Lampu-lampu kristal di lobi hotel bintang lima itu berpendar begitu megah, memantulkan kemewahan yang membutakan mata. Malam ini, perayaan ulang tahun Aryawangsa Group yang dibarengi dengan penandatanganan investasi multinasional menduduki puncak pemberitaan di seluruh media bisnis tanah air. Puluhan jurnalis dan fotografer telah berbaris rapi di balik pagar pembatas, bersiap mengabadikan momen kedatangan sang penguasa tunggal dinasti bisnis tersebut.
Di dalam mobil Rolls-Royce hitam yang melaju pelan membelah barisan wartawan, atmosfer justru terasa sekaku liang kubur.
Senja duduk merapat ke arah pintu mobil, mencoba menciptakan jarak sejauh mungkin dari pria yang duduk di sebelahnya. Tubuhnya yang ringkih kini telah terbungkus sempurna oleh gaun satin sutra berwarna merah darah pilihan Danu. Potongan dadanya yang rendah mengekspos leher jenjangnya yang putih, namun kilau kalung berlian seharga miliaran rupiah di lehernya sengaja dipasang untuk menyamarkan bercak keunguan di sana. Bagian belakang gaun itu benar-benar kosong, memperlihatkan punggung mulusnya yang terasa dingin setiap kali bersentuhan dengan kulit jok mobil. Rambut hitamnya disanggul modern ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tertutup riasan tebal garapan Madam Rosa.
Tangan kanan Senja yang terbalut perban tipis di bawah sarung tangan brokat merah sewarna gaunnya tampak bergetar hebat di atas pangkuan. Setiap kali lampu kilat kamera dari luar jendela mobil yang gelap memancar, jantungnya berdegup seperti genderang perang.
"Hentikan getaran bodoh di tubuhmu itu, Senja," desis Danu tanpa mengalihkan pandangannya dari gawai di tangannya. Suaranya rendah, namun sanggup menyayat keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara.
Pria itu tampil luar biasa tampan dan berwibawa malam ini. Setelan tuksedo hitam potongan custom dengan kemeja putih bersih di dalamnya membuat aura kepemimpinannya menguar kuat. Tidak ada satu pun jejak monster kejam yang semalam menghancurkan harga diri Senja tersisa di wajah tegasnya.
Senja menelan ludah, meremas jemarinya sendiri hingga luka lepuhnya kembali berdenyut perih. "T-Tuan... saya takut. Saya tidak pernah berada di tempat seperti ini..."
Danu mematikan gawainya, lalu menoleh lambat. Sepasang mata elangnya berkilat dingin di bawah temaram lampu kabin. "Ketakutanmu tidak menghasilkan uang bagi perusahaanku. Ingat aturan yang kubuat sepuluh menit lalu sebelum kita keluar dari rumah? Begitu pintu mobil ini dibuka, kau adalah istri seorang Danu Aryawangsa. Tersenyum, tatap kamera, dan bersikaplah seolah kau adalah wanita paling beruntung karena telah memilikiku."
Danu condong ke depan, merengkuh dagu Senja dengan gerakan yang terlihat sangat mesra dari luar jendela, namun cengkeraman jarinya di rahang Senja terasa begitu menekan dan menyakitkan. "Satu kali saja kau menundukkan kepala atau memperlihatkan wajah menyedihkanmu itu di depan para investor... detik ini juga aku akan mengirim pesan pada pihak rumah sakit untuk menghentikan seluruh pasokan obat ibumu. Kau paham arti kalimatku, bukan?"
Air mata Senja mendesak ingin keluar, namun ia mati-matian menahannya. Jika air mata ini merusak riasan wajahnya, Danu tidak akan segan-segan mengeksekusi ancamannya. "P-Paham, Tuan..." bisik Senja pasrah.
Mobil berhenti sempurna tepat di depan karpet merah. Seorang petugas hotel dengan sarung tangan putih segera membukakan pintu mobil dari luar. Seketika itu juga, gemuruh suara jepretan kamera dan kilatan lampu flash yang memutus pandangan menyerbu masuk, menerangi kabin mobil.
