Vila Damian, pagi — 07.12
Meja makan itu terlalu tenang untuk ukuran situasinya.
Ada nasi goreng di tengah, dua cangkir kopi, segelas s**u untuk Daniil, dan sepiring telur dadar yang sudah dipotong rapi. Galih, juru masak yang ternyata sudah di dapur sejak subuh meletakkan satu piring tambahan di depan Theo tanpa ditanya, lalu menghilang kembali ke dalam.
Daniil makan dengan tenang. Sesekali memandang Theo, sesekali memandang ayahnya, lalu kembali ke piringnya seperti mengamati pertandingan yang belum ia putuskan untuk ditonton sampai selesai.
Theo membuka mulutnya. "Sebelas tahun," katanya.
Zefran menyeruput kopinya. Tidak menjawab.
"Sebelas tahun tidak ada kabar. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Bahkan Fen—" Theo berhenti. Ia menimbang kata-katanya. "Fenny tidak tahu kamu di sini."
"Tidak," kata Zefran.
"Kamu tidak akan bilang?"
"Belum."
Theo menatapnya. Zefran membalas tatapan itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan dingin, atau tertutup, tapi lebih ke arah seseorang yang telah memutuskan kecepatan bicaranya sendiri dan tidak merasa perlu menyesuaikannya dengan jadwal orang lain.
"Kenapa kembali?" tanya Theo akhirnya.
Zefran meletakkan cangkirnya. Jemarinya mengetuk meja satu kali, kebiasaan lama yang rupanya tidak hilang meski sebelas tahun berlalu.
"Ada urusan," jawabnya.
"Urusan?”
"Ya."
Theo menghela napas. Ini akan panjang, atau lebih tepatnya ini tidak akan ke mana-mana jika ia terus menunggu Zefran yang membuka pintu. Pria itu dulu saja sudah tidak banyak bicara. Sekarang malah seperti seseorang yang telah belajar bahwa diam adalah pilihan yang lebih efisien dari hampir semua hal.
"Aku menghajarmu dulu," kata Theo.
Daniil menghentikan suapannya.
Zefran tidak bergerak. Tapi ada sesuatu di sudut bibirnya yang bergeser. Bukan senyum, tapi juga bukan benar-benar datar.
"Tahu," kata Zefran.
"Aku minta maaf."
"Tidak perlu."
"Perlu," sahutnya. "Kamu minta melamarnya berkali-kali. Aku tahu itu. Fenny cerita waktu—" Tenggorokannya tercekat. Ia meminum kopinya. "Waktu sudah terlambat untuk menyesal."
Hening.
Daniil melihat ayahnya. Zefran memandang meja sebentar, lalu mengangkat kepala.
"Sudah selesai," kata Zefran. Dua kata, nada yang tidak memberi ruang untuk diperdebatkan. Bukan karena marah. Tapi karena itu memang sudah selesai, telah lama selesai, dan membuka kembali tidak akan mengubah apapun dari apa yang sudah terjadi.
Theo mengangguk pelan.
Daniil kembali menyendok nasinya.
Beberapa menit berlalu dengan hanya suara sendok dan piring. Lalu Theo memandang Daniil. Anak itu sedang mengunyah dengan ekspresi yang sangat mirip ekspresi Zefran ketika memikirkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
"Dia tahu soal ibunya?" tanya Theo pelan, dalam bahasa Indonesia yang ia harap tidak mudah diterjemahkan oleh anak sebelas tahun.
Daniil mendongak. "Ayah bilang Mami menitipkan aku karena aku sangat penting." Bahasa Indonesianya hati-hati tapi jelas. "Katanya karena aku penting, Mami minta Ayah yang jaga."
Theo memandang Zefran. Tapi Zefran tidak membalas pandangan itu.
‘Dasar.’
Tapi Theo tidak bilang itu keras-keras. Ia hanya mengambil sendoknya dan mulai makan, karena nasinya masih panas dan ada beberapa hal di dunia ini yang memang lebih baik ditelan dalam diam.
* * *
Sekitar vila, menjelang siang
Setelah sarapan, Zefran masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.
