Ancaman beracun yang keluar dari bibir Danu terbukti ampuh meremukkan sisa keberanian Senja. Dengan tubuh yang menggigil hebat di bawah sisa guyuran air dingin, Senja tergesa-gesa mengeringkan diri dan melangkah keluar dengan pasrah. Ia mencengkeram handuknya erat-erat, bersiap jika raga ringkihnya harus kembali diseret ke atas ranjang untuk menerima sisa kemarahan Danu yang sempat tertunda.
Namun, kejutan lain yang tak kalah kejam justru telah menantinya.
Danu tidak lagi berada di atas ranjang. Pria itu berdiri memunggungi tempat tidur, jubah tidur satin abu-abu gelapnya sudah terikat rapi. Sepasang mata elangnya menatap Senja dari atas ke bawah dengan tatapan murni penuh penghinaan. Tak ada lagi gairah liar di sana, yang tersisa hanyalah kepuasan sadis setelah melihat ketakutan yang mutlak di wajah istrinya.
Danu sengaja menjeda waktu, membiarkan Senja berdiri gemetar dalam antisipasi kengerian yang tak kunjung datang. Setelah beberapa detik yang menyiksa, Danu mendengus sinis.
"Ambil bantal dan selimutmu. Kau tidur di sofa lantai bawah malam ini," ucap Danu. Suaranya luar biasa datar, rendah, namun sanggup membekukan seluruh udara di dalam kamar.
Senja tertegun di tempatnya berdiri, matanya melebar tak percaya. "T-Tuan...?"
Danu berjalan mendekat lambat-lambat, mengikis jarak hingga aroma maskulin tubuhnya kembali mengintimidasi. Pria itu menunduk, menatap Senja yang sedang menahan napas ketakutan menanti hukuman fisiknya. Senyum meremehkan terukir tipis di bibir tegas Danu.
"Aku memang bilang malam ini belum berakhir, Senja. Tapi melihatmu gemetar ketakutan menanti apa yang akan kulakukan padamu... ternyata jauh lebih menghibur daripada harus menyentuhmu lagi," desis Danu dengan nada yang teramat dingin dan manipulatif. Ia mengusap dagu Senja sekilas dengan ujung jarinya yang sedingin es. "Aku ingin kau melewatkan sisa malammu di bawah sana, terjaga dalam ketakutan, menebak-nebak hukuman apa lagi yang akan kuberikan padamu besok pagi. Keluar dari kamarku sekarang."
Sentakan kata-kata itu menghantarkan rasa lega yang luar biasa besar sekaligus rasa ngeri yang baru di d**a Senja. Danu tidak sedang melepaskannya; pria itu hanya sedang memindahkan siksaannya dari bentuk fisik ke bentuk psikologis yang jauh lebih menyiksa pikiran.
Dengan tangan yang gemetar, Senja buru-buru meraih selembar selimut tipis dan bantal dari sudut ranjang, lalu melangkah tertatih keluar dari kamar utama dengan kepala menunduk dalam-dalam.
Malam itu, di atas sofa ruang tengah yang dingin dan luas, Senja meringkuk memeluk lututnya sendiri. Pandangannya kosong menatap kegelapan. Senjata psikologis Danu berhasil telak. Sepanjang malam Senja tidak bisa memejamkan mata sedetik pun, jantungnya terus bertalu berisik didera rasa cemas yang hebat tentang siksaan apa lagi yang menantinya saat matahari terbit nanti. Ia menghitung setiap detik yang berdetak lambat, terjaga dalam siksaan mental hingga fajar datang membawanya pada rutinitas pagi.
Jakarta menyambut pagi dengan hawa yang pengap dan langit yang tertutup polusi abu-abu tipis. Sebelum semburat matahari benar-benar menyentuh ufuk, Senja sudah bangkit dari sofa dan menyeret tubuhnya menuju dapur utama. Sesuai dengan hukum tak tertulis yang ditetapkan oleh Danu sejak hari pertama, ia harus menyiapkan segala keperluan pria itu sebelum sang pemilik rumah membuka mata.
Tubuh Senja terasa remuk redam. Kurang tidur dan tekanan mental semalaman menyisakan rasa nyeri yang luar biasa di sekujur sendi, lebam-lebam di pinggulnya terasa ngilu, serta rasa perih yang kian berdenyut dari luka lepuh di punggung tangan kanannya. Kain kasa yang membalut lukanya sejak kemarin sudah kotor oleh sisa darah yang mengering.
