-Awali dengan Bismillah, akhiri dengan Alhamdulillah-
**
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا -٢٨٦-
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Al-Baqarah 286)
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا مَا آتَاهَا -٧-
“Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang Diberikan Allah kepadanya.”
(At-Thalaq 7)
Nayla memarkirkan mobilnya di garasi, rumah itu nampak terlihat tegang. Nayla mengembuskan napasnya berat.
Perlahan Nayla melanglahkan kakinya masuk, beberapa menit lalu ibunya menyuruhnya pulang dengan alasan ada hal yang penting.
"JANGAN!"
"aku tidak mau kehilangan Nayla untuk yang kedua kalinya, aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya. Mengertilah Albert, aku ini seorang ibu." Diana menangis sambil memegangi kaki lelaki bertubuh tinggi tegap berhidung mancung dan berkulit putih itu.
Niat awal Nayla ingin menemui ibunya, untuk sekadar bersapa salam, namun, dia mendengar rintihan tangisan ibunya.
"Kau tahu apa tentang mengurus anak, Hah! Kau itu ibu tidak berguna." Albert menendang Diana yang masih setia memegangi kakinya hingga perempuan rentah itu meringis kesakitan.
Nayla masih mendengar dari balik pintu marmer kamar yang terbuat dari emas. Nayla merasakan sesak di hatinya saat lagi-lagi suara Albert menendang Diana.
Nayla beristighfar, air matanya membashi wajah lelahnya. Bagaimana bisa dia menyayangi lelaki seperti Albert, jika kelakuan dan sikapnya terus seperti ini. Sudah tidak punya iman, dia pun tidak punya hati.
Seorang lelaki itu seharusnya menjaga dan melindungi perempuannya. Bukan merusak dan menyakitinya. Sadarkah kamu, bahwa setiap tetes air mata perempuan yang tersakiti disebabkan olehmu, maka akan memberatkan siksamu di neraka.
Duarrrrrr.
Nayla mendobrak pintu kamar yang semula tertutup itu. Dia mendapati sosok ibunya yang terbaring lemah di atas dinginnya lantai keramik, bercak darah keluar dari ujung bibirnya.
Nayla benar-benar marah. Bagaimanapun sosok perempuan yang saat ini di sakiti oleh lelaki bernama Albert yang mengaku sebagai ayahnya itu, dia adalah ibu kandung Nayla. Yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Nayla ke dunia ini, atas izin Allah. Walau perempuan itu tidak merawat dan membesarkannya.
"Beginikah caramu memperlakukan perempuan, Tuan Albert yang terhormat!"
Nayla berkata dengan napas yang tidak bisa di atur. Dia benar-benar merasa sakit hati melihat ibunya terbaring lemah tidak berdaya seperti saat ini.
"Ohh, Darling. Kamu tidak tahu apa-apa. Ayo kembali ke kamarmu, semua tidak seperti yang kamu bayangkan, Dear." Albert menyentuh lengan bergetar Nayla.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Nayla menunjuk wajah Albert, air matanya terus berlinangan. Dia benar-benar berada di luar kendali, naluri seorang anak pada ibunya saat ini benar-benar Nayla rasakan.
"Ii--bu," Nayla segera membopong tubuh lemah Diana, tangan kirinya terus menunjuk wajah Albert, wajah yang seakan tidak takut akan dosa.
Diana tidak sadarkan diri, sementara Nayla sedang membawa mobil menuju rumah sakit. Namun, Nayla tidak tahu letak rumah sakit di mana. Dia benar-benar kalut dan kebingungan.
Sungguh, Nayla sangat kesal dengan sosok Albert. Baru kali ini Nayla bertemu dengan orang seperti sosok Albert. Lebih menyakitkan lagi jika mengingat lelaki itu adalah ayah kandungnya.
"Ya Allah, selamatkan Ibu hamba." Nayla berucap lirih dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ya Rabb, hamba harus ke mana. Tunjukkan hamba jalan keluarnya." Nayla menghentikan mobilnya dia berpikir sejenak. Di manakah dia akan membawa sang ibu yang sudah tidak sadarkan diri.
Beberapa detik kemudian Nayla tersadar, bahwa ada satu orang yang bisa ia temui untuk meminta bantuan.
"Meisya."
Seakan mendapatkan jalan keluar dari Allah. Nayla segera melajukan mobilnya menuju rumah Meisya, di mana beberapa menit lalu dia menghantarkan Mei pulang.
