POV Daniil — Vila, subuh
Daniil terbangun pukul empat lewat tiga belas menit.
Ini bukan hal baru. Di St. Petersburg, di Moskow, di mana pun mereka pernah tinggal, ada malam-malam tertentu ketika tidurnya tidak sampai ke ujung, ketika pikirannya memutuskan berhenti di suatu tempat di tengah dan tidak mau dilanjutkan. Biasanya ia akan berbaring saja sampai jam lima, membaca kalau ada buku yang menarik, atau memandang plafon sambil menyusun daftar hal-hal yang ingin ia pelajari hari itu.
Tapi malam ini ada suara dari bawah.
Bukan keras. Bukan mengkhawatirkan. Hanya suara langkah yang Daniil kenal persis. Distribusi berat yang merata, tidak ada satu kaki yang lebih berat dari lainnya, tidak ada derit lantai yang dihindari karena orang itu sudah hafal mana yang berbunyi. Ayahnya.
Daniil menunggu. Langkah itu tidak berhenti di dapur, atau di ruang tengah. Lalu ke arah pintu belakang dan berhenti.
Daniil turun dari ranjangnya. Ia mengambil kaus dari kursi, mengenakannya, lalu membuka pintu kamarnya pelan. Koridor gelap kecuali lampu bawah yang menyala redup seperti biasa. Ia turun ke lantai satu dengan cara yang sudah ia pelajari sejak kecil. Tepi tangga, bukan tengah, lebih sedikit bunyi.
Di ruang belakang, melalui celah pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, ia melihat ayahnya.
Zefran duduk di meja kecil dekat jendela yang menghadap lereng. Laptop menyala, dua ponsel di sampingnya satu nomor Indonesia, satu nomor Rusia, Daniil sudah hafal bedanya dari warna casing. Di layar ada sesuatu yang dari jarak ini tidak bisa Daniil baca, tapi cara ayahnya memandangnya, satu jari mengetuk meja dengan ritme sangat pelan, kepala sedikit miring ke kanan adalah cara yang Daniil kenal sebagai sedang memproses sesuatu yang rumit.
Daniil berdiri di celah pintu selama hampir semenit. Ayahnya tidak menoleh. Padahal ayahnya selalu menoleh.
Dia tahu aku di sini dan memilih tidak menoleh.
Daniil menarik kesimpulan dari ini. Ayahnya sedang terlalu fokus untuk mengalihkan perhatian, atau sedang sengaja membiarkan Daniil melihat bahwa ia sibuk agar Daniil kembali ke kamarnya.
Terlalu fokus tidak masuk akal karena ayahnya adalah orang yang bisa memproses dua hal sekaligus sejak Daniil bisa mengingat.
Jadi yang kedua.
Daniil kembali ke kamarnya.
Ia berbaring, memandang plafon, dan memulai daftar yang berbeda dari biasanya. Bukan hal yang ingin dipelajari, tapi hal-hal yang sudah ia amati dalam tiga hari terakhir yang polanya baru sekarang mulai terlihat.
* * *
POV Daniil — Kamarnya, masih subuh
Satu, tiga hari lalu Mami datang dengan wajah yang berbeda dari biasanya.
Bukan berbeda jelek. Tapi berbeda dari cara wajahnya tegang, cara rahangnya lebih rapat, cara ia meletakkan tasnya di kursi lebih cepat dari biasa, cara ia berbicara kepada Galih soal kopi dengan kalimat yang sedikit lebih pendek. Hal-hal kecil yang orang lain mungkin tidak tangkap, tapi Daniil sudah sebelas tahun belajar membaca orang dari detail yang tidak diucapkan.
Dua, Ayah dan Mami menghabiskan waktu lama di ruang tengah malam itu. Daniil tidak mendengar isinya. Ia tidak mencoba mendengar karena itu bukan urusannya. Tapi durasinya tidak biasa. Lebih dari dua jam.
Tiga, keesokan harinya, Alexei dan Pavel dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Ini biasa terjadi, tapi yang tidak biasa adalah Pavel keluar dengan ekspresi yang lebih serius dari kebiasaannya yang selalu terlihat tidak setuju. Pavel serius adalah penanda bahwa sesuatu memang perlu serius.