Theo berdiri di teras, menghirup udara lereng yang masih basah dari embun, dan memandang perbukitan di kejauhan. Dari sini, jika ia sedikit menggeser posisinya ke kiri dan memicingkan mata, ia bisa melihat atap-atap Dusun N di bawah sana. Asap tipis dari dapur-dapur yang sudah mulai mengepul. Juga suara ayam yang terbawa angin.
Tempat yang sama. Jarak yang berbeda.
"Uncle Theo."
Daniil muncul di sampingnya sambil membawa dua botol air mineral. Daniil menyodorkan satu ke Theo dengan cara yang tidak bertanya tapi juga tidak memaksa.
Theo menerimanya. "Makasih."
Daniil berdiri di sebelahnya, memandang ke arah yang sama. "Di sana Dusun N?"
"Ya. Tempat ayahmu dulu tinggal."
"Dan Mami?"
Theo memandangnya dari samping. Anak itu bertanya dengan nada yang terlalu datar untuk sekadar basa-basi. Ada sesuatu di baliknya, rasa ingin tahu yang sudah lama disimpan dan baru sekarang menemukan orang yang mungkin mau menjawabnya jujur.
"Mami kamu juga dari sana," jawab Theo hati-hati.
"Ayah cerita Mami suka lari pagi. Dan suka makan jagung bakar di depan rumah waktu hujan." Daniil berhenti sebentar. "Ayah jarang cerita banyak. Tapi yang dia cerita selalu hal kecil."
Theo tidak langsung menjawab. Ia berpikir soal Fenny. Adiknya yang sekarang bekerja di kantor hukum, tinggal di rumah nenek, berangkat Senin-Rabu memutar jalan agar tidak berlama-lama ketemu ayahnya. Fenny yang memilih jurusan hukum bukan karena ingin, tapi karena ingin punya senjata yang sah. Fenny yang sampai sekarang belum pernah bicara nama Zefran tanpa ada sesuatu yang berbeda di matanya.
"Mami kamu," kata Theo akhirnya, "suka hal-hal yang tidak kecil juga. Tapi dia tidak pernah bilang itu secara jelas."
Daniil mempertimbangkan jawabannya selama beberapa detik, seperti sedang menentukan di laci mana harus menyimpan informasi itu.
"Uncle mau ikut ke kota siang ini?" tanyanya kemudian. "Aku ingin coba sosis bakar. Ayah bilang ada yang enak di depan swalayan.
Theo tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak tadi malam. "Boleh," jawabnya.
* * *
Depan supermarket — 16.07
Sosis bakarnya tidak sebagus yang dijanjikan, tapi Daniil memakannya dengan ekspresi ilmuwan yang sedang mencatat data.
"Dagingnya kurang padat," komentarnya. "Di Moskow ada gerobak sosis di dekat stasiun metro Arbatskaya. Lebih tebal. Bumbunya beda."
"Kamu berumur sebelas tahun dan sudah bisa bedain sosis dua negara," kata Theo.
"Dua belas negara," koreksi Daniil tanpa mendongak dari sosisnya.
Theo menyeruput kopi pointnya.
‘Anak ini.’
Mereka duduk di meja plastik kecil di depan swalayan, di bawah kanopi yang tidak terlalu berguna karena matahari sore Magelang datang dari sudut yang salah. Beberapa orang berlalu-lalang. Motor parkir dan pergi. Seorang ibu mendorong kereta belanja keluar dari pintu geser yang otomatis.
Theo baru saja akan mengambil sosis terakhirnya ketika sebuah mobil sedan masuk ke parkiran dengan tenang dan berhenti di dekat pintu masuk. Ia tidak langsung memperhatikannya. Tapi kemudian pintu pengemudi terbuka, dan seseorang keluar.
Blazer hitam, celana kerja, rambut dikuncir longgar. Berjalan dengan langkah orang yang sudah tahu mau ambil apa dan tidak ingin berlama-lama. Fenny Sukma, adik kandungnya, dalam penampilan hari kerja yang masih dipakai di jam empat sore karena belum sempat pulang ganti baju.
