-Awali dengan Bismillah, dan akhiri dengan Alhamdulillah-
Allah SWT berfirman :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad 47: Ayat 7)
"Kenapa kamu terlihat sangat baik di hadapan manusia, padahal kamu sering melakukan maksiat. Ya, karena Rabb-Ku sangat baik pada hamba-Nya, dia menutupi aibku, dan membuatku seperti sempurna di hadapan manusia."
©Indahnursf
Untuk kedua kalinya Nayla menangis mendengar tausiyah singkat dari ustadz muda itu. Kali