POV Fenny — Vila, siang
Awalnya hanya soal map cokelat.
Zefran meminta Fenny mengambilkan dokumen dari map cokelat di laci kiri meja kerjanya — satu set dokumen tanah yang perlu ia tandatangani sebelum sore, katanya, sambil setengah berlari ke bawah karena Alexei memanggil soal sesuatu yang rupanya tidak bisa menunggu.
"Laci kiri, map cokelat, ambil yang ada klip merah di pojoknya," kata Zefran di ujung tangga. "Jangan yang lain."
"Aku bukan sekretarismu," kata Fenny.
"Aku tahu. Kamu pengacara. Kamu lebih baik dari sekretaris." Dan ia sudah turun.
Fenny memandang tangga yang kosong.
Itu bukan pujian yang membuatku mau melakukannya.
Tapi aku sudah di atas dan laci itu ada di depanku.
Ia masuk ke ruang kerja.
Laci kiri. Map cokelat. Klip merah di pojok.
Ia membuka laci.
Ada tiga map cokelat.
Dua di antaranya punya klip merah.
Fenny mengerutkan dahi. Ia mengambil keduanya, bermaksud melihat isinya sekilas untuk memilih yang benar dokumen tanah, kata Zefran. Ia membuka map pertama.
Bukan dokumen tanah. Ini dokumen keuangan yang tidak ia mengerti detailnya karena angkanya dalam mata uang yang bukan rupiah.
Ia menutupnya, membuka map kedua.
Dokumen-dokumen. Beberapa surat. Dan di balik satu amplop putih yang tidak tertutup rapat, sesuatu yang datar dan keras ikut terjatuh ke telapak tangannya karena ia memegang map terlalu tegak.
Kartu identitas.
Fenny hampir mengembalikannya langsung ke amplop.
Hampir.
Tapi matanya sudah keburu membaca nama di baris pertama, dan setelah nama ada baris-baris lain yang dalam satu detik semuanya sudah masuk ke dalam kepala Fenny dengan cara informasi yang tidak diundang selalu masuk — cepat, tanpa permisi, dan tidak bisa dikembalikan.
Nama:
Zefran Khael.
Status perkawinan:
Kawin.
Fenny memandang kartu itu.
Lalu memandangnya lagi.
Lalu membaliknya, karena mungkin ada penjelasan di belakang yang membuatnya lebih masuk akal.
Tidak ada apa-apa di belakang.
Ia mengembalikan KTP itu ke dalam amplop, mengembalikan amplop ke map, menutup map dengan rapi, dan meletakkannya kembali di laci persis seperti ditemukan.
Lalu ia mengambil map yang satu lagi yang ternyata memang dokumen tanah dengan klip merah di pojok kanan bawah, bukan pojok kiri atas dan turun ke bawah dengan wajah yang ia jaga setenang mungkin.
"Ini," katanya, menyerahkan map ke tangan Zefran yang sudah menunggu di ruang tengah.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Fenny mengambil tasnya dari sofa. "Aku harus ke kantor sebentar."
Zefran memandangnya. Lg"Ada sidang?"
"Ada berkas." Senyum yang ia harap terlihat normal. "Nanti malam balik."
Ia pergi sebelum Zefran bisa bertanya lebih lanjut.
* * *
POV Fenny — Kantor KUA, sore hari
Fenny tidak langsung ke kantor. Ia ke KUA. Ini bisa diargumentasikan sebagai tindakan profesional. Dirinya pengacara, verifikasi data adalah bagian dari pekerjaannya, dan menemukan status perkawinan yang tidak sesuai dengan informasi yang diketahui adalah hal yang wajar untuk ditindaklanjuti secara legal.
Ini juga bisa diargumentasikan sebagai tindakan seseorang yang penasaran bukan main dan tidak bisa langsung pulang sebelum tahu.
Fenny memilih framing pertama.
