POV Fenny — Jalan menuju lereng, 18.44
Hujan turun persis seperti yang dikatakan aplikasi cuaca.
Fenny menepi sebentar di bawah kanopi bengkel tutup untuk menunggu redanya. Tapi hujan di Magelang tidak pernah punya jadwal yang masuk akal dan dalam dua puluh menit jelas tidak akan berhenti. Fenny memutuskan jalan saja. Jas hujannya ada di bagasi, dan jagung bakarnya sudah dibeli sebanyak dua buah, dibungkus plastik selagi masih panas, dari gerobak Pak Narno di perempatan. Ini ide Daniil.
Lebih tepatnya Daniil mengirim pesan melalui Theo kemarin malam yang singkat, tidak bertele-tele, persis cara mengirim pesan orang yang tidak pernah diajarkan basa-basi berlebihan.
‘Besok hujan. Jagung bakar. Uncle Theo bilang Mami tahu tempatnya.’
Fenny membaca pesan itu tiga kali. Lalu membalasnya, ‘Oke. Jam 4 sore.’
Fenny tidak bertanya apakah ada orang lain yang akan ikut. Ia tidak bertanya banyak hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan. Ada batas antara siap dan nekat, dan Fenny sudah cukup lama menjadi pengacara untuk tahu kapan ia belum punya cukup bukti untuk masuk ke ruangan tertentu.
Kali ini Fenny mengendarai motor mendaki jalur lereng dengan susah payah karena aspalnya basah dan ia sedikit terlambat ganti ban belakang sejak tiga bulan lalu. Ia mental-mencatat ini untuk keempat kalinya dan tetap tidak melakukan apapun.
Gerbang vila terlihat dari tikungan terakhir. Lampu pagar menyala. Seorang pengawal berbaju kasual melambaikan tangan ke arahnya. Rupanya Theo sudah memasukkan namanya ke daftar, karena gerbang terbuka tanpa ia perlu berhenti dan menjelaskan apapun.
Fenny memarkir motornya di bawah kanopi samping. Ia duduk sebentar di jok, memandang hujan yang masih deras, dan menarik napas.
‘Kamu di sini untuk Daniil. Hanya untuk Daniil.’
Ia turun dari motor.
* * *
POV Zefran — Teras belakang vila, saat bersamaan
Zefran tahu Fenny datang sejak dua puluh menit sebelumnya.
Alexei yang melaporankannya ringkas, satu kalimat, nada yang sama seperti kalau melaporkan pergerakan armada di pelabuhan. Zefran meletakkan ponselnya dan tidak bergerak dari kursinya di teras belakang.
Ia sudah di sana sejak hujan mulai turun. Secangkir kopi di tangan, buku yang tidak ia baca terbuka di pangkuan, sambil memandang kebun belakang yang sekarang berubah menjadi padang kabut tipis karena hujan bertemu tanah yang masih hangat dari seharian matahari.
Daniil yang mengundangnya. Zefran tahu itu dari Theo, kakak ipar yang tidak pernah ia minta, yang rupanya muncul di SPBU jam dua pagi dan sekarang sudah tiga hari makan sarapan di meja yang sama.
Theo bilang dengan nada santai yang terlalu santai, ‘Danya minta Fenny bawa jagung bakar. Aku bilang boleh.’
Zefran tidak menjawab waktu itu. Theo membacanya dengan benar sebagai bukan-penolakan.
Sekarang Zefran duduk di teras belakang dengan kopi yang sudah mulai dingin dan memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu banyak dipikirkan. Sebelas tahun adalah waktu yang lama. Cukup lama untuk mengubah banyak hal. Cukup lama untuk membuat dua orang yang dulunya hafal cara bernapas satu sama lain menjadi asing sepenuhnya.
Atau tidak sepenuhnya. Itu yang lebih sulit.
Dari dalam rumah ia mendengar suara Daniil berlari ke arah pintu depan, dan suara Galih yang mencoba mengingatkan bahwa berlari di lantai kayu basah itu berbahaya, juga suara Daniil yang mengabaikannya dengan sopan.
Zefran meminum kopinya yang sudah dingin. Ia tidak beranjak, masih dalam posisi.
* * *
POV Fenny — Ruang dalam vila
Daniil membuka pintu sebelum Fenny sempat mengetuk.
"Mami basah." Ini observasi, bukan keluhan.
"Iya." Fenny menyerahkan plastik jagung bakar ke tangan Daniil. "Ini masih panas, hati-hati."
