Sesampai dirumah Daffa langsung masuk kedalam kamarnya bahkan pertanyaan bunda dan juga adekknya dia abaikan
“abangmu kenapa tuh dev?, kesambet apaan” tanya bunda kepada devi
“mana devi tahu bun, mungkin kesambet nenek kunti yang ada dipohon mangga rumahnya pak hartono kali” jawab devi acuh dengan memakan kripik kentang, jawaban tersebutpun sukses membuat sang Bunda melemparkan bantal kursi kepadanya
“Ish Bunda sakit tahu” kesal sang anak
“lagian kamu dev kalau ngomong ngelantur banget sih” kata Bunda lagi
“hahaha bunda pasti takut kan” ledek devi dan langsung mendapatkan pelototan maut dari sang Bunda,
“ngapain bunda takut, udah gih sana tanyain abang kamu kenapa, Bunda takut dia kenapa-kenapa”
“alah males bun, nanti aku kena semprot gak mau, lagian bang Daffa kan udah besar Bunda”
“soalnya Bunda heran tadi berangkat bahagia banget waktu pagi sekarang kok mukanya kek begitu nakutin”
“nah makanya aku engga mau tanya soalnya wajahnya nakutin ih serem, mending ke kamar deh streaming drama korea lihat oppa ganteng dari pada oppa lokal mukanya kusut kaya setrikan” kata devi dan langsung berjalan menuju kamarnya
“nih anak disuruh tanyain abangnya malah kabur gitu aja” kata Bunda kesal melihat tingkah kedua anaknya yang slalu membuatnya pusing.
Sedangkan Daffa sesampai dikamarnya dia langsung membanting tasnya kekasur dan langsung duduk untuk menetralkan emosinya dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi, setelah merasa tenang Daffa langsung melepaskan kemejanya dengan kencang hingga membuat dua kancing kemeja terlepas dan membuang kemeja tersebut asal dan langsung menuju kamar mandi.
Sesampai dikamar mandi Daffa langsung mandi dibawah kucuran air dingin shower sehingga membuat badannya merasa dingin namun air shower tersebut tak bisa mencairkan kemarahannya dan kegundahannya hingga membuatnya berdiam diri dibawah shower selama kurang lebih satu jam. Dan tanpa dia ketahui ponselnya berdering dengan keras tanda ada telepon.
***
Sekitar pukul setengah sembilan malam seorang wanita sudah sampai ditoko bunga tempatnya bekerja, lantas dia langsung buru-buru masuk untuk menggantikan temannya yang jaga dari pagi sampai malam begini, dia merasa bersalah kepada temannya yang jaga karena harusnya temannya tersebut sudah pulang dari pukul lima tadi
“mba Yumna” teriak wanita tersebut yang tak lain adalah Salwa
“aduh, maaf ya sal mba telat dan nyita jam belajar kamu” kata wanita yang bernama Yumna tersebut
“engga papa kali mba, lagian kan besok tanggal merah jadi aku free”
“makasih ya Sal, mba jadi ngerasa bersalah sama kamu”
“engga papa kali mba, lagian yah berkat aku lembur aku jadi dapet bonus dari pelanggan”
“owh iya?”
“iya mba, tadi yang beli kakak kakak tampan yang mirip artis thailand yang kemarin aku tonton filmnya, udah tampan baik lagi kasih bonus buat aku” kata Salwa dengan bahagianya
“wah, pasti dia suka banget sama hasil karanganmu”
“hahah biasa aja sih mba, masih bagusan punya mba kali, kan aku bisa juga berkat mba”
“hahha kamu ini, ya udah sana pulang kamu pasti cape kan”
“disini aja deh, temenin mba Yumna, kasihan mba Yum disini sendirian” katanya lagi
“terimakasih ya Sal, tapi kamu engga cape beneran?” tanya Yumna memastikan
“Yaelah Mba engga, dari pada dirumah sendirian bosen mending disini nemenin Mba” jawab Salwa membuat Yumna tersenyum dan merekapun berbincanag-bincang banyak hal seputar pendidikan.
Baik Yumna dan Salwa merupakan dua orang yang nasibnya hampir sama, Salwa yang masih kelas sebelas SMA harus bekerja untuk membiayai sekolahnya karena ayah dan ibunya bercerai, dan Salwa hanya tinggal dengan ibunya, namun setahun yang lalu ibunya meninggal sehingga membuat Salwa harus mandiri, lain halnya dengan Salwa, Yumna adalah seseorang mahasiswa tingkat akhir, pagi sampai siang dia kuliah dan siang sampai malam dia harus bekerja untuk biaya kuliah dan biaya berobat ibunya yang memiliki penyakit kanker, sedangkan ayahnya sudah meninggal saat dia berumur delapan tahun, hidup susah dan bekerja keras sudah makanan sehari-hari seorang Yumna, bahkan Yumna bekerja di dua tempat hari senin-kamis dia bekerja di kaffe dan jumat-minggu dia bekerja ditoko bunga, lelah fisik dan fikiran itu pasti tapi apapun itu harus tetap dia lakukan agar cita-citanya tercapai dan juga menyembuhkan ibunya, karena hanya ibunya lah yang dia punya sekarang ini, apapun akan dia lakukan agar ibunya sembuh. Tidak hanya itu Yumna juga memiliki pekerjaan lainnya yang dia kerjakan dirumah yaitu menjahit, kemahiran yang dimiliki Ibunya menular kepadanya dan karena Ibunya sudah tidak bisa menjahit akhirnya Yumna yang meneruskan pekerjaan tersebut dan jika memang ada pesanan saja.
