-Awali dengan Bismillah, akhiri dengan Alhamdulillah-
"Allah datangkan cobaan padamu, karena kamu mampu untuk melewatinya. Dan, tidaklah Allah jadikan sesuatu dengan sia-sia. Semua selalu ada hikmahnya."
©Indahnursf
Satu minggu telah berlalu, kondisi Diana sudah membaik, Nayla selalu menemani dan merawat ibunya.
Selama satu minggu juga Nayla tidak pulang ke rumah. Dia setia menemani ibunya di rumah sakit, hingga besok dokter memutuskan pasien boleh pulang.
"Bu, besok yakin mau pulang ke rumah?" tanya Nayla, dia menggenggam tangan perempuan lemah itu.
Diana mengembuskan napas berat, tangan rentahnya memegang wajah mulus Nayla. Di tatapnya kedua bola mata berwarna sedikit hijau itu.
"Iya Sayang, kita akan kembali ke rumah." jawab Diana.
Nayla berdecak kesal, "Bu, Ibu mau celaka untuk yang kedua kalinya?" tanya Nayla tegas.
"Nak, Daddymu itu baik. Ibu yang telah memancing emosinya." Diana berusaha membela Albert.
"Lelaki kasar itu di bilang baik? Bu, dia sudah mencelakakan Ibu. Lihat, Ibu begini karena ulahnya." Nayla mengusap wajahnya. Dia benar-benar bingung dengan pola pikir dari ibu kandungnya ini.
Apakah ini yang di namakan cinta buta? Karena sudah cinta pada orang tersebut, sehingga apapun yang di lakukannya nampak baik-baik saja. Dan tidak di permasalahkan.
Bodoh sekali, jika berpikir begitu. Jika dia memang mencintai perempuannya, mana mungkin dia berani menyakiti perempuannya tersebut. Melihat perempuannya terluka, dia pun terluka. Itu baru dinamakan cinta. Lelaki mampu melindungi perempuannya dari bahaya, atas izin Rabb-Nya. Bukan malah sebaliknya, menyakiti perempuan yang dicintainya hingga menyebabkan luka.
Jika cinta, kendalikan emosimu. Bukan melampiaskan emosi pada orang yang di cinta. Jika manusia punya iman, pasti hatinya aman. Ya, aman dari godaan syaitan, aman dari bisikan syaitan.
Karena, syaitan tidak dapat menguasai orang yang punya iman dalam dirinya. Jika kamu masih di kuasai oleh amarahmu, berarti imanmu belum mampu mengendalikan emosimu itu.
Dengan berat hati Nayla mengarahkan mobil yang ia bawa menuju rumah besar itu, Nayla berusaha berdamai dengan hatinya, agar segera memaafkan Albert.
Nayla berusha untuk husnudzon. Mungkin saat itu Albert sedang khilaf, semoga saja tidak terjadi hal buruk lainnya, itulah harapan Nayla.
"Oh, Darling. Daddy rindu padamu." Albert berjalan mendekati Nayla. Senyum lebar tanpa dosanya terlihat jelas, membuat Nayla kesal. Seperti tidak ada kata maaf darinya pada orang yang telah dia lukai hingga mengakibatkan cidera.
"Maaf ya, Bu. Daddy melakukan kekerasan pada Ibu kemarin itu tidak sengaja." Nayla mengucapkan itu dengan lantang. Seolah dia mengungkapkan kekesalannya. Mungkin dengan cara begitu Albert bisa sadar atas kesalahannya dan segera meminta maaf.
"Hahaha. Kamu memang anak yang manis, Darling." Albert mengelus pucuk kepala Nayla. Tapi dengan sigap Nayla segera menepisnya, dan mendorong kursi roda ibunya ke dalam.
"Ibu, Nay antar ke kamar ya. Biar bisa istirahat." ucap Nayla, dia berusaha tersenyum.
