POV Zefran — Vila, pagi
Ibunya tahu ia ada di Magelang sejak hari ketiga. Bukan karena Zefran memberitahu. Bukan karena Theo yang bocor. Theo terlalu strategis untuk itu.
Tapi karena Ratih Handayani adalah kepala sekolah yang sudah dua puluh tahun mengajar anak-anak membaca situasi sebelum membaca buku, dan di kota sekecil ini, berita bergerak lebih cepat dari motor.
Yang memberitahu adalah Bu Warsih, pemilik warung nasi di pertigaan bawah yang melihat motor asing melintas malam-malam dua kali dan menceritakannya kepada Bu Ratih di pasar pagi dengan cara yang terdengar seperti basa-basi tapi bukan.
Ratih tidak langsung menghubungi Zefran. Ia menunggu empat hari. Lalu mengirim pesan singkat ke nomor yang ia simpan sejak Damian diam-diam memberikannya dua tahun lalu.
‘Kalau kamu memang di sini, mampir. Tidak harus lama.’
Zefran membaca pesan itu tiga kali. Ia tidak langsung membalas. Ia pergi ke dapur, menuang kopi, duduk di konter, dan memikirkan hal sederhana yang ternyata tidak sederhana. Bagaimana cara seseorang kembali menemui ibunya setelah sebelas tahun tanpa pernah ada penjelasan yang cukup tentang kenapa ia pergi sejauh itu dan selama itu.
Daniil muncul dari tangga dengan rambut yang belum disisir dan buku yang sudah ada di tangannya meski baru jam setengah enam.
"Ayah kenapa diam di sini?"
"Minum kopi."
Daniil memandang cangkir di tangan Zefran. "Belum diminum."
Zefran memandang cangkirnya. Memang belum. "Ada pesan dari seseorang," kata Zefran akhirnya.
"Dari siapa?"
"Nenekmu."
Daniil berhenti di anak tangga terakhir. Ekspresinya bergerak bukan terkejut karena Daniil jarang terkejut, tapi sesuatu yang lebih dekat ke
oh, jadi dia nyata.
"Ayah bilang nenek ada di Magelang," kata Daniil hati-hati. "Tapi Ayah tidak pernah bilang kapan aku bisa ketemu."
"Aku tahu."
"Jadi sekarang?"
Zefran meminum kopinya. Kali ini sungguhan. "Hari ini," jawabnya.
* * *
POV Zefran — Rumah Ratih, sore hari
Rumah ibunya tidak banyak berubah. Pagar catnya sudah diganti dari hijau tua ke putih. Ada pot-pot tanaman baru di sepanjang teras yang dulu kosong. Tapi pintu kayunya sama, keset bermotif batiknya sama, dan aroma dari dalam yang sudah Zefran hafal sebelum ia bisa menamai apa baunya berupa campuran kayu, sabun cuci, dan sesuatu yang dimasak dengan bawang putih itu juga sama.
Zefran mengetuk, sementata Daniil berdiri sedikit di belakangnya. Rapi untuk pertama kalinya sejak tiba di Magelang. Kemeja biru muda, celana panjang hitam, dan rambut yang disisir dengan serius. Ia memperhatikan ini di mobil tadi dan tidak berkomentar.
Krieeeet…. Pintu terbuka.
Ratih Handayani memandang anaknya.
Zefran memandang ibunya.
Dua puluh tahun mengajar tidak mengambil banyak dari wajah ibunya. Rambutnya sudah beruban lebih banyak dari terakhir kali Zefran lihat di foto yang Damian kirimkan diam-diam dua tahun lalu, dan ada garis-garis kelelahan di sudut matanya yang dulu tidak ada. Tapi postur tubuhnya sama. Cara ia berdiri di ambang pintu rumahnya masih tegak, tenang, tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya madih persis sama.
Zefran pernah belajar cara berdiri seperti itu.
"Ze." Satu suku kata. Bukan panggilan lengkap, bukan nama penuh. Panggilan yang hanya milik satu orang.
Tenggorokan Zefran terasa sempit. "Bu." Ia tidak menemukan kata lain yang lebih tepat dari itu.
Ratih memandangnya lama, namun bukan memindai ataupun menghakimi. Lebih kepada cara seorang ibu memandang anaknya setelah terlalu lama tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Mengkonfirmasi bahwa ini nyata, bukan foto, bukan suara di telepon.