***
Pukul setengah sepuluh malam aku dan Salwa telah menutup toko bunga tempat kami bekerja, dan aku sangat bersyukur toko bunga ini masih ada pelanggan hingga malam hari. Setelah mengunci pintu toko aku dan Salwa berjalan beriringan menuju sepeda kami berada yaitu didepan toko persis. Senyum lelah tergambarkan dari kami berdua, walaupun Salwa masih muda dan terpaut jarak empat tahun denganku namun aku senang berteman dengannya, selain nasibnya yang hampir sama denganku dia juga orangnya asyik dan humble membuat kami mudah dekat.
“Kamu beneran engga mau menginap dirumah Mba?” tanyaku kepadanya, pasalnya aku kasihan jika dia harus dirumah sendirian, dan aku pernah mengajaknya untuk tinggal bersamaku namun dia menolak dengan keras dengan alasan nanti kasihan rumahnya tidak ada yang menempati, dan akupun hanya bisa pasrah dengan jawabannya dan tentu aku mengatakan rumahku slalu terbuka untuknya karena aku tahu dibalik wajah cerianya menyimpan duka yang mendalam, jadi aku akan terus menghiburnya dan tak jarang juga Salwa akan tidur dirumahku jika hari libur
“engga deh Mba, soalnya besok Ayah mau dateng ke rumah” katanya dengan santai namun aku tahu sebenarnya Salwa malas bertemu dengan Ayahnya
“owh begitu, padahal Mama kangen kamu lho Sal”
“hehe aku juga kangen sama Mama Sofi Mba, kangen masakanya, tapi gimana lagi”
“iya sih, ya udah gimana kalau malam minggu besok kamu nginep dirumah”
“oke Mba”
“siap, nanti aku ngomong sama Mama buat masakin ayam kecap kesukaan kamu”
“hahaha siap-siap Mba, aduh jadi laper kan ini”
“hahaha kamu ini, ya udah hati-hati dijalan yah”
“Mba juga hati-hati” katanya dan akupun mengangguk dan tersenyum kepadanya, setelah itu aku dan salwa mengayun sepeda kami masing-masing dan berlawanan arah, dengan lelah yang tak terkira aku terus mengayun sepedaku dengan penuh semangat karena aku tak sabar bertemu Mama dengan senyum cantiknya dan memeluknya erat, akupun langsung mengayuh sepedaku dengan kekuatan penuh.
Hidup susah sudah menjadi keseharianku, sebelum Papa Meninggal dulu kehidupanku serba berkecukupan dan apapun yang aku minta slalu Papa turuti, Papa yang slalu memanjakanku karena aku anak satu-satunya, hingga kecelakaan maut membuat Papa yang berjanji pulang kerja membawakanku permen kapas tak jadi membawakannya, kala itu aku Cuma ingin mendengar teriakan Papa didepan Pintu rumah dengan membawa permen kapas untukku namun bukan itu yang aku dapati melainkan tubuh Papa yang sudah tidak bisa bergerak dan menutup matanya.
Hingga setelah kehilangan Papa, hidupku dan hidup Mama berubah drastis, Mama yang dulunya hanya ibu rumah tangga membuat dirinya harus bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup kami, dan aku yang memang masih kecil kala itu hanya bisa meminta ini itu dari Mama tanpa memperdulikan Mama mendapatkan uang dari mana.
Dan seiring berjalannya waktu, aku tersadar bahwa hidupku kini bukan seperti dulu, putri kecil kesayangan Papa yang apapun keinginanku slalu dituruti, akupun sering melihat Mama menangis malam hari dan juga teriakan tetangga yang menagih hutang kepada Mama, dari situlah aku terlahir kembali menjadi wanita yang mandiri dan bukan putri kecil yang manja, setelah memasuki bangku SMA aku memulai bekerja part time untuk membantu Mama, apapun aku kerjakan bahkan menjadi tukang sapu jalanan pernah aku lakukan dan tentunya tanpa sepengetahuan Mama, karena jika Mama tahu tentunya dia akan marah.
Dan benar dugaanku Mama marah mengetahuiku bekerja saat itu, dia sedih karena membuat diriku yang masih muda ini harus bekerja, namun aku menolak keras karena walau bagaimanapun aku tetap mementingkan pendidikanku, namun Mama tetap melarangku untuk bekerja dan harus fokus dengan pendidikanku, akhirnya aku hanya bekerja menjadi guru les anak SMP kala itu dan aku bersyukur Mama memperbolehkanku untuk itu.
