Kamar ganti utama kediaman Aryawangsa yang biasanya sunyi, siang itu mendadak menjelma menjadi ruang eksekusi yang bising bagi Senja. Sejak pukul dua siang, ruangan luas berdinding kaca itu telah diokupasi oleh Madam Rosa, seorang desainer haute couture ternama ibu kota bersama tiga asisten pribadinya yang bergerak gesit layaknya robot. Koper-koper kulit berukuran besar berjejer di sudut ruangan, menyembunyikan lembaran-lembaran kain sutra dan brokat bernilai ratusan juta rupiah yang siap digunakan untuk membungkus tubuh Senja.
Senja berdiri kaku di atas podium bulat beralas beludru di tengah ruangan, dikelilingi oleh cermin besar berkaki tiga yang memantulkan setiap jengkal ketidakberdayaannya. Tubuhnya yang ringkih dibalut jubah mandi sutra putih longgar. Kedua tangannya bertumpu pasrah di depan perut, dengan punggung tangan kanan yang masih terbalut kain kasa putih seadanya, bekas luka lepuh yang semalam dipecahkan tanpa ampun oleh Danu. Rasa perihnya masih terasa berdenyut hingga ke siku, namun Senja tidak berani meringis. Di dalam rumah ini, mengekspresikan rasa sakit adalah sebuah pelanggaran.
"Astaga, Sayang... kulitmu sangat pucat, dan apa ini? Lebam di sudut bibir?" Madam Rosa menggeser kacamatanya ke atas kepala, menatap wajah Senja dengan dahi berkerut dalam. Jari-jarinya yang mengenakan cincin berlian besar menyentuh dagu Senja, memalingkan wajah gadis itu ke kiri dan ke kanan dengan kasar. "Foundation tebal harus bisa menutupinya. Tuan Danu tidak akan suka jika istrinya terlihat seperti korban penganiayaan di depan kamera media nanti malam."
Senja hanya mampu menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Ia ingin berteriak bahwa pria yang Madam Rosa puji-puji itulah yang telah mengubah tubuhnya menjadi kanvas penuh luka lebam, namun lidahnya kelu. Suara pelayan yang hilir mudik di luar ruangan kian menambah beban di pundaknya. Mereka semua menatapnya dengan pandangan sinis, menganggapnya tidak lebih dari sekadar p*****r beruntung yang berhasil naik ranjang bersama sang penguasa.
"Baiklah, kita tidak punya banyak waktu. Bawa gaun utamanya ke sini!" perintah Madam Rosa tegas kepada para asistennya.
Seorang asisten segera melangkah maju, membawa sebuah manekin yang mengenakan sebuah gaun malam berbahan satin sutra premium berwarna merah darah yang sangat mencolok. Saat kain penutupnya dibuka, Senja seketika menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dengan rasa ngeri yang langsung merayap ke dadanya.
Gaun itu memiliki potongan d**a yang teramat rendah, menyisakan ruang terbuka yang akan mengekspos tulang selangka dan bagian atas dadanya. Namun, bagian paling mengerikan terletak di bagian belakang. Gaun tersebut dirancang tanpa punggung sama sekali (backless), memotong lurus hingga ke batas pinggang bagian bawah. Kain merah mengkilap itu tampak bergelombang mewah, namun di mata Senja, gaun itu terlihat seperti genangan darah yang siap menenggelamkannya hidup-hidup.
"Madam... maaf," suara Senja bergetar, memecah keheningan di antara deru mesin uap portabel yang digunakan asisten untuk merapikan gaun. "Saya... saya tidak bisa memakai gaun ini."
Madam Rosa menghentikan gerakannya yang sedang menyusun kuas rias. Ia berbalik, menatap Senja dengan tatapan tidak percaya sekaligus tersinggung. "Apa kau bilang, Sayang? Tidak bisa? Ini adalah mahakarya terbaikku musim ini. Tuan Danu sendiri yang memesan gaun ini dua minggu lalu untuk... well, untuk istrinya." Madam Rosa sengaja menjeda kalimatnya, tahu betul desas-desus bahwa wanita di hadapannya ini bukanlah Melani yang asli. "Dan sekarang kau menolaknya?"
