POV Fenny — Vila, seminggu kemudian
Fenny mulai hafal beberapa hal tentang Daniil Zefranovich Volkov dalam waktu tujuh hari.
Pertama, ia bangun jam lima pagi tanpa alarm dan langsung turun ke dapur hanya untuk duduk di konter dengan buku atau ponsel, menunggu orang-orang rumah bangun. Galih bilang ini sudah berlangsung sejak hari pertama mereka tiba, dan tidak ada yang berhasil mengubahnya.
Kedua, ia berbicara tiga bahasa dalam satu percakapan tanpa sadar berganti. Indonesia kalau sedang santai, Rusia kalau sedang serius atau terkejut, Inggris kalau tidak menemukan kata yang tepat di dua bahasa lainnya. Alexei pernah mengomentari ini. Daniil menjawab bahwa otaknya memilih bahasa yang paling efisien untuk momen itu dan ia tidak merasa itu masalah.
Ketiga, ia sangat sopan kepada semua orang tapi tidak pernah basa-basi. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya punya tujuan. Ini membuat beberapa orang tidak nyaman, tapi bagi Fenny yang setiap hari bekerja di ruang sidang, justru terasa seperti berbicara dengan orang yang bisa dipercaya.
Keempat dan ini yang paling berat untuk diakui. Cara Daniil tertawa persis cara Zefran dulu tertawa. Jarang, tidak ditampilkan, tapi ketika terjadi, seisi ruangan terasa sedikit lebih ringan.
Fenny belajar untuk tidak terlalu memikirkan keempat ini.
Tujuh hari terakhir ia datang setiap sore setelah kerja. Selalu dengan alasan yang masuk akal. Hari pertama membawa oleh-oleh bakpia dari klien. Hari kedua Daniil minta diajari cara baca peta jalan Magelang karena aplikasinya tidak akurat untuk jalan-jalan kecil. Hari ketiga, keempat, kelima, Fenny sudah tidak terlalu repot-repot mencari alasan.
Yang ia perhatikan setiap kali datang adalah Zefran ada di suatu tempat di dalam rumah itu. Kadang di ruang kerja, pintu setengah terbuka. Kadang di teras belakang. Kadang di lantai dua, dan Fenny hanya mendengar langkahnya di atas kepala.
Mereka tidak selalu berbicara. Kadang hanya saling tahu bahwa yang satu ada, dan yang lain ada, dan itu sudah cukup untuk satu sore.
Fenny memutuskan tidak akan menamai ini sebagai apa-apa. Belum.
* * *
POV Fenny — Koridor lantai dua, hari kedelapan
Kesalahannya adalah mengambil jalan yang salah.
Daniil minta diambilkan buku yang ia tinggal di kamarnya. Buku tebal dengan sampul biru tua yang katanya ada di rak kiri dekat jendela. Fenny naik ke lantai dua karena Daniil sedang dalam posisi berbaring di sofa dengan kaki yang menurutnya tidak layak digerakkan setelah seharian belajar jarak jauh sambil duduk tidak benar.
Argumennya, "Aku sudah duduk delapan jam, Mami. Tulang punggungku perlu istirahat."
Argumen Fenny, "Kamu sebelas tahun, tulangmu tidak butuh istirahat."
Argumen balasan Daniil dengan tatapan datar yang persis tatapan ayahnya.
Fenny pun naik.
Kamar Daniil ada di ujung kiri koridor. Ruang kerja Zefran ada di ujung kanan. Pintu ruang kerja itu terbuka setengah.
Fenny tidak berniat mendengarkan. Ia berjalan cepat ke arah kiri, tapi koridor itu tidak panjang dan suara tidak mengenal sopan santun.
Zefran sedang di telepon. Bahasa Rusia.
Fenny tidak mengerti satu katapun dari isinya. Tapi ia mengerti nadanya. Dan nada itu bukan nada percakapan biasa. Bukan marah, tapi dingin dengan cara yang berbeda dari dingin yang tidak peduli. Ini dingin yang sangat terkendali. Setiap kalimat diukur, setiap jeda disengaja, seperti seseorang yang sedang menyampaikan instruksi yang tidak boleh salah tafsir.
Fenny berhenti di depan kamar Daniil. Tangannya sudah di gagang pintu, tapi ia tidak memutarnya.
Dari celah pintu yang terbuka setengah itu, ia bisa melihat sepenggal ruangan. Meja kerja yang rapi dengan dua layar monitor, satu papan di dinding yang penuh dengan sesuatu yang dari jarak ini tidak bisa ia baca, dan Zefran yang berdiri membelakangi pintu, satu tangan di saku, satu tangan memegang ponsel ke telinga.
Punggung itu.