Dua tahun aku menjalani kerja dan sekolah secara bersamaan, dan diriku merasa sedih bukan main kala mendengarkan bahwa Mama memiliki penyakit kanker darah, tentu hal tersebut membuatku tak terima akan takdir yang tuhan gariskan kepadaku, namun Mama slalu mengatakan bahwa semua manusia itu akan meninggal dan tidak ada yang kekal abadi, aku memang tahu itu tapi bagaimanapun juga aku belum mau ditinggalkan oleh Mama secepat ini, dan akhirnya aku menyuruh Mama untuk istirahat saja dirumah dan aku yang mencari uang, walaupun awalnya Mama menolak tetapi aku tetap bersih keras agar Mama berdiam diri dirumah dan biar diriku yang bekerja, dan hingga sekarang aku yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan juga berobat Mama, berkat doa dan obat-obat yang Mama konsumsi Mama masih bisa bertahan sampai saat ini dan tentunya aku bersyukur untuk itu, dan saat ini hanya Mama yang aku punya.
Pukul sepuluh aku sampai dirumah dan tentunya diteras depan sudah ada Mama yang menungguku dengan wajah khawatirnya, dan dengan semangat aku menuntun sepedaku mendekat kearah Mama
“Yum, kenapa malem banget pulangnya?” tanya Mama menegurku
“tadi ditoko lumayan ramai Ma, jadi ya lebih lama bukanya” jawabku dengan menyalimi tangannya
“ya sudah kalau begitu, kamu mandi gih udah Mama siapin air hangat, habis itu makan ya Mama panasin dulu sayurnya”
“kalau makan dulu gimana Ma?, udah laper soalnya” kataku dengan tersenyum menampilkan gigi putihku, Mamapun langsung menatapku kesal
“ya jangan, kamu ini kan baru pulang, terus bau asem lagi badan kamu” kata Mama dengan menutup hidungnya, akupun langsung mengirup bau tubuhku dan benar bau asem
“iya Ma, bau asem”
“ya makanya mandi dulu, biar segar” kata Mama lagi
“iya deh Mama ratu” kataku dan memeluk Mama dari arah samping dan membawanya masuk kedalam rumah, Mamapun hanya tersenyum dan mengelus rambutku dengan sayang
“owh iya tadi Adnan kesini Yum”
“kak Adnan kesini? Ngapain?” tanyaku heran
“tadi bawa bahan yang kurang itu buat bikin seragam restorannya”
“ya ampun aku lupa Ma, pasti Kak Adnan menunggu lama yah?”
“lumayan sih, dua jam disini”
“ya ampun aku jadi engga enak sama dia Ma, iya memang kemarin aku bilang sama Kak Adnan kalau bahan yang buat seragam pegawai restorannya kurang, aku padahal udah bilang besok aku ambil eh malah udah dianterin kesini”
“iya katanya biar kamu engga cape” kata Mama, akupun langsung berjalan kearah meja dan yang biasa kugunakan untuk mengukur bahan pakaian yang akan aku jahit, namun aku terheran karena menatap seragam restoran kak Adnan sudah jadi lima, padahal kemarin adanya empat
“ini pasti Mama yang buat kan?” tanyaku kepada Mama, dan Mamapun berjalan mendekatiku dan mengangguk
“aku kan udah bilang sama Mama buat engga menjahit lagi, biar aku aja Ma, Mama cukup jaga kesehatan aja”
“Mama bosan jika duduk terus dan bingung mau ngelakuin apa Yum, Mama ingin membantu kamu meringankan beban kamu, Mama kasihan sama kamu Yum, pagi sampai malam kuliah dan kerja, ditambah lagi kamu harus menjahit pakaian pesanan orang, Mama Cuma mau membantu kamu Yum”
“dengan Mama beristirahat itu udah membantu Yumna Ma”
“tapi Mama Cuma membantu kamu, Mama ngerasa bersalah sama kamu, harusnya diusia kamu...” kata Mama dengan air mata yang keluar dan langsung aku potong
“Yumna kan udah berapa kali bilang sama Mama, Yumna menikmati hidup Yumna yang sekarang, walaupun Yumna engga bisa jalan-jalan sama teman lainnya menikmati masa muda tetapi Yumna senang Ma menjalani ini semuanya, dan terlebih lagi Yumna bahagia setelah pulang kerja karena lelah masih bisa melihat senyum Mama” kataku membuat Mama menatapku dengan perasaan bersalah
“jangan merasa bersalah seperti ini Ma, Yumna engga suka”
“Mama minta maaf yah Yum, tapi sungguh Mama berniat membantu kamu aja Yum, dan setelah merasa lelah Mama langsung istirahat kok, dan Mama sungguh bosan Yum, jadi kamu jangan marah-marah ya kalau Mama bantu kamu” kata Mama masih bersih keras membantuku menjahit, dan akhirnya aku menghela nafas kasar dan mengangguk
“oke aku izinin, tetapi kalau udah merasa lelah pokoknya langsung istirahat jangan diterusin”
“iya iya akan Mama laksanakan” kata Mama dengan tersenyum, akupun langsung memeluk Mama dengan erat, sungguh aku sangat menyayangi Mama dan aku belum siap jika ditinggalkan oleh Mama, dan tak terasa air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga dan membasahi pipiku.