"Pakaian ini... terlalu terbuka, Madam. Bagian belakangnya benar-benar tidak tertutup," bisik Senja dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca. Tangannya refleks merapatkan jubah mandi sutranya, mencoba menyembunyikan leher dan dadanya yang dipenuhi bercak kemerahan pekat, cap kepemilikan brutal yang ditinggalkan Danu semalam. "Saya... saya tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Tolong, berikan saya gaun lain. Apa saja, asalkan lebih tertutup. Saya mohon..."
"Jangan konyol, Senja!" suara Madam Rosa meninggi, mulai kehilangan kesabaran. "Pesta malam ini bukan pengajian di kampungmu! Ini adalah gala dinner eksklusif yang dihadiri oleh orang-orang penting dan investor asing! Kau harus terlihat berani, seksi, dan mendominasi di samping Danu Aryawangsa! Kau pikir kau punya hak untuk memilih di sini?!"
"Tapi saya malu, Madam! Saya tidak bisa!" air mata Senja akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pias. Tekanan mental yang ia hadapi sejak semalam membuat pertahanannya runtuh. "Saya tidak ingin memamerkan tubuh saya di depan ratusan orang..."
BRAK!
Pintu ganda kamar ganti didorong kasar dari luar hingga menghantam dinding dengan dentuman yang memekakkan telinga. Seluruh orang di dalam ruangan itu seketika tersentak dan membeku. Atmosfer di dalam kamar ganti yang tadinya panas oleh perdebatan, mendalam sedetik kemudian berubah menjadi sedingin es yang mencekam.
Danu Aryawangsa melangkah masuk. Aura d******i dan kemurkaan yang pekat menguar dari tubuh tegapnya yang kini sudah terbungkus kemeja hitam melekat, tanpa jas. Matanya yang sehitam jelaga langsung mengunci sosok Senja yang berdiri gemetar di atas podium. Langkah kakinya yang berat terdengar begitu teratur, namun menghantarkan getaran bahaya yang nyata ke setiap sudut ruangan.
Madam Rosa dan ketiga asistennya segera melangkah mundur, menundukkan kepala sedalam mungkin demi menghormati sang penguasa tunggal. Mereka tahu betul, mengusik ketenangan Danu Aryawangsa sama saja dengan mengundang maut.
Danu berjalan mendekati manekin, mengabaikan keberadaan para perias. Jari-jari kekarnya menyentuh permukaan kain satin merah darah tersebut, mengelusnya perlahan sebelum tatapan matanya yang tajam beralih, menusuk langsung ke dalam manik mata Senja yang dipenuhi air mata.
"Keluar. Semuanya," ucap Danu. Suaranya tidak keras, namun nada dingin dan mutlak di dalamnya membuat ruangan itu seolah kekurangan oksigen.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Madam Rosa dan para asistennya bergegas merapikan barang-barang mereka dengan tangan gemetar, lalu keluar dari kamar ganti secepat yang mereka bisa, menutup pintu ganda itu rapat-rapat. Kini, di dalam ruangan luas yang dikelilingi cermin itu, hanya tersisa Danu dan Senja. Ditawan bersama keheningan yang mematikan.
Danu berjalan lambat mendekati podium. Setiap jengkal pergerakannya membuat Senja merasa ruang geraknya kian terkikis habis. Hingga akhirnya, Danu berdiri tepat di hadapan Senja, membuat bayangan tubuhnya yang besar mengurung total sosok mungil istrinya.
"Apa yang baru saja kudengar dari luar ruangan ini, Senja?" desis Danu, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman pembunuhan yang dingin. "Kau mencoba membuat drama di rumahku? Kau menolak gaun yang sudah kupersiapkan?"
"T-Tuan... saya mohon," ratap Senja dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia nekat mendongak, menatap mata elang Danu dengan pandangan mengemis iba. "Gaun itu... potongan dadanya terlalu rendah, dan bagian belakangnya terbuka total. Saya malu... lebam-lebam di tubuh saya juga akan terlihat oleh orang lain jika saya memakai itu..."
"Malu?" Danu terkekeh sinis, sebuah suara tawa yang membuat bulu kuduk Senja meremang hebat. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram rahang bawah Senja dengan cengkeraman yang jauh lebih kuat dari semalam, mendongakkan wajah pias gadis itu secara paksa hingga sendi rahangnya terasa mau lepas.