Empat, ayahnya mulai pergi sore hari tapi tidak dengan motor sport yang mencolok, tapi dengan mobil biasa yang Alexei kendarai. Tidak bilang ke mana. Pulang sebelum makan malam, tidak bercerita. Daniil tidak bertanya karena tahu tidak akan dijawab sekarang.
Lima, dan ini yang paling menarik untuk dicatat, cara ayahnya memandang Mami berubah.
Bukan perubahan yang dramatis. Bukan seperti adegan-adegan di drama yang pernah Daniil tonton bersama pengasuhnya dulu di St. Petersburg. Lebih halus dari itu. Ada kewaspadaan tambahan di mata ayahnya setiap kali Mami pergi memandang ke arah mobilnya sampai keluar gerbang, memeriksa ponsel dua menit setelahnya, lalu baru kembali ke aktivitas.
Daniil berbaring dengan kedua tangan di bawah kepala.
Di St. Petersburg, ada malam-malam ketika ayahnya pulang larut dan Daniil pura-pura tidur tapi sebenarnya menghitung waktu. Ketika Viktor datang dengan wajah tertentu dan berbicara dalam bahasa yang pelan dan terukur. Ketika Alexei memeriksa semua pintu dan jendela dua kali sebelum tidur.
Daniil kenal pola ini.
Hanya saja di sini, polanya berbeda karena ada variabel yang tidak ada di St. Petersburg. Mami.
Dan ayahnya yang biasanya melindungi sesuatu dengan cara yang dingin dan terukur, kini melindungi dengan cara yang sedikit lebih dari sekadar terukur.
Ayahku takut.
Bukan takut pada situasinya. Daniil tidak pernah melihat ayahnya takut pada situasi.
‘Takut kalau situasinya menyentuh Mami.’
Daniil menutup matanya. Ia memutuskan akan terus mengamati dan tidak bertanya dulu. Bukan karena tidak ingin tahu. Tapi karena ada hal-hal yang ayahnya perlu pikirkan sendiri dulu, dan Daniil sudah cukup dewasa untuk memberi ruang itu.
* * *
POV Daniil — Vila dan sekitarnya, empat hari berikutnya
Daniil tidak mengikuti ayahnya. Itu bukan caranya. Tapi ia mengamati apa yang bisa diamati dari vila.
Hari pertama Alexei pergi pagi, kembali siang dengan map cokelat tipis yang langsung masuk ke ruang kerja. Sore harinya ayahnya memanggil Kirill yang baru datang tiga hari lalu dari Jakarta dengan alasan yang tidak dijelaskan kepada Daniil dan berbicara hampir satu jam.
Hari kedua Bagas datang. Daniil melihatnya dari jendela kamar. Pria dengan kemeja batik dan rambut memutih di pelipis yang pernah ia lihat satu kali sebelumnya di teras, berbicara dengan ayahnya dengan cara dua orang yang tidak perlu banyak kata untuk saling mengerti. Mereka duduk di teras belakang dua jam. Daniil tidak bisa mendengar, tapi dari postur tubuh Bagas ia bisa membaca. Orang ini memberikan informasi, bukan menerima.
Hari ketiga tidak ada tamu, tidak ada pergerakan yang mencolok. Tapi malam harinya Daniil bangun jam dua dan mendengar ayahnya di telepon lebih dari satu jam. Bahasa Rusia dan bahasa Indonesia bergantian, dan satu nama yang muncul dua kali.
Viktor.
Hari keempat ayahnya mengajak Daniil jalan ke kota. Ini yang paling menarik.Karena di kota, mereka tidak hanya jalan. Mereka mampir ke empat tempat berbeda. Warung kopi, toko kelontong, bengkel motor kecil di jalan belakang pasar, dan terakhir sebuah kantor kecil dengan papan nama yang tidak Daniil sempat baca karena ayahnya memintanya menunggu di luar.
Di setiap tempat, ayahnya berbicara dengan orang-orang dengan cara yang berbeda dari cara biasanya. Lebih santai dari di vila, lebih membumi, tapi di baliknya Daniil bisa melihat karena ia sudah mengamati ayahnya sebelas tahun, bahwa setiap percakapan itu bukan hanya basa-basi.