Dengan tangan yang gemetar, Senja mulai menyiapkan sarapan dengan ketelitian seorang pekerja yang takut dicambuk. Ia sudah menghafal mati selera Danu yang perfeksionis dan tidak menerima toleransi kesalahan sekecil apa pun: tidak boleh ada setetes minyak pun di piring pagi hari, roti gandum harus dipanggang dengan tingkat kematangan yang pas, dan kopi hitam pekat harus diseduh dengan air bersuhu tepat 90°C.
Tepat pukul tujuh pagi, suara langkah kaki berat yang teratur terdengar dari arah tangga tengah. Danu turun dengan setelan jas navy potongan custom premium yang membuatnya tampak luar biasa berwibawa, tampan, namun juga teramat mengintimidasi. Pria itu langsung duduk di kursi kebesarannya di ujung meja makan kayu jati yang panjang, sama sekali tidak memandang ke arah Senja.
Senja berdiri menyamping di dekat meja, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sarapannya sudah siap, Tuan."
Danu tidak menyahut. Tangan kekarnya mengangkat cangkir porselen berisi kopi hitam pekat, membawa cairan itu ke bibirnya dan menyesapnya sedikit. Namun, detik berikutnya—
TAK!
Cangkir itu diletakkan kembali ke atas tatakan porselen dengan dentingan keras yang memekakkan telinga. Beberapa tetes cairan hitam pekat itu menciprat keluar, mengotori taplak meja putih bersih. Senja berjengit mundur, bahunya gemetar spontan karena terkejut.
"Kopinya terlalu pahit dan suhunya terlalu rendah. Kau sengaja ingin merusak hariku sejak pagi?" ucap Danu, suaranya pelan namun sedingin es yang seketika membekukan seluruh atmosfer dapur.
Senja segera melangkah maju, meraih cangkir itu dengan tangan kirinya yang gemetar. "Maaf, Tuan... maafkan saya. Saya akan buatkan kopi yang baru sekarang juga."
"Tidak usah. Waktuku terlalu berharga hanya untuk menunggumu," Danu meraih pisau dan garpu, mulai memotong poached egg di piringnya dengan gerakan yang dingin dan anggun. "Kenapa kau masih berdiri di sini mengotori pandanganku? Periksa sepatuku di depan. Pastikan tidak ada setitik debu pun yang menempel di permukaannya. Aku ada pertemuan krusial dengan investor dari Tokyo hari ini. Pergi."
"Baik, Tuan."
Senja berbalik dengan tergesa-gesa. Ia melangkah cepat meninggalkan area ruang makan menuju teras depan sebelum air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya jatuh dan memicu murka Danu yang jauh lebih besar.
Di teras depan yang luas dan sepi, Senja luruh berlutut di atas lantai granit yang dingin. Ia mengambil sepasang sepatu kulit jenis oxford buatan Italia milik Danu dari dalam lemari khusus. Dengan tangan kiri memegang lap kain dan tangan kanan yang menahan perih memegang semir, ia mulai menggosok permukaan kulit hitam yang mengkilap itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Peluh halus mulai membasahi pelipis dan lehernya, bercampur dengan rasa pening yang tak kunjung hilang akibat kurang tidur. Di saat itulah, tanpa Senja sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan tatapan penuh rasa iba dan tidak tega dari balik rimbunnya pohon kamboja di taman samping.
Raka, pemuda berusia dua puluh dua tahun yang baru bekerja dua minggu sebagai tukang kebun di kediaman mewah itu, terpaku di tempatnya berdiri. Sejak hari pertama bekerja, ia sudah sering melihat wanita cantik, tetapi sosok Senja terasa sangat berbeda di matanya. Ada sejenis keanggunan yang murni, sejenis ketabahan yang sunyi yang memancar dari setiap gerak-gerik gadis itu meskipun penampilannya sangat sederhana dengan gamis rumahan yang longgar.
Raka mengepalkan tangannya yang memegang gunting rumput besar. Hatinya berdenyut sakit dan tidak tega melihat bagaimana seorang wanita yang seharusnya menyandang status sebagai "Nyonya Rumah" di istana megah ini justru diperlakukan lebih rendah daripada pelayan seperti dirinya sendiri.
