Yang pertama Fina rasakan adalah berat. Kelopak matanya berat, lidahnya berat, dan di bawah selimut ada sesuatu yang berdenyut pelan di pinggang kanannya seperti jantung kedua yang salah tempat.
Yang kedua adalah suara. Mesin berbunyi tiap beberapa detik. Seseorang menarik napas di dekat telinganya, kasar dan basah, seperti orang yang menahan tangis.
"Fin. Fina. Kamu dengar aku?"
Ia mengenali suara itu. Ia mencoba membuka mata dan cahaya putih langsung menusuk. Ia mencobanya lagi, lebih pelan, dan wajah Revan muncul dari kabut. Rambutnya kusut, matanya merah, rahangnya gelap oleh janggut tipis.
Bibir Fina kering seperti kertas. Ia menggerakkannya, dan yang keluar hanya bunyi serak.
"Langga?"
"Langga baik." Revan mencondongkan tubuh. Tangannya melayang di atas selimut, tidak menyentuh, seperti ingin sekali tetapi menunggu. "Dia di luar sama Oma dan Kakek. Dia tidur di lantai semalam, di dekat pintu. Sekarang sedang makan roti. Kamu mau aku panggil dia?"
Fina menggeleng sedikit, hanya itu yang bisa. Ia ingin mengatakan, jangan, aku belum pantas dilihat. Tetapi kegelapan sudah naik lagi dari pinggir pandangan, hangat dan menarik, dan ia membiarkan dirinya tenggelam.
•||•
Ketika ia bangun lagi, tirai jendela sudah berwarna jingga pucat. Pagi. Ia tahu itu dari burung-burung yang entah bagaimana terdengar sampai ke lantai tiga rumah sakit.
Selang di hidungnya sudah dilepas. Hanya infus yang tertinggal di punggung tangan kiri. Dadanya masih sakit setiap menarik napas dalam, tetapi sakit yang bisa dihitung dan dikenali.
Revan ada di kursi di sisi ranjang. Kepalanya terkulai ke samping, tangan terlipat di dada, kemejanya kusut dan bekas kopi mengering di kerahnya. Ia tidur dengan mulut sedikit terbuka. Fina memandangnya agak lama. Ia pernah melihat suaminya tidur di kursi, tetapi tidak sekusut ini, dalam keadaan tidak tampan sama sekali, tanpa topeng apa pun.
Tangan kanannya naik ke kepala, refleks, mencari kain yang biasa ada di sana. Yang ia temukan hanya topi kain tipis dari rumah sakit dan kulit kepala yang licin di bawahnya.
Ia batuk kecil.
Revan terlonjak. "Fin? Kamu butuh air? Sakit? Aku panggil perawat..."
"Mas." Suaranya masih serak, tapi sekarang ada bentuknya. "Duduk."
Revan duduk. Ia memegang lututnya sendiri dengan dua tangan.
"Bergomu aku simpan," katanya cepat, seakan tahu apa yang tadi dicari tangan itu. "Bergo dari Hasna. Sudah dicuci Mbak Marni, ada di tas di lemari. Dan ada pesan dari Hasna. Kirana sehat."
Sesuatu melunak di wajah Fina, sebentar saja, seperti cahaya yang lewat di dinding.
"Syukurlah," bisiknya. Lalu wajah itu mengeras lagi, pelan-pelan, ketika ingatan lain naik.
Fina menatap langit-langit. Ada noda kecil di plafon yang menyerupai peta pulau. Ia menghitung napasnya sebelum bicara.
"Mas sudah tahu."
Itu bukan pertanyaan, dan Revan tidak berpura-pura menganggapnya begitu.
"Papa cerita," katanya. "Kamis malam. Semuanya."
Hening. Mesin berbunyi. Di lorong seseorang mendorong troli.
"Sekarang Mas tahu kenapa aku tidak bilang." Fina masih menatap plafon. Suaranya datar, bukan karena tak merasa, melainkan karena terlalu lelah untuk menaikkan nada. "Aku tidak mau Mas mencintai utang."
"Fin..."
"Dengar dulu." Ia menutup mata sebentar. "Kalau Mas tahu dari awal, Mas pasti baik padaku. Tapi baik karena merasa berutang itu lain. Itu hitungan. Aku tidak mau jadi angka di buku Mas. Aku sudah cukup lama jadi barang yang diberikan Papa."
