Daffa terdiam menatap Ayra yang berlari seperti anak kecil menghampiri dirinya dengan wajah kesalnya, sesampai didepan Daffa Ayra langsung memukul lengan Daffa dengan kesal, Daffapun hanya meringis mendapatkan pukulan itu
“kamu ini gimana sih Daf, aku sebal banget sama kamu, masa tadi malem kamu engga dateng kenapa Daff, aku udah nungguin kamu lama banget tahu” kata Ayra panjang lebar sedangkan Daffa hanya terdiam dan mengelus lengannya yang tadi dipukul oleh Ayra
“kenapa diam aja, jawab dong Daff” rengek ayra
“Maaff”
“Cuma Maaf?, aku tanya alasannya bukan kata Maaf Daffa”
“begini sebenarnya aku sudah akan datang tetapi tiba-tiba Rizal menelponku bahwa meminta bantuan untuk membawa istrinya ke rumah sakit karena mobil Rizal di bengkel, dan karena aku tak tega akhirnya aku membantu Rizal mengantarkannya”
“tapi kata Devi kamu sudah pulang”
“iya memang sudah pulang dan cukup larut makanya aku engga ke hotel”
“tapi kan kamu harusnya hubungin aku dong jadi kan aku engga marah”
“ponsel aku lowbat”
“beneran”
“iya bawel”
“ padahal tadi malem seru banget lho aku juga pengin kenalin kamu sama teman-teman aku kalau cerita aku tuh nyata yang punya tetangga tapi rasa kakak” kata Ayra dengan santai dan ucapan tersebut seperti mencubit hati Daffa, sakit..
“dan untungnya aku punya alesan kalau kamu sedang seminar di Bandung dan belum pulang dan mereka percaya, jadi karena kamu engga dateng karena membantu Kak Rizal aku maafkan tapi harus ada imbalanya dong”
“apa?”
“kamu harus mentraktir aku”
“enak saja, yang ulang tahun kan kamu ngapain malah aku yang traktir”
“gajiku belum turun”
“alah alesan”
“engga alesan Daffa beneran, yah yah traktir aku ya ya ice cream dekat SMA kita dulu itu aku pengin makan ice cream itu udah lama engga makan” kata Ayra dengan manja
“ya daf yah daff” kata Ayra lagi dengan memeluk lengan Daffa dengan tatapan memohon dan hal tersebut membuat Daffa merasa hatinya kembali berdesir menatap manik mata Ayra yang menggemaskan hingga saat Daffa sedang Asyik menatap manik mata Ayra terdengar lengkingan suara seseorang memanggil Ayra
“yaelah si centil pagi-pagi udah ngapelin Abang Daffa!” Kata seseorang yang ada didalam mobil membuat Daffa dan Ayra menoleh dan mendapati Lucky asisten Ayra
“berisik lho luck”
“lho engga inget apa hari ini ada pemotretan jam delapan”
“iya gue inget lucky anaknya Pak sobirin”
“ya udah buruan ini udah jam tujuh lebih dua puluh menit yah Ay”
“iya iya bawel banget sih lho” kata Ayra dengan wajah sebalnya setelah itu menatap Daffa kembali
“oke Daff traktir aku ice cream yah oke” kata Ayra lagi, Daffa yang memang ingin segera Ayra pergi langsung mengangguk
“yeay, terimakasih Pak dosen, kalau begitu tuan putri akan berangkat dulu”
“yaelah si centil inget woy udah punya laki lho, masih aja godain Bang Daffa, Bang Daffa buat gue aja!!”
