Setelah jauh melangkah akhirnya mereka sampai di depan salah satu pintu besar yang ada di lantai dua, sang pelayan langsung membuka pintu tersebut dan langsung mempersilahkan Laura masuk ke dalam kamar itu setelah dirinya lebih dulu masuk ke dalamnya guna menjelaskan apa saja isi dari kamar mewah tersebut.
Setelah sang pelayan pergi meninggalkannya seorang diri di dalam kamar asing yang saat ini di desain khusus seperti kamar pengantin pada umumnya, Laura merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur berukuran besar yang ada di dalam kamarnya. Kedua matanya menatap langit-langit kamar dengan lekat dan seketika pikirannya kembali melayang ke masa lalunya.
Flashback.
“Laura!!!” teriak seorang wanita dewasa sembari merentangkan tangannya seakan ingin menyambut gadis kecil yang baru saja keluar dari taman kanak-kanak sembari berlari kearahnya dengan senyuman lebar di wajah imutnya.
“Mama!!” teriak gadis kecil itu, ia langsung memeluk sang Ibu yang sedari tadi sudah menunggunya di depan gerbang sekolahnya.
Wanita dewasa itu mengangkat tubuh mungil Laura dan mendekapnya dalam gendongannya.
“Apakah harimu menyenangkan my little princess?” tanya wanita yang di panggil Mama oleh gadis kecil itu.
“Iya Ma, teman-teman Laura sangat baik dan kami bermain bersama,” jawabnya dengan semangat.
Wanita itu tersenyum senang.
“Oh ya? Laura sama teman-teman tadi main apa memangnya, Nak?”
“Hmm, banyak sekali Ma, nanti saja ceritanya Laura sudah sangat lapar ayo kita pulang Ma!!” seru gadis kecil itu sembari mengerucutkan bibirnya dengan gemas.
“Hahah, Mama sampai lupa Nak, ya sudah sekarang kita pulang ya, Mama sudah memasak makanan favorit untuk Laura!” serunya sembari terkekeh pelan.
“Yeay!! Terima kasih Ma, Emuachhh!” seru gadis kecil itu mengecup pipi Ibunya sembari tertawa dengan riang.
Mereka bergegas memasuki mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Flashback off.
Tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipi Laura, gadis itu menangis mengingat momen di masa kecilnya bersama sang Ibu.
“Ma.. Laura sangat merindukan Mama,” cicitnya dengan suara serak, air mata semakin deras membasahi kedua pipinya.
Gadis itu menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya, hingga beberapa saat kemudian dirinya sudah merasa sangat lelah dan tanpa sadar tertidur dengan lelap di atas kasur empuk itu.
***
Disisi Lain..
Zavier dan istrinya yaitu Monice sedang mengantar tamu terakhir mereka, terlihat raut bahagia di wajah cantik wanita itu.
“Akhirnya pewaris kita akan segera lahir Mas!!” seru Monice setelah mereka berdua berada di dalam kamar pribadi mereka yang terletak di lantai satu.
Zavier hanya menghela nafasnya dengan berat.
“Mas, pokoknya setelah gadis itu melahirkan anak kita kamu harus segera menceraikannya!!”
Wanita itu menatap wajah suaminya dengan tajam.
“Diamlah Monice, aku sedang lelah!!” bentak Zavier dengan kesal. Laki-laki itu melepaskan satu persatu kancing jas yang masih melekat di tubuh atletis miliknya.
Wanita itu diam sembari mengerucutkan bibirnya dengan wajah tak kalah kesal, bukannya membantu suaminya melepaskan jas-nya, ia malah melanjutkan ocehannya.
“Aku tidak mau tahu Mas, dalam waktu satu tahun ini wanita itu harus sudah mengandung anak kita dan melahirkannya, setelahnya dia harus pergi dari rumah ini!!” seru Monice tak terbantah.
Zavier melemparkan jas miliknya ke sembarang tempat, ia beranjak berdiri dari tempatnya sembari menatap wajah istrinya dengan tajam.
“Terserah padamu!!” ketusnya dengan wajah datar, setelah mengatakan hal itu ia bergegas meninggalkan wanita itu.
“Mau kemana kamu?” tanya Monice berhasil menghentikan tangan suaminya yang hendak membuka gagang pintu kamar mereka.
“Kamar pengantin!” jawabnya dengan singkat.
Tanpa menoleh sedikit pun laki-laki itu langsung membuka pintu kamarnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Monice yang hanya tertegun dengan kedua mata melebar menatap kepergian suaminya.
Degh...
Ada rasa sakit menusuk di dalam jantungnya mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh suaminya.
“Ka.. mar pe..ngantin!” serunya dengan terbata.