Cara berdiri dengab bahu sedikit turun, kepala sedikit miring ke kanan ketika mendengarkan. Kebiasaan lama.
Tapi semuanya yang lain bukan lama. Bahu yang lebih lebar, tubuh yang lebih solid, dan di bawah lengan kiri kemejanya yang tergulung sebatas siku. Fenny melihat ujung tato yang melingkari pergelangan, hitam dan geometris, seperti sesuatu yang didesain bukan untuk terlihat tapi untuk diketahui artinya oleh orang yang tepat.
Telepon selesai.
Zefran menurunkan ponselnya. Satu detik kemudian ia berbalik, dan dua pasang mata bertemu untuk kedua kalinya di vila ini.
Fenny tidak berpura-pura tidak melihat. Tidak ada gunanya.
"Buku Daniil," katanya. Menunjuk pintu kamar di sebelahnya.
Zefran memandangnya sebentar. Tidak bertanya sudah berapa lama Fenny berdiri di sana.
"Rak kiri," katanya. "Sampul biru tua. Judulnya dalam bahasa Rusia, tapi ada stiker kecil di punggungnya. Dia yang tempel sendiri."
Fenny masuk ke kamar Daniil, mengambil bukunya, dan turun.
Di sofa, Daniil menerimanya tanpa mengangkat kepala dari posisi berbaringnya.
"Lama," komentarnya.
"Koridornya panjang," jawab Fenny.
Daniil membuka bukunya.
Fenny duduk di kursi di seberangnya dan memandang halaman kerja yang ia bawa dari kantornya tapi tidak membacanya.
Tato.
Suara telepon.
Punggung yang sama tapi bukan orang yang sama.
Atau orang yang sama, tapi dengan seluruh lapisan yang selama sebelas tahun ia tidak lihat terbentuk.
Fenny membuka halaman pertama berkasnya dan mencoba membaca. Ia membaca kalimat yang sama empat kali.
* * *
POV Zefran — Toko onderdil, pusat kota, sore
Motor sport Zefran tidak cocok untuk jalanan di Magelang.
Bukan karena jalannya jelek. Sebagian besar cukup baik. Tapi karena motor itu terlalu rendah untuk polisi tidur yang tidak punya standar ketinggian yang konsisten, dan terlalu bising untuk gang-gang sempit yang tembok kanandan kirinya bisa memancarkan suara kembali dua kali lebih keras.
Alexei telah menyarankan ganti kendaraan sejak hari ketiga. Zefran tidak menjawab. Ini kendaraan yang sama yang ia pakai malam SPBU, dan ia memutuskan belum perlu menggantinya. Tapi ban belakangnya memang butuh perhatian.
Toko onderdil di jalan Pahlawan sudah ada sejak Zefran masih SMA. Ia ingat pernah ke sini beberapa kali untuk beli kampas rem motor tua milik bengkel tempat ia kerja dulu. Catnya sudah beda sekarang. Lebih cerah, dan ada etalase kaca di depan yang dulu tidak ada. Tapi papan namanya sama.
Zefran masuk.
Pengunjung ada dua. Seorang bapak-bapak yang sedang menimang-nimang filter udara, dan seorang laki-laki di bagian belakang yang sedang membelakangi pintu, menekuk ke arah rak bawah mencari sesuatu.
Kemeja batik. Rambut yang sudah memutih di kedua pelipis.
Zefran hampir tidak mengenalinya.
Hampir.
Cara ia jongkok dengan kaki kanan lebih maju, siku kiri di lutut persis cara yang sama ketika mereka dulu duduk di pinggir sungai menunggu ikan yang tidak pernah datang karena mereka terlalu berisik, padahal yang satunya lebih tua 6 tahun.
Zefran berdiri di dekat etalase, memilih tidak bergerak dulu.
Laki-laki itu menemukan apa yang ia cari. Satu pak baut kecil, dan berdiri. Berbalik. Matanya bertemu Zefran.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ekspresinya bergerak melalui beberapa tahap yang bisa Zefran ikuti dengan cukup jelas. Tidak kenal, lalu ragu, lalu sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mengenali wajah. Mengenali sesuatu di balik wajah yang sekarang berbeda.
Pak baut di tangannya hampir jatuh.
"Zef."Bukan pertanyaan.
Zefran mengangguk satu kali. "Bagas."
* * *
POV Zefran — Warung kopi seberang toko, sesudahnya
Mereka tidak bicara di dalam toko. Bagas yang bayar dulu, Zefran yang nunggu di luar. Tidak ada yang merencanakannya, tapi keduanya berjalan ke warung kopi yang sama di seberang jalan tanpa saling bicara arahnya.
Hafal.
Warung itu masih ada, masih dengan kursi plastik yang selalu satu kakinya lebih pendek dari yang lain dan meja yang permukaannya agak miring ke kanan. Zefran memilih meja di sudut. Kebiasaan lama dengan alasan yang berbeda.
