POV Fenny — Kantor Firman Agung, Selasa siang
Fenny sedang di tengah kalimat keempat belas dari berkas replik ketika resepsionis mengetuk pintu.
"Mbak Fenny, ada tamu. Bilang sudah ada janji."
"Aku tidak punya janji siang ini."
"Iya, saya sudah bilang. Tapi orangnya bilang Mbak Fenny yang lupa." Resepsionis menurunkan suaranya. "Namanya Rizal Anggara."
Fenny meletakkan penanya.
Ia sudah tiga hari menyimpan kertas dengan nama itu di laci paling bawah. Ia sudah memutuskan untuk tidak menghubungi. Ia sudah memberitahu resepsionis agar melaporkan setiap kali nama itu muncul.
Tapi ia tidak memberitahu resepsionis cara menolaknya. Kesalahan prosedur.
"Suruh masuk," kata Fenny.
Resepsionis menghilang. Tiga puluh detik kemudian pintu terbuka lagi.
Rizal Anggara masuk dengan cara seseorang yang sudah sering masuk ke ruangan-ruangan yang tidak sepenuhnya mengundangnya. Langkah yang tidak meminta maaf, senyum yang terlatih, dan cara matanya langsung memindai seluruh ruangan dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk disebut melihat-lihat.
Dua puluh enam tahun. Kemeja putih, celana abu-abu, jam tangan yang tidak perlu ditunjukkan tapi selalu terlihat. Wajah yang tampan dengan cara yang membuat orang cenderung percaya lebih cepat dari yang seharusnya.
Fenny mengenali tipe ini. Ia sudah berhadapan dengan beberapa versi berbedanya di ruang sidang.
"Mbak Fenny." Ia duduk di kursi klien tanpa dipersilakan. "Maaf kalau terganggu. Tapi saya pikir lebih baik kita bicara langsung."
"Kamu tidak punya janji," kata Fenny.
"Tidak." Ia tersenyum. "Tapi Mbak Fenny juga tidak akan buat janji kalau saya minta. Jadi saya datang saja."
Logika yang tidak bisa sepenuhnya dibantah, dan ia tahu itu.
Fenny menyilangkan tangan di atas mejanya. "Ada apa?"
"Saya dengar Mbak Fenny belakangan ini sering terlihat di sekitar vila kompleks pariwisata di atas lereng." Rizal memiringkan kepala sedikit. "Dengan seseorang yang tidak dikenal di daerah ini. Orang luar."
Fenny tidak bergerak. "Itu bukan urusanmu," kata Fenny.
"Mungkin tidak langsung." Rizal membuka kedua tangannya di atas lutut. Gestur terbuka yang dipelajari. "Tapi saya punya kepentingan di pengembangan daerah ini. Dan kehadiran investor asing yang tidak terdaftar secara resmi bisa mempengaruhi banyak hal. Termasuk beberapa proyek yang manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat."
Kalimat yang terdengar seperti kepedulian. Dan justru karena itulah Fenny tahu itu bukan.
"Kalau kamu punya kekhawatiran soal investor asing," kata Fenny dengan nada yang ia pakai untuk menyampaikan sesuatu tanpa memperlihatkan amarah, "ada prosedur resmi yang bisa ditempuh. Bukan dengan datang ke kantor pengacara dan berpura-pura punya janji."
Rizal memandangnya sebentar. Sesuatu di matanya bergeser. Kecil, sangat kecil, tapi Fenny sudah cukup lama berlatih membaca wajah di balik meja untuk menangkapnya. Bukan tersinggung. Lebih ke arah seseorang yang sedang mengkalibrasi ulang pendekatannya.
"Mbak Fenny lebih waspada dari yang saya kira," katanya. Nadanya tidak berubah. Senyumnya tidak hilang.
"Bukan waspada," kata Fenny. "Hanya tidak suka waktu saya dibuang untuk percakapan yang tidak jujur tujuannya."
Rizal berdiri.
"Saya rasa kita perlu bicara lagi suatu hari," katanya. Sopan, seolah ini adalah perpisahan di akhir pertemuan yang menyenangkan. "Semoga Mbak Fenny sehat selalu."
Ia pergi.
Fenny memandang pintu yang tertutup. Tangannya mencari ponselnya di bawah meja. Zefran perlu tahu ini hari ini.
* * *
POV Fenny — Vila, malam
Zefran mendengarkan tanpa memotong. Ini yang pertama kali Fenny perhatikan dari awal sampai akhir, selama Fenny menceritakan kunjungan Rizal, cara duduk Zefran tidak berubah. Punggung bersandar, satu siku di lengan sofa, jari-jarinya mengetuk perlahan di pahanya. Ekspresi yang tidak bisa dibaca tapi bukan kosong.
Mendengarkan sungguhan.
Daniil ada di atas, sudah belajar sejak sore. Alexei di luar, Pavel entah di mana.
Hanya mereka berdua di ruang tengah.
