POV Fenny — Vila, sore hari
Fenny menunggu tiga hari sebelum menyebut nama itu. Bukan karena tidak berani. Tapi karena ia pengacara, dan pengacara yang baik tidak membawa bukti ke meja sebelum ia tahu persis apa yang ingin ia buktikan.
Tiga hari itu ia pakai untuk memeriksa siapa Rizal Anggara sebenarnya, apa yang bisa ia temukan dari jalur yang aman, dan mengapa orang itu datang ke kantornya menanyakan seseorang yang secara resmi tidak ada.
Tapi yang Fenny temukan tidak menenangkan. Nama itu bersih di permukaan. Malah menurutnya terlalu bersih.
Konsultan Pengembangan Regional dengan rekam jejak karier yang tidak ada celah, publikasi yang tepat, dan koneksi yang selalu satu atau dua derajat jauh dari hal-hal yang tidak beres. Cara seseorang yang sudah lama berlatih terlihat tidak ada di tempat yang salah meski ia selalu ada.
Cukup!
Fenny menutup laptopnya dan pergi ke vila.
Zefran ada di ruang tengah ketika ia masuk. Duduk di sofa dengan ponsel di tangan dan ekspresi yang Fenny sudah mulai bisa membaca sebagai sedang menunggu sesuatu, bukan malas.
Daniil tidak ada. Alexei bilang sedang di kebun belakang mencoba mengajari Pavel nama-nama tanaman lokal, dan Pavel sedang dalam kondisi tidak setuju seperti biasanya tapi tetap ikut.
Fenny duduk di kursi seberang Zefran.
Zefran meletakkan ponselnya. Ia memandangnya dengan cara seseorang yang tahu bahwa Fenny tidak datang untuk hal-hal biasa. Cara duduknya sedikit berbeda. Punggungnya tegak dengan presisi yang lebih formal dari sore-sore sebelumnya.
"Rizal Anggara," kata Fenny.
Sesuatu di wajah Zefran bergeser.
Sangat kecil. Tapi Fenny sudah cukup sering memandang wajah itu dalam dua minggu terakhir untuk menangkapnya.
"Dari mana kamu kenal nama itu?" tanya Zefran. Nada datar, tapi bukan datar yang tidak peduli.
"Dia datang ke kantorku tiga hari lalu. Menanyakanmu." Fenny memandangnya langsung. "Menyebutmu Khaelov. Kolega bisnis dari luar kota, katanya. Tapi tidak mau buat janji, tidak mau tunggu. Hanya nitip nama dan nomor."
Zefran tidak langsung menjawab. Ia memandang meja di antara mereka. Tatapan seseorang yang sedang menyortir informasi, memutuskan mana yang perlu disampaikan dan mana yang belum waktunya.
"Kamu cari tahu soal dia?" tanya Zefran.
"Tentu saja."
"Ketemu apa?"
"Rekam jejak yang terlalu rapi." Fenny menyilangkan tangan. "Dan beberapa kasus yang secara tidak langsung ada jejaknya. PHK massal. Perusahaan yang tiba-tiba tutup. Distribusi yang berubah jalur. Tidak ada yang bisa dilacak langsung ke namanya, tapi polanya konsisten."
Zefran mengangguk satu kali. "Kamu tahu lebih dari yang kamu kira soal dia," kata Zefran.
"Aku pengacara ketenagakerjaan di kota yang ekonominya sedang bergeser." Fenny mengangkat bahu. "Namanya muncul sendiri."
Hening sebentar.
"Dia berbahaya?" tanya Fenny.
Zefran memandangnya. "Tidak langsung," jawabnya. "Dia bukan orang yang turun tangan sendiri. Tapi dia bergerak untuk seseorang yang tidak segan turun tangan."
"Untuk siapa?"
"Belum saatnya aku jawab itu."
Fenny menahan napas satu detik. Ia tidak suka jawaban itu. Tapi ia cukup kenal Zefran sekarang untuk tahu bahwa memaksanya tidak akan menghasilkan jawaban yang lebih baik, hanya jawaban yang lebih pendek.