"Assalaamu'alaaykum. Permisi," Nayla menjerit sambil mengetuk pintu rumah sederhana itu.
"Wa'alaaykumussalaam. Cari siapa?"
Wanita paruh baya dengan pakaian sederhana, bertanya ramah pada Nayla. Nayla langsung menanyakan Mei pada perempuan tua itu.
"Aduh Nak, Mei baru saja pergi ke kedai bakso Papanya. Tidak jauh kok dari sini, keluar dari lorong ini belok kiri. Di sana tempatnya." jelas sang ibu dengan telaten.
"Baiklah Bu, terima kasih." tanpa basa-basi Nayla segera berlari dan menuju lokasi yang telah di tunjukkan oleh sang ibu.
"Meisya." pekik Nayla, dia tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya yang sedang ramai pengunjung menikmati bakso.
"Nayla," Meisya berjalan mendekati Nayla dengan berbagai macam pertanyaan. Melihat dari sikap Nayla, terlihat jelas perempuan itu sedang tidak baik.
"Mei, tolong. Ibuku sakit, antarkan aku ke rumah sakit. Tolong aku Mei, ibuku pingsan." jelas Nayla apa adanya. Dia benar-benar kalang kabut.
Tanpa menunda waktu Meisya langsung izin pada ayahnya di temani Nayla, mereka segera menuju rumah sakit terdekat.
Nayla tak berhenti menangis. Dia benar-benar kesal dan marah. Hatinya bertanya, kenapa ada sosok lelaki seperti Albert. Andikan dia bisa meminta satu permintaan pada Allah, saat ini. Maka dia akan meminta agar musnahkan sosok lelaki seperti Albert di dunia ini.
"Mei. Makasih ya," Nayla memeluk Meisya. Dia benar-benar butuh teman cerita saat ini. Meisya hadir layaknya Fatimah, yang bersedia membantunya dalam keadaan duka.
"Sudah menjadi kewajibanku membantu saudara seiman." ucap Meisya sambil mengelus bahu Nayla.
"Yang sabar ya, Nay. Semua ada hikmahnya." ucap Meisya. Dia sudah tahu asal muasal permasalahan yang dihadapi Nayla saat ini. Selama di perjalanan tak henti-hentinya Nayla menceritakan apa yang dia alami setelah pulang dari bertemu dengan Mei tadi pagi.
Walau baru bertemu beberapa jam yang lalu, namun ikatan persahabatan di antara keduanya sudah terjalin dengan rapi.
Tiba-tiba ponsel di dalam tas Nayla bergetar. Dengan gerakan pelan Nayla membuka tasnya dan meraih benda pipih yang sempat dikatakan kuno oleh sosok lelaki angkuh bernama Albert.
"Astaghfirullah. Innalillahi Wainnalillahi Ro'jiuun." suara Nayla terdengar benar-benar lirih. Baru beberapa menit yang lalu dia berhenti menangis, namun sekarang Nayla nangis lagi.
Meisya bingung, apa yang terjadi dengan temanya itu. Nayla seakan kehilangan seseorang, siapakah yang meninggal. Itulah yang menjadi pertanyaan dalam benak Meisya.
"Ada apa Nay? Semua baik-baik saja?" Meisya memastikan.
Nayla menggeleng lemah. "Nenek," ucap Nayla sesegukan.
"Meninggal, tadi subuh." Nayla semakin menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Meisya merasa kasihan dengan Nayla. Dia kembali memeluk gadis keturunan Amerika itu, hari ini Meisya banyak sekali mendapatkan pelajaran dari cerita hidup Nayla. Walau tidak keseluruhan dia mengetahui tentang teman barunya itu, namun dia mengerti bagaimana perasaan Nayla saat ini.
"Mei. Kemarin, nenek meluk aku. Dia menciumku. Mei, nenek adalah sosok orang yang aku sayangi. Dia sudah menganggapku seperti cucunya sendiri. Aku banyak mendapatkan kasih sayang dan juga pelajaran berharga dari nenek. Mei, aku kangen nenek." Nayla kembali menangis, dia benar-benar rapuh hari ini.
"Nay, istighfar. Semua terjadi atas kehendak Allah. Mungkin, Allah lebih menyayangi nenek daripada keluarga yang di tinggalkan. Semua manusia di bumi ini, akan merasakan mati, asal dari tanah, dan kembali ke dalam tanah." ucap Meisya.
