
"Iya. Yang bekasnya kamu tanya ke Kakek waktu itu."
Langga menunduk memandang sedotan di kotak susunya. "Terus yang tadi dipotong dokter?"
"Cuma sebagian dari yang satunya lagi. Dokter bilang sebagian besar masih ada. Ibu tidak perlu cuci darah."
"Sebagian besar itu berapa?"
Revan menarik napas. "Papa belum tahu, sayang. Besok Papa tanya."
Langga mengangguk satu kali, pelan, lalu menyandarkan kepala ke lengan Revan. Selama beberapa menit ia diam. Lampu lorong berdengung. Dari balik kaca terdengar bunyi mesin yang sama terus-menerus, dan Revan mendengarkannya seperti orang mendengarkan doa.
"Ibu memang begitu," kata Langga akhirnya, tanpa mengangkat kepala. "Ibu selalu kasih. Roti Langga, bekal Langga, rambut Ibu juga kasih ke Langga. Maksud Langga, Ibu bikin Langga nggak takut botak."
Revan menutup mata. Ia tidak mengatakan apa-apa karena kalau membuka mulut, ia akan menangis di depan anaknya, dan Langga sudah cukup menanggung malam ini.
Ia memikirkan Hasna yang pagi itu menyuruhnya pergi, dan Dimas yang menyiapkan mobilnya, dan Reffa yang menghitung berapa kali putrinya bertanya apakah ia sudah sampai. Semua orang di rumah sakit lain itu sudah memberinya sesuatu sepanjang hari itu. Ia belum memberi siapa pun apa-apa selain rasa terlambat.
Pukul satu lewat, napas Langga berubah teratur. Pita datang berjingkat membawa jaket, menyelimutkannya di bahu anak itu tanpa suara, lalu duduk di lantai di dekat kaki mereka seperti penjaga kecil yang tidak minta digaji.
•||•
Kantin rumah sakit buka pukul enam. Revan sudah di sana sebelum lampunya dinyalakan semua, duduk di meja paling sudut dengan teh hijau dalam gelas kertas yang tidak ia sentuh. Ia tidak tidur. Matanya terasa seperti diampelas.
Wira datang dengan tongkat, diantar Pak Ucup sampai pintu kantin, lalu duduk di seberangnya tanpa memesan apa pun.
"Pa." Revan mengatakannya pelan, tapi setiap suku katanya berat. "Aku mau tanya satu hal, dan Papa jawab jujur. Papa menikahkan aku dengannya untuk membayar utang?"
Wira memejamkan mata sebentar, seakan sudah tahu pertanyaan itu akan datang dan sudah berlatih seribu kali jawabannya, tapi tetap tidak siap.
"Sebagian, ya," katanya. "Utangnya ada, dan Papa tidak sanggup melunasinya sendiri. Papa khawatir keluarga ini kehilangan satu-satunya orang baik yang pernah masuk ke dalamnya. Papa melihat anak itu sendirian, Van. Tidak ada yang mencari dia, tidak ada yang menjaga dia. Papa mikir, kalau ia jadi bagian dari keluarga kita, ia tidak akan sendirian lagi."
"Dan Papa pikir aku akan menjaganya."
"Papa pikir kamu bisa dibentuk. Papa mengira bisa memaksamu." Wira membuka mata. Ada air di sana, tetapi suaranya tetap tenang. "Papa salah. Orang tidak bisa dipaksa mencintai, apalagi menjaga. Dan yang membayar kesalahan Papa bukan Papa. Dia."
Revan memutar gelas kertas di antara kedua tangannya. Teh di dalamnya sudah dingin dan permukaannya bergoyang halus. Ia ingin marah. Ia mencari marah itu di dalam dirinya, di tempat biasa ia menyimpannya, dan menemukan bahwa tempat itu kosong.
"Aku yang menyakitinya, Pa. Bukan Papa."
"Papa yang menaruh dia di rumahmu."
"Aku yang membiarkannya sendirian di dalamnya."