Ketika Fenny selesai, Zefran tidak langsung bicara. Ia memandang titik di atas kepala Fenny selama beberapa detik. Bukan melamun, tapi menyortir.
"Dia tahu kamu sering ke sini," kata Zefran akhirnya.
"Ya."
"Artinya dia sudah mengawasimu lebih dari sekali."
"Aku sudah sampai di kesimpulan itu juga." Fenny memandangnya. "Sekarang aku minta penjelasan penuh. Kamu bilang deal."
Zefran memandangnya. Ia menghela napas satu kalibukan berat, tapi seperti seseorang yang sedang meletakkan sesuatu yang sudah lama dipegang dan akhirnya memutuskan itu perlu diletakkan.
"Mikhail Volkov," kata Zefran. "Kamu pernah dengar nama itu?"
Fenny menggeleng.
"Dia pemimpin Volchya Liga. Bratva berbasis di Rusia. Bukan organisasi kriminal jalanan. Lebih ke arah struktur yang bergerak di bawah banyak sektor. Senjata untuk keperluan pemerintahan, investasi, perusahaan-perusahaan yang kelihatannya bersih dari luar."
Fenny tidak bergerak. "Dan kamu," kata Fenny pelan. Bukan pertanyaan.
"Tangan kanannya." Zefran memandangnya langsung. "Sudah sebelas tahun."
Ruangan itu terasa berbeda dari tiga detik sebelumnya.
Fenny menarik napas pelan. Sebelas tahun.
Dari anak bengkel yang mengantar s**u pagi hari, menjadi orang seperti sekaramg ini.
"Mulai dari mana?" tanya Fenny. Ia tidak tahu dari mana pertanyaan itu harus dimulai, tapi ia tahu ia perlu memulainya dari suatu tempat.
"Dari Jakarta?" tanya Zefran.
"Dari Jakarta."
* * *
POV Fenny — Ruang tengah vila, malam itu
Zefran bicara dengan cara yang tidak pernah Fenny bayangkan. Bukan cerita yang dimulai dari awal dan berjalan rapi sampai akhir, tapi lebih seperti seseorang yang membuka laci-laci yang berbeda secara bergantian, mengambil satu hal dari sini, satu dari sana, lalu meletakkannya di atas meja satu per satu agar Fenny bisa melihat gambar yang lebih besar.
Jakarta. Damian yang dihubungi Mikhail melalui koneksi bisnis kopi yang ternyata sudah berjalan lama sebelum Zefran lahir. Tawaran yang datang tiga hari setelah pertunangan dibubarkan itu bukan kebetulan, karena tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia Mikhail. Zefran yang pergi ke Rusia dengan Daniil dua bulan usianya, berpikir itu sementara.
"Kapan kamu sadar tidak sementara?" tanya Fenny.
Zefran berhenti sebentar. "Tahun kedua. Waktu aku selesaikan satu penugasan dan Mikhail bilang hasilnya terlalu bagus untuk orang yang katanya hanya montir."
"Penugasan apa?"
Zefran memandangnya. "Itu yang belum waktunya aku ceritakan."
Fenny mengerutkan dahi.
"Kamu bilang penjelasan penuh."
"Penjelasan penuh tentang siapa aku dan kenapa aku di sini," kata Zefran. "Bukan tentang semua hal yang pernah aku lakukan. Itu dua hal berbeda."
Fenny menimbang ini.
"Oke lanjut," katanya akhirnya.
Zefran melanjutkan. Mikhail yang menganggap Zefran seperti anak kelima. Satu-satunya yang tersisa setelah empat yang lain pergi dengan cara yang tidak bisa diceritakan di ruangan biasa. Volkov yang bergerak sunyi, tidak seperti Bratva lama. Dan Johnkov, adik tiri Mikhail yang memilih sisi yang salah.
"Johnkov ada hubungannya dengan Rizal?" tanya Fenny.
"Viktor intersep komunikasi mereka seminggu lalu. Rizal bukan orang Johnkov langsung. Dia bergerak untuk seseorang yang bergerak untuk Johnkov. Satu atau dua lapis di antaranya."
"Rantai yang panjang supaya tidak bisa dilacak balik."
"Tepat."
"Dan mereka tahu kamu di sini."
"Tampaknya iya."
Fenny memandang tangannya sendiri sebentar. "Kamu ke Magelang karena Mikhail minta kamu pergi dari Rusia."
"Sebagian."
"Sebagian yang lain?"
Zefran tidak langsung menjawab.
Fenny menunggu.
"Daniil butuh tahu dari mana dia berasal," kata Zefran akhirnya. "Bukan hanya dari buku atau cerita. Tapi melihat langsung."
Fenny menelan sesuatu di tenggorokannya.
"Dan kamu?" tanyanya. Lebih pelan dari yang ia rencanakan.
Zefran memandangnya.
"Aku yang membawa dia ke sini," kata Zefran. "Itu sudah jawab pertanyaanmu."
Fenny memandang balik.