Revan menunduk. Ia tidak membela diri. Ia tidak mencoba menyela. Fina menyadari itu dan sedikit terkejut.
"Aku tidak akan bilang aku tidak berutang," kata Revan akhirnya. "Keluarga kami berutang. Papa berutang. Mama berutang. Itu fakta, dan aku tidak akan menyangkalnya."
Fina membuka mata dan menoleh.
"Tapi dengar, Fin. Dengarkan yang ini." Revan mengangkat wajah. Matanya basah tapi suaranya bulat. "Teh hijau malam di kolam renang itu. Aku mengira buatan Hasna. Aku minum seperti orang yang tidak peduli rasanya, dan waktu aku tahu itu buatanmu, aku diam di balkon sampai pagi karena malu. Itu bukan utang. Itu malu."
Fina tidak menjawab.
"Balkon waktu kamu bilang capek. Itu bukan utang. Sholat subuh yang kamu menangis jadi makmum. Rambutmu di kamar mandi. Langga yang mencukur kepalanya sendiri supaya kamu tidak sendirian." Ia menggeleng pelan. "Aku jatuh bukan karena ginjalmu, Fin. Aku jatuh karena kamu bangun jam empat setiap hari untuk menyeduh teh orang yang tidak pernah bilang terima kasih."
Jari Fina berhenti di tepi selimut. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, dan itu bukan sakit bekas operasi.
"Itu kata-kata," katanya pelan. "Aku sudah dengar banyak kata-kata dari Mas, dan hampir semuanya tidak menjadi apa-apa."
"Aku tahu."
"Aku mau percaya." Suaranya pecah di tengah, dan ia berhenti sampai bisa melanjutkan. "Sungguh. Tapi aku baru bangun dari meja operasi, Mas. Aku bahkan belum tahu berapa ginjalku yang masih ada. Beri aku waktu untuk sembuh dulu."
Revan menatapnya lama. Ia tidak mengangguk, tidak menjanjikan apa-apa, tidak mengeluarkan satu pun kalimat manis yang biasanya muncul tanpa diminta.
"Berapa lama pun," katanya. "Aku di sini."
"Aku tidak minta Mas di sini."
"Aku tahu. Makanya aku yang memutuskan." Sudut bibirnya bergerak, nyaris tersenyum, nyaris. "Boleh aku pegang tanganmu? Yang tidak ada selangnya."
Fina melirik tangan kanannya yang tergeletak di atas selimut, kurus dan pucat, kuku-kukunya kehilangan warna. Lama ia berpikir. Ia tidak sedang menimbang Revan. Ia sedang menimbang dirinya sendiri, apakah ia sudah siap menerima sesuatu yang diminta dengan sopan.
"Boleh," katanya.
Revan menutupi tangan itu dengan telapaknya, hangat dan sedikit gemetar. Ia tidak menggenggam. Ia hanya membiarkannya di sana.
•||•
Di luar ICU, Langga menempelkan wajah ke kaca dengan kedua tangan di sisi pipi supaya tidak silau. Ia sudah di sana sejak tadi. Ia melihat Papa memegang tangan Ibu. Ia melihat Ibu tidak menariknya.
"Langga," panggil Pita pelan. Pita sendiri tampak tidak tidur, kerudungnya kusut dan matanya sembap.
Di balik kaca, Papa mengatakan sesuatu yang tidak terdengar. Ibu menjawab dengan kata pendek. Papa menunduk, bahunya turun.
Langga memperhatikan bahu itu dengan serius. Ia sudah belajar membaca gambar dari kakeknya. Ia belajar bahwa kadang bayangan menceritakan lebih banyak daripada benda, dan bahwa garis yang paling pendek sering kali yang paling jujur.
"Langga," ulang Pita. "Ayo, sarapan dulu."
"Sebentar, Mbak Pita." Langga tidak menoleh. "Langga mau lihat Ibu bangun dulu."
"Ibu sudah bangun, Nak. Lihat itu."
"Iya." Langga mengangguk, dan di kaca, napasnya membentuk kabut kecil yang melebar dan menyusut. "Tapi Langga mau lihat sampai Ibu senyum."