Pintu mulai terbuka secara perlahan hingga menampakkan ruangan yang nampak kosong.
Laura mengernyitkan dahinya heran, ia mencari keberadaan suaminya di dalam ruangan itu namun sama sekali tidak menemukannya.
“Apakah dia masih berada di dalam ruang ganti pakaian?” gumam Laura sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan laki-laki itu. Ia berjalan mengendap-endap ke arah ruangan ganti pakaian sembari memperhatikan keadaan sekitar, takut kalau secara tiba-tiba laki-laki itu memergokinya dengan kondisi yang seperti itu.
Setelah memastikan ruangan itu kosong Laura bergegas memasuki ruang ganti pakaian dan menutup pintunya dengan rapat.
“Fyuh.. Syukurlah dia sudah pergi dari kamar ini,” gumamnya dengan wajah lega. “Lebih baik aku segera mengganti pakaian ini,”
Laura berjalan mendekati pintu lemari pakaian miliknya yang sebelumnya sudah di beri tahu oleh pelayan yang mengantarkan dirinya ke kamar itu. Ia meraih sebuah dress selutut yang nampak sederhana dan sangat cocok dengan style biasa yang sering ia gunakan. Dibanding dengan pakaian yang lainnya yang nampak sangat mewah dan glamour, Laura lebih memilih memakai pakaian yang biasa saja karena sudah menjadi bagian dalam dirinya hidup dengan sederhana sejak kecil.
Setelah selesai dengan pakaiannya, Laura beralih menuju meja rias yang terletak di pojok ruangan. Laura duduk di depan meja rias besar itu sembari memandangi wajah polosnya dari pantulan cermin besar tersebut. Ia mulai mengambil sebuah bedak dan mulai memoleskan di wajahnya secara tipis, setelah selesai tak lupa gadis itu memoleskan sebuah lipgloss di bibir mungilnya untuk menyegarkan wajahnya agar tidak nampak pucat.
Setelah dirinya sudah cukup puas dengan hasil dandanannya yang nampak sangat natural, Laura beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Gadis itu berjalan menuju sebuah sofa yang terletak di pojok ruangan dan berbatasan dengan tembok kaca pemisah antara ruangan kamar dan balkon kamar yang sangat luas.
Laura menghempaskan bokongnya di atas sofa empuk itu sembari meraih sebuah remote televisi yang tergeletak di atas meja, tanpa menunggu lama tangan lentik gadis itu mulai mengotak-atik remote itu guna mencari siaran televisi favoritnya.
Saat dirinya sedang asik menatap layar televisi besar yang ada di hadapannya sembari menonton drama kesukaannya, tanpa di duga seseorang mengetuk pintu kamar itu dari luar.
Tok.. Tok.. Tok...
Laura menegakkan tubuhnya, ia mengalihkan perhatiannya menatap pintu kamar itu sembari mengerutkan dahinya, ia bergegas beranjak dari tempatnya dan hendak mendekati pintu kamarnya. Sesampainya disana, ia langsung membukanya hingga menampakkan wajah seorang wanita muda dengan pakaian seperti seorang pelayan.
“Ada apa?” tanya Laura dengan lembut.
“Maaf Nona, Tuan memanggil anda ke bawah untuk mengikuti kegiatan makan malam bersama,” ujarnya dengan sopan.
“Hmm.. baiklah katakan padanya aku akan segera turun ke bawah,” jawab Laura.
“Maaf Nona, Tuan ingin saya mengantarkan anda ke bawah,”
Laura menghela nafasnya berusaha sabar.
“Kalau begitu tunggu disini sebentar karena saya hendak mematikan televisi di dalam,” ujarnya.
“Baik Nona,” ucap pelayan itu dengan patuh.
Laura bergegas masuk ke dalam kamarnya, ia langsung mematikan televisi dan mengembalikan remote ke tempatnya semula. Setelah itu, ia kembali berjalan keluar hendak menghampiri pelayan yang sudah menunggunya dengan setia sejak tadi.
Setelah menutup pintu kamarnya, Laura dan juga pelayan itu bergegas meninggalkan tempat itu dan berjalan menuruni anak tangga yang menjadi penghubung antara lantai satu dan lantai dua tempat dimana kamar milik Laura berada.
Setelah sampai di lantai bawah, sang pelayan bergegas membawa Laura menuju ruang makan dimana sang majikan sudah menunggu kedatangan mereka.
Sesampainya di ruangan itu, Laura langsung di arahkan agar segera duduk di kursinya yang berhadapan langsung dengan istri pertama suaminya.
“Akhirnya turun juga Tuan putri kita ini,” sindir Monice sembari tersenyum sinis.
Laura mengangkat wajahnya sembari menatap wanita itu dengan pandangan heran.
“Maafkan saya karena ini adalah hari pertama saya di rumah ini dan saya masih belum mengetahui apa pun yang berkaitan dengan kegiatan yang ada disini,” ucap Laura.
Monice memutar kedua bola matanya dengan malas.
“Sudahlah, lebih baik kita mulai saja kegiatan makan malam ini tidak perlu memperbesar masalah sepele seperti ini,” tegur suami mereka dengan bijak. “Sebaiknya kamu mulai mempelajari apa saja yang harus kamu lakukan di rumah ini,”
Laki-laki itu memberikan nasihat kepada Laura sembari menatapnya dengan lekat.
