Pintu ganda kamar utama itu tertutup dengan dentuman berat yang menggema, mengunci mati sisa-sisa kemegahan palsu dari pesta di luar sana. Begitu selot pintu berbunyi klik, topeng senyuman menawan yang sejak tadi melekat di wajah Danu Aryawangsa luntur dalam sekejap, menyisakan rahang yang mengeras dan sepasang mata yang sarat akan kejengkelan mutlak. Pria itu menanggalkan jas tuksedo hitamnya dengan sentakan kasar, lalu melemparnya begitu saja ke atas kursi lengan beludru di sudut kamar.
Senja berdiri mematung di dekat meja rias, tangannya yang terbungkus sarung tangan brokat merah sewarna gaunnya bergetar hebat. Jantungnya berdegup tak beraturan, sisa-sisa kepanikan dari cengkeraman Danu di lorong hotel tadi masih menyumbat rongga dadanya. Udara kamar yang dingin mendadak terasa mencekik.
"Buka gaun itu. Sekarang," perintah Danu. Suaranya rendah, namun membawa getaran perintah yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Senja tersentak kecil, lambat-lambat menoleh menatap punggung tegap Danu yang kini memunggunginya sembari melonggarkan simpul dasi. "Tuan... saya bisa melakukannya di dalam kamar mandi."
"Aku bilang buka di sini. Di hadapanku. Sekarang," Danu membalikkan tubuhnya, menatap Senja dengan sepasang mata elang yang menyipit tajam. Nada suaranya meninggi satu oktav, sebuah tanda yang sangat jelas bahwa sisa kesabarannya malam ini telah berada di ambang batas. "Dan setelah itu, bersihkan riasan tebal menjijikkan di wajahmu itu. Aku ingin melihat wajah menyedihkanmu yang biasanya."
Danu melangkah satu kaki mendekat, rahangnya mengeras. "Riasan tebal dan gaun itu membuatmu terlihat terlalu mirip dengan Melani. Dan setiap kali aku melihat kemiripan itu, rasanya aku ingin menghancurkan wajahmu sampai hancur. Mengerti? Buka!"
Rasa takut yang pekat seketika menjalar, meremukkan sisa keberanian Senja. Ia segera membalikkan tubuhnya membelakangi Danu, tidak ingin memantik kemarahan sang monster lebih jauh. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengangkat kedua lengannya ke belakang punggung, mencoba meraih kepala resleting tersembunyi yang tertanam di sepanjang garis pinggang gaun satin merah darah tersebut.
Namun, gaun backless haute couture itu dirancang dengan tingkat kerumitan tinggi. Potongan punggungnya yang terbuka rendah menyisakan kaitan pengait kecil yang sangat tipis di bagian atas, sementara jalur resletingnya berada di titik buta yang mustahil dijangkau sendirian oleh tangan yang sedang gemetar, terlebih dengan punggung tangan kanan Senja yang masih terbalut kain kasa tebal di balik sarung tangan merahnya.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Senja, membuat jemarinya licin dan kikuk. Berkali-kali ia mencoba meraba, namun kepalanya yang pening akibat tekanan sepanjang malam membuat pandangannya mulai berkunang-kunang.
Danu berdiri di dekat ujung ranjang king size, memperhatikan setiap gerak-gerik kikuk Senja dengan tatapan menghakimi yang dingin. Ketidaksabaran terpancar jelas dari helaan napasnya yang berat dan bergemuruh.
"Lama sekali. Kau sedang mencoba mengulur waktu dengan bertingkah bodoh, atau kau sengaja ingin memancing amarahku lagi, Senja?" tanya Danu, langkah kakinya mulai bergerak lambat di atas lantai marmer, menciptakan gema yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Senja. "Cepat buka gaun itu. Aku tidak memiliki waktu sepanjang malam hanya untuk menunggumu melepas selembar kain."
"Maaf, Tuan... tapi resletingnya... susah sekali. Saya tidak bisa menjangkaunya," cicit Senja dengan suara yang hampir tenggelam, tercekat di tenggorokan bersama rasa sesak yang mati-matian ia telan.
Danu tidak membalas dengan kata-kata. Alih-alih membentak, pria itu justru melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung total sosok mungil Senja dari belakang. Refleks, Senja memejamkan mata rapat-rapat, bahunya merosot pasrah, bersiap jika pria itu akan menyentaknya dengan kasar.
Namun, kejutan lain justru datang.