Lalu matanya bergerak ke belakang Zefran. Daniil berdiri dengan kedua tangan di depan. Postur yang sangat sopan dan sangat tidak natural untuk anak yang biasanya yang bergerak bebas. Daniil memandang Ratih dengan tatapan yang penuh kalkulasi tapi juga ada sesuatu yang lebih lembut. Rasa ingin tahu yang dijaga agar tidak terlalu terlihat.
Ratih mengerjapkan matanya sekali. Lalu tangannya bergerak ke mulut. Gestur kecil yang Zefran kenal. Ibunya menahan dirinya dari menangis di depan orang yang belum ia kenal.
"Masuk," kata Ratih. Suaranya tidak bergetar. Ia tidak membiarkannya. "Sudah masak untuk makan siang. Sudah waktunya makan."
* * *
POV Bergantian — Ruang makan, sore itu
Ratih memasak lebih banyak dari yang perlu. Ini adalah cara ibunya bicara ketika kata-kata belum siap. Zefran mengenalinya dari dulu. Setiap kali ada sesuatu yang berat di rumah, ibunya memasak. Bukan untuk menghindari, tapi karena tangan yang sibuk membuat kepala lebih mudah menyusun kalimat yang benar.
Ada ayam goreng, tempe orek, sayur lodeh, dan nasi yang masih mengepul. Untuk tiga orang.
Daniil duduk di kursi yang ditunjuk Ratih di sebelah kanan, kursi yang dulu adalah kursi tamu. Daniil memandang makanan di depannya dengan ekspresi yang mencoba terlihat familiar dengan semua ini.
"Sudah pernah makan tempe orek?" tanya Ratih. Bahasa Indonesia yang pelan dan jelas. Cara berbicara guru kepada murid yang baru.
"Belum, Nek." Daniil menjawab. "Ayah pernah bilang soal tempe tapi aku baru coba keripiknya kemarin."
Ratih memandang Zefran satu detik.
Nek.
Zefran tidak bergerak, tapi ada sesuatu yang mengendur di bahunya. Ia ajarkan Daniil panggilan itu di perjalanan tadi. Singkat, langsung. Daniil mengangguk dan menyimpannya tanpa pertanyaan.
"Coba dulu," kata Ratih kepada Daniil. "Kalau terlalu manis bilang, ada sambal."
Daniil mengambil satu sendok tempe orek. Mencoba. Mengunyah dengan ekspresi yang Zefran kenali sedang mencatat semua komponen rasa secara berurutan.
"Manis, gurih, ada sedikit pedas di akhir," simpulnya. "Ini dari fermentasi kacang kedelai ya, Nek? Tapi rasanya jauh berbeda dari miso."
Ratih terdiam sebentar. Lalu tertawa pelan, tapi sungguhan, dari tempat yang dalam.
"Benar," ujarnya. "Kamu tahu miso?"
"Ayah suka miso ramen kalau ke Jepang. Aku ikut tiga kali."
"Ze." Ratih memandang anaknya. "Kamu bawa anak ini ke berapa negara?"
"Tidak banyak," jawab Zefran.
"Dua belas," kata Daniil bersamaan.
Ratih memandang mereka bergantian. Lalu mengambil nasinya dan mulai makan, tapi ada sesuatu di sudut bibirnya yang tidak pergi.
Makan siang berlangsung lebih panjang dari yang Zefran perkirakan.
Ratih bertanya kepada Daniil dengan cara yang terlatih, tapi tidak menginterogasi, tidak mendramatisasi, tapi pertanyaan-pertanyaan kecil yang membuat anak itu berbicara sendiri tanpa merasa sedang diperiksa. Tentang sekolahnya, tentang buku yang sedang ia baca, tentang kopibara yang ia tinggalkan di St. Petersburg bersama Viktor.
Soal Viktor yang diminta menjaga Kopibara, Ratih berkomentar: "Kasihan kopibaranya."
Daniil setuju dengan sepenuh hati.
Zefran lebih banyak diam. Ia makan, mendengarkan, dan sesekali memandang ibunya. Cara bibirnya bergerak ketika menerangkan sesuatu, cara tangannya menunjuk ke arah dapur ketika menjelaskan bumbu lodeh kepada Daniil yang bertanya. Hal-hal kecil yang ia tidak sadar ia rindukan sampai sekarang ia melihatnya lagi.
Di akhir makan, Ratih membawa es teh dan duduk di seberang Zefran.
Daniil minta izin ke kamar mandi, dan Zefran cukup mengenal anaknya untuk tahu bahwa itu adalah cara Daniil memberikan ruang kepada dua orang yang butuh bicara tanpa penonton.