Theo berdehem. Matanya bergerak ke Daniil.
Daniil sudah berhenti makan. Anak itu memandang perempuan yang baru keluar dari mobil itu dengan cara yang berbeda dari cara ia memandang hal-hal lain. Tidak menganalisis, tidak mencatat. Hanya memandang dengan sesuatu di matanya yang lebih dewasa dari usianya.
‘Dia tahu.’
Theo memalingkan wajah ke arah lain.
Fenny masuk ke swalayan tanpa melihat ke arah mereka.
Daniil meletakkan sosis bakarnya di piring.
Theo berpura-pura sangat tertarik pada papan iklan promo di dinding swalayan.
Dua menit berlalu.
Pintu geser terbuka lagi. Fenny keluar dengan dua cup kopi di tangan dengan yang satu untuk dibawa pulang, yang satu mungkin untuk diminum di jalan. Ia melangkah ke arah mobilnya. Lalu ia melihat Theo.
Fenny berhenti. "Kak?" Nada bingung yang langsung disusul senyum heran. "Tumben. Kapan balik?"
"Kemarin malam," kata Theo. Ini tidak sepenuhnya bohong.
Fenny mendekat, hendak duduk di kursi kosong di seberangnya, tapi matanya bergerak ke Daniil yang masih duduk di sebelah Theo, memandangnya balik dengan tenang.
Fenny terdiam.
Sedetik. Dua detik.
Ekspresinya tidak bisa Theo baca dengan mudah. Ada sesuatu di sana yang bukan keterkejutan biasa. Lebih dalam dari itu. Seperti seseorang yang sudah lama mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini tapi tetap tidak siap ketika ia benar-benar tiba.
"Halo," kata Fenny akhirnya, hati-hati. "Siapa namamu?"
Daniil menatapnya.
Theo melihat anak itu mengerjapkan mata satu kali. Seperti sedang mengkalibrasi sesuatu di dalam kepalanya. Sudah sebelas tahun ia hanya mengenal perempuan ini dari cerita-cerita kecil yang ayahnya pilih untuk diceritakan. Suka lari pagi, suka jagung bakar waktu hujan, tertawanya selalu lebih keras dari yang ia rencanakan.
Sekarang perempuan itu berdiri dua meter di depannya dengan dua cup kopi di tangan dan ekspresi yang berusaha keras terlihat biasa-biasa saja.
Daniil turun dari kursinya. Ia berjalan ke arah Fenny. Langkahnya tenang tidak terburu-buru. Dan sebelum Fenny sempat mundur atau berkata apapun, Daniil memeluknya. Bukan pelukan canggung anak kecil yang tidak tahu mau menaruh tangannya di mana. Tapi pelukan sungguhan, erat, wajah di bahu, seperti seseorang yang sudah lama menyimpan ini dan baru menemukan tempat yang tepat untuk mengeluarkannya.
"Mami," katanya pelan.
Cup kopi di tangan kiri Fenny hampir jatuh.
Theo menangkapnya tepat waktu.
Fenny tidak bergerak selama beberapa detik. Berdiri kaku dengan satu cup kopi di tangan kanan dan satu tangan yang tidak tahu mau diletakkan di mana. Lalu perlahan, tangan itu bergerak dan mendarat di punggung anak itu.
Seorang ibu-ibu yang keluar dari swalayan melirik mereka, tersenyum kecil, dan berlalu.
Theo memandang ke arah lain.
‘Beri mereka sebentar.’
…
Fenny akhirnya bicara. Suaranya tidak rata. "Daniil?"
Bukan pertanyaan sungguhan. Lebih ke konfirmasi seperti mengucapkan sebuah nama yang sudah lama hanya ada di dalam kepala, dan baru sekarang ia izinkan keluar lewat suara.
Daniil sedikit melepaskan pelukannya. Ia mendongak, memandang Fenny dari jarak dekat dengan mata yang sama persis dengan mata seseorang yang Fenny kenal jauh lebih lama.
"Ya," jawabnya. Sederhana. Tidak lebih, tidak kurang.