Senja terkesiap pelan saat merasakan sentuhan telapak tangan yang besar, kokoh, dan berhawa panas mendarat di kulit punggungnya yang terbuka. Danu telah berdiri tepat di belakangnya, begitu dekat hingga tidak ada jarak seujung kuku pun di antara pakaian mereka. Aroma maskulin parfum premium yang tajam bercampur sisa wangi cerutu mahal dari ruang pesta seketika menyergap indra penciuman Senja, menciptakan rasa sesak yang aneh di dadanya. Tubuh Senja mendadak kaku, berubah menjadi sekeras batu marmer.
"Diamlah. Jangan bergerak," gumam Danu. Suaranya kini berubah, merendah, berat, dan bergetar tepat di atas tengkuk Senja yang sensitif. Hembusan napas panas pria itu berembus konstan, mengirimkan sensasi menggelitik yang mengerikan ke sepanjang tulang selangka Senja.
Jari-jari panjang Danu yang kasar mulai bekerja, meraba lipatan kain satin merah yang tersangkut di kepala resleting kecil. Kulit telapak tangan Danu yang kapalan di beberapa bagian sesekali bergesekan dengan permukaan kulit punggung Senja yang halus dan dingin karena sapuan udara AC. Sentuhan demi sentuhan itu mengirimkan sejenis sengatan asing, sebuah getaran aneh yang belum pernah Senja rasakan sebelumnya. Kulitnya meremang hebat, menolak namun sekaligus terhipnotis oleh d******i mutlak pria di belakangnya.
Danu tidak melakukan ini dengan kelembutan seorang kekasih, namun anehnya, ia juga tidak menggunakan kekasaran yang biasa ia tunjukkan. Pria itu bekerja dengan efisiensi yang mematikan, fokus melepaskan hambatan kain yang menghalangi pandangannya.
Sret...
Suara resleting yang ditarik turun terdengar begitu nyaring dan memekakkan keheningan kamar yang sunyi. Seiring dengan terbukanya kaitan gaun malam tersebut, gelombang udara dingin dari mesin pendingin ruangan langsung menerpa kulit punggung Senja tanpa penghalang, membuatnya sedikit menggigil dan bergidik. Bagian belakang gaun merah darah itu kini terbuka lebar hingga batas pinggul, menyisakan pemandangan punggung mulus Senja yang sepenuhnya terpapar di bawah temaram lampu kristal.
Danu mendadak terdiam. Gerakan jemarinya yang tadi begitu efisien menarik resleting, kini tertahan kaku di udara, tepat beberapa sentimeter di atas permukaan kulit punggung Senja yang putih pucat bagai pualam.
Lampu kamar yang temaram memberikan semburat keemasan yang eksotis pada setiap lekuk tulang belikat dan lekuk pinggang gadis itu. Benar, Danu telah menyentuh tubuh Senja sebelumnya. Dalam kegelapan malam yang pekat, dalam letupan amarah dendam yang membakar, atau dalam pemenuhan hak kepemilikan yang terburu-buru dan penuh kebrutalan. Namun, Danu menyadari satu hal malam ini: ia tidak pernah benar-benar melihatnya. Ia tidak pernah memperhatikan detail anatomi tubuh wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya ini.
Ada sesuatu yang teramat kontras dan mengusik kewarasan Danu saat menatap punggung itu. Kerapuhan tulang belikat Senja yang tampak menonjol samar, menunjukkan betapa ringkih dan kecilnya rentang tubuh yang selama ini menampung seluruh siksaan mental darinya.
Udara di dalam kamar mewah itu mendadak terasa menipis, seolah oksigen di sekeliling mereka telah habis tersedot oleh ketegangan yang kian menebal. Danu merasakan sebuah desir aneh yang teramat pekat mulai mengalir di dalam aliran darahnya. Sebuah sensasi panas, bergejolak, asing, dan sangat mengganggu egonya. Ia membenci kenyataan bahwa untuk sepersekian detik yang krusial ini, matanya tidak lagi mencari atau melihat bayangan Melani di atas kulit itu.
"Kenapa kau diam saja? Kenapa tidak bergerak?" suara Danu merendah hingga menjadi sebuah bisikan yang serak. Kali ini, nada suaranya bukan lagi karena amarah yang meledak-ledak, melainkan karena sebuah gejolak batin yang luar biasa besar yang ia sendiri gagal pahami.
