Kaktus kecil itu hampir tenggelam dalam pot plastik sebesar cangkir, dan Langga memeluknya dengan dua tangan di depan dada seperti membawa telur. Ia masuk ke ruang rawat nomor 417 lebih dulu daripada siapa pun, mata lurus ke ranjang.
"Langga beli pakai uang jajan," katanya sebelum Fina sempat bertanya. "Kata penjualnya nggak perlu disiram tiap hari. Cocok buat orang yang lagi nggak boleh capek."
"Kaktus itu yang pilih Bima!" protes Bima dari belakang. Ia memakai kacamata plastik bulat berwarna merah tanpa lensa, miring sedikit di hidungnya. "Dia yang lagi senyum."
"Kaktus nggak punya mulut."
"Punya!"
"Anak-anak," kata Fina dari ranjang yang baru saja didorong masuk perawat. Suaranya masih lemah, tapi sudut bibirnya naik. "Taruh di jendela saja. Ibu mau lihat."
Mereka berebut menaruh pot itu di ambang jendela, bergeser dua senti ke kiri, tiga ke kanan, sampai sepakat bahwa tempatnya sudah benar. Revan berdiri di sisi ranjang, memeriksa selang infus Fina yang tinggal satu, bantal yang ditumpuk, segelas air di meja. Ruang rawat biasa ini lebih lebar daripada ruang pantau, dengan sofa lipat untuk penunggu dan jendela yang menghadap deretan pohon trembesi. Pemandangan pertama yang tidak berupa tembok.
"Mas, aku tidak akan jatuh," kata Fina.
"Aku cuma mengecek."
"Mas sudah mengecek tiga kali."
"Empat." Ia memperbaiki letak bantal sekali lagi. "Tapi boleh kuhitung yang kelima."
Fina menggeleng, tetapi ia membiarkan.
Fina menahan lengan Revan ketika ia hendak beranjak, hanya dengan dua jari, ringan sekali. "Mas. Kalau Mas mau bicara dengan Bima, jangan hari ini yang berat. Dan jangan janji soal hasil. Anak itu hafal janji yang patah lebih baik daripada orang dewasa."
"Aku tahu."
"Aku tahu Mas tahu." Ia melepas jarinya. "Aku cuma mau Mas tahu aku ada di sini kalau Mas mau cerita sesudahnya."
Revan memandang jari-jari itu yang kini kembali ke selimut. Ia ingin menjawab bahwa itu seharusnya kalimat yang ia ucapkan kepada Fina, bukan sebaliknya. Tetapi ia hanya berkata, "Terima kasih," dan itu cukup.
Setengah jam kemudian, setelah Langga duduk di lantai mengerjakan PR dan Bima menghabiskan sepotong bolu yang dibawa Pita, Revan menyentuh bahu Bima.
"Bim. Ikut Papa ke taman sebentar?"
Bima menoleh. Matanya yang besar menatap Revan dari balik bingkai merah itu, dan Revan melihat bahwa anak itu sudah tahu akan diajak bicara apa.
Taman rumah sakit kosong siang itu. Mereka duduk di bangku batu di bawah pohon ketapang, jarak antara keduanya cukup lebar untuk menaruh satu tas sekolah. Revan membiarkan jarak itu. Ia tidak mau mendesak.
"Bim, Papa mau bilang sesuatu, dan Papa tidak mau bohong." Ia memilih kata-katanya seperti memilih jalan di tanah licin. "Apa pun yang diputuskan Mama dan Papa nanti, kamu tetap anak Papa. Selalu. Dan Mama sayang kamu."
"Papa sama Mama mau pisah?"
"Mungkin Mama dan Papa nanti tinggal di rumah yang berbeda." Revan menelan ludah. "Papa belum tahu pasti. Mama yang akan bilang. Tapi Papa tidak mau kamu kaget."
Bima diam lama sekali. Ia memain-mainkan kacamata plastiknya, menaikkannya ke dahi, menurunkannya lagi.
"Kayak teman Bima di sekolah," katanya akhirnya. "Papa sama Mamanya rumahnya beda. Dia dua hari di rumah Papa, lima hari di rumah Mama. Dia bilang nggak apa-apa. Dia bilang punya dua kamar."
"Kamu mau punya dua kamar?"