"Kau bicara tentang rasa malu setelah apa yang kita lakukan di atas ranjang itu selama dua malam berturut-turut, hah?!" Danu condong ke depan, memangkas jarak hingga Senja bisa mencium aroma parfum maskulin tajam bercampur aroma kemurkaan dari tubuh pria itu. "Kau pikir kau punya kemewahan untuk memiliki rasa malu di rumah ini, Senja?"
"Tuan... sakit..." rintih Senja, air matanya kian deras mengalir melewati ibu jari Danu yang menekan kuat kulit pipinya.
"Dengar baik-baik, barang pengganti," desis Danu tepat di depan bibir Senja yang bergetar. Kilat matanya memancarkan kekejaman yang murni. "Kau berada di sini bukan untuk memberikan pendapat. Kau berada di sini untuk mematuhi setiap perintahku seperti anjing yang penurut! Tugasmu malam ini hanya satu: berdiri di sampingku, tersenyum di depan kamera, dan membuat seluruh dunia percaya bahwa kau adalah istriku yang paling bahagia!"
Danu melepaskan cengkeraman rahangnya dengan sentakan kasar, membuat kepala Senja terlempar ke samping. Pria itu kemudian berbalik, merenggut gaun merah darah itu dari manekin dengan satu gerakan kasar, lalu melempar kain satin mahal itu tepat ke atas wajah dan tubuh Senja.
"Rasa malumu, harga dirimu, bahkan air mata menjijikkanmu itu tidak ada harganya dibandingkan nyawa ibumu yang sedang sekarat di ICU!" Danu menunjuk wajah Senja dengan jari telunjuknya, suaranya naik satu oktav, bergema mengerikan di dalam kamar ganti. "Jika kau tidak memakai gaun ini dalam waktu sepuluh menit, aku sendiri yang akan menelepon dokter di rumah sakit untuk mencabut seluruh kabel dan selang oksigen yang menopang jantung ibumu! Biarkan wanita tua itu mati membusuk karena kebodohan anaknya!"
"Jangan, Tuan! Saya mohon, jangan sakiti Ibu!" Senja histeris. Ia langsung luruh dari podium, bersimpuh di atas lantai kayu tepat di bawah kaki Danu, memeluk kedua tungkai kaki pria itu dengan tangan gemetar, mengabaikan rasa perih di punggung tangannya yang kembali mengeluarkan darah akibat gerakan tiba-tiba. "Saya akan pakai... saya akan pakai gaun itu... tolong jangan sakiti ibu saya..."
Danu menunduk, menatap kepala Senja yang bersandar di sepatunya dengan pandangan yang sedingin es batu marmer. Ego dan dendamnya atas pengkhianatan keluarga ini telah menutup rapat seluruh celah di hatinya untuk rasa kasihan.
Pria itu membungkuk, mencengkeram kedua bahu Senja dan memaksanya berdiri tegak kembali. Tangan kiri Danu bergerak ke belakang tubuh Senja, merenggut jubah mandi sutra yang dikenakan gadis itu, lalu menariknya ke bawah dengan satu sentakan brutal hingga kain putih itu luruh sepenuhnya ke lantai.
Senja menjerit, refleks menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, mencoba menutupi tubuh polosnya yang kini terpampang nyata di bawah sorot lampu kristal kamar ganti. Kulitnya yang putih bersih kini dipenuhi bercak merah keunguan dan lebam, sebuah pemandangan yang justru membuat rahang Danu mengeras menahan gejolak emosi yang asing.
Danu mengambil gaun merah darah yang sempat terjatuh, lalu menyodorkannya tepat di depan d**a Senja yang naik turun karena deru napas yang panik dan ketakutan.
"Pakai gaun merah ini sekarang juga dengan tanganmu sendiri di hadapanku," desis Danu, suaranya merendah namun membawa tekanan psikologis yang luar biasa menghancurkan. "Atau... kau ingin aku yang memasangkan kain ini ke tubuhmu secara paksa, lalu menyeret tubuh telanjangmu masuk ke dalam mobil untuk pergi ke pesta? Pilih, Senja. Kesabaranku sudah habis."
Bersambung