Mereka berdua duduk.
Ratih memandang mejanya. "Kamu sehat?"
"Ya."
"Kamu aman?"
Pertanyaan yang berbeda.
Zefran memandang ibunya. Ratih membalas tatapannya. Matanya tidak meminta penjelasan, tidak menuntut cerita. Hanya bertanya satu hal yang paling penting.
"Sejauh yang aku bisa pastikan," jawab Zefran.
Ratih mengangguk. "Cukup," katanya. "Itu cukup untuk sekarang."
Hening sebentar.
"Fenny tahu kamu di sini?" tanya Ratih kemudian. Nada yang sangat netral.
"Sudah ketemu."
"Dan?"
"Dan kami masih dalam proses."
Ratih minum es tehnya. "Kamu dulu selalu bilang 'dalam proses' waktu mau bilang sesuatu tapi belum siap."
"Aku tahu."
"Jangan terlalu lama prosesnya, Ze." Bukan perintah. Lebih ke catatan dari seseorang yang sudah menyaksikan cukup banyak hal yang terlambat. "Orang tidak selalu punya waktu untuk menunggu kita siap."
Zefran tidak menjawab. Tapi ia menyimpan kalimat itu.
* * *
POV Fenny — Kantor, waktu bersamaan
Fenny tidak sedang memikirkan Zefran ketika nama itu muncul di percakapan yang tidak ia harapkan.
Ia sedang menyelesaikan berkas persiapan sidang minggu depan ketika Karin, rekannya yang mejanya dua blok dari mejanya, mampir sambil membawa dua cup kopi dari mesin di lorong.
"Fen, kamu kenal orang namanya Khaelov?"
Fenny mengangkat kepala. "Kenapa?"
"Kemarin ada yang tanya ke resepsionis soal kamu. Bilangnya kolega bisnis dari luar kota, mau konsultasi hukum investasi." Karin meletakkan kopi di meja Fenny. "Tapi pas resepsionis bilang kamu lagi sidang dan minta janji dulu, orangnya bilang tidak perlu, cuma mau tanya kabar."
Fenny memandang Karin. "Orangnya seperti apa?"
"Resepsionis bilang muda, rapi, senyumnya terlalu manis untuk orang yang datang urusan bisnis." Karin duduk di kursi klien di depan meja Fenny. "Titip nama dan nomornya. Bilang kalau kamu ada waktu, hubungi saja."
Karin menyodorkan selembar kertas kecil.
Fenny mengambilnya. Nama: Rizal Anggara. Fenny memandang nama itu.
Ia kenal nama itu bukan dari pengalaman langsung, tapi dari cara nama itu muncul di beberapa kasus ketenagakerjaan yang ia tangani setahun terakhir. Selalu di pinggiran. Selalu tidak langsung. Selalu sebagai pihak yang tidak terlihat tapi jejaknya ada. Perusahaan yang tutup tiba-tiba setelah investasi jangka pendek, distribusi yang berubah jalur tanpa penjelasan, beberapa PHK massal yang dokumennya terlalu rapi untuk terlihat seperti kecelakaan.
Konsultan Pengembangan Regional, kata kartu namanya yang pernah sekali muncul di berkas salah satu kliennya.
"Fen?" Karin memandangnya. "Kamu kenal?"
"Tidak langsung," jawab Fenny. "Terima kasih, Rin."
Karin pergi.
Fenny menaruh kertas itu di laci paling bawah mejanya. Bukan dibuang, bukan disimpan di tempat yang mudah diambil. Di laci paling bawah, di bawah berkas-berkas lama, di tempat yang ia tahu persis ada di mana tapi tidak perlu sering-sering dilihat.
Ia kembali ke berkasnya. Tapi konsentrasinya tidak kembali dengan cara yang sama. Nama itu menanyakan soal Khaelov. Bukan soal kasusnya. Bukan soal kantornya.
Soal dia.
Fenny menutup berkasnya. Memandang jendela kantor yang menghadap ke arah selatan, ke arah yang jika jalan lurus terus, akan melewati pertigaan dusun, menyeberangi sungai, dan naik ke lereng atas tempat lampu vila itu menyala setiap malam.
Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia belum tahu bentuknya. Belum tahu dari mana datangnya. Tapi Fenny sudah cukup lama berdiri di ruang sidang untuk tahu bahwa perasaan itu, perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak di luar pandangan. Firasatnya jarang salah.