Pemiliknya seorang ibu yang Zefran tidak kenali, mungkin sudah berganti, kini mengambil pesanan mereka. Dua kopi hitam, tanpa ditanya.
Bagas duduk di seberangnya. Memandangnya lama.
"Kamu berbeda," katanya akhirnya.
"Dua belas tahun," jawab Zefran.
"Sebelas."
"Sebelas."
Bagas menyandarkan punggung ke kursi. Ada sesuatu di wajahnya yang bukan kejutan dan bukan marah. Lebih ke arah seseorang yang sudah lama menyiapkan diri untuk kemungkinan ini tapi tetap butuh beberapa detik untuk menyesuaikan gambaran lama dengan yang baru.
"Aku dengar kamu pergi bersama ayahmu dulu," kata Bagas. "Itu saja yang beredar. Sisanya macam-macam versinya."
"Versnya macam-macam gimana?"
Bagas mengangkat bahu. "Ada yang bilang kamu dibawa ke Jakarta terus hilang. Ada yang bilang kamu ikut bisnis ayahmu ke luar negeri. Ada yang bilang kamu mati." Ia berhenti. "Aku tidak percaya yang ketiga."
"Kenapa?"
"Karena kamu terlalu keras kepala untuk mati." Bagas memandang tangannya. "Dan karena kalau kamu mati, Fenny pasti tidak sepucat itu waktu pertama kali namamu disebut orang lain."
Zefran tidak menjawab. Kopi datang. Keduanya meminumnya.
Di luar, arus jalan sore Magelang mulai mengental. Motor-motor yang pulang kerja, angkot biru langit yang berhenti seenaknya, beberapa pedagang yang mulai membereskan lapak, tapi beberapa justru sedang dibuka.
"Kamu di sini lama?" tanya Bagas.
"Belum tahu."
"Pakai nama lain?"
Zefran memandangnya.
Bagas mengangkat satu tangan, bukan menyerah, lebih ke arah, ‘aku tidak tanya lebih jauh.’
"Khaelov," jawab Zefran tetap.
"Khaelov." Bagas mencobanya di mulut seperti orang yang sedang memastikan ia bisa menyebutnya dengan benar kalau perlu. "Dari nama belakangmu."
"Ya."
"Rapi."
Hening sebentar. Bukan hening yang tidak nyaman. Lebih ke hening dua orang yang dulu pernah menghabiskan banyak waktu bersama dan tahu bahwa tidak semua celah harus diisi.
"Anak laki-lakiku sekarang SMA," kata Bagas kemudian. "Mau masuk teknik. Ibunya maunya kedokteran." Ia tersenyum tipis. "Kamu lihat kan, hidupnya orang jalan."
Zefran memandang mejanya.
"Anakmu di sini?" tanya Bagas. Nada yang sangat hati-hati.
"Ya."
"Fenny tahu?"
"Sudah ketemu."
Bagas mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih lanjut soal itu.
Tapi kemudian, dengan nada yang agak berbeda, lebih rendah, lebih serius. "Zef. Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang sangat sederhana. Tapi di mulut Bagas, dengan konteks sebelas tahun di antaranya, pertanyaan itu punya kedalaman yang berbeda dari yang terlihat di permukaan.
Zefran memikirkan jawabannya. Ia memikirkan Mikhail yang memintanya pergi. Damian yang mungkin sedang tidak aman. Johnkov yang sedang menunggu celah. Dan teras belakang vila tiga malam lalu, hujan yang pelan, dan seseorang yang berdiri di sampingnya dan berkata, ‘kamu dulu kurus.’
"Sedang dalam proses," jawabnya.
Bagas memandangnya satu saat. Lalu mengangguk menerima jawaban itu, tidak memaksanya menjadi lebih dari yang bisa ia berikan sekarang.
"Oke," ucap Bagas. "Kalau butuh onderdil yang susah dicari, toko tadi bisa order. Sekarang sudah bisa online. Tapi orangnya masih sama, masih mau diajak nego."
Zefran hampir —
hampir
— tertawa.
"Terima kasih, Bas."
"Santai." Bagas berdiri, mengambil helmnya dari kursi sebelah. "Jangan menghilang lagi sebelas tahun. Sekali saja sudah cukup."
Ia pergi. Zefran duduk sendirian di warung kopi yang mejanya sedikit miring ke kanan, meminum kopinya sampai habis, dan memandang jalan sore yang ramai dengan cara orang yang baru menyadari sesuatu yang sudah lama ia tahu tapi belum pernah ia akui sepenuhnya. Kota ini masih mengingatnya.
Dan mungkin ia juga masih mengingatnya.