Senja menghembuskan napas panjang yang terasa berat, mengusap keringat di dahinya dengan punggung lengan kiri. Saat ia hendak mengalihkan posisi duduknya, sudut matanya menangkap bayangan gerakan di balik dahan kamboja. Ia menoleh dan mendapati Raka yang mengenakan kaos abu-abu yang basah oleh keringat sedang menatapnya dengan pandangan kaku.
Senja tertegun sejenak. Namun alih-alih marah karena privasinya terusik, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan hangat terbit di bibirnya yang pucat. Sebuah senyuman hidup yang tidak pernah ia perlihatkan di hadapan Danu.
"Oh, selamat pagi," sapa Senja dengan suara yang lembut, memecah kesunyian teras.
Raka tersentak hebat, merasa tertangkap basah karena kelancangannya memperhatikan sang nyonya rumah. Pemuda itu segera menundukkan kepala sedalam mungkin dengan gugup, wajahnya memerah hingga ke ujung telinga. "S-Selamat pagi, Nyonya. Maafkan saya... saya benar-benar tidak bermaksud mengintip atau lancang mengganggu pekerjaan Anda."
Senja berdiri perlahan dari posisi berlututnya, meletakkan sepatu dan kain lap ke lantai, lalu merapikan rok katun sederhananya yang sedikit kusut. "Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah. Aku sering melihatmu memotong rumput dari balik jendela atas, tapi baru kali ini kita berada di jarak sedekat ini. Siapa namamu?"
"Nama saya Raka, Nyonya. Saya baru bekerja dua minggu di sini untuk membantu mengurus area taman samping dan kolam," jawab pemuda itu dengan nada suara yang sangat sopan. Matanya tetap menatap tanah di bawahnya, benar-benar menjaga batas hormat yang ketat antara pelayan dan majikan.
"Raka... nama yang bagus," Senja mengangguk pelan, merasakan sebersit rasa lega yang aneh di dadanya karena akhirnya bisa berbicara dengan manusia normal yang memperlakukannya dengan baik di rumah ini. "Mengurus taman seluas ini pasti sangat melelahkan, ya? Apalagi cuaca belakangan ini sangat terik menyengat."
Raka memberanikan diri untuk mendongak sejenak, menatap wajah pucat Senja yang menyembunyikan lebam tipis di sudut bibirnya. "Tidak seberapa melelahkan, Nyonya... jika dibandingkan melihat Nyonya yang setiap pagi sudah sibuk sendirian di teras ini. Melihat kerja keras Nyonya justru membuat saya merasa tidak boleh kalah rajin bekerja."
Senja sedikit terkejut mendengar ucapan polos itu. Sebuah senyuman getir yang sarat akan luka kembali muncul di wajahnya. "Oh, jadi... kau diam-diam sering memperhatikanku?"
Raka terdiam sejenak. Ada kilat kejujuran, ketulusan, dan rasa iba yang amat dalam di manik mata pemuda itu. "Sulit untuk tidak memperhatikan Anda, Nyonya. Sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di rumah ini, saya selalu melihat Nyonya yang melakukan semuanya sendirian. Mulai dari dapur, menyapu koridor, sampai urusan menyemir sepatu milik Tuan Danu."
Raka menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian di dalam dirinya untuk melanggar batas status sosial mereka. "Kalau boleh saya berkata lancang... kenapa Nyonya melakukan semua pekerjaan ini sendirian? Rumah mewah ini memiliki belasan pelayan senior dan asisten rumah tangga yang digaji sangat mahal. Tapi kenapa Tuan Danu membiarkan tangan Nyonya menyentuh cairan semir sepatu hitam itu? Itu... itu bukan pemandangan yang pantas dan adil untuk seorang istri di rumah se-terhormat ini."
Kalimat polos, jujur, namun menghujam tepat di ulu hati yang paling dalam itu membuat Senja seketika mematung di tempatnya berdiri. Jemarinya meremas kain lap di tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya hampir tumpah saat itu juga. Sungguh ironis. Ada orang asing, seorang pelayan yang baru bekerja dua minggu, yang justru mengkhawatirkan harga diri dan kelayakannya sebagai manusia, di saat suaminya sendiri memperlakukannya tak lebih dari sekadar sampah.