“berisik deh lho luck, ya kali mana mau Daffa sama lho yang kek begini” kata Ayra membuat Lucky berdengus kesal
“ya udah Daff aku berangkat dulu yah, sebenarnya ada kabar bahagia yang pengin aku omongin sama kamu, tapi karena waktunya kurang pas jadi nanti malem aja oke” kata Ayra lagi namun Daffa hanya diam
“bilang iya dong Daff” rengek Ayra lagi, Daffa yang memang ingin Ayra segera pergi hanya mengangguk saja
“oke nanti malem aku dateng ke rumah kamu seperti biasanya yah, kita cerita-cerita sampai malam, bye Pak Dosen” kata Ayra lagi dan langsung berlari memasuki mobil Lucky, Luckypun langsung menjitak kepala Ayra sehingga membuat Ayra meringis kesakitan
“Bye Bye Abang Daffa ganteng, lucky mau kerja dulu yah, muach” kata Lucky dengan suara manjanya membuat Ayra muak dan membalas menjitak lucky
“udah buruan jangan godain bujangnya orang”
“rese lho” kata lucky dan langsung menghidupkan mobilnya dan setelah menyala mereka langsung pergi meninggalkan kediaman Daffa namun sebelumnya Ayra memberikan lambaian tangan dan senyum manis kepada Daffa, Daffapun hanya membalas hal tersebut dengan anggukan hingga mobil yang dikendarai lucky menjauh Daffa langsung menghembuskan nafas kasar, jadi rasanya seperti ini, dan sebaiknya nanti malam aku menginap di tempat gym saja untuk menghindari Ayra karena sungguh aku belum siap menerima kenyataan yang menyakitkan ini, batin Daffa dan dengan langkah cepat memasuki mobilnya dan pergi menuju Kampus tempat dia mengajar.
***
Dikediaman Yumna, dia sudah bersiap untuk berangkat kerja di Kaffe Adnan yang tak lain adalah Kakak dari sahabatnya yaitu Alya, Yumna bekerja di Kaffe ini sudah lumayan lama sekitar dua tahun yang lalu kala itu dia keluar dari restoran tempat dulu dia bekerja karena difitnah oleh teman kerjanya, Yumna yang memiliki sifat ceria dan semangat bekerja membuat pemilik restoran tersebut menyukai Yumna selain pekerjaannya yang bagus Yumna juga gadis yang cantik, karena hal tersebut membuat teman Yumna merasa iri dan akhirnya memfitnah dirinya, dan pemilik restoran tersebutpun kecewa kepada Yumna dan akhirnya Yumna dipecat dari pekerjaannya itu.
Sedih jelas dirasakan oleh Yumna karena pekerjaan itu adalah sumber pendapatannya namun kesedihan Yumna tak lama karena sahabatnya Alya membawa kabar baik bahwa kakaknya akan membuka cabang Kaffe baru dan tentunya membutuhkan karyawan baru dan hal tersebut tak disia-siakan oleh Yumna, dia langsung melamar pekerjaan tersebut, Adnan yang memang sudah tahu kepribadian Yumna tersebutpun langsung menerima Yumna, Yumna sangat bersyukur ditambah lagi gaji yang diterimanya lebih besar dibandingkan di restoran tempat dia bekerja dulu, teman kerja yang baik ditambah Adnan selaku owner Kaffe tersebut memperlakukan Yumna dengan baik membuat Yumna betah bekerja disana hingga sekarang, Yumna sangat berterimakasih kepada Tuhan karena sudah dikelilingi oleh orang-orang baik.
“Yum tumben udah rapi begini”
“iya nih Ma, tadi si Yuli bilang Kaffe dibooking sama seseorang untuk menembak cewenya jam sepuluhan makanya seluruh karyawan disuruh berangkat lebih awal”
“waw sosweet sekali”
“apaan yang sosweet Ma, kaya begitu malah ngabis-ngabisin uang mending uangnya ditabung buat masa depan kan”
“alah kamu ini fikirannya uang uang dan uang, makanya kaya begitu dibilang engga sosweet”