Di loket KUA, ia menggunakan jabatan pengacaranya dan satu kalimat yang sudah ia susun di perjalanan bahwa ia sedang menangani kasus yang memerlukan konfirmasi status perkawinan seorang klien. Bukan sepenuhnya bohong karena Zefran bisa dibilang klien dalam arti paling longgar dari kata itu, tapi bukan sepenuhnya jujur juga.
Petugas loket seorang bapak paruh baya yang terlihat seperti sudah menjawab pertanyaan yang sama ribuan kali. Meminta nama lengkap dan NIK.
Fenny memberikan nama.
Bapak itu mengetik.
Mengetik lagi.
Mengerutkan dahi sedikit. Cara orang yang menemukan sesuatu yang tidak ia duga, lalu memandang Fenny.
"Nama lengkap ibu?" tanya bapak itu.
Fenny memberikannya.
Bapak itu mengetik.
Berhenti.
Memandang layarnya.
Memandang Fenny.
Memandang layarnya lagi.
"Ibu Fenny Sukma?"
"Ya."
"Data yang ada di sistem kami..." Bapak itu memilih kata-katanya dengan hati-hati seperti seseorang yang tidak yakin bagaimana cara menyampaikan ini. "Bapak Zefran Khael ini tercatat menikah dengan seseorang yang bernama sama dengan ibu."
Fenny tidak bergerak.
"Maksudnya?" suaranya terdengar lebih datar dari yang direncanakan.
"Tercatat di database kami ijab kabul dengan nama Fenny Sukma. Ada dua saksi. Dokumen sah." Bapak itu terlihat tidak nyaman dengan posisinya sekarang. "Tapi memang tidak ada dokumen akta nikah resmi yang diterbitkan karena prosesnya sepertinya tidak selesai. Datanya ada tapi statusnya... menggantung."
"Menggantung."
"Tidak dibatalkan, tapi tidak dilengkapi."
Fenny menatap bapak itu selama tiga detik penuh.
"Terima kasih, Pak," katanya. "Itu sudah cukup."
Ia keluar dari KUA. Berdiri di parkiran. Memandang motornya. Fenny berpikir dari data belum lengkap. Ijab kabul. Dua saksi.
Ia mengingat malam pertunangan yang bubar. Ia ingat Zefran datang dengan fotokopi dokumen Levano. Ia ingat Zefran mengambil Daniil.
Yang tidak ia ingat karena ia tidak ada di sana, karena setelah itu semua Fenny tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika Zefran pergi dan sampai di Jakarta. Rupanya ada satu episode yang tidak pernah diceritakan.
Fenny menghidupkan motornya. Ia tidak jadi ke kantor. Ia langsung kembali ke lereng.
* * *
POV Fenny — Vila, menjelang sore
Zefran ada di ruang tengah ketika Fenny masuk.
Daniil tidak kelihatan. Mungkin di atas, mungkin di kebun. Galih ada di dapur, suara pisau di talenan terdengar dari jauh.
Zefran mengangkat kepala dari layar laptopnya.
"Katanya mau ke kantor."
"Berubah pikiran." Fenny meletakkan tasnya di kursi. "Aku ke KUA tadi."
Jari-jari Zefran berhenti di keyboard.
Dua detik.
Dia tahu. Dia tahu aku tahu.
Fenny duduk di sofa seberangnya. Menyilangkan kaki. Memandangnya dengan ekspresi yang ia pakai di ruang sidang ketika ia sudah punya semua bukti dan tinggal menunggu pihak lain memutuskan mau jujur atau tidak.
"Sejak kapan?" tanya Fenny.
Zefran menutup laptopnya. "Malam sebelum aku pergi."
Fenny memandangnya. "Malam sebelum kamu pergi," ulangnya pelan. "Kamu mengambil Daniil dari acara pertunangan, membuat kehebohan dengan dokumen Levano, dan di antara semua kekacauan itu kamu sempat mampir ke KUA?"
"Theo yang bawa. Tamara jadi saksi. Yang satu lagi orang KUA yang Theo kenal."