"Nggak mau." Bima menggeleng keras. "Bima mau satu kamar. Tapi kalau Papa rumahnya beda, siapa yang bacain Nabi Yusuf?"
Dada Revan seperti diremas dari dalam. "Papa yang bacain. Di rumah Mama kalau Papa datang, atau di telepon kalau Papa lagi jauh. Papa janji."
"Janji beneran?"
"Janji yang bisa Papa tepati," kata Revan. "Itu yang Papa belajar dari Langga."
Bima mengangguk, lalu menyandarkan kepala ke lengan Revan. Bisa dibilang itu bukan pelukan, hanya sebuah tempelan kecil di sisi tubuh. Revan tidak bergerak supaya tidak merusaknya.
•||•
Pukul tujuh malam ia tiba di rumah dengan jaket tersampir di tangan dan aroma antiseptik di bajunya. Ruang tamu lebih terang dari yang ia ingat. Lampu gantung menyala semua, seperti rumah yang ingin tampak baik-baik saja.
Reffa berdiri di tengah ruangan. Tangan di pinggang, punggung lurus, mata menyala.
"Mama ingin bicara," katanya sebelum Revan sempat menyapa. "Bima pulang tadi sore dan bilang Papa mau tinggal di rumah lain. Kamu mau ambil Bima?"
"Ma..."
"Kamu mau memisahkan dia dari ibunya? Setelah semua ini? Setelah Hasna melahirkan sendirian di meja operasi?"
"Hasna tidak sendirian. Mama ada di sana, Dimas ada." Revan menaruh jaketnya di sandaran sofa perlahan. Suaranya rendah dan tenang, dan ia heran dari mana ia mendapat ketenangan itu. "Dan aku tidak akan mengambil Bima. Aku tidak akan memisahkan anak dari ibunya. Tidak sekarang, tidak nanti."
"Bima itu yang membuat dia kuat selama hamil," kata Reffa, dan suaranya mulai retak di tepinya. "Setiap kali tensinya naik, setiap kali dia menangis tengah malam, dia pegang tangan Bima dan bilang, Mama masih di sini. Kamu pikir Mama bisa diam kalau dengar anak itu dipisahkan dari ibunya?"
"Aku mengerti, Ma."
"Kamu tidak mengerti."
"Mungkin belum semuanya." Revan menatapnya lurus. "Tapi aku mengerti Mama marah karena sayang. Aku juga marah pada diriku sendiri karena itu."
Reffa membuka mulut untuk menyerang lagi, tetapi tidak ada yang keluar. Ia hanya menatap Revan, lama, mencari sesuatu di wajah menantunya, kebohongan, barangkali, atau kelemahan, dan pelan-pelan matanya turun.
"Ma," ujar sebuah suara dari tangga. "Cukup."
Hasna berdiri di anak tangga ketiga dengan satu tangan memegang pegangan, rambut diikat sembarangan, gamis rumah warna abu-abu. Kirana tidur di kain gendongan di dadanya. Wajahnya lebih tirus daripada seminggu yang lalu, tapi matanya jernih.
"Aku yang suruh Bima cerita, Ma. Aku tanya Papa-nya bilang apa. Revan jujur. Itu bukan serangan."
"Hasna..."
"Ma. Tolong. Aku mau bicara berdua."
Reffa menatap putrinya, lalu Revan, lalu menarik napas sambil memejamkan mata. Tanpa sepatah kata ia berjalan ke dapur. Terdengar air keran dibuka terlalu keras.
Hasna turun pelan-pelan, satu anak tangga demi satu, tangan menjaga bayi di dadanya. Ia berhenti di depan Revan. Dari jarak sedekat itu Revan bisa mencium bau susu dan minyak telon.
"Dia sudah makan?" tanya Revan, mengangguk ke arah Kirana.
"Dua puluh menit lalu. Dia tidur kenyang." Hasna menatap wajah kecil itu, lalu mengangkat mata. "Kamu kelihatan mengerikan."
"Aku tahu."
"Mandi. Tidur. Besok kamu perlu jadi orang yang waras."
"Na..."
"Revan." Ia memanggil nama lengkap itu dengan nada yang tidak biasa, bukan marah, bukan lembut, hanya mantap. "Datang Senin. Sore. Sendirian, Van. Ada yang harus kuputuskan."