Setelah membersihkan diri dan merasa tubuhku segar, aku langsung berjalan menuju meja makan untuk makan malam, kulihat Mama sedang beridiri didekat meja makan dengan tangannya sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas, melihat diriku berjalan kearahnya dia langsung tersenyum kepadaku
“Udah Mama panasin masakannya Yum, Makan gih” kata Mama lembut, akupun mengangguk dan langsung menarik kursi dan langsung duduk disana
“Segini cukup Yum?” tanya Mama kepadaku dengan menuangkan nasi ke piring ditangannya
“Cukup Ma” jawabku dan Mama mengangguk lalu dengan telatennya Mama menuangkan nasi beserta sayur dan lauk ke dalam piring dan menyodorkan kepadaku
“Terimakasih Mama” kataku membuat Mama tersenyum dan dengan semangat aku langsung menyendokan nasi ke dalam mulut, namun sebelum masuk ke dalam mulut tanganku langsung dicegah oleh Mama
“Baca doa dulu, jangan langsung makan gini dong Yum” kata Mama membuatku tersenyum malu, dan dengan cepat aku langsung menundukan kepalaku dan berdoa
“Amin”
“nah begitu dong, sekarang boleh Makan” kata Mama lagi, dan tanpa menjawab ucapan Mama aku langsung memakan makanan didepanku dengan lahap, masakan Mama yang sederhana ini slalu terasa lezat, telur dadar dan sayur buncis adalah makanan favoritku, dan pasti aku sangat lahap jika memakan dengan menu ini
“Gimana kuliah kamu Yum, lancar kan?” tanya Mama disela-sela diriku makan, setelah menelan makanan aku baru menjawab pertanyaan Mama
“Alhamdulilah lancar Ma, besok aku udah mulai ngajuin judul skripsi” jawabku
“Syukurlah kalau begitu, semoga segalanya lancar yah sampai kamu wisuda”
“Amin Ma, aku juga udah engga sabar pengin cepat lulus dan langsung cari kerja dan dapet uang banyak untuk biaya berobat Mama” kataku penuh semangat dan dapat kulihat Mama menatapku dengan penuh Haru lagi
“Terimakasih ya sayang” kata Mama dengan mengelus rambutku yang kubiarkan tergerai sedari tadi
“Yumna kan udah bilang jangan ngomong terimakasih terus Ma, dan jangan merasa bersalah juga yah, ini semua Yumna lakuin dengan senang hati kok” jawabku
“Iya iya deh Mama minta maaf, Mama lupa maklum udah tua Yum”
“Walaupun Umur Mama udah mau kepala lima tapi bagiku Mama masih kaya umur dua puluhan, soalnya cantik terus sih”
“Alah kamu ini bisa aja ngomongnya”
“Iya memang buktinya gitu Ma, bahkan keriput di ekor Mata Mama engga kelihatan” kataku dengan menunjuku ekor mataku, Mamapun hanya tersenyum menanggapi ucapanku dan mengalihkan pembicaraan dengan yang lainnya
“Yum, Mama udah engga sabar pengin lihat kamu wisuda dan pakai toga” kata Mama lembut
“Sabar yah Ma, ini juga baru mau ngajuin judul Ma, tunggu lima bulan lagi ya Ma” kataku kepada Mama
“Masih lama dong Yum”
“Iya Ma, sebenarnya Yumna bisa sih nyelesaiin dalam jangka waktu tiga bulan, tapi kan wisuda engga sendirian Ma, harus bareng-bareng” jawabku membuat Mama menangguk
“Iya juga sih, owh iya Yum, wisuda besok Mama pengin buatin kebaya untuk kamu gimana?”
“Beneran Ma?” tanyaku antusias, pasalnya semenjak Mama mengidap penyakit, aku menyuruh Mama untuk istirahat saja dan tidak boleh menjahit lagi,
“Iya Yum, gimana?, soalnya Mama udah lama engga buatin baju untuk kamu”
“aku sih mau dan senang sih Ma, tapi nanti Mama kecapean gimana?”
“Tenang aja Yum, Mama bikinnya juga santai kan, kalau lelah ya istirahat”
“Iya deh, tapi inget ya kalau lelah pokoknya langsung istirahat”
“Iya iya sayang, ya udah selesaiin makannya habis itu istirahat yah”
“Habis ini aku mau jahit dulu Ma, nyelesaiin pesanan Bu Mirna” jawabku
“Ini udah malem banget lho Yum, kenapa engga dilanjut besok aja”
“Tanggung Ma, Cuma kurang buat saku aja kok Ma, setengah jam selesai tenang aja, bahkan engga ada setengah Jam”
“Ya udah kalau begitu, tapi habis itu kamu langsung istirahat yah”
“Siap Mama sayang” kataku kepada Mama, akupun melanjutkan makanku sedangkan Mama masih setia menemaniku makan dengan mengelus rambutku dengan sayang dan mengajakku berbincang ringan.
***
Pagi hari aku sudah rapi dengan kemeja abu-abu dan celana bahan yang sudah melekat ditubuhku, hari ini adalah hari sabtu sebenarnya aku tidak ada kelas, namun ada seminar di Bandung yang harus diriku hadiri, dan untuk masalah tadi malam aku tak mau ambil pusing memikirkannya, walaupun rasa sakit ini masih menganga lebar tetapi bukannya aku harus tetap menjalani hidupku, aku bukannya seorang remaja yang patah hati akan terus menerus menangisi ini semuanya apalagi jika ditambah tak melanjutkan hidup dan memilih mengurung diri didalam ruangan ditambah yang paling menakutkan bunuh diri, bagiku itu menjijikan dan terkesan lebay.