Fenny menutup matanya satu detik. "Theo tahu soal ini?"
"Dari awal."
"Dan dia tidak bilang aku?"
"Aku minta tidak usah."
Fenny menghela napas panjang. "Baik." Ia membuka matanya. "Aku punya beberapa pertanyaan."
"Tanya."
"Pertama, kenapa?"
Zefran memandangnya. "Karena aku pergi membawa anakku. Dan aku ingin ada sesuatu yang sah yang menghubungkan kamu dengan Daniil kalau suatu hari dia butuh sesuatu dan aku tidak bisa ada."
Fenny tidak menjawab langsung. Kalimat itu terlalu berat untuk langsung dilewati.
"Kedua," kata Fenny akhirnya, dengan suara yang sedikit berbeda dari tadi. "Datanya menggantung. Tidak selesai, tidak dibatalkan. Kenapa tidak dilengkapi atau dibatalkan saja?"
Zefran memandangnya lama.
"Karena aku tidak mau membatalkan," katanya. Sederhana. Seperti menjelaskan sesuatu yang sudah lama jelas baginya.
Fenny memandangnya. Ruangan itu terlalu sunyi tiba-tiba.
"Kamu tahu ini bisa dipersoalkan secara hukum," kata Fenny. Karena ia pengacara dan ketika tidak tahu harus bilang apa, menggunakan framing hukum selalu membantu.
"Aku tahu."
"Dan kamu tidak keberatan?"
"Tidak."
Fenny memandangnya. "Ze."
"Apa."
"Kamu serius."
"Aku selalu serius."
"Itu bukan jawaban—"
"KUA jam berapa tutup?"
Fenny berhenti. "Apa?"
"KUA. Jam berapa tutup hari ini?"
Fenny memandangnya dengan ekspresi seseorang yang sedang memproses kalimat yang ia dengar dengan benar tapi otaknya menolak untuk percaya.
"Jam empat."
Zefran melihat jam tangannya. "Sekarang jam empat lewat tiga puluh."
"Ya."
"Sudah tutup kalau begitu." Ia membuka laptopnya kembali dengan cara yang sangat tenang, seperti baru saja mendapat informasi berguna soal cuaca. "Besok berangkat."
Fenny menatapnya.
Besok berangkat.
Ke KUA.
Besok.
"Aku belum bilang mau," kata Fenny.
"Belum bilang tidak mau juga."
"Itu bukan cara kerja persetujuan—"
"Fenny."
Ia mengangkat kepala dari laptop. Memandangnya dengan cara yang tidak punya lapisan lain di baliknya, tidak menghitung, tidak mengkalkulasi. Hanya memandang seperti cara seseorang memandang sesuatu yang sudah lama ia putuskan jauh sebelum percakapan ini terjadi.
"Aku minta maaf karena tidak pernah tanya dulu," kata Zefran. "Itu salah. Aku tahu itu salah." Ia berhenti sebentar. "Tapi jawabanku tidak berubah."
Fenny memandangnya untuk waktu yang cukup lama.
Dari dapur, suara pisau di talenan berhenti. Lalu mulai lagi. Galih yang tidak tahu ada drama di ruang tengah terus memotong apapun yang sedang ia potong dengan dedikasi penuh.
Dari atas tangga, suara langkah kecil yang Fenny sudah hafal, Daniil turun.
Ia muncul di ujung tangga, memandang ruang tengah, membaca suasana dalam satu detik dengan kemampuan yang tidak wajar untuk anak sebelas tahun.
Lalu dengan sangat sopan ia berbalik dan naik kembali ke atas. Suara pintu kamar ditutup pelan.
Fenny menahan tawa. Ia menarik napas.
"Sebelum aku jawab apapun," kata Fenny, "aku mau tanya satu hal lagi."
"Tanya."