Ayahnya sedang mengumpulkan sesuatu.
Di bengkel motor, pemiliknya seorang pria lima puluhan, tangan penuh oli, nada bicara langsung bilang sesuatu yang membuat ayahnya mengangguk tiga kali berturut-turut. Daniil hafal arti anggukan itu.
informasi yang dikonfirmasi.
Di perjalanan pulang, di dalam mobil, Daniil duduk di sebelah ayahnya dan tidak bertanya.
Ayahnya mengemudi dengan satu tangan, memandang jalan, sesekali mengetuk setir dengan jarinya. Ritme tanpa musik yang Daniil kenal sejak ia bisa mengingat.
Lima menit sebelum vila, ayahnya berkata tanpa menoleh.
"Kamu tidak bertanya hari ini."
"Belum waktunya," jawab Daniil.
Ayahnya meliriknya sebentar. "Dari mana kamu belajar itu?"
Daniil memandang ke depan. "Dari Ayah."
Mobil masuk ke gerbang vila. Ayahnya tidak menjawab. Tapi jarinya berhenti mengetuk setir.
* * *
POV Daniil — Meja makan, malam itu
Mami tidak ada malam itu. Ada kasus yang perlu diselesaikan, katanya. Pesan itu lewat uncle Theo yang meneruskan kepada Galih, kemudian meneruskan kepada Daniil.
Sistem komunikasi yang tidak efisien, tapi Daniil sudah terbiasa dengan cara orang dewasa kadang menghindari bicara langsung tentang hal-hal yang mereka belum siap sampaikan sendiri.
Makan malam hanya mereka berdua.
Galih memasak sup ayam dan nasi sederhana, tapi Daniil sudah cukup sering makan masakan Galih untuk tahu bahwa sederhana di tangan Galih adalah versi yang lebih baik dari rumit di tangan orang lain.
Ayahnya makan. Daniil ikut makan.
Robot pembersih berputar di sudut dengan dedikasi yang tidak terpengaruh oleh apapun yang terjadi di dunia manusia. Di pertengahan makan, Daniil meletakkan sendoknya.
"Ayah."
Zefran mengangkat kepala.
"Orang yang datang ke kantor Mami." Daniil memilih kata-katanya. "Itu orang yang sama yang Ayah sedang cari tahu, ya?"
Ayahnya memandangnya selama beberapa detik.
Menghitung seberapa banyak yang sudah Daniil ketahui. Menghitung seberapa banyak yang perlu ia akui.
"Ya," kata ayahnya.
Daniil mengangguk. "Dia berbahaya buat Mami?"
"Belum jelas seberapa jauh."
"Tapi berpotensi."
"Ya."
Daniil mengambil sendoknya kembali. Ia makan satu suap, memikirkan sesuatu, lalu meletakkan sendoknya lagi.
"Kalau Mami perlu dilindungi," kata Daniil, "aku bisa bantu. Aku bisa mengamati hal-hal yang Ayah tidak punya waktu amati dari dalam vila."
Ayahnya memandangnya.
Dengan ekspresi yang Daniil kenal sebagai, aku bangga dengan cara berpikirmu dan sekaligus tidak suka ke mana arah pembicaraan ini.
"Tidak," kata ayahnya. Satu kata, nada yang tidak meninggalkan celah.
"Aku bukan anak kecil yang—"
"Bukan soal itu." Ayahnya meletakkan sendoknya juga. Memandang Daniil langsung. "Kamu sebelas tahun. Tugas kamu bukan melindungi siapapun sekarang. Itu tugasku."
"Tapi—"
"Danya."
Nama panggilan itu jarang dipakai ayahnya. Biasanya hanya dipakai Viktor dan Mikhail.
Daniil menutup mulutnya.
Ayahnya melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, tapi tidak kurang tegas. "Kamu tumbuh di dunia yang benar karena aku memastikan kamu tidak perlu masuk ke bagian yang gelap lebih awal dari seharusnya. Itu tidak berubah di sini."