Danu Aryawangsa mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap mata. Senyum tipis yang menawan dan penuh karisma terbit di bibirnya yang kokoh. Ia melangkah keluar terlebih dahulu, disambut oleh riuh rendah sapaan hormat dari para petinggi media. Pria itu berbalik, mengulurkan tangan kanannya ke dalam mobil dengan gestur yang begitu ksatria dan penuh perhatian.
Di dalam mobil, Senja memejamkan mata sesaat, merapalkan doa dalam hati untuk keselamatan ibunya, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Danu.
Begitu tumit sepatu hak tingginya menyentuh karpet merah, seluruh kamera seolah menggila. Kilatan cahaya yang bertubi-tubi membuat mata Senja perih dan berkunang-kunang. Langkah kakinya goyah, namun Danu dengan sigap menyusupkan lengan kekarnya ke pinggang terbuka Senja, menarik tubuh mungil itu melekat erat ke pinggulnya. Sentuhan kulit telapak tangan Danu yang hangat di punggung polosnya yang dingin mengirimkan sengatan ngeri yang membuat Senja menegang.
"Tersenyum, Sayang. Mereka sedang mengambil gambar kita," bisik Danu tepat di dekat telinga Senja, nadanya terdengar begitu lembut dan penuh cinta di telinga para wartawan, namun terdengar seperti vonis mati bagi Senja.
Senja memaksa otot-otot wajahnya bergerak, mengukir sebuah senyuman manis yang dipaksakan. Matanya menatap lurus ke arah kerumunan kamera yang berjarak hanya beberapa meter di depan mereka. Di bawah sorotan lampu yang menyengat, ia merasa seperti seekor binatang buruan yang sedang dipamerkan di atas jagal. Setiap kali Danu mengeratkan cengkeraman di pinggangnya, Senja tahu itu adalah isyarat rahasia agar ia tidak menurunkan sudut bibirnya.
"Tuan Danu! Mohon menghadap ke arah kiri sejenak!" seru salah seorang fotografer dari media cetak ternama.
Danu menuruti permintaan media. Ia memutar tubuh mereka, merapatkan wajahnya ke pelipis Senja dengan gestur posesif yang langsung mengundang decak kagum dan jepretan kamera yang kian bising.
"Kau melakukannya dengan baik, Senja," bisik Danu lagi, suaranya sangat rendah di sela-sela senyumnya yang menawan. "Pertahankan senyuman palsumu itu sampai kita masuk ke dalam ruang utama. Jangan biarkan sepeser pun sahamku turun karena wajah bodohmu."
Senja hanya bisa mengangguk kecil, mempertahankan topeng senyumnya di bawah kilatan cahaya yang kian membakar harga dirinya. Setiap langkah di atas karpet merah itu terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca. Kemegahan di sekelilingnya terasa hampa, digantikan oleh rasa sesak yang kian mencekik dadanya.
Setelah melewati sesi wawancara singkat yang untungnya didominasi oleh jawaban taktis dari Danu, mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam ballroom utama yang megah. Pintu ganda besar ditutup di belakang mereka, menyaring sebagian besar kebisingan dari luar. Namun, di dalam ruangan berkapasitas ribuan orang ini, tatapan-tatapan menilai dari para taipan bisnis dan sosialita ibu kota jauh lebih tajam daripada mata kamera.
Danu melepaskan rangkulannya di pinggang Senja begitu mereka berada di sudut ruangan yang agak sepi, mengambil dua gelas sampanye dari pelayan yang melintas, lalu memberikan salah satunya kepada Senja.
"Pegang ini. Dan jangan pernah jauh-jauh dari sisiku," perintah Danu, suaranya kembali bertransisi menjadi sedingin es, tanpa ada sisa kehangatan palsu seperti di luar tadi.
Senja menerima gelas kaca tersebut dengan tangan kirinya, karena punggung tangan kanannya kian berdenyut hebat. Cairan darah dari luka lepuh yang pecah tampaknya mulai merembes, menodai bagian dalam sarung tangan brokat merahnya hingga terasa lembap dan lengket. Namun, Senja hanya bisa berdiri kaku di samping Danu, mendengarkan pria itu berbincang mengenai angka-angka saham, akuisisi, dan investasi dengan beberapa pria paruh baya berjas mewah yang menghampiri mereka.