"Apa aku perlu khawatir?" tanyanya, lebih langsung.
Zefran memandangnya lama. "Jangan hubungi nomornya," kata Zefran akhirnya. "Kalau dia datang lagi ke kantormu, bilang kamu tidak kenal nama itu."
"Aku tidak bisa bohong kepada klien atau orang yang—"
"Fenny." Satu kata. Nada yang tidak keras tapi tidak meninggalkan ruang.
Fenny menutup mulutnya. Mereka memandang satu sama lain.
"Aku tidak akan membiarkan apapun menyentuhmu," kata Zefran. Bukan janji yang dramatis. Lebih seperti pernyataan fakta yang sudah lama diputuskan dan tidak perlu diulang dua kali. "Tapi aku butuh kamu tidak masuk lebih dalam ke ini sekarang. Bukan karena kamu tidak mampu. Tapi karena waktunya belum tepat."
Fenny memandangnya. Dulu, Zefran yang ia kenal akan mengatakan hal yang sama tapi dengan cara yang lebih tidak yakin, lebih banyak meminta daripada menyatakan.
Yang ini berbeda. Yang ini sudah tahu persis apa yang ia katakan dan mengapa.
Dan itu entah kenapa lebih menenangkan dari penjelasan panjang manapun.
"Oke," kata Fenny. "Tapi kalau waktunya sudah tepat, aku minta penjelasan penuh."
"Penjelasan penuh," ulang Zefran.
"Lengkap. Tidak ada yang dihilangkan."
Zefran memandangnya satu saat. "Deal," katanya.
* * *
POV Fenny — SPBU Pertamina Potrobangsan, sore hari
Hari Sabtu seharusnya milik Fenny sepenuhnya. Tidak ada sidang, tidak ada klien, tidak ada berkas yang perlu dibaca. Rencananya dia akan gym pagi, mampir pasar beli sayur untuk nenek, lalu ke vila sore untuk menemani Daniil yang sudah tiga hari meminta diajarkan cara membaca peta topografi karena ia menemukan satu di perpustakaan bawah dan menganggap itu lebih akurat dari GPS.
Rencananya juga tidak termasuk mampir SPBU bersama Zefran untuk isi bensin motornya.
Tapi begitulah yang terjadi. Zefran yang memang mau ke kota untuk bertemu Alexei yang sudah menunggu di bawah, menawarkan ikut dengan cara yang tidak benar-benar menawarkan pilihan, dan Fenny yang memutuskan tidak ada alasan menolak karena benzinnya memang sudah hampir habis.
Motor Fenny isi di jalur kiri. Motor sport Zefran yang untuk ketiga kalinya Alexei sarankan diganti dan untuk ketiga kalinya juga tidak diganti, kini ada di di jalur kanan.
Fenny menunggu di pinggir sambil melihat ponselnya. Lalu dari dalam minimarket, ia mendengar suara.
Bukan suara keras. Tapi suara dari beberapa orang yang sedang berdiri di dekat rak minuman dalam minimarket, memandang ke luar kaca dengan ekspresi yang sudah Fenny kenal dari dulu sebagai ekspresi perempuan yang melihat sesuatu yang ingin mereka ceritakan kepada semua orang yang mereka kenal.
Fenny menoleh.
Zefran sedang berdiri di dekat motornya, menunggu operator selesai mengecek tekanan ban yang memang ia keluhkan dari tadi pagi. Jaket tipis hitam, celana panjang, rambut sedikit berantakan karena helm. Satu tangan di saku, satu tangan memainkan kunci motor.
Dan dari dalam kaca minimarket, tiga orang— bukan, empat orang sedang memandang ke arahnya.
Fenny mendengar satu kalimat yang cukup jelas menembus kaca:
"Duh, itu siapa? Matipun ikhlas."