“ya bener kan Ma apa yang aku bilang, uangnya sia-sia aja dan belum tentu si cewe menerimanya kan”
“hust harusnya kamu doain dia dong supaya cewenya menerimanya lagian dia juga booking Kaffe tempat kamu bekerja jadinya dia kasih uang ke kamu juga kan Yum”
“iya memang Ma, tapi hal kaya begitu menurut Yumna lebay”
“kamu bilang lebay karena belum pernah merasakan gimana jatuh cinta sih”
“jatuh cinta?, hahahaha... jatuh cinta bukan porsiku saat ini Ma”
“lah kenapa?, umur kamu udah pantes punya pacar Yum, Alya aja udah pacaran sama Rendi dua tahun”
“alah Mama, aku engga mau mikirin pacaran dulu Ma, fokus aku sekarang yaitu kuliah, kerja dan kesembuhan Mama dan membahagiakan Mama, masalah cinta cintaan aku tak memikirkannya lagian kalau udah saatnya pasti datang kan”
“Maafin Mama ya sayang harusnya Mama yang kerja dan membahagiakan kamu bukan malah sebaliknya jadinya kamu engga menikmati masa mudamu yang indah nak”
“kan kan Mama mulai lagi, Yumna udah berapa kali ngomong sama Mama kalau Yumna sama sekali engga menyesal ataupun marah melakukan ini semuanya, Yumna menikmatinya Ma dan Yumna bahagia dengan ini semuanya, dan yang terpenting Mama harus slalu sehat dan bertahan untuk Yumna yah”
“iya nak” jawab Mama Yumna dengan mengelus rambut anaknya dengan lembut, anjani sangat beruntung memiliki anak seperti Yumna dan dia berharap bahwa Tuhan memberinya waktu yang lebih lama lagi bersama putri tercintanya
“ya udah Yumna berangkat dulu ya Ma, Mama baik-baik dirumah jangan kecapean terus juga obatnya diminum”
“iya sayang”
“dan nanti Yumna pulangnya sepertinya sore Ma soalnya mau ngerjain skripsi sama Alya dikampus”
“iya semangat ya sayang”
“selalu Ma, dan Mama adalah sumber semangatku” kata Yumna dengan memeluk Mamanya dengan sayang, Anjanipun membalas pelukan sang anak dengan erat
“dan besok Minggu kan jadwal Mama cek up kan, aku bisa temenin Ma soalnya aku udah ngajuin libur hari itu, jadi besok aku bisa temani Mama”
“iya sayang”
“ya udah Yumna berangkat ya Ma” kata Yumna dan menyalami tangan Anjani dan mencium pipi sang Mama, setelah itu Yumna dengan semangat mengendarai sepedanya berangkat kerja, Anjanipun menatap kepergian anaknya dengan senyum terharunya.
***
Tiga puluh menit kemudian Yumna sudah sampai didepan Kaffe Diamon tempat dia bekerja, dan dengan semangat dia langsung berjalan memasuki Kaffe dan disana dia melihat Yuli dan Arman teman kerjanya sedang menyapu, Yumnapun langsung menyapa mereka
“selamat Pagi Yuli selamat pagi Bang Arman”
“selamat pagi juga Yumna si cantik jelita primadona Kaffe diamon” kata Arman dengan menggoda Yumna membuat Yumna dan Yuli tertawa
“Bang Arman mulai deh”
“hahaha emang kamu primadona disini tahu Yum banyak yang naksir kamu, Kaffe ramai juga gara-gara ada kamu dan mereka malah pengin dilayani kamu semuanya”
“apaan sih Yul ada- ada aja kamu, lagian Kaffe ini kan ramai karena memang tempatnya nyaman dan makanan minumannya enak”
“tapi beneran lho Yum, Mas Adnan aja sepertinya naksir kamu deh”
“eh, engga mungkin lah”
“ya mungkin saja Yum, soalnya dia kalau menatap kamu tuh beda banget, kaya tatapan jatuh cinta gitu, iya kan Yul” kata Arman, Yulipun mengangguk mantap
“iya beneran lho Yum”
“alah kalian ngaco mana mungkin Kak Adnan suka sama aku, kalian ngarang deh” kata Yumna mengelak, dan Arman akan menimpalinya namun tak jadi karena suara deheman keras membuat mereka menoleh
“hm!!..”