Nayla mengangguk lemah, perlahan dia menghentikan tangisnya. "Mei, jadi aku harus apa?" tanya Nayla dengan polos.
"Apakah aku harus kembali ke Palembang? Untuk melihat nenek yang terakhir kali. Atau aku tetap berdiam diri di sini." Nayla meminta saran terbaik dari Mei.
Meisya berpikir sejenak, dia mengembuskan napasnya, sebenarnya Meisya juga bingung. Dia adalah orang yang sulit untuk memilih dua pilihan, dan keduanya sangatlah penting.
"Menurut aku, kamu tetaplah di sini. Kabari sahabatmu kalau ibumu sedang sakit. Jika Allah mengizinkan pada waktu berikutnya Nay bisa pulang ke Palembang. Tapi, nanti. Saat semua kondisinya tenang." ucap Meisya memberikan saran terbaiknya.
Beberapa detik Nayla tidak merespon. Dia masih diam, dan termenung. Seolah sedang mencerna setiap kata yang diucapkan Meisya.
"Baiklah, makasih sarannya."
Nayla segera mengetikkan balasan untuk sahabatnya yang jauh di sana. Sahabat yang sangat di rindukan Nayla. Baru satu hari, dia berpisah dengan sosok Fatimah. Namun baginya seperti sudah satu tahun. Dia benar-benar merindukan Fatimah.
Saat ini Meisya sudah pulang, setelah hampir 3 jam Mei menemani Nayla menjaga ibu Nayla di rumah sakit, Meisya memutuskan untuk pulang, saat di kabarkan bahwa penyakit ibunya kambuh lagi.
Kini Nayla sendirian menunggu di dalam ruangan kamar rumah sakit. Ruangan yang di lengkapi televisi dan sofa mewah. Ya, ruangan VVIP. Sudah tercatat jelas di rumah sakit itu, Albert menyiapkan kamar VVIP jika ada anggota dari rumahnya yang masuk rumah sakit.
Pihak rumah sakit bekerja sama dengannya, sehingga nama yang sudah tertera sebagai keluarga Albert, mendapatkan pelayanan VVIP.
Ya, bagi Albert tidak ada yang tidak mungkin. Semua bisa dia atur dengan uang dan aset kekayaannya, yang sejatinya itu bersifat sementara. Dan, jika Allah berkehendak mengambil apa yang ada padanya, maka semua akan terjadi.
Nayla membaca surah Al-Baqarah. Tepat di ayat 286 atau di ayat Akhir, Nayla meneteskan air mata. Dia lupa akan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahwa, Allah tak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan. Lantas, mengapa dia serapuh ini. Sedangkan ujian yang saat ini dia hadapi belum sebanding dengan ujian yang Rasulullah hadapi. Menghadapi banyak kaum kafir, dan berbagai macam sifat dan pandangan orang lain mengenai agama Islam.
Hingga, baginda Rasulullah mengajak banyak kaum kafir menjadi muallaf. Ya, Nayla masih berada di tahap awal. Masih belum ada apa-apanya di bandingkan perjuangan dakwah Rasulullah.
"Ya Rabb, kuatkan hamba. Jadikan hamba sebagai manusia yang selalu sabar walau sedang menghadapi masalah. Tegur hamba Ya Rabb, jika hamba sudah terlalu berlebihan dalam menyikapi ujian-Mu. Sesungguhnya, sejatinya ujian itu, adalah ujian keimanan, dan semua ada hikmahnya." ucap Nayla lirih.
"Fa, Nay rindu. Andaikan Fatimah ada di sini. Nay pasti tidak merasa sepi. Fatimah, jaga diri baik-baik ya, Nay selalu sayang Fa. Nay bakal temuin Fa, Nay rinduuuu bangett sama Fa. Maaf ya Fatimah, Nay nggak bisa melihat nenek untuk yang terakhir kalinya. Semoga Allah kelak mempertemukan kita di syurga." ucap Nayla lirih. Dia berbicara sendiri sambil menatap foto Fatimah dan dirinya yang ada di ponsel, di dalam foto itu terlihat dia sedang berpelukan dengan Fatimah dan tersenyum bahagia. Keduanya nampak mirip, walau Nayla lebih dominan seperti orang Barat.
**
-Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an dalam segala hal-
TBC