Fenny menghela napas panjang. Lalu ia mengeratkan pelukannya.
Theo meminum kopinya. Di sampingnya, piring sosis bakar sudah dingin dan tidak ada yang peduli.
* * *
Meja yang sama — 16.31
Fenny duduk di kursi yang tadi kosong.
Cup kopinya ada di tangan, tapi tidak diminum. Ia memandang Daniil yang kembali duduk di kursinya dan sekarang sedang dengan serius mempelajari bungkus keripik tempe yang baru dibeli Theo dari dalam swalayan, sambil membaca komposisinya baris perbaris seperti membaca kontrak.
"Ini dari tepung," komentar Daniil. "Tepungnya dari kedelai. Tapi nama produknya tempe. Ini beda dengan tempe asli."
"Betul. Ini versi cepat,” kata Theo.
"Versi cepat kurang autentik?"
"Tergantung. Ada yang suka versi cepat karena lebih kriuk."
Daniil mempertimbangkan ini, lalu membuka bungkusnya dan mencoba satu keping. Ia mengunyah. Mengangguk.
"Kriuknya berlebihan tapi rasanya oke."
Fenny memandang anak itu lama.
Theo menoleh ke adiknya. "Fen."
"Dia ada di sini." Bukan pertanyaan.
Theo tidak langsung menjawab. Dan Fenny mengerti itu sebagai jawaban.
Fenny meminum kopinya. Satu tegukan panjang seperti memberi dirinya sendiri waktu untuk memutuskan perasaan mana yang akan ia izinkan berada di permukaan.
"Sudah lama?" tanyanya, suara lebih rendah sekarang.
"Baru–" Theo melirik Daniil yang masih sibuk dengan keripik tempenya. "--tadi malam."
Fenny mengangguk sedikit. Ujung jarinya mengetuk-ketuk cup kopi, ritme tanpa pola, kebiasaan lama ketika ada sesuatu yang sedang dicerna di dalam kepalanya.
Daniil mendongak seolah merasakan perubahan suhu percakapan. Ia memandang Fenny, lalu Theo, lalu kembali ke Fenny.
"Mami," katanya. "Besok Mami kerja?"
Fenny terkesiap sedikit. Panggilan itu masih baru, masih terasa seperti sesuatu yang perlu waktu untuk dikenakan dengan nyaman.
"Iya," jawabnya. "Kenapa?"
"Karena Uncle Theo bilang kamu suka makan jagung bakar waktu hujan. Aku belum pernah coba." Daniil menutup bungkus keripiknya dengan rapi. "Besok lusa prakiraan hujan. Ayah bilang cuaca Magelang tidak bisa dipercaya, tapi di aplikasi bilang hujan."
Theo menahan senyum.
Fenny memandang anak itu. Anak yang wajahnya mewarisi terlalu banyak dari orang yang sudah sebelas tahun tidak ada, tapi cara bicaranya, cara ia menyusun kalimat dengan presisi yang terlalu dewasa untuk usianya, itu sepenuhnya hasil dari seseorang yang membesarkannya dengan hati-hati.
Ada sesuatu yang menusuk di dadanya. Bukan sakit. Lebih ke arah hal yang sudah terlalu lama ditunda untuk dirasakan.
"Boleh," kata Fenny akhirnya. "Kita cari yang enak."
Daniil mengangguk puas, dan kembali memandang jalan raya di depan mereka dengan ekspresi seseorang yang sudah selesai dengan satu agenda dan sekarang menyusun agenda berikutnya.
Fenny memandang kakaknya.
Theo mengangkat bahu sedikit, ekspresi universal untuk, ‘aku juga baru tahu ini semua tadi malam, Fen.’
Fenny menghela napas panjang, memandang ke jalanan Magelang yang mulai ramai di jam pulang kerja.
Jauh di atas lereng sana, di balik pohon-pohon yang menghalangi pandangan dari jalan besar, ada satu set lampu vila yang mungkin sudah menyala.
Fenny belum tahu itu.
Tapi Daniil ada di sini, dan itu dulu saja sudah cukup untuk saat ini.