Senja tidak mampu menjawab. Kedua tangan kirinya mencengkeram erat bagian depan gaun satin merahnya di atas d**a agar kain mahal itu tidak merosot jatuh dan menelanjanginya sepenuhnya di atas lantai. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan, memburu pasokan udara. Ia bisa merasakan hawa panas yang menjalar kuat dari tubuh tegap Danu yang berdiri tanpa jarak di belakang punggung telanjangnya. Detak jantung Senja berdenyut begitu hebat, melompat-lompat liar di balik tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri dari raga yang terkunci. Rasa takut itu jelas masih ada, namun kini, rasa ketakutan itu telah tercampur baur dengan getaran aneh, sebuah desiran yang membuat seluruh persendian lututnya mendadak lemas tak bertenaga.
Danu perlahan memajukan langkah kakinya yang terakhir, mengikis sisa jarak yang ada hingga d**a bidangnya yang terbungkus kemeja hitam menyentuh lembut permukaan punggung polos Senja. Pria itu menundukkan wajahnya, membiarkan hembusan napasnya yang hangat dan berat menerpa langsung kulit tengkuk Senja yang peka, memaksa gadis itu memejamkan mata rapat-rapat demi menahan sensasi yang kian menyiksa batinnya.
"Kau gemetar hebat, Senja," bisik Danu lagi, suaranya terdengar kian serak dan berbahaya di keheningan malam.
Tangan kanan Danu yang besar kini mulai bergerak perlahan. Sebuah gerakan yang terasa hampir ragu, sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang diktator sepertinya. Ujung jari telunjuknya yang kasar menyentuh kulit atas Senja, lalu mulai menyusuri garis lurus tulang punggung gadis itu ke bawah. Sentuhan itu terasa lambat, menyiksa, seolah Danu sedang memetakan wilayah baru yang belum pernah ia jelajahi.
"Apa kau sebegitu takutnya padaku... atau kau sebenarnya sedang menunggu dengan penuh harap, apa yang akan kulakukan pada tubuhmu selanjutnya, hmmm?"
Senja menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga, menekan rasa sakit fisik dari punggung tangannya yang kian berdarah di dalam sarung tangan, sekaligus menahan isak tangis atau mungkin... desahan napas tertahan yang hampir lolos akibat sentuhan intim yang kian intens tersebut.
"Saya... saya hanya melakukan apa yang Tuan minta dari saya," sahut Senja dengan suara parau yang nyaris menyerupai bisikan angin malam, terdengar begitu hancur dan hampa.
Sentuhan jemari Danu mendadak berhenti tepat di tengah-tengah punggung Senja. Pria itu memejamkan mata sejenak, rahangnya berkedut keras di balik kulit wajahnya yang menegang. Di dalam isi kepalanya, terjadi pergulatan hebat antara ego, rasa benci, dendam masa lalu atas pengkhianatan Melani, beradu dengan ketertarikan fisik yang tak masuk akal pada sosok gadis kampung di hadapannya ini. Keheningan di antara mereka berdua terasa begitu mencekam, sarat akan ketegangan seksual sekaligus intimidasi psikologis yang intim di saat yang bersamaan.
Namun, ego kegelapan Danu mendadak menolak untuk kalah oleh getaran asing tersebut. Ia tidak boleh goyah. Wanita ini adalah bagian dari keluarga yang telah menginjak-injak harga dirinya!
Dengan satu gerakan kasar yang tiba-tiba, Danu mencengkeram kedua bahu polos Senja, mencengkeramnya dengan jari-jari yang kuat hingga memicu ringkisan sakit dari bibir Senja, lalu memutar tubuh mungil gadis itu secara paksa 180 derajat agar menghadap langsung ke arah cermin besar setinggi langit-langit di depan mereka.
"Lihat dirimu baik-baik di dalam cermin itu, Senja!" Danu berbisik dengan nada penuh racun dari balik punggung Senja, sepasang matanya menatap tajam pantulan tubuh mereka berdua di atas permukaan kaca yang jernih.
"Malam ini kau dipuja dan ditatap dengan penuh damba oleh ratusan pasang mata orang-orang terhormat di kota ini. Kau memakai perhiasan berlian seharga miliaran rupiah di lehermu, dan kau dibungkus oleh gaun malam tercantik yang bisa dibeli dengan uang." Danu condong ke depan, menekan tubuh Senja ke arah meja rias, membuat wajah pias gadis itu kian dekat dengan pantulan cermin.
"Tapi kau harus ingat satu hal penting, Senja... di mataku, di tempat ini, kau tetaplah seorang gadis desa miskin yang tidak punya harga diri! Kau hanyalah barang rongsokan yang mau ditukar dengan uang demi membayar utang dan kesalahan kakakmu! Jangan pernah sedetik pun kau berani melupakan siapa posisimu yang sebenarnya di dalam rumah ini!"