Setiap kali para kolega bisnis itu memuji kecantikan "istrinya", Danu akan merangkul bahu Senja, memberikan kecupan ringan di pelipisnya sembari berterima kasih dengan nada bangga yang sangat manipulatif. Sandiwara ini begitu rapi, begitu sempurna, hingga Senja menyadari satu hal yang mengerikan: Danu Aryawangsa adalah seorang psikopat yang mampu mengendalikan emosinya dengan mutlak.
Waktu terus bergulir, dan rasa sakit di tangan serta kaki Senja kian tidak tertahankan. Pandangannya mulai mengabur akibat rasa lelah fisik dan mental yang bertubi-tubi sejak dua hari lalu. Tubuhnya limbung sejenak, membuat sedikit cairan sampanye di gelasnya berguncang.
Danu yang menyadari perubahan ritme tubuh Senja, segera pamit dari hadapan koleganya dengan alasan ingin mengambilkan air minum untuk sang istri. Pria itu menuntun Senja menuju koridor sepi di dekat area toilet VIP, jauh dari jangkauan pandangan para tamu.
Begitu mereka berada di area yang terisolasi, Danu menyentak lengan Senja hingga punggung gadis itu membentur dinding marmer yang dingin. Gelas sampanye di tangan Senja terlepas, jatuh ke atas karpet tebal tanpa menimbulkan suara pecahan, namun cairannya membasahi ujung gaun merahnya.
"Apa yang kau lakukan, Senja?! Kau ingin menghancurkan segalanya di dalam sana?!" desis Danu dengan kemurkaan yang tertahan di balik rahangnya yang mengeras.
"T-Tuan... saya mohon... kepala saya sangat pusing," tangis Senja pecah dalam bisikan lirih. Ia menyandarkan kepalanya di dinding marmer, tubuhnya perlahan merosot ke bawah namun Danu dengan cepat menahan kedua bahunya, mencengkeramnya kuat hingga Senja terpaksa kembali berdiri tegak. "Tangan saya perih sekali... saya sudah tidak kuat... izinkan saya istirahat di mobil..."
Danu menatap wajah Senja yang dipenuhi peluh halus yang mulai merusak bedak tebalnya. Pandangan mata pria itu turun, tertuju pada punggung tangan kanan Senja yang terbalut sarung tangan brokat merah. Di sana, warna merah kain tersebut tampak menggelap di satu titik, basah oleh cairan darah yang merembes dari dalam.
Melihat noda darah itu, entah kenapa, ada sesuatu yang berdesir aneh di dalam d**a Danu. Sebuah rasa tidak nyaman yang asing, sejenis sengatan halus yang mengusik egonya yang keras. Namun, Danu dengan cepat mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menepis jauh-jauh perasaan lemah tersebut. Matanya kembali menatap Senja dengan tatapan sekeras batu karang.
Danu mencondongkan wajahnya, mencengkeram dagu Senja untuk yang kesekian kalinya malam itu, memaksa mata gadis yang mulai meredup itu untuk menatapnya.
"Dengar sepotong kalimat terakhirku malam ini, Senja," bisik Danu dengan nada suara yang teramat pelan, namun bergetar oleh ancaman yang nyata. "Kau tidak akan pergi ke mobil. Kau akan kembali ke dalam ballroom bersamaku, tegakkan kepalamu, dan selesaikan sandiwara ini sampai selesai. Karena jika kau berani pingsan di dalam sana dan menciptakan skandal baru..."
Danu menjeda kalimatnya, seringai iblis terukir di bibir tipisnya. "...besok pagi, kau bukan hanya akan melihat ibumu keluar dari ICU sebagai mayat, tapi aku sendiri yang akan memastikan tidak akan ada satu pun liang kubur di tanah Jawa ini yang sudi menerima jasadnya. Sekarang, usap air matamu, dan ikut aku."
Bersambung