Ini cara Zefran bicara sekarang — tidak melingkar, tidak dramatis, tapi tidak sepenuhnya telanjang juga. Menyampaikan sesuatu yang besar dalam kalimat yang terdengar kecil dan membiarkan pendengarnya yang memutuskan mau membawanya seberapa jauh.
Dulu ia tidak bisa melakukan ini.Fenny ingat Zefran yang dulu selalu memilih diam daripada setengah bicara. Sekarang ia setengah bicara dengan cara yang justru lebih jelas dari kata-kata penuh.
Sebelas tahun mengajarkan banyak hal kepada dua orang yang terpisah.
"Aku perlu tahu satu hal lagi," kata Fenny.
"Tanya."
"Apakah kehadiran Rizal di kantorku — apakah itu karena dia tahu tentang aku, atau karena dia tahu tentang kamu dan aku kebetulan ada di dekatmu?"
Zefran memandangnya lama.
Terlalu lama.
"Aku tidak tahu pasti," jawabnya. "Tapi itu yang aku sedang coba cari tahu."
Jujur.
Dan justru kejujuran itulah yang membuat bulu kuduk Fenny berdiri.
"Kalau ternyata aku yang jadi targetnya?" tanya Fenny. Suaranya stabil. "Bukan kamu."
Rahang Zefran mengeras sedikit. Hampir tidak terlihat. Tapi Fenny melihatnya.
"Maka aku yang akan mengurus itu," kata Zefran. Bukan ancaman. Bukan janji berlebihan. Hanya pernyataan dari seseorang yang sudah sebelas tahun belajar cara mengurus hal-hal seperti ini.
Fenny mengangguk pelan. Ia tidak berkata lagi soal itu.
* * *
POV Fenny — Teras depan, menjelang tengah malam
Mereka duduk di teras depan sesudahnya. Fenny yang berdiri dan berkata ia perlu udara, dan Zefran yang mengikuti tanpa bertanya. Dua kursi rotan di teras yang menghadap ke lereng bawah, Magelang di malam hari hanya terlihat sebagai kumpulan titik-titik cahaya dari sini.
Fenny tidak tahu sudah berapa lama mereka diam. Tidak ada yang merasa perlu memecahnya.
"Ze." Ia menyebut nama itu versi pendek, versi yang dulu hanya dipakai ibunya dan teman-teman masa kecil dan tidak pernah ia sendiri. Ia tidak tahu kapan mulai menggunakannya.
Zefran menoleh.
"Waktu kamu pergi dulu." Fenny memandang titik-titik cahaya di bawah sana. "Daniil dua bulan. Kamu membawa dia dalam kondisi itu seorang diri."
"Damian ikut."
"Tapi kamu yang merawat Daniil."
Zefran tidak membantah.
"Kamu tidak pernah menyesal membawanya?" tanya Fenny. Bukan tuduhan. Hanya pertanyaan yang sudah lama ia simpan.
Zefran memandangnya dari samping. "Tidak pernah. Tidak sedetikpun."
Fenny mengangguk.
"Aku menyesal," kata Fenny pelan. "Banyak hal. Tapi yang paling besar—" ia berhenti. "Yang paling besar adalah aku tidak bisa melindunginya waktu itu. Tidak bisa melindungi kalian berdua."
Zefran tidak langsung menjawab.
Fenny mendengar kursinya bergeser sedikit. Zefran yang memindahkan posisi duduknya, mendekat satu sentimeter, atau mungkin dua.
"Kamu melindunginya dengan cara lain," kata Zefran. "Kamu membesarkan dirimu menjadi orang yang bisa ia temui kembali dan tidak merasa ditinggalkan."
Fenny terdiam. Kalimat itu terlalu tepat untuk langsung dijawab.
Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara langkah kaki kecil. Daniil yang rupanya turun ke dapur untuk minum, karena anak itu tidak pernah membawa air ke kamarnya sendiri meski sudah diingatkan Galih setiap malam.
Mereka mendengarnya sama-sama. Dan sama-sama diam, menunggu, sampai suara itu kembali ke lantai atas.
Fenny tersenyum tipis.
"Dia tidak pernah bawa air ke kamar," bisiknya.
"Tidak pernah," kata Zefran. "Sudah dua tahun. Tidak ada kemajuan."
Fenny hampir tertawa. Hampir.
Tapi tenggorokannya masih penuh dari semua yang baru saja dikatakan dan didengar, dan tertawa sekarang rasanya seperti membuka jendela di tengah badai.
Jadi ia hanya duduk di sana, di teras yang menghadap lereng yang sunyi, di samping seseorang yang membawa sebelas tahun di antara mereka tapi juga membawa anak yang setiap malam tidak pernah membawa air ke kamarnya.
Dan untuk pertama kali sejak nama Rizal Anggara muncul di mejanya, Fenny merasa ada sesuatu yang lebih besar dari rasa takut yang ia pegang. Sesuatu yang lebih lama, dan lebih kuat.