Setelah merasa penampilanku sudah rapi aku langsung mengambil tasku dan juga ponselku yang ada dinakas, akupun menyalakan ponselku yang sedari tadi malam sengaja kumatikan, setelah menyala benar dugaanku, ponselku dibanjiri dengan panggilan tak terjawab dan pesan dari seseorang yang telah mematahkan hatiku, akupun hanya menghela nafas dan tak berniat membuka pesan-pesan itu, aku langsung memasukan ponselku kedalam tas dan berjalan meninggalkan kamarku ini.
Sesampai dimeja makan kulihat Bunda dan Devi adikku tengah asyik menikmati sarapannya, devi yang sudah sama rapinya dengan pakaian dinasnya sedang asyik mengunyah roti tawar dan tangan satunya fokus dengan ponselnya
“Jaga pagi dek?” tanyaku dan langsung duduk disampingnya
“Iya nih Bang, sebenarnya gantiin temanku, harusnya sekarang libur, tetapi aku bantuin dia aja biar minggu aja yang libur” kata Devi, akupun mengangguk paham
“Nih kopinya Daff”
“Terimakasih Bun” jawabku santai
“Owh iya Bang, tumben Mba Ayra tadi malem telepon aku tanyain Abang” tanya Devi
“Ngomong apa si Ayra itu?” tanya Bunda dengan nada sinisnya,
“Itu Bun, dia tanya abang udah pulang apa belum, ya aku jawab udah dong, terus dia kelihatan kesal gitu”
“Pantes anak manja itu kesal tadi malem kan ulang tahunnya yah, kamu emang engga dateng Daf?” tanya Bunda, dan kujawab anggukan
“Bagus engga usah dateng Daf, lagian umur udah seperempat abad masih aja dirayain” kata Bunda kesal
“Bunda kok kesal gitu sih sama Mba Ayra?”
“Ya Bunda engga suka aja sama dia, dia itu slalu ngikutin Abang kamu kemanapun ditambah lagi manja banget lagi sama Abang kamu ngerasa dia pacar abang kamu aja, ditambah tatapan sinis Papanya sama Abang kamu ditambah Bunda inget dulu ejekan Pak Herman tentang pekerjaan Abang kamu yang Cuma jadi dosen bikin Bunda tambah engga suka sama dia, malahan pekerjaan jadi dosen kamu mulia banget yah, untung aja dia tetangga jadi Bunda masih jaga image” kata Bunda dengan terus terang, akupun hanya diam dan menghela nafas mendengar ucapan Bunda barusan, memang sejak dulu Bunda kurang menyukai diriku berteman dengan Ayra ditambah tatapan ketidaksukaan Papanya kepadaku, dan juga hinaan Papa Ayra tentang pekerjaanku yang hanya seorang dosen membuat Bunda tambah tak menyukainya, namun karena memang kami bertetangga yang cukup dekat membuat Bunda masih menutupi ketidaksukaannya itu dan juga menghargai persahabatanku dengan Ayra
“Dan kamu Daf, jangan terlalu dekat lagi sama si Ayra, kalau kamu dekat terus sama Ayra gimana kamu cari pasangan hidup, umur kamu udah matang lho Daff, masa kamu akan terus jagain si Ayra itu, enak banget dia” kata Bunda mulai berbicara sesuatu hal yang paling aku tak suka
“udah Bun jangan dilanjut lagi, kita ini mau sarapan bunkan ngomongin orang” jawabku singkat,
“iya iya soalnya Bunda kan udah pengin punya mantu dan cucu Daf” kata Bunda lagi membuat sarapan pagiku terasa hambar, akupun memilih meminum kopi pagiku tanpa menjawab omongan Bunda, karena jika diriku menjawab omongannya sudah pasti akan bertambah terus dan bisa jadi bertengkar dan aku tak mau itu, setelah memakan sepotong roti diriku langsung bergegas berangkat
“aku berangkat Bun” kataku dan berjalan kearah Bunda dan menyalaminya
“Roti kamu belum habis lho Daf” kata Bunda
“Ini udah cukup Bun” jawabku
“Ya udah hati-hati yah dijalan, kamu pulangnya sore lagi?”
“Kemungkinan Malam Bun, soalnya aku harus ke Bandung buat menghadiri seminar”
“Ya udah hati-hati pokoknya dijalan, dan jangan lupa makan ya Daf”
“Iya Bun, aku berangkat” kataku dan langsung berjalan menuju depan rumah, sesampai didepan mobil yang sudah dipanaskan tadi aku langsung membuka pintu depan untuk menaruh tas ranselku, dan setelah menutupnya akupun berjalan memutar untuk ke kursi depan, dan saat diriku membuka pintu suara wanita yang sangat aku hafal mendengung ditelingaku
“DAFFA!!!” teriaknya, dan yah wanita yang sudah membuatku patah hati dan berharap tak bertemu dengannya hari ini tapi keinginanku tak terkabul karena wanita itu sudah berdiri didepanku dengan wajah kesalnya yang menyebalkannya terlihat sangat menggemaskan. Akupun tersenyum melihat wajahnya namun seketika senyumku luntur kala mengingat sebentar lagi wajah tersebut akan sulit aku nikmati lagi.