Daniil menerimanya bahagia. Lalu mengendusnya satu kali seperti sedang mengidentifikasi, dan melangkah mundur memberi jalan masuk.
Di dalam, Galih telah menyiapkan handuk kecil di dekat pintu. Fenny menggunakannya untuk mengeringkan ujung rambutnya, memandang ruang tamu yang pertama kali ia lihat sore harinya.
Berbeda dari kesan malam itu ketika Theo dibawa masuk. Sore hari dengan cahaya dari jendela besar di sisi barat, ruang itu terasa lebih hidup. Ada buku-buku di rak kayu yang bukan hiasan. Beberapa terlihat sering dibuka, punggungnya melengkung. Ada gambar crayon di selembar kertas besar yang ditempel di salah satu tiang dengan selotip, seperti seorang anak yang memutuskan dinding itu butuh sesuatu. Dan di sudut, robot pembersih yang sama sedang parkir dengan tenang di station pengisinya, lampu hijau berkedip kecil.
Tempat yang dihuni orang. Bukan sekadar ditempati.
"Theo mana?" tanya Fenny.
"Keluar tadi. Katanya beli rokok." Daniil membawa plastik jagung bakar ke dapur. "Padahal dia tidak merokok. Aku dengar dia bilang ke Alexei mau ke warung kopi dulu."
‘Theo.’
Ia mengikuti Daniil ke dapur. Galih menyiapkan piring dan gelas, lalu dengan kebijaksanaan seseorang yang tahu kapan harus tidak ada, ia pamit ke ruang lain.
Daniil meletakkan jagung bakar di piring. Ia menarik dua kursi bar di konter dapur dan duduk dengan cara anak yang sudah terbiasa makan di mana saja tanpa perlu meja makan resmi.
Fenny duduk.
Hujan terdengar di luar. Ritme tidak merata di atap, angin sesekali membawa suara gemercik dari talang.
Daniil mengambil jagung bakarnya. Menggigit. Mengunyah. "Ini lebih enak dari sosis kemarin itu," simpulnya.
"Itu memang tujuannya," kata Fenny.
Mereka makan dalam diam yang tidak canggung. Fenny memperhatikan cara Daniil makan rapi, tidak buru-buru, tangan kirinya selalu memegang piring agar tidak geser. Kebiasaan kecil dari orang yang sering makan sambil berpindah tempat.
"Mami," kata Daniil tiba-tiba. "Aku ingin tanya sesuatu."
"Tanya saja."
Daniil memandang jagung bakarnya sebentar. "Ayah bilang aku penting buat Mami. Makanya Mami meminta Ayah yang jaga." Ia berhenti. "Tapi aku tidak pernah tanya apa Mami tidak pernah ingin melihat aku?"
Fenny berhenti mengunyah. Pertanyaan itu bukan pertanyaan anak yang marah. Tidak ada tuduhan di sana, tidak ada tepi yang tajam. Hanya rasa ingin tahu yang sudah disimpan cukup lama sampai akhirnya menemukan waktu yang tepat untuk cara bertanya seseorang yang sudah terbiasa menunggu informasi yang benar daripada memaksa jawaban yang cepat.
Tenggorokan Fenny terasa sempit. "Selalu," kata Fenny. Satu kata, tapi berat.
Daniil mengangguk pelan menerima jawaban itu, menyimpannya di tempat yang sama dengan jawaban-jawaban lain yang ia kumpulkan tentang asal-usulnya.
"Ayah di teras belakang," katanya kemudian, seolah itu adalah informasi yang memang perlu disampaikan sekarang.
Fenny membekukan diri.
"Dia sudah di sana dari sebelum Mami datang. Dia tidak masuk karena—" Daniil mengerutkan dahi sedikit, seperti sedang menerjemahkan sesuatu dari kepala ke kata-kata. "Aku tidak tahu pasti kenapa. Tapi Ayah suka duduk di luar kalau sedang memikirkan sesuatu yang besar."
Fenny tidak menjawab.
Daniil menggigit jagung bakarnya lagi.
"Tidak harus sekarang," tambahnya. Tanpa tekanan. Hanya menyampaikan fakta bahwa pintu belakang itu ada, seseorang ada di sebaliknya, dan selebihnya bukan urusannya.