Setelah selesai mengantarkan sang ibu ke kamarnya, Nayla menuju dapur. Dia akan memasakkan makanan untuk ibunya. Walau rumah mewah itu sudah di penuhi dengan berbagai makanan di atas meja makan, namun Nayla enggan memakannya.
Semua makanan ada dagingnya, Nayla bergidik ngeri, dia takut jika daging itu tidak halal baginya. Lebih baik dia makan nasi dengan garam saja, daripada makan daging yang tidak halal.
Ya, Selama tinggal di rumah itu, Nayla membuat menu makanan sendiri. Sesuai dengan keinginannya, dia pun membedakan barangnya dan barang Albert. Bukan karena Nayla tidak menyukai Albert, tetapi karena Nayla ingin agar dia terhindar dari hal-hal yang di larang agamanya.
Tinggal serumah dengan orang yang berbeda agama cukup membuat Nayla lelah. Karena Albert yang tidak disiplin selalu memberikan makanan apa yang dia makan pada Nayla.
"Darling, ini ponsel barumu. Sudah seminggu lalu Daddy belikan, itu Daddy beli dari Amerika. Khusus untukmu. Ponsel lamamu, sudah Daddy buang. Itu tidak layak untukmu sebagai keturunan dari Albert." ucapnya dengan angkuh, Nayla mual mendengarnya. Andaikan membantahnya tidak menimbulkan tekanan emosi, mungkin Nayla sudah melakukannya.
"Thanks." ucap Nayla singkat, dia hanya menoleh beberapa detik benda pipih berwarna gold dengan bentuk yang menarik. Tapi, bagi Nayla itu sama sekali tidak menarik, walau benda itu di beli langsung dari Amerika, tapi bagi Nayla, benda itu sama saja seperti benda yang di jual di toko-toko di Indonesia.
Ya, tidak ada bedanya. Hanya keangkuhan yang menjadi pembeda dari benda itu. Seluruhnya di ukur dengan uang dan kekayaan.
Bukannya pergi, Albert malah tertawa melihat respon singkat dari Nayla. Seolah dia memang di takdirkan untuk menguji kesabaran Nayla, dan menguji keimanan Nayla.
"Dear, kamu mau minta apa lagi? Ayolah, apapun yang kamu pinta, akan Daddy berikan. Mintalah apapun itu." ucap Albert santai. Wajahnya seakan memancing emosi Nayla.
Nayla mengelus dadanya yang terasa panas. Kenapa semakin hari Albert semakin jadi, dengan keangkuhan yang semakin tinggi. Membuat Nayla semakin tidak suka dengan sosok lelaki keturunan Amerika itu.
"Jika aku menginginkan sesuatu, maka aku akan meminta langsung pada pemilik seluruh yang ada di langit dan di bumi. Aku akan memintanya pada Rabb-Ku. Allah Azza Wa Jalla. Maka, jika apa yang aku pinta itu terbaik untukku, maka Rabb-Ku akan mengabulkannya. Namun, jika itu tidak terbaik untukku, maka Rabb-Ku akan menggantikan itu dengan sesuatu yang terbaik untukku. Rabb-Ku, Maha Pengasih, Maha Penyayang." ucap Nayla lantang.
Nayla segera melangkah pergi. Dia tidak ingin berlarut dalam kekesalan saat mendengarkan ucapan yang tidak berfaedah dari sosok Albert.
"Ternyata agamamu sudah mempengaruhimu." Albert berkata dengan raut wajah kesal.
Nayla tidak ingin menjawab ucapan Albert. Tetapi, hatinya terasa sesak saat mendengar ucapan Albert. Semoga Allah segera memberikan hidayah padanya.
"Agamaku selalu mengajarkan hal yang benar. Tidak ada dusta sedikit pun. Apapun masalah yang ada di dunia ini, semua ada jalan keluarnya. Di dalam Al-Qur'an, Allah telah memberikan petunjuk pada hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat."
