Tanah makam masih basah oleh hujan semalam, dan Fina berhenti di gerbang karena kakinya tiba-tiba menolak melangkah.
"Mau kutemani sampai sana?" tanya Revan pelan.
"Aku bisa jalan sendiri." Ia menarik napas. "Tapi aku mau Mas di belakangku. Dekat."
Revan mengangguk dan menyesuaikan langkah. Di depan mereka Langga berjalan membawa seplastik kembang tabur dan botol air mawar, kacamatanya berembun, sesekali menoleh ke belakang memastikan Ibu tidak tertinggal. Arini menyusul dari mobil dengan payung terlipat dan sekeranjang kecil bunga melati yang ia petik dari pekarangannya pagi tadi.
Dua nisan itu bersisian di bawah pohon kamboja. Satu sudah lebih tua, batunya pudar oleh bertahun-tahun hujan, dengan nama Shanti Amalia terukir tipis. Di sebelahnya, nisan lain yang lebih baru, namanya Argantara Ahmad, tanahnya baru sedikit menurun karena waktu.
Arini berlutut lebih dulu dan mencabuti rumput liar dengan tangan, napasnya sedikit terengah.
"Papamu tidak pernah pandai bicara," katanya tanpa menoleh, kepada rumput di tangannya. "Dia lebih suka menyiram tanaman daripada mengaku salah. Ibu baru mengerti belakangan, semua tanaman di rumah itu caranya meminta maaf."
"Aku tahu, Bu."
"Ibu tahu kamu tahu." Arini tersenyum tipis dan melempar segenggam rumput ke samping. "Tetap saja Ibu mau bilang."
Langga ikut berjongkok. Ia mengusap nisan Kakek Arga dengan telapak kecilnya, lalu menoleh pada Fina.
"Ibu. Langga boleh baca doa?"
"Boleh, sayang."
Langga menengadahkan tangan. Suaranya jernih dan sedikit terburu-buru, tetapi tiap kata keluar tanpa salah, doa pendek yang Fina ajarkan waktu ia masih sangat kecil, doa untuk orang tua yang sudah pergi. Revan menunduk dengan tangan terbuka di sisinya, dan Fina melihat bahunya sedikit gemetar. Arini menutup mata. Di sela suara anak itu, burung gagak berbunyi dua kali, jauh.
Selesai, Langga mengusap wajah dengan kedua tangan. "Kakek Arga bisa dengar, ya, Bu?"
"Bisa. Kakek dengar semuanya."
"Termasuk yang Langga bilang tadi malam di bawah selimut?"
"Termasuk itu."
Langga mengangguk puas dan menggandeng tangan Arini. "Nenek Arini, Langga mau beli air minum di warung depan. Temani."
Arini melirik Fina, lalu Revan, dan mengerti tanpa perlu diberi tahu. "Ayo. Sekalian Nenek mau beli pisang."
Mereka berjalan menjauh, dan Revan, tanpa diminta, bergeser mundur sampai berdiri di bawah pohon di tepi jalan setapak, jauh cukup untuk tidak mendengar kecuali Fina memanggil, dekat cukup untuk melihat.
•||•
Fina duduk di tanah di sisi nisan Mama, dengan kaki menekuk ke samping, hati-hati karena pinggang kanannya. Ia menabur kembang. Ia menyiram air mawar. Lalu ia diam lama, menatap nama yang ia hafal dari kecil, dengan suara yang hanya tinggal samar di ingatannya.
"Mama."
Angin menggerakkan daun kamboja. Satu bunga jatuh ke pangkuannya.
"Aku datang. Maaf lama. Aku sibuk jadi orang yang tidak mau merepotkan siapa pun." Ia tersenyum miring. "Mama pasti geleng-geleng."
Ia menarik napas dan bercerita. Apa adanya, tanpa dipoles. Tentang toko yang kini punya papan dengan namanya. Tentang kanker, kemo, rambut yang rontok, anak-anak yang menggunduli kepala. Tentang operasi dan dr. Hendra yang menggambar ginjal di kertas. Tentang bayangan kecil yang ternyata jaringan parut. Tentang Hasna yang menulis surat. Tentang Revan yang membaca Nabi Ayub di lantai kamar, memasak bubur yang gosong, bersujud di lorong rumah sakit.