Sentakan kata-kata itu menghujam tepat di lubuk hati Senja yang paling dalam, menghancurkan sisa-sisa getaran aneh yang tadi sempat mekar, menyisakan rasa sakit yang teramat perih dan hampa. Air matanya kembali menetes, menodai riasan wajahnya yang mahal.
Danu melepaskan cengkeramannya di bahu Senja dengan dorongan pelan yang merendahkan, melempar tubuh ringkih itu hingga terduduk di atas kursi meja rias.
"Bersihkan seluruh wajahmu sekarang juga dari topeng Melani itu. Aku akan menunggumu di ranjang. Jangan membuatku menunggu terlalu lama, atau kau sendiri yang tahu konsekuensinya."
Danu berbalik, melangkah menuju ranjang king size sutra hitamnya, lalu merebahkan tubuh tegapnya di sana sembari menatap Senja dari kejauhan dengan sepasang mata elang yang kembali membeku, sedingin es, menolak mencair untuk siapa pun.
Senja duduk kaku di depan cermin, dengan jemari yang mati rasa ia mengambil kapas dan cairan pembersih riasan. Perlahan, dengan gerakan yang monoton dan hampa, ia mulai menghapus topeng kecantikan yang tadi sore dipasang dengan penuh penderitaan. Lapisan demi lapisan bedak mahal dan pewarna bibir itu luntur, menampilkan kembali wajah aslinya yang pucat, lebam keunguan di sudut bibir yang mulai terlihat jelas, serta sepasang mata yang teramat lelah dan kehilangan binar kehidupan.
Di dalam pantulan cermin yang buram oleh air mata, ia bisa melihat sosok Danu yang berbaring diam di atas ranjang, terus mengawasinya dengan tatapan dingin yang tak kunjung mencair, seolah pria itu adalah predator yang sedang menandai wilayah buruannya.
Dengan berat hati yang terasa remuk berantakan, Senja mematikan lampu meja rias, membiarkan ruangan luas itu kini hanya diterangi oleh pendar lampu nakas di samping ranjang yang remang, menyisakan bayang-bayang panjang yang mengerikan di atas dinding. Langkah kakinya tertatih, berjalan lambat menuju arah ranjang sutra hitam yang di matanya... kini terasa jauh lebih panas dan menyiksa daripada hamparan api neraka. Perjalanan penderitaannya masih sangat panjang, dan Senja tidak pernah tahu... apakah akan ada bagian dari jika dan raganya yang tersisa utuh saat seluruh permainan gila ini berakhir nanti.
Malam itu, di bawah temaram lampu nakas yang hanya menyisakan bayang-bayang panjang di dinding, Senja kembali merasakan beratnya beban hidup yang ia pikul. Danu tidak memberikan ruang untuk napas, tidak juga memberikan celah untuk belas kasihan. Baginya, Senja adalah objek yang telah ia beli dengan harga mahal, dan ia berhak melakukan apa pun untuk memuaskan egonya yang terluka.
Setelah semuanya berakhir, Danu memunggungi Senja seperti biasa. Suara napasnya yang berat perlahan menjadi teratur, menandakan pria itu telah terlelap. Namun bagi Senja, kantuk adalah kemewahan yang tidak bisa ia raih. Ia bangkit dengan perlahan agar tidak mengusik sang predator, memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah yang tertatih. Di bawah guyuran air dingin, Senja tidak lagi menangis dengan suara. Air matanya mengalir membisu, menyatu dengan bulir-bulir air yang membasahi kulitnya yang memerah.
Tiba-tiba, dari arah kamar tidur, suara langkah kaki berat kembali terdengar mendekat ke arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.
Senja membeku di bawah guyuran shower, napasnya tercekat saat bayangan tubuh tinggi Danu mendadak muncul di ambang pintu kamar mandi. Pria itu tidak terlelap. Sepasang mata elangnya yang merah dan liar menatap tajam ke arah tubuh Senja yang basah kuyup.
Danu melangkah masuk tanpa alas kaki, mengabaikan cipratan air dingin yang mulai membasahi kemejanya. Ia mencengkeram rahang Senja dengan kasar, mendongakkan wajah gadis itu di bawah guyuran air, lalu berbisik dengan nada yang teramat dingin dan beracun tepat di depan bibirnya.
"Kau pikir kau bisa membasuh bekas sentuhanku dari tubuhmu? Bahkan jika kulitmu mengelupas sekalipun, kau tetap milikku. Malam ini belum berakhir. Keluar sekarang, atau aku yang akan menuntaskan sisa kemarahanku di atas lantai dingin ini!"
Bersambung