Fenny menutup layar ponselnya. Ia keluar dari minimarket dengan dua cup kopi di tangan yang ia ambil bukan karena butuh kopi tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang agar tangannya terlihat sibuk. Dan kini berjalan kembali ke arah motor dengan wajah yang ia jaga agar tidak memperlihatkan apapun. Yang sayangnya tidak berhasil sepenuhnya.
* * *
POV Zefran — SPBU, saat bersamaan
Zefran melihat gerombolan di balik kaca itu sejak tiga menit lalu.
Ia pilih tidak berkomentar. Ini bukan pertama kali. Di St. Petersburg, di Moskow, di beberapa kota lain yang ia singgahi dengan pekerjaan, selalu ada momen seperti ini yang ia pilih abaikan karena tidak ada gunanya merespons sesuatu yang tidak ia undang dan tidak ia perlukan.
Tapi kemudian Fenny keluar dari minimarket. Dan ekspresi Fenny itu.
Zefran mengenal ekspresi itu. Ekspresi seseorang yang sedang sangat berusaha terlihat tidak peduli, yang justru berarti sangat peduli. Rahang sedikit naik. Langkah sedikit lebih cepat dari biasa. Dan cara ia memegang dua cup kopi itu dengan tangan yang seharusnya santai tapi jarinya terlalu rapat.
Zefran menerima cup kopi yang disodorkan kepadanya.
"Kopinya panas?" tanyanya.
"Harusnya," jawab Fenny, tidak menatapnya.
"Kamu baik-baik saja?"
"Baik-baik saja."
"Yakin?"
"Zefran."
"Ya."
"Bisa pakai masker tidak? Atau helm. Atau—" Fenny menghentikan kalimatnya sendiri.
Zefran memandangnya.
Fenny memandang ke depan, ke arah jalan.
Di dalam minimarket, gerombolan yang tadi masih memandang keluar. Salah satu dari mereka melambai kecil ke arah Zefran saat ia kebetulan menoleh.
Zefran dengan sangat tidak bijaksana membalas lambaian itu. Satu gerakan tangan kecil, sopan, seperti menyapa orang asing yang ramah.
Dari dalam minimarket terdengar suara heboh yang bahkan menembus kaca.
Fenny menutup matanya sebentar. "Kenapa kamu balas?"
"Tidak sopan kalau tidak dibalas."
"Itu bukan sapaan biasa—"
"Fenny." Zefran menahan senyum yang ia putuskan tidak perlu ditampilkan sekarang karena situasinya tidak memungkinkan. "Ayo berangkat."
Zefran naik ke motornya. Fenny naik ke motornya. Mereka melaju depan belakang, tapi ada rasa jauh seperti yang didepan kini mengabaikannya.
* * *
POV Bergantian — Jalan menuju lereng
Mereka melaju beriringan selama sepuluh menit.
Fenny di depan. Zefran di belakang dengan jarak yang cukup untuk terlihat tidak mengikuti tapi cukup dekat untuk memantau.
Di perempatan sebelum jalan naik, Zefran memperlambat motornya dan berhenti di bahu jalan.
Fenny yang melihatnya berhenti di spion ikut menepi.
"Ada apa?"
Zefran turun dari motornya. Ia berjalan ke arah motor Fenny dengan langkah yang tidak terburu-buru.
Fenny belum turun, masih di atas jok, helm masih di kepala.
Zefran berdiri di samping motornya. "Kamu cemburu," katanya.
Fenny membuka visor helmnya. "Tidak."
"Kamu minta aku pakai masker."
"Itu beda."
"Bedanya gimana?"
"Itu—" Fenny mencari kata yang tepat dan tidak menemukannya dengan cepat. "Itu soal kenyamanan umum. Wajahmu mengganggu ketertiban."
Zefran memandangnya.
Fenny memandang ke depan.
Satu detik….
Dua detik….
Tiga detik….
Zefran melangkah sedikit lebih dekat, membuka visor helm Fenny yang sudah setengah terbuka menjadi penuh terbuka, dan sebelum Fenny sempat merespons karena ada hal-hal yang kalau ditunggu responnya tidak akan pernah terjadi, ia menciumnya.