"Aku takut, Ma. Sampai sekarang pun masih. Tapi aku sudah tidak bersembunyi. Dulu Mama bilang Allah tidak akan meninggalkanku, dan aku kira itu cuma cara menenangkan anak kecil. Ternyata Mama benar. Hanya saja Dia kirim lewat orang-orang yang tidak kuduga." Suaranya serak. "Terkadang munafik itu diperlukan, kata Mama. Aku sudah cukup lama munafik, Ma. Aku mau berhenti."
Ia mengusap nisan itu satu kali, dari atas ke bawah, lalu bergeser pelan ke nisan di sampingnya.
"Papa."
Dari saku gamisnya, ia mengeluarkan amplop yang sudah kusut di sudut-sudutnya karena terlalu sering dipegang. Tulisan tangan biru di depan: Untuk Safina.
"Ibu bilang bukalah kalau sudah memilih bahagia. Aku belum yakin aku sudah memilih. Tapi aku yakin aku sudah siap membaca."
Ia membuka lipatannya. Hanya satu lembar, tulisan Papa yang besar dan sedikit gemetar, seperti ditulis di akhir hidup.
Fina,
Papa tidak berhak meminta apa pun. Papa hanya mau kamu tahu bahwa Papa bangga, dan bahwa Papa menyesal rumah kita mengajarimu menahan sebelum mengajarimu meminta.
Kalau kamu mau pergi, pergilah dengan kepala tegak.
Kalau kamu mau tinggal, tinggallah karena kamu mau.
Dua-duanya Papa restui. Dua-duanya Papa cintai.
Maafkan Papa.
Papa
Fina membaca sampai selesai. Lalu membacanya lagi. Air matanya jatuh ke kertas, dan ia buru-buru menyekanya dengan lengan baju supaya tinta itu tidak luntur.
•||•
Ia melipat surat itu dan menaruhnya di dada. Ia tidak menahan tangis lagi. Ia menangis pelan dan lega, dan ketika selesai ia menyadari sesuatu dengan jernih: ia tidak perlu menahan apa pun lagi.
Ia menoleh ke belakang. Revan masih berdiri di bawah pohon, tangan di saku, wajahnya penuh pertanyaan yang tidak ia ucapkan. Ia melihat Fina menoleh, lalu melangkah mendekat, ragu, tiga langkah, empat.
"Fin..."
"Mas." Fina mengangkat tangan. "Aku dulu."
Revan berhenti, satu langkah darinya.
Fina berdiri dengan bantuan tangan di nisan Papa. Ia tidak menyambut uluran Revan, karena ia ingin berdiri dengan kakinya sendiri untuk ini. Ketika tegak, ia menatap mata Revan lurus-lurus.
"Aku sudah baca surat Papa. Dia bilang aku boleh pergi, atau tinggal. Dua-duanya boleh." Suaranya kecil, tetapi tidak goyah. "Aku tinggal karena aku mau, Mas. Aku memilihmu."
Revan tidak bergerak. Angin menggerakkan ujung bajunya. Di wajahnya sesuatu runtuh dan tumbuh pada saat yang sama.
"Bukan karena apa pun. Bukan karena ada yang menyuruh. Hanya karena aku mau." Fina menarik napas yang gemetar. "Itu saja. Itu yang mau kukatakan."
Revan memejamkan mata, lama. Ketika terbuka, matanya basah dan ia tidak menyekanya.
Tangannya terulur dan berhenti sejengkal dari bahu Fina, menunggu. Fina mengangguk kecil. "Boleh."
Tangan itu mendarat di bahu Fina, hangat dan hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang baru. Ia tidak memeluk. Ia hanya memegang, dan membiarkan Fina bersandar sedikit kalau ia mau. Fina bersandar.
"Terima kasih," kata Revan, serak. "Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"Aku tahu."
"Ada satu tempat lagi yang ingin kuajak." Revan menarik napas, mencoba tersenyum. "Tapi nanti. Kalau rambutmu sudah tumbuh."
Fina tertawa kecil di antara air mata. "Berapa lama menunggu?"
"Selama yang kamu perlukan."
Dari arah gerbang terdengar suara Langga memanggil, nyaring dan polos, menembus keheningan pemakaman.
"Ibu! Papa! Nenek Arini beli pisang tiga sisir! Boleh makan sekarang?"
Fina menutup mulut dengan telapak tangan, dan Revan tertawa dengan tangan masih di bahunya.
"Boleh!" seru Fina. "Tunggu Ibu!"