Nayla segera berlari menuju lantai atas. Dia ingin menenangkan diri di dalam kamarnya. Air mata yang dia tahan sedari tadi, kini tertumpah ruah. Nayla terus menyebut asma Allah, agar hatinya menjadi tenang.
"Laa hawla wa laa kuwwata illa billah. Kuatkan hamba, Ya Rabb. Jadikan ini sebagai ladang pahala bagi hamba yang penuh dosa ini." Nayla mengusap wajahnya, menghapus air matanya.
Nayla mencari keberadaan ponselnya, namun hasilnya nihil. Entahlah dengan cara apa Albert memisahkan Nayla dari ponselnya itu, Albert sungguh keterlaluan.
Nayla menghidupkan speaker mp3 yang sengaja Nayla bawa dari Palembang. Nayla memutar murottal mulai dari juz 1. Nayla ingin muroja'ah dengan hafalannya, Nayla tidak ingin jika hafalannya sampai terlupa, barang satu ayat pun. Karena itu sungguh hal yang sangat menyedihkan.
Perlahan Nayla membuka matanya, tepat pukul tiga dini hari. Nayla segera bangkit dan menuju toilet untuk mengambil air wudhu.
Nayla mengerjakan shalat malam seperti biasanya. Dia isi qiyyamul lail dengan shalat, tasbih, dan tilawah. Nayla sudah terbiasa seperti itu, Fatimah adalah dalang dari semuanya.
Allah datangkan Fatimah sebagai sahabat yang mampu membantu Nayla untuk berhijrah dan mengubah semuanya menjadi lebih baik lagi. Hingga detik ini, Nayla bisa seperti ini berkat dukungan dan bantuan sahabat yang saat ini dia rindukan, Fatimah Az-Zahra.
Setelah selesai shalat, Nayla terus beristighfar. Tanpa di sadari air matanya berjatuhan bagai air hujan. Dadanya kembali terasa sesak, seperti sedang menahan perih.
"Ya Rabb. Kuatkan hamba." ucap Nayla lirih.
Dia bingung dengan keadaan saat ini, dia berada di tempat yang jauh dari kesucian. Tempat yang di bangun oleh manusia yang berlandaskan keangkuhan. Apa yang harus Nayla lakukan? Bertahan, atau justru berputar arah dan kembali ke kehidupannya semula. Sungguh, ini adalah hal yang berat bagi Nayla.
Hanya satu yang Nayla inginkan, hidup di tempat yang bisa memberinga ketenangan.
Tidak terasa adzan subuh berkumandang. Nayla segera menghapus air matanya, setelah selesai adzan Nayla membaca do'a dan langsung melaksanakan shalat qabliyah subuh 2 raka'at terlebih dahulu.
Nayla telah selesai memasak nasi goreng dan membuat teh hangat dan secangkir s**u cokelat. Pagi ini dia isi menu makanan kesukaan Fatimah. Nayla sedang merindukan Fatimah, jadi menurutnya lewat makanan kesukaan Fatimah dia bisa sedikit merasakan kehadiran sosok Fatimah yang dengan lahap memakan nasi goreng di hadapannya seperti biasanya.
"Wah, sepertinya enak nih." Diana berjalan pelan mendekati Nayla yang masih sibuk menyiapkan nasi goreng di atas meja makan.
"Eh, Ibu. Sudah bisa jalan tanpa kursi roda, Bu? Apa ibu sudah kuat?" tanya Nayla memastikan.
Diana mengangguk sambil mengembangkan senyumnya. "Ibu sudah sehat kok. Semua berkat kamu." ucap Diana, dan mengelus bahu Nayla.
Nayla tersenyum tenang, "Semua berkat pertolongan Allah, dan do'a dari Nayla. Semoga Ibu selalu dalam lindungan Allah." ucap Nayla, membenarkan ucapan ibunya tadi.
Karena ucapan Diana itu terlalu sombong. Manusia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa izin Allah. Dan manusia melakukan kebaikan itu karena Allah.