"Aku sudah terbiasa melakukan ini semua sejak di desa, Raka. Lagipula, ini semua sudah menjadi... tugasku di rumah ini," ucap Senja dengan nada suara yang teramat lirih. Ada nada kehancuran batin yang amat pekat saat ia melafalkan kata 'tugas', namun ia buru-buru menutupinya dengan memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.
"Nyonya terlalu sabar dan terlalu baik," puji Raka dengan sangat tulus. Langkah kakinya maju satu sentimeter tanpa sadar, didorong oleh insting lelaki yang ingin melindungi wanita yang sedang tertindas di depan matanya. "Jika saya yang beruntung menjadi Tuan Danu dan memiliki istri seperti Nyonya, saya akan memperlakukan Nyonya seperti permata berharga. Saya tidak akan pernah membiarkan setitik debu pun mengotori jari-jari Nyonya, apalagi membuat Nyonya menangis sendirian di sudut teras seperti yang beberapa kali saya lihat dari kejauhan."
Senja terkesiap pelan, dadanya bergemuruh hebat mendengar untaian kata yang begitu memuliakan dirinya. "Terima kasih, Raka. Kau... kau adalah orang yang sangat baik."
Raka tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang. Ia mulai menceritakan pengalaman lucunya tentang ulat-ulat hijau di pohon kamboja yang sering membuatnya melompat kaget dan menjatuhkan gunting rumput saat sedang memangkas dahan. Untuk sejenak, beban seberat bermton-ton yang menggelayuti pundak Senja menguap begitu saja. Sebuah tawa lepas yang renyah, ringan, dan teramat tulus mengalir dari bibir Senja, sesuatu yang belum pernah terjadi sama sekali semenjak ia terjebak di dalam pernikahan gila ini.
Namun, tawa renyah itu seketika membeku menjadi sebuah kengerian mutlak saat sebuah suara langkah kaki yang berat, bertenaga, dan lambat dari arah pintu ganda utama tiba-tiba terdengar memotong keheningan teras.
TAK. TAK. TAK.
Danu Aryawangsa telah berdiri tegak di ambang pintu teras.
Wajah tegas tampannya menggelap sempurna bagai langit hitam yang siap menumpahkan badai petir yang mengerikan. Rahang bawahnya mengeras hingga otot-otot di sepanjang lehernya menegang kaku, dan sepasang mata elangnya yang sehitam jelaga berkilat merah memancarkan aura membunuh yang amat pekat. Tatapan dinginnya yang sarat akan tirani tertuju lurus pada kedekatan posisi berdiri Senja dan Raka yang hanya berjarak satu jengkal, sebelum akhirnya beralih menatap sisa tawa tulus yang belum sepenuhnya hilang dari wajah sang istri.
Atmosfer di teras depan yang luas itu seketika merosot tajam hingga ke titik beku yang mencekam, seolah pasokan oksigen telah habis disedot paksa. Raka langsung mematung di tempatnya berdiri, seluruh wajahnya memucat dan darahnya seolah tersedot turun ke bumi. Sementara Senja merasakan detak jantungnya berhenti berdentung, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya.
Danu berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja diperlambat. Setiap ketukan sepatunya menjatuhkan bayangan tubuh besarnya yang pekat, seolah sedang mengurung dan menenggelamkan sosok mungil Senja di bawah kuasanya. Udara pagi yang tadinya hangat kini berubah total menjadi sedingin es batu marmer yang mematikan.
"Jadi..." Danu akhirnya bersuara. Nadanya begitu rendah, tenang, namun justru di dalam ketenangan itulah letak kengerian murni dari sang monster berada.
Pria itu berhenti tepat satu jengkal di samping tubuh Senja yang sudah bergetar hebat tak terkendali. Danu menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Senja dengan pandangan menghakimi yang menuntut penghancuran mutlak.
"Begini caramu menghabiskan waktu di rumahku saat aku tidak ada, Senja? Tersenyum murah dan tertawa lepas dengan pelayan rendahan?"
Senja merasakan seluruh pasokan oksigen di parunya lenyap. Suara langkah Danu berhenti tepat satu jengkal di samping tubuhnya yang gemetar. Pria itu menunduk, menatapnya dengan pandangan menghakimi yang menuntut penjelasan instan.
Bersambung