"Data tidak lengkap itu." Fenny memilih kata-katanya. "Kamu yang minta datanya tidak dihapus. Atau dibiarkan tidak lengkap karena kamu tidak pernah kembali menyelesaikannya?"
Zefran memandangnya. "Dua-duanya," jawabnya.
Fenny mengangguk pelan. Itu jawaban yang jujur. Terlalu jujur untuk dibantah.
"Oke," kata Fenny akhirnya.
Zefran menunggu.
"Besok aku ada sidang jam sembilan." Fenny berdiri, mengambil tasnya. "KUA buka jam delapan. Kita bisa selesai sebelum sembilan kalau berangkat jam tujuh setengah."
Zefran memandangnya.
Fenny menatap balik.
"Itu bukan berarti aku setuju dengan metode pengambilan keputusan sepihakmu," tambah Fenny. "Itu berarti data yang tidak lengkap adalah masalah hukum yang perlu diselesaikan."
"Tentu saja."
"Dan kebetulan menyelesaikannya sejalan dengan—" Fenny menghentikan kalimatnya. "Tidak penting. Jam tujuh setengah."
Ia berjalan ke pintu. Di belakangnya, ia mendengar suara yang sangat pelan tapi bukan komentar, bukan kata. Hanya hembusan napas yang mengandung sesuatu yang sangat menyerupai lega.
Fenny tidak berbalik. Tapi sudut bibirnya bergerak.
* * *
POV Fenny — Di jalan pulang, malam
Fenny menelepon Theo di lampu merah pertama.
"Kamu tahu," kata Fenny tanpa pembuka.
Di ujung telepon, Theo sunyi selama satu detik.
Lalu, "Sejak kapan kamu tahu?"
"Tadi siang. KTP jatuh dari dokumen yang aku ambilkan."
"Ah."
"Theo."
"Fen—"
"Kamu jadi saksi."
Hening.
"Dia minta tolong," kata Theo akhirnya. Nada yang campuran antara minta maaf dan tidak menyesal. "Malam itu dia sudah mau pergi. Daniil ada di gendongannya. Dia bilang satu hal, tolong jadi saksi. Aku tidak bisa bilang tidak."
Lampu berubah hijau. Fenny jalan.
"Kamu harusnya bilang aku."
"Dia minta jangan."
"Dan kamu ikut kata dia."
"Dia benar, Fen." Theo menarik napas. "Kalau aku bilang waktu itu, kamu mau apa? Kamu masih dalam kondisi yang—" ia berhenti memilih kata. "Kamu butuh waktu menjadi kamu dulu sebelum bisa menghadapi itu."
Fenny tidak menjawab karena Theo tidak sepenuhnya salah.
"Besok aku ke KUA," kata Fenny akhirnya.
Hening di ujung lain telepon.
Lalu Theo mengeluarkan suara yang entah antara tawa yang ditahan atau napas lega yang terlalu tiba-tiba.
"Serius?"
"Untuk menyelesaikan data yang masih belum dilengkapi itu.."
"Tentu saja." Theo terdengar seperti orang yang berusaha keras tidak senyum. "Alasan yang sangat masuk akal."
"Theo."
"Ya?"
"Kalau kamu ketawa aku tidak akan kasih tahu apa-apa lagi."
"Aku tidak ketawa. Ini wajah serius."
"Kita di telepon."
"Suaraku juga serius."
Fenny menutup telepon.
Dari ujung sana, sepersekian detik sebelum tersambung ke nada tutup, ia sempat mendengar suara yang sangat jelas bukan suara orang yang tidak ketawa.
Fenny mempercepat motornya.
Langit Magelang malam ini jernih tidak biasa. Bintang yang kemarin tertutup awan sekarang muncul semua sekaligus, seperti terlambat dan mencoba mengganti waktu yang terlewat.
Fenny memandang jalan di depannya.
Jam tujuh setengah.
Besok.
Ia tidak tahu persis apa yang ia rasakan.
Tapi apapun itu, beratnya tidak seberat yang seharusnya.