Diana tersenyum, dia kagum dengan sosok putrinya. Dia teringat akan saudari kandungnya, almarhumah Siska. Kakak kandungnya dan kakak iparnya--Arya itulah yang telah membesarkan Nayla berpuluh tahun. Hingga Nayla tumbuh menjadi gadis yang baik dan juga shalihah.
"Ibu bangga padamu," ucap Diana. Dia menggenggam tangan Nayla.
"Alhamdulillah. Jangan terlalu bangga pada manusia, Bu. Sebab, baik di mata manusia belum tentu baik di mata Rabb-Nya." Nayla mengecup dahi ibunya, dia memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Sekuat apapun Nayla membeci sosok orang yang ada di masa lalunya, tetap saja dia memiliki hati yang luluh. Sejahat apapun sosok ibu kandungnya dulu, tetapi dia tetaplah wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Nayla.
Nayla sudah selesai menyiapkan sarapan, kini dia dan sang ibu sedang menunggu Albert, untuk sarapan bersama.
Sebenarnya Nayla malas jika makan bersama Albert, lelaki itu terlalu banyak bicara dan tidak ada faedahnya, membuat Nayla harus menahan rasa kesalnya.
"Good morning, Darling," Albert mengembangkan senyumnya, dia berjalan mendekati Nayla, tetapi gadis itu segera duduk untuk sarapan.
"Ayo sarapan, Dad. Kita sudah lapar." ucap Nayla Albert tersenyum dan langsung duduk di kursi tempatnya.
"Kamu makan apa, Darling?" tanya Albert heran melihat menu makanan Nayla.
"Ini namanya nasi goreng. Di coba ya." ucap Nayla sekenanya.
"Kamu yang masak?" tanya Albert memastikan.
Nayla hanya mengangguk cuek, berbeda dengan Diana. Perempuan itu tersenyum, dia berharap Albert dan Nayla bisa dekat layaknya seorang ayah dan anak. Sejak awal sikap Albert yang berlebihan membuat Diana risau, sulit mempersatukan Albert dengan putrinya.
Albert mencicipi nasi goreng buatan Nayla, setelah itu dia langsung memuntahkannya. Bukan hanya Nayla yang terkejut, Diana pun menatap Albert dengan hati yang tidak tega.
"Makanan ini sangat kuno, Dear. Bagaimana bisa kamu memasak seperti ini. Sepertinya Daddy harus mencarikan kamu seorang chef ternama di Indonesia, untuk mengajari kamu cara memasak makanan yang enak. Tidak seperti ini, makanannya terlalu kuno." ucap Albert dengan santai. Dia tidak tahu kalau ucapannya barusan sangat menyakiti hati Nayla, sesak yang Nayla rasakan saat ini.
"Albert, apa yang kamu katakan!" Diana berdiri sambil menatap Albert kesal. Sedangkan Nayla menunduk, gadis itu telah kehilangan selera makannya.
"Makanan sederhana mampu membuatmu untuk bersyukur itu jauh lebih baik, daripada makanan mewah tetapi membuatmu menjadi angkuh. Tuhan membenci manusia yang sombong dan berlebihan, saya permisi!" Nayla segera meninggalkan meja makan, dan dia segera menuju kamarnya.
Mood Nayla pagi ini benar-benar hancur. Dia menangis dalam diam. Nayla tidak akan bisa kuat jika setiap hari dia harus menangis.
Matanya sudah menunjukkan garis hitam di bagian bawah, membuat gadis itu seperti memiliki mata panda. Semua itu karena kurangnya tidur dan tidur larut malam, serta air mata yang sering keluar.
Nayla butuh kebahagiaan, seperti hidupnya dulu. Penuh kebahagiaan yang berasal dari hal sederhana. Bukan penuh dengan tangisan di dalam hidup kemewahan.
Kemewahan tidak menjamin seseorang hidup bahagia. Seperti saat ini yang sedang Nayla rasakan.
