Abizar tiba di tempat pemakaman umum, ia keluar dari mobil dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat peristirahatan manusia yang terakhir. Jantung Abizar bergemuruh, sedih, kecewa, dan rasa menyesal menjadi satu membentuk pusaran di hatinya.
Ia terus melangkah menuju sebuah makam yang bertuliskan Jovanka Stevania binti Prabowo. Ia meletakkan karangan bunga melati di atas pusara itu. Abizar tertunduk lemah, air matanya mengalir. Ia tidak menyangka akan dihadapkan kenyataan pahit ini. Ia menyentuh batu nisan di atas pusara Jovanka sambil terisak.
“Maafkan aku, Jovanka. Maafkan aku karena baru menyadari kebenaran ini. Aku pikir selama ini kaulah yang mendampingiku, yang memberikanku kebahagiaan, aku tidak menyangka ternyata kau telah lama meninggalkanku tanpa kata sedikitpun.” Tubu