Sebentar. Tidak dramatis. Hanya cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tidak punya kalimat yang lebih efisien.
Fenny tidak bergerak selama dua detik penuh.
Zefran mundur satu langkah.
"Ayo," katanya. "Daniil menunggu peta topografinya." Ia kembali ke motornya.
Fenny duduk di joknya tanpa bergerak selama beberapa detik. Wajahnya hangat dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan suhu sore itu.
Dari depan, suara motor Zefran sudah mulai.
Fenny menutup visor helmnya.
Wajahmu mengganggu ketertiban. Itu argumen paling buruk yang pernah kamu pakai, Fenny Sukma.
Ia menghidupkan motornya.
Sepanjang jalan naik ke lereng, Fenny tidak mengucapkan satu katapun.
Zefran juga tidak.
Tapi dari spionnya, satu kali, Fenny melihat sudut bibir pria di belakangnya bergerak ke atas.
Ia memalingkan mata. Mempercepat motornya sedikit. Dan memutuskan bahwa sore ini tidak perlu dianalisis terlalu dalam.
* * *
POV Zefran — Vila, malam itu
Daniil sudah tidur. Fenny sudah pulang pamit jam sembilan, alasan berkas yang belum selesai, tapi senyumnya waktu pamit berbeda dari senyum-senyum sebelumnya dan Zefran memilih menyimpan pengamatan itu tanpa diucapkan.
Kini vila sepi.
Zefran duduk di meja kerjanya dengan satu layar monitor yang menyala. Bukan bekerja, hanya menatap laporan yang sudah ia baca dua kali dan tidak masuk juga karena pikirannya ada di tempat lain.
Ponselnya bergetar.
Viktor.
Zefran mengangkatnya tanpa bersuara lebih dulu.
"Laporan terbaru dari kota," kata Viktor tanpa basa-basi — caranya selalu begitu, langsung, tanpa pembuka. "Johnkov bergerak. Bukan ke arah kita, tapi arahnya menarik."
"Ke mana?"
"Asia Tenggara." Viktor berhenti sebentar. "Dan ada nama yang muncul di beberapa komunikasi yang kami intersep. Nama lokal. Konsultan."
Zefran diam.
"Rizal Anggara," kata Viktor.
Zefran menutup laporan di layarnya.
"Kapan intersepnya?"
"Seminggu lalu. Komunikasi awal. Sejauh ini baru penjajakan, bukan perintah. Tapi Mikhail minta kamu tahu."
"Aku tahu."
"Kamu sudah tahu?"
"Dia datang ke kantor seseorang yang dekat denganku tiga hari lalu."
Hening di ujung lain telepon.
"Zefran," kata Viktor dengan nada yang jarang ia pakai — nada yang lebih serius dari biasanya. "Kalau Johnkov sudah tahu kamu di sana dan siapa yang ada di sekitarmu—"
"Aku tahu," kata Zefran lagi. Lebih pelan. "Aku tahu."
Telepon berakhir. Zefran meletakkan ponselnya di meja. Ia memandang layar monitor yang masih menyala. Laporan yang tidak ia selesaikan, angka-angka yang tidak ia baca, dan di balik semua itu, satu gambar yang tiba-tiba terlalu nyata. Tiga hari lalu, Rizal Anggara berdiri di kantor Fenny. Bukan untuk bisnis. Untuk memetakan.
Zefran berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke jendela, memandang halaman yang sudah gelap, lampu taman yang menyala kecil di antara pepohonan.
Tadi sore di perempatan, satu momen kecil.
Sekarang ini. Dua hal yang seharusnya tidak berada di hari yang sama. Tapi hidup tidak pernah bertanya dulu sebelum meletakkan semuanya di atas meja sekaligus.
Ia mematikan lampu kerjanya. Besok ia perlu bicara lagi dengan Fenny.
Penjelasan penuh, katanya.
Waktunya mungkin lebih cepat dari yang ia perkirakan.