* * *
POV Bergantian — Teras belakang
Fenny berdiri di depan pintu belakang selama beberapa detik. Dari dapur ia mendengar Daniil memanggil Galih minta air minum. Suaranya sudah jauh ke dalam ruang tengah. Anak itu memberikannya ruang sengaja, atau memang begitu caranya.
Fenny membuka pintu.
Zefran mendengar pintu terbuka. Ia tidak berbalik. Tahu kapan suara langkah di dalam rumah berubah ritme menjadi lebih pelan, berhenti di dekat pintu, lalu memutuskan melanjutkan keluar.
Hujan masih turun tapi lebih pelan dari sebelumnya, tapi belum berhenti. Di kebun belakang, lampu taman menciptakan lingkaran-lingkaran cahaya kuning di antara tanaman yang basah.
Langkah Fenny berhenti di sampingnya.
Hening.
Hening yang berbeda dari semua hening yang Zefran kenal selama sebelas tahun terakhir. Hening di ruang negosiasi yang menunggu kebohongan pertama, hening di pesawat yang menunggu turbulensi, hening sesudah tembakan. Ini berbeda. Ini hening yang benar-benar penuh.
Fenny tidak bergerak. Zefran tidak bergerak. Lalu Fenny berkata, suara rendah dan datar seperti orang yang sudah memutuskan tidak akan membiarkan suaranya retak.
"Kamu kurus dulu."
Zefran hampir —
‘hampir’
— tersenyum.
Dari sebelas tahun dan seribu hal yang mungkin dikatakan seseorang di pertemuan pertama seperti ini, Fenny memilih itu.
"Gelap juga," jawabnya. "Saking di bengkel terus."
"Aku ingat." Dua kalimat itu menggantung di udara yang berbau tanah basah.
Zefran akhirnya berbalik sedikit, bukan sepenuhnya menghadap, tapi cukup untuk melihat Fenny dari samping. Rambut yang masih agak basah dari hujan tadi. Jaket hitam yang sama. Tangan yang memegang cangkir kopi yang rupanya ia bawa dari dapur.
Mata yang sama. Sebelas tahun tidak mengubah itu.
"Kamu tidak bertanya banyak," kata Zefran.
"Aku pengacara," jawab Fenny. "Aku tahu kapan seseorang belum siap memberikan keterangan."
"Aku bukan klienmu."
"Tidak. Tapi kamu juga belum siap."
Ia tidak membantah itu.
Fenny minum kopinya. Zefran meminum sisa kopi dinginnya. Hujan pelan-pelan mengecil menjadi gerimis, lalu hampir tidak ada.
"Daniil bilang kamu memikirkan sesuatu yang besar," kata Fenny akhirnya.
"Daniil bicara terlalu banyak."
"Katanya itu tanda sesuatunya memang besar." Fenny berhenti. "Kalau tidak, kamu sudah masuk dari tadi."
Zefran tidak menjawab. Yang berarti Fenny benar. Ia memandang perempuan di sebelahnya bukan dengan cara yang memindai ancaman atau menghitung jarak keluar seperti yang selama sebelas tahun telah menjadi refleks pertamanya. Hanya memandang. Dengan cara yang dulu biasa, dan sekarang terasa seperti sesuatu yang tidak punya nama yang tepat.
"Fenny," katanya.
"Apa."
"Terima kasih sudah datang."
Fenny terdiam bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena terima kasih dari mulut Zefran Khael dengan nada setengah lelah dan setengah tulus seperti itu, adalah hal yang tidak masuk dalam satupun skenario yang selama bertahun-tahun pernah ia susun.
"Daniil yang mengundang," kata Fenny akhirnya.
"Aku tahu. Tapi kamu yang datang,” ujar Zefran.
Fenny tidak punya jawaban untuk itu. Ia memandang kebun yang basah, lampu taman yang memantulkan air di daun-daun yang menunduk, dan langit yang mulai membuka sedikit di sisi barat dengan awan bergerak pelan, dan di celah yang kecil itu ada satu dua bintang yang memutuskan hadir senja.
Di dalam, mereka mendengar suara Daniil mengatakan sesuatu kepada Galih dalam bahasa Rusia, lalu tawa kecil Galih yang menjawab dalam bahasa Indonesia yang rupanya sudah mulai dipelajari Daniil selama beberapa hari ini.
Kehidupan yang berjalan seperti biasa, di dalam sana.
Di luar, dua orang berdiri bersebelahan di teras yang basah, tidak berbicara, tidak pergi. Itu dulu sudah cukup untuk malam ini.