Ceklek.
Bunyi gagang pintu itu terdengar seperti pukulan kecil di ruangan yang sunyi. Fina baru saja kembali dari tiga langkah pertamanya sejak operasi: dari ranjang ke kursi, dituntun dua perawat, keringat dingin di tengkuk dan kaki yang gemetar seperti kaki anak rusa. Ia duduk dengan napas pendek-pendek ketika pintu terbuka dan aroma jahe memenuhi kamar.
Ressie berdiri di ambang. Tidak bersama Wira, tidak bersama Revan. Di tangannya ada tas kain besar dan di dalamnya rantang bersusun tiga yang kelihatan sudah sangat tua.
"Ma," kata Fina.
"Jangan berdiri." Ressie langsung melangkah, seolah Fina memang sedang berdiri. "Duduk saja. Mama bawa bubur."
"Mama sendirian?"
"Papa ada di bawah, Mama suruh menunggu. Revan jemput Langga di sekolah. Dia sudah izin ke dokter supaya Mama boleh masuk sendirian." Ressie menaruh tas di meja dan membuka rantang dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap. "Mama masak sendiri. Mbak Marni mau bantu, Mama usir dari dapur."
Fina baru sadar Ressie tidak berdandan. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik merah yang selalu rapi seperti baju zirah, hanya wajah yang tampak lebih tua, lebih lunak, dengan bekas luka bakar kecil di punggung tangan kanan, merah dan masih baru. Wanita itu menyadari tatapannya dan menarik tangan ke belakang punggung.
"Wajan," katanya singkat. "Jangan dibahas."
Uap tipis naik dari mangkuk. Bubur ayam, halus, dengan irisan jahe yang nyaris tak terlihat dan taburan bawang goreng sedikit di atas. Tidak ada santan. Fina menatapnya, dan sesuatu yang aneh terjadi di tenggorokannya.
"Mama tahu aku tidak boleh santan."
"Mama tanya Papa. Papa tanya dokter." Ressie menyendok, meniup, lalu mengangkat sendok itu ke depan mulut Fina. "Buka."
"Ma, aku bisa sendiri."
"Tangan kamu gemetar." Ressie tidak menurunkan sendok. "Buka, Fina."
Fina membuka mulut. Hangatnya meluncur di lidah, gurih dan lembut, rasa yang ia kenal dari rumah-rumah orang lain di masa kecilnya, rumah yang tidak pernah jadi miliknya. Ia menelan pelan.
"Enak," bisiknya.
"Mama masak jam lima." Ressie menyendok lagi. Matanya tidak naik dari mangkuk. "Dari kecil Revan sakit apa pun, Mama masak ini. Cuma ini yang Mama bisa."
Suapan ketiga. Keempat. Di suapan kelima, sendok itu mulai bergetar, dan Ressie meletakkannya di pinggir mangkuk lalu menggenggam kedua tangannya sendiri di pangkuan. Bibirnya bergerak tanpa suara.
"Mama," kata Fina.
"Mama menyebut kamu kampungan." Kalimat itu keluar patah-patah, dipaksa satu per satu. "Di dapur. Di depan Revan. Mama sodorkan amplop. Mama..." Ia berhenti. Napasnya naik. "Mama minta maaf, Fina."
Fina diam. Di luar jendela, seekor burung hinggap di dahan dan terbang lagi.
"Bukan karena Papa cerita," lanjut Ressie lebih pelan. "Mama tahu kamu pasti mikir begitu. Mama juga mikir begitu semalaman. Tapi kata itu Mama ucapkan sebelum Mama tahu apa-apa, dan itu yang Mama sesali paling dalam. Bukan karena ginjalnya. Karena Mama tidak bertanya. Mama selalu mau punya menantu yang Mama pilih dan Mama lupa menantu itu manusia yang sudah duduk di meja makan hampir sembilan tahun tanpa pernah mengeluh."
Ia menarik tisu dari tas, menekannya ke mata, dan suara berikutnya terdengar teredam.
"Mama bukan orang jahat. Mama kehilangan satu bayi sebelum Revan lahir, kamu tahu itu? Setelah itu Mama jadi... takut kehilangan apa pun. Mama pikir kalau Mama memegang semuanya erat-erat, tidak ada yang bisa lepas. Hasna Mama pegang. Revan Mama pegang. Papa Mama pegang. Kamu Mama dorong karena Mama pikir kamu satu-satunya yang tidak akan Mama sayangi, supaya kalau kamu pergi, Mama tidak apa-apa."