Nayla sudah berpamitan dengan Diana, kalau dia ingin keluar sebentar mencari udara segar. Dia ingin menenangkan dirinya, dan berdamai dengan suasana hatinya.
Nayla bingung ingin ke mana, dia tidak mengenal orang lain di kota besar itu selain Meisya. Teman barunya, yang berawal dari ketidak sengajaan. Nayla memutuskan untuk menemui Mei, dia ingat di mana tempat Meisya berjualan bersama orang tuanya.
Nayla memarkirkan mobilnya di samping warung yang lumayan besar. Senyum Nayla mengembang saat melihat sosok Meisya sedang asik berkutik dengan Pekerjaan sehari-harinya itu.
"Assalaamu'alaaykum," ucap Nayla.
"Wa'alaaykumussalaam. Nayyyyy." pekik Meisya, dia langsung memeluk tubuh Nayla.
"Apa kabar Ibumu, Nay. Maaf ya aku belum bisa jenguk lagi, soalnya sibuk bantuin Papa jualan. Dan Mamaku juga kemarin sakit. Maaf ya." ucap Meisya, dengan ekspresi sedih.
"Gapapa kok, Mei. Ibuku juga sudah pulang dan sudah baikan." balas Nayla.
Warung bakso yang lebih dari 5 tahun berdiri itu saat ini sedang sangat ramai. Papa Meisya--lah yang mendirikan warung itu dengan hasil jerih payahnya sendiri.
"Wah, rame sekali Mei. Nay boleh bantu?" tanya Nayla, dia ikut antusias melihat banyaknya pelanggan yang datang di warung bakso bernama 'Berkah' itu.
"Yakin kamu mau bantuin, nanti daddy-mu marah," tanya Meisya, khawatir.
Nayla langsung menggeleng. "Tidak ada hak dia memarahiku." ucap Nayla sambil terkekeh.
Nayla membantu Meisya mencatat pesanan pelanggan, dan menyiapkan makanan pesanan mereka.
Sebenarnya warung itu lebih kepada seperti cafe, hanya saja tempatnya tidak terlalu menonjol dan bernuansa sederhana. Dengan warna tosca dan di penuhi dengan mp3 murottal yang sengaja di putar oleh papanya Meisya.
"Oh iya Nay, ba'da zuhur nanti akan ada pengajian rutin di masjid kemarin. Mau ikut?" tawar Meisya, dia melihat Nayla begitu antusias membantunya.
"Wah, boleh. Tapi nanti Nay pulang dulu ya, Mei. Soalnya belum izin sama ibu." ucap Nayla, Meisya mengangguk.
Setelah mendapatkan izin dari ibunya, Nayla melajukan mobilnya menuju warung bakso Meisya, untuk menjemput gadis itu.
"Sudah siap?" tanya Nayla, Meisya mengangguk.
"Pa, Mei ke masjid dulu ya." pamit Meisya pada papanya. Lelaki paruh baya itu mengangguk, Nayla juga ikut berpamitan. Dan setelah itu keduanya langsung menuju masjid.
"Pemateri hari ini siapa Mei?" Nayla bertanya saat sudah memasuki masjid.
Masjid itu nampak ramai dengan ibu-ibu yang datang, untuk kalangan remaja tidak terlalu banyak. Hanya berkisar 5 sampai 10 orang saja.
Ya begitulah, zaman sekarang remaja jarang mendatangi tempat mulia seperti masjid. Padahal, dari mendatangi kajian, para remaja bisa mencharge imannya. Dan meningkatkan ketakwaannya.
"Ustadz muda kemarin. Kak Ilham." ucap Meisya, keduanya langsung mengambil wudhu untuk melaksanakan salat zuhur karena adzan telah berkumandang.
"Yang adzan sekarang ini, itu Kak Ilham. Suaranya, bagus banget." puji Mei, Nayla hanya menyimak tetapi dalam hatinya menjalar rasa kagum, dia penasaran dengan sosok lelaki yang sejak kemarin sempat melintas di pikirannya.
-Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an dalam segala hal-