Mereka saling pandang. Dua laki-laki yang selama puluhan tahun lebih sering bertengkar soal bisnis daripada soal perasaan, kini duduk di meja plastik kantin pagi-pagi, tidak punya apa-apa untuk dibela.
"Mama tahu sekarang," lanjut Wira lebih lirih. "Semalam Papa ceritakan semuanya sampai habis, sampai Mama tidak bisa bicara. Pagi tadi Mama bilang, Pa, Mama mau masuk, tapi Mama takut. Mama takut dia bangun dan melihat wajah orang yang menyuruhnya pulang."
"Mama harus masuk."
"Itu yang Papa bilang." Wira tersenyum tipis, getir. "Mama bilang, kamu saja yang bilang ke dia, Van. Papa jawab, Mama sendiri yang menyuruhnya pulang, Mama sendiri yang harus minta ia tinggal."
"Kita sama-sama salah," kata Wira. "Tapi Papa tidak mau mati sebelum Papa melihat kamu memperbaikinya."
•||•
Pukul sepuluh, perawat membolehkan dua orang masuk sekaligus, lima menit saja. Ressie masuk lebih dulu, bersama Wira. Revan berdiri di ambang pintu ICU dan melihat ibunya berhenti di sisi ranjang, tidak menyentuh apa pun, hanya membungkuk sampai bibirnya hampir menyentuh telinga Fina.
Revan tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan ibunya. Tapi ia melihat bahu Ressie naik turun, dan ia melihat Wira menaruh tangan di punggung istrinya, lama, tanpa sepatah kata.
Ressie keluar tiga menit kemudian, bukan lima. Wajahnya sembap, tetapi ia berjalan lurus ke arah Revan dan berhenti tepat di depannya, dekat sekali.
"Dia kelihatan kecil sekali, Van," bisiknya. "Mama baru sadar dia selalu kelihatan kecil. Dan Mama selalu berpikir dia kuat karena dia tidak pernah bilang apa-apa."
"Memang kuat, Ma."
"Bukan karena itu." Ressie menggeleng. "Karena tidak ada yang mau mendengar kalau ia bilang. Termasuk Mama."
Ia meremas lengan Revan sekali, kasar, lalu pergi menyusul suaminya tanpa menoleh.
Iqbal menunggunya di lorong ketika Ressie sudah pergi. Dokter itu tampak seperti orang yang belum tidur sejak kemarin, dan Revan menyadari ia sendiri pasti terlihat begitu juga.
"Tekanan darahnya stabil sejak subuh," kata Iqbal. Ia menyebutkan angka-angkanya satu per satu, dan Revan mencatat dalam hati tanpa memahami semuanya. "Yang kami waspadai sekarang infeksi. Luka operasi besar, tubuhnya sedang lemah. Kami pantau tiap jam."
"Kapan dia bangun?"
"Itu yang tidak bisa saya janjikan. Tapi arah semuanya baik."
Revan mengucapkan terima kasih. Iqbal mengangguk dan pergi, dan di sepanjang percakapan itu tidak sekali pun dokter itu menyebut nama Fina tanpa "Bu" di depannya.
Ponsel Revan bergetar. Dimas.
"Van. Hasna baik. Tensinya bagus, dia sudah makan bubur setengah mangkuk." Suara Dimas terdengar serak tapi hangat. "Kirana kemarin diobservasi sehari. Tadi pagi sudah dipindah ke kamar Hasna. Dia nyaman. Dia tidur terus."
"Terima kasih, Dim."
"Hasna nitip. Dia bilang, 'Bilang Fina, Kirana sehat.' Itu saja. Dia nggak mau kata-kata lain."
Revan tersenyum, sekilas dan lelah. "Nanti gue sampaikan."
Ia baru menutup telepon ketika pintu ICU terbuka dan seorang perawat muda melongok keluar. Napasnya tertahan, matanya mencari-cari sampai menemukan wajahnya.
"Pak Revan," katanya. "Bapak boleh masuk. Ibu Fina bergerak."