Daniil memandang mejanya. Ia ingin membantah. Ia punya beberapa argumen yang cukup solid. Tapi ada sesuatu di cara ayahnya mengucapkan kalimat itu. Bukan perintah yang dingin, tapi sesuatu yang lebih mendalam dari itu yang membuat semua argumennya terasa seperti akan melukai sesuatu yang tidak perlu dilukai.
"Oke," kata Daniil akhirnya.
Ayahnya mengambil sendoknya kembali. Mereka makan sampai selesai. Di akhir makan, saat Daniil membawa piringnya ke dapur, ia mendengar ayahnya berkata dari belakang.
"Kamu mengamati dengan baik. Tapi untuk sekarang, cukup amati. Tidak lebih."
Daniil berbalik. Ayahnya sudah kembali memandang layar ponselnya. Tapi Daniil melihatnya. Sudut bibir yang bergerak satu milimeter ke atas, cepat, sebelum kembali ke ekspresi biasa.
Daniil membawa piringnya ke dapur. Ia menyusun daftar-daftar di kepalanya, sesuatu di dadanya mengendur sedikit. Ayahnya tahu. Ayahnya selalu tahu. Dan selama itu masih begitu, tempat ini masih aman.
* * *
POV Daniil — Ruang kerja ayahnya, dua hari kemudian
Ayahnya meninggalkan pintu ruang kerja terbuka. Ini jarang terjadi.
Daniil berjalan melewatinya dua kali. Sekali ke dapur, sekali balik sebelum akhirnya berhenti di ambang pintu.
Di dalam, di papan putih yang biasanya kosong atau berisi jadwal biasa, kini ada sesuatu yang berbeda. Bukan foto, bukan nama dalam kotak-kotak tersambung seperti di film-film detektif. Lebih seperti diagram alir. Ttik-titik yang dihubungkan garis, beberapa titik diberi warna berbeda dengan spidol, beberapa diberi tanda tanya.
Di tengahnya, satu nama yang Daniil tidak kenal.
Di sampingnya, satu nama yang ia kenal dari percakapan empat hari lalu.
Rizal Anggara.
Tapi di atasnya, dihubungkan dengan garis yang lebih tebal dari yang lain, ada inisial yang Daniil kenali dari dua tahun terakhir.
J.
Johnkov.
Daniil berdiri di ambang pintu. Ayahnya duduk di kursi kerjanya, membelakangi pintu, sedang mengetik sesuatu. Ia tahu Daniil ada di sana. Pasti tahu. Tapi tidak menoleh.
Kali ini bukan karena terlalu fokus. Kali ini karena ia sengaja membiarkan Daniil melihat.
Daniil memandang papan itu selama beberapa detik lagi. Lalu ia melangkah masuk mengambil kursi tambahan dari sudut, dan duduk di sebelah meja kerja ayahnya.
Ayahnya masih mengetik.
"Aku tidak akan bertanya," kata Daniil. "Tapi kalau Ayah perlu seseorang yang bisa membaca pola dan tidak panik, aku ada."
Jari-jari ayahnya berhenti di keyboard.
Satu detik.
Lalu melanjutkan mengetik.
"Buka buku matematismu," kata ayahnya. "Bab distribusi probabilitas. Aku perlu kamu paham konsep itu sebelum akhir minggu."
Daniil memandangnya.
"Itu bukan jawaban dari apa yang aku bilang."
"Itu respons yang aku pilih untuk sekarang." Ayahnya berhenti mengetik, melirik Daniil dari samping, dan ada sesuatu di matanya yang bukan penolakan. "Distribusi probabilitas dulu. Nanti kita lihat."
Daniil berdiri.
Ia mengambil bukunya dari rak pinggir ruangan. Memang ada di sana, karena rupanya ayahnya sudah tahu ia akan masuk dan kembali ke kursinya.
Mereka duduk berdampingan dalam diam. Ayahnya mengetik. Daniil membaca.
Di luar, angin lereng masuk dari jendela yang setengah terbuka, membawa bau tanah dan daun basah yang mulai Daniil kenali sebagai bau Magelang. Berbeda dari bau St. Petersburg. Tapi tidak lebih buruk.
Mungkin, pikir Daniil, tidak semua hal yang berbeda perlu dibandingkan. Beberapa hal hanya perlu diterima sebagai yang juga benar.