Fina tidak tahu harus berkata apa, jadi ia diam dan membiarkan Ressie selesai.
"Mama tidak apa-apa kalau kamu pergi. Itu yang selalu Mama bilang ke diri sendiri." Ressie mengangkat wajah. Matanya merah dan basah dan telanjang. "Mama bohong. Mama minta maaf, menantu."
Kata terakhir itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang rapuh yang berhasil dibawa melewati seluruh jarak.
Fina mengulurkan tangan yang tidak bersambung ke selang, menyentuh punggung tangan Ressie. Jari-jari mertuanya dingin.
"Aku memaafkan, Ma," katanya.
Ressie menangis. Tanpa suara, mula-mula, lalu dengan bahu yang naik turun, tubuh tegak itu menunduk sampai dahinya hampir menyentuh pinggir ranjang. Fina mengusap punggung tangannya pelan-pelan seperti menenangkan anak, dan sambil melakukannya ia sadar bahwa ia tidak sedang berpura-pura tabah. Rasa itu memang ada. Pelan, tapi ada, seperti air yang mulai menemukan jalan keluar dari tanah.
•||•
"Boleh Papa masuk?"
Wira berdiri di ambang pintu dengan tongkat dan peci yang agak miring. Entah sudah berapa lama. Barangkali sejak sendok pertama.
"Papa," kata Fina.
Ressie buru-buru mengusap pipinya, merapikan kerudung, dan bangkit dengan punggung kembali lurus. Tetapi sudah terlambat; Wira tersenyum, kecil dan lembut, senyum seseorang yang melihat istrinya jatuh dan bangun lagi di hadapan orang lain dan merasa bangga.
Wira berjalan pelan ke tepi ranjang. Ia tidak duduk, tidak menyentuh apa-apa. Tongkatnya mengetuk lantai sekali.
Fina menatapnya. Ia mengumpulkan kata-kata yang sudah ia susun sejak malam kemarin, dan kata-kata itu ternyata jauh lebih sederhana ketika diucapkan.
"Papa melanggar janji," katanya. "Aku tahu kenapa. Aku tidak marah."
Sebelum Wira sempat menjawab, Fina menambahkan, lebih pelan, "Tapi Papa jangan menyalahkan diri terus. Aku yang memintanya merahasiakan. Aku juga ikut menanggung."
Mata Wira melebar sedikit, lalu mengerjap dan melembut. Bahunya turun, napasnya keluar panjang.
"Papa lebih takut kehilangan kamu daripada dimarahi," katanya. Suaranya hampir tak terdengar, namun jelas. Senyumnya tidak lepas dari bibir, dan matanya basah. "Maaf, Nak."
"Sudah, Pa."
Mereka saling memandang. Tidak perlu lebih. Lalu Fina bertanya apa yang belum berani ia tanyakan kepada keluarganya.
"Pa, kata dokter Hendra, ginjalku yang tersisa berapa?"
"Tadi pagi ia bicara dengan Revan." Wira berpikir sejenak, mengingat-ingat dengan sungguh-sungguh. "Lebih dari separuh, katanya. Cukup untuk hidup biasa kalau dijaga. Revan sudah menyampaikannya kepada Langga dengan gambar. Satu lingkaran besar, dipotong sedikit di pinggirnya."
Fina tertawa, dan tawa itu membuat jahitan di pinggangnya menarik. Ia meringis, tapi ia tidak berhenti tersenyum.
Ressie berdeham, meraih rantang kosong, dan mulai memasukkan sendok serta mangkuk ke dalam tas dengan gerakan cepat orang yang butuh sesuatu untuk dikerjakan.
"Nanti Mama bawa pepes ikan, Fin," katanya tanpa menoleh. "Kamu suka pepes, kan? Jangan jawab. Mama bawa saja."
Fina membuka mulut untuk berkata sesuatu, dan baru pada saat itu ia menyadarinya: Fin. Bukan Fina, bukan kamu, bukan perempuan itu. Fin, seperti yang dipakai Revan, seperti yang dipakai Hasna, seperti nama yang diberikan orang kepada seseorang yang mereka biarkan tinggal.