Glek..
Monice menelan salivanya dengan berat, ada rasa sesak yang menghinggapi hatinya. Seketika otaknya berpikir ke arah hal-hal negatif yang akan di lakukan suaminya kepada pengantin barunya itu dan sudah tentu hal itu adalah hal sewajarnya yang dilakukan oleh setiap pengantin pada umumnya.
“Sialan!!” umpatnya dengan kesal. “Perasaan apa ini? Kenapa hatiku begitu sakit memikirkan apa yang akan dilakukan mereka nanti!!” gumamnya sendirian.
Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghembuskan nafasnya dengan kesal.
***
Kriek...
Pintu kamar terbuka secara perlahan, Laki-laki itu berjalan memasuki kamar pengantinnya sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Kedua matanya terpaku menatap wajah polos yang tengah tertidur lelap di atas kasurnya dengan masih menggunakan gaun pengantin lengkap dengan riasannya yang masih melekat di wajahnya yang sudah nampak sedikit luntur.
“Sepertinya gadis kecil itu habis menangis,” gumamnya sembari tersenyum sinis. Ia berjalan mendekati ranjang tidur yang di tempati oleh istri mudanya tersebut.
Sesampainya disana, ia hanya memandangi wajah gadis itu sembari memperhatikannya dengan lekat dari jarak yang sangat dekat.
***
“Hmm...”
Laura merenggangkan otot-otot tubuhnya sembari mengerjapkan kedua matanya secara perlahan, saat kedua matanya benar-benar terbuka dengan sempurna alangkah terkejutnya saat dirinya beradu pandang dengan mata elang milik seorang laki-laki yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping ranjang tidurnya sembari melihat kearahnya.
“Huwaaa!!” Laura berteriak dengan kencang sembari beranjak dari posisi rebahannya. “Ka..kamu sejak kapan disini!!”
Laura beringsut menjauhi dan bergegas turun dari ranjang tersebut.
“Sejak 30 menit yang lalu,” jawab laki-laki itu dengan wajahnya yang tetap datar.
Laura tercengang mendengarnya, ia menatap laki-laki itu dengan pandangan aneh.
“ Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanya Laura sembari mengerutkan dahinya heran.
“Kamu tidur seperti kerbau mana bisa dibangunkan,” ketusnya sembari berlalu meninggalkan gadis itu.
Zavier berjalan menuju ruang ganti yang ada di dalam kamar itu, ia berniat mengambil pakaian yang sudah di siapkan untuknya oleh para pelayannya dan bergegas menggantinya disana.
“Sebaiknya kamu bersihkan wajah kusammu itu, aku tidak ingin melihatnya!” ketus Zavier sebelum ia benar-benar memasuki ruang walk in closet yang ada di dalam kamar itu.
Laura mendengus kesal mendengar teguran dari laki-laki yang sudah berstatus suaminya itu.
“Dasar laki-laki tua! Seenaknya saja dia menghina wajahku!” gerutunya dengan wajah kesal.
Laura berjalan mendekati pintu kamar mandi yang berada tidak jauh dari tempatnya, ia bergegas memasuki ruangan itu dan mulai membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.
Beberapa menit kemudian gadis itu sudah menyelesaikan kegiatan mandinya.
“Astaga!! bagaimana aku bisa lupa tidak membawa pakaian ganti ke kamar mandi?” seru gadis itu sembari menepuk dahinya dengan gemas.
Laura baru teringat bahwa di dalam kamar itu dirinya saat ini tidak hanya seorang diri, tetapi ada seorang laki-laki yang entah apa yang di lakukannya di luar ruangan kamar mandi itu.
“Bodoh!! Bagaimana bisa aku keluar dengan hanya menggunakan selembar handuk ini!!” umpat Laura merutuki kecerobohannya sendiri. Laura mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa dirinya pakai untuk menutupi sebagian besar tubuh polosnya, seketika kedua matanya terpaku menatap sebuah kaos oblong yang tergantung di sisi dinding dan tanpa berpikir panjang ia langsung meraihnya dengan cepat. “Sepertinya pakaian ini masih bersih, lebih baik aku pakai kaos ini saja untuk sementara dan menggantinya di ruang ganti,”
Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung memakainya. Setelah itu ia menggunakan selembar handuk putih itu untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan menjadikannya seperti sebuah rok selutut.
“Semoga saja pria tua itu sudah tidak ada di dalam kamar ini,” gumamnya penuh harap.
Gadis itu menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya secara perlahan guna mengurangi rasa gugupnya, setelah meyakinkan dirinya Laura mulai memutar gagang pintu dan membukanya secara perlahan.
Krieekk....