Dua bulan sesudah ziarah itu, hampir empat bulan sesudah operasi, rambut Fina akhirnya tumbuh cukup panjang untuk dijepit dengan jepit kecil, dan pagi Sabtu di vila Bandung ia memutuskan menyeduh teh tanpa bergo, di teras, di depan keluarganya.
Kabut masih menggantung di antara pohon pinus. Udara dingin, bau tanah basah, dan di meja kayu bulat di teras berjajar cangkir-cangkir kecil yang ia ambil sendiri dari lemari dapur vila. Fina menuang air dari ketel setelah gelembung-gelembung kecilnya hilang. Ia menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga puluh, sembilan puluh.
"Satu setengah menit," gumam Revan di sampingnya, duduk dengan kartu kecil kusut di tangan. Kartu yang sama, tulisan tangannya sendiri, sudah lecek di tepinya.
"Mas hafal juga ternyata."
"Aku sudah tidak butuh kartunya. Aku cuma suka membawanya." Ia memasukkan kartu itu ke saku. "Rambutmu bagus."
"Baru sejari."
"Sejari yang bagus."
"Mas." Fina menunduk ke cangkirnya, menyembunyikan senyum. "Katanya satu tempat lagi, kalau rambutku sudah tumbuh."
"Sudah sejari."
"Laut?"
"Bulan depan. Aku sudah pesan penginapannya. Pantainya sepi sekali, di sebelahnya tidak ada apa-apa."
"Tidak ada orang?"
"Hanya kepiting."
Dari ujung teras, Langga mengangkat kepala seperti kelinci mendengar bunyi wortel. "Aku ikut!"
"Siapa bilang kamu diundang?" tanya Revan.
"Buku biru yang bilang. Langga sudah baca!"
"Langga," kata Fina, "itu buku Ibu."
"Tapi di situ ada gambar kepiting, Bu. Dua anak dan kepiting. Langga yang gambar itu, jadi Langga harus ada di pantainya!"
Fina menuangkan teh ke cangkir pertama dan menyodorkannya pada Revan. Ia mengangkat jepit di sisi kiri kepalanya dengan jari, merasakan kulit kepala yang sedikit kasar dan rambut halus yang masih terasa asing. Tidak apa-apa. Ia sedang belajar mengenalnya.
Di ujung teras, Langga duduk bersila di lantai dengan buku sketsa di pangkuan, kacamata tegak di hidung. Ia menggambar sesuatu yang tidak mau ditunjukkan siapa pun.
"Gambar apa itu, Langga?" tanya Wira.
"Rahasia, Kakek. Nanti kalau sudah jadi."
"Kalau Kakek tebak?"
"Kakek tebak salah. Pasti salah."
"Kakek kan pandai menebak."
"Tapi ini Langga yang gambar."
Wira tertawa kecil, terbatuk, dan Ressie menepuk punggungnya tanpa menoleh. Di kursi rotan, Wira bertopi dan berjaket tebal menyeruput teh dengan mata setengah terpejam, sementara Ressie, di sampingnya, memotong-motong pisang goreng yang ia bawa dari rumah dalam kotak makan.
"Ma, Pa," kata Fina. "Tehnya."
"Terima kasih, Fin." Ressie menerima cangkirnya tanpa menunggu diminta dua kali. "Kamu tidak kedinginan?"
"Tidak, Ma."
"Pakai syal Mama ini."
"Ma, aku sudah..."
"Pakai." Ressie melingkarkan syal abu-abu rajut itu ke bahu Fina sebelum ia sempat menolak, gerakannya kikuk tapi mantap. "Mama tidak mau menantu Mama kena flu."
Wira menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Ponsel di meja bergetar. Pita, mengirim foto antrean hari kopi: panjang, sampai ke trotoar, dan di depan, dengan celemek dan wajah panik, Pita sendiri mengacungkan dua jari. Fina membalas dengan stiker jempol yang ia pelajari dari Langga, lalu menaruh ponselnya telungkup.
•||•
Pukul sepuluh, sebuah mobil abu-abu berhenti di halaman vila, dan Fina sempat menarik bergo dari kursi sebelum langkah-langkah kecil terdengar di kerikil.
"Mama Ibu!"
Bima berlari lebih dulu, dengan topi rajut dan sepatu yang talinya sudah lepas. Fina berlutut menerimanya, sambil memperbaiki bergo, dan Bima menempelkan pipi dingin ke lehernya. Di belakang, Langga sudah berdiri dengan mulut terbuka lebar.
"Bima! Aku gambar kepiting!"
"Mana, mana?"