“eh Pak Bos, udah berangkat, udah dari tadi Pak Bos?” tanya Arman dengan nada lucunya karena dia merasa malu sudah mengatakan Bosnya dibelakangnya
“sudah dari tadi, kalian bukannya kerja malah ngerumpi”
“hehe kita kan Cuma menyapa Yumna aja Bos yang baru sampai ya kan Yul” kata arman dengan menyenggol lengan Yuli
“eh, iya benar kata Bang Arman Pak Bos” kata Yuli
“ya udah kalian kembali kerja”
“siap Pak Bos!!” jawab Arman dan Yuli serempak
“ya udah aku mau naruh tas dulu diloker yah, nanti aku kembali lagi bantuin kalian”
“siap Yum, eh nanti sekalian bawa alat buat ngepel ya Yum”
“siap Bang” jawab Yumna semangat dan setelah itu Yumna berpamitan kepada Adnan yang sedari tadi menatapnya
“aku ke belekang dulu ya Kak”
“iya” jawab Adnan singkat setelah itu Yumna langsung berjalan menuju tempat loker untuk penyimpanan tasnya, sesampai disana Yumna langsung memasukan tasnya kedalam loker dan langsung berjalan menuju dapur tempat peralatan kebersihan berada, namun sebelum itu ada yang memanggilnya
“Yumna”
“eh iya Kak Adnan ada apa?” tanya Yumna ramah
“tidak apa-apa hanya saja tadi malam aku ke rumahmu tapi kamu engga ada”
“owh iya aku lupa, lagian kakak ngapain ke rumah sih kan aku udah bilang mau ambil sendiri bahanya dirumah kakak”
“kemarin sekalian mau pergi ke rumah teman dan melewati rumahmy jadinya sekalian”
“owh begitu ya terimakasih lho ya kak udah dianterin ke rumah, dan juga minta maaf karena kakak menunggu lama”
“engga masalah lagian kakak juga bisa nemenin mama kamu menunggu kamu pulang” kata Adnan dengan tersenyum membuat Yumna merasa canggung
“iya kak sekali lagi terimakasih ya, ya udah aku balik kerja dulu ya kak”
“eh tunggu tunggu bentar”
“ada apa lagi kak”
“ini buat kamu” katanya dengan menyodorkan gelang sederhana namun terlihat sangat indah dengan pernak pernik berbentuk bunga sakura kesukaan Yumna
“ini buat aku kak”
“iya, kemarin waktu disolo aku jalan-jalan terus lihat lihat aksesories ini aku inget kamu sama Alya jadinya aku membelikan kalian berdua dan pas sekali gelang ini ada pernak pernik berbentuk bunga sakura kesukaan kamu”
“eh kakak tahu dari mana kalau aku suka bunga sakura”
“kata Alya, katanya kamu suka banget sama bunga sakura dan bercita-cita ingin ke jepang dan melihat bunga sakura secara langsung” kata Adnan membuat Yumna tersenyum, memang Yumna memiliki cita-cita pergi ke Jepang dengan melihat bunga sakura secara langsung alasanya karena dulu Papanya berjanji bahwa akan membawanya ke jepang dan melihat bunga sakura yang sangat indah, namun karena Papanya meninggalkannya terlebih dahulu membuat janji itu tak bisa ditepati, walaupun tak bisa ditepati Yumna berjanji pada diri sendiri akan pergi ke jepang bersama Mama dan seseorang yang dia sayangi kelak, tak terasa air mata Yumna jatuh mengingat sang Papa
“Yumna kamu tidak apa-apa”
“eh iya engga papa Kak, terimakasih ya gelangnya sangat bagus aku suka”
“sama-sama, sini aku pasangin” kata Adnan dan langsung memasangkan gelang tersebut ditangan Yumna
“cantik” kata Adnan setelah memakaikan gelang tersebut
“terimakasih ya kak, ya sudah kalau begitu aku kerja dulu ya kak” kata Yumna, adnanpun mengangguk dan Yumna berjalan menuju dapur
“Yumna..” panggil adnan lagi membuat Yumna menghentikan jalannya dan menengok kearah adnan
“eh iya kak”
“semangat kerjanya” kata Adnan dengan senyum manisnya membuat Yumna sempat tertegun dengan senyum Adnan yang memperlihatkan lesung pipinya, Yumna dengan canggungpun mengangguk dan tersenyum kepada adnan setelah itu dia kembali berjalan menuju dapur dengan memikirkan perkataan Bang Arman dan Yuli tadi, benarkah Kak adnan menyukaiku, tidak tidak mungkin Kak adnan juga baik kepada semuanya dan juga dia sudah mengangapku sebagai adik mana mungkin dia jatuh cinta kepadaku, batin Yumna dengan menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran-pikiran aneh diotaknya, sedangkan Adnan masih tersenyum melihat kepergian Yumna dan dia memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang, jatuh cinta rasanya sangat indah benar apa kata Alya, batin Adnan dengan senyum masih mengembang dibibirnya.