“Baiklah,” jawab Laura dengan suara rendah.
Setelah mengatakan hal itu mereka langsung memulai kegiatan makan bersama di malam itu dengan suasana hening tanpa ada yang memulai pembicaraan sedikit pun.
Baik Zavier maupun istri pertamanya tidak ada yang memulai obrolan, seperti sudah terbiasa dengan hal tersebut. Laura yang sejak tadi hanya memperhatikannya saja merasa tidak perduli dengan hal itu karena dirinya lebih merasa nyaman dalam keheningan itu.
Di dalam ruangan itu kini hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu hingga menimbulkan suara yang sangat syahdu.
Setelah menghabiskan makan malam miliknya, Laki-laki itu mulai beranjak dari tempat duduknya.
“Saya sudah selesai, silahkan kalian lanjutkan makan malamnya karena saya masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan,” ujar Zavier memberi tahu.
“Sayang, jangan bekerja terlalu larut,” seru Monice mengingatkan suaminya.
Laki-laki itu hanya mengangguk paham, sedangkan Laura hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus dengan makanannya.
“Laura, kembalilah ke kamarmu ketika makan malammu sudah selesai!” ujar Zavier mengingatkan.
Gadis itu mengangkat wajahnya.
“Baiklah,” jawabnya singkat.
Setelah mendapat jawaban dari gadis itu, Zavier bergegas meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh seorang pria yang sejak tadi hanya berdiri diam di pojok ruangan dengan wajah tanpa ekspresi seakan dirinya hanya bertugas memperhatikan setiap kegiatan yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah kepergian suaminya dari ruangan itu, Monice meletakkan alat makannya begitu saja, ia beralih menatap wajah Laura sembari memperhatikannya dengan lekat.
Laura yang sudah merasa tidak nyaman karena di perhatikan oleh wanita itu akhirnya memilih mengakhiri kegiatan makannya. Ia meraih gelas berisi air minum yang berada di dekatnya dan dengan cepat meneguknya hingga menyisakan setengahnya saja.
Setelah merasa cukup, Laura meletakkan gelas itu di tempatnya semula.
“Ada apa Nyonya? Kenapa anda memperhatikan saya seperti itu?” tanya Laura dengan hati-hati.
Monice tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari gadis itu.
“Hmm tidak apa-apa, aku hanya sedang menilai wajah calon ibu dari anakku,” jawabnya sembari tersenyum.
Laura menghela nafasnya.
“Apakah sebegitu besar keinginan anda untuk mempunyai seorang anak Nyonya?” tanya Laura sembari menatap wajah wanita itu dengan tajam.
Wanita itu terkekeh pelan.
“Hahah, tentu. Saya dan Zavier sudah menikah hampir 8 tahun dan kami berdua benar-benar mengharapkan kehadiran seorang bayi yang akan menjadi penerus di keluarga ini, dan orang yang akan memberikan kami pewaris itu adalah kamu!” jawabnya sembari tersenyum.
“Baiklah, setelah saya sudah memberikan pewaris untuk keluarga ini, apakah kalian akan benar-benar membebaskanku?” tanya Laura memastikan.
“Sudah pasti kami akan membebaskanmu tanpa harus mendapatkan hak sebagai seorang ibu karena status itu akan digantikan olehku, Ibu sambungnya,” jawab Monice dengan percaya diri.
Lagi-lagi Laura menghembuskan nafasnya dengan lelah.
“Baiklah aku setuju dengan hal itu, tetapi bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu Nyonya?” tanya Laura.
“Ya tentu, kamu boleh meminta apa pun selain suamiku,” jawabnya sembari tertawa kecil. “Apa yang ingin kamu minta dariku?”
Monice menghentikan tawanya, ia mengubah wajahnya menjadi serius.
“Aku ingin kamu menjaga anakku kelak dengan sangat baik dan tolong jaga dia benar-benar sama dengan apa yang di lakukan oleh seorang ibu kandung pada umumnya,” ucap gadis itu dengan mantap.
“Hanya itu?” tanya Monice sembari mengangkat sebelah alisnya.
“Ya,” jawab Laura.
“Baiklah, aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin dengan syarat kamu tidak akan pernah menemuinya dan mengaku bahwa kamu adalah ibu kandungnya kelak,” jawabnya dengan tegas.
Degh.
Ada perasaan ragu yang hinggap di dalam hati Laura, dirinya ragu apakah kelak ia akan benar-benar sanggup merelakan anaknya untuk diberikan sepenuhnya kepada keluarga ini. Selama beberapa saat gadis itu hanya terdiam sembari menerawang.
“Hei! Kenapa kamu diam?” tegur Monice.
Laura tersentak dari lamunannya.
“Aku setuju,” jawabnya dengan mantap.
Mendengar jawaban dari gadis itu membuat Monice tersenyum puas.
“Bagus! Aku rasa cukup obrolan kita malam ini, anggap saja ini adalah bentuk perkenalan kita,” ujar wanita itu sembari tersenyum tipis, ia mulai beranjak dari tempat duduknya. “Silahkan nikmati kembali makan malammu Laura,” ucap Monice dan setelahnya ia langsung berlalu dari hadapan gadis itu.
Setelah kepergian wanita itu Laura hanya bisa terdiam dengan pikirannya sendiri, nafsu makannya seketika menghilang yang ada di pikirannya saat ini hanyalah masa depannya kelak.