Dua anak itu berlari ke arah buku sketsa dan langsung menjadi satu gumpalan suara.
Hasna turun dari kursi depan dengan Kirana di gendongan, bundelan kecil dalam selimut rajut merah muda pucat yang tepinya sedikit tidak rata. Gamisnya hijau tua, kerudungnya sederhana, dan senyumnya, senyum yang dulu selalu punya sudut tajam di pinggirnya, kini cuma senyum. Reffa tidak ikut. Dari bagasi, Dimas mengangkat dua tas besar dan satu kardus, menurunkannya di undakan teras tanpa berkata apa-apa, lalu mundur kembali ke samping mobil dengan tangan di saku.
Revan berdiri. Ia dan Dimas bertukar anggukan pendek, yang artinya cukup.
"Pagi, Fin," kata Dimas dari bawah undakan.
"Pagi, Mas Dimas. Mau teh?"
"Nanti, kalau barangnya sudah selesai kuturunkan." Ia menggaruk tengkuk. "Takut tumpah."
"Bawa saja, Dim," kata Hasna tanpa menoleh. "Kamu selalu bilang nanti, dan nantinya tidak datang."
"Iya, Na." Dimas tersenyum kecil dan, untuk pertama kali pagi itu, melangkah naik.
Hasna menaiki undakan dan berhenti di depan meja teh. Matanya turun ke ketel, ke cangkir, ke tangan Fina.
"Satu setengah menit, kan?" tanyanya.
"Mbak hafal."
"Revan cerita dua kali. Tiga." Hasna duduk di kursi kosong, bayinya berpindah posisi, dan Kirana, bundelan merah muda itu, membuka mata sebentar, menatap langit-langit teras dengan keseriusan seluruh dunia, lalu menutupnya lagi. "Sini, cobain. Aku mau tahu apa yang bikin dia betah di dapur."
Fina menuang. Hasna menyesap, menimbang, dan mengangkat alis.
"Enak."
"Terima kasih, Mbak."
Tidak lebih. Tak ada pidato, tak ada pelukan panjang. Di undakan, Dimas menerima cangkir dari tangan Revan, menyesap, dan mengangguk sopan ke arah semua orang sekaligus.
•||•
Menjelang siang, ketika para orang tua pindah ke ruang tengah dan anak-anak menghilang ke kebun, Fina naik ke kamar di lantai dua untuk mengganti gamis yang terkena tumpahan teh.
Pintu kamar ia biarkan terbuka sejengkal. Ia berdiri di depan cermin besar di sudut ruangan, mengganti gamisnya dengan kaus rumah yang lebih longgar, dan pada satu detik, ketika kain itu terangkat sedikit, ia menyadari sesuatu: tangannya tidak langsung menariknya turun. Ia tidak berbalik membelakangi cermin seperti biasanya.
Di pinggang kiri, garis itu memanjang, pucat dan sedikit menonjol, dari bawah tulang rusuk ke arah pinggul: bekas lama, dari ketika ia masih mahasiswi yang percaya orang asing berhak diselamatkan. Di pinggang kanan ada satu lagi yang baru, dari tangan dr. Hendra, lebih tipis, lebih rapi.
Ia menyentuh keduanya dengan ujung jari, bergantian. Pelan. Kulit itu hangat.
Bekas itu bukan hal yang harus dihapus. Ia tahu itu sekarang. Ia tidak perlu menutupinya dari siapa pun, termasuk dari dirinya sendiri. Itu cerita, dan ia sudah selesai merasa malu terhadap ceritanya.
"Fin."
Revan mengetuk dua kali di daun pintu yang setengah terbuka, tidak melangkah masuk. Matanya turun sekilas ke garis itu, lalu naik lagi ke wajahnya, dan ia tidak berkata apa-apa tentangnya.
"Tidak apa-apa," kata Fina. "Mas boleh lihat."
"Mas boleh masuk?"
"Boleh."
Revan masuk, berhenti satu langkah darinya. Dari jendela terbuka terdengar tawa dua anak laki-laki, jauh dan terang. Teh di cangkir bawah mungkin sudah dingin. Dunia di luar kamar ini masih berjalan, tetapi untuk beberapa detik ia memberinya jeda.
Fina berjinjit, satu tangan bertumpu di dadanya, dan mengecup pipi Revan sekilas. Hanya itu. Cukup.
Revan membeku, lalu tersenyum dengan seluruh wajahnya.
"Pulang?" tanyanya pelan.
Fina menurunkan kaus ke pinggang, tanpa tergesa, dan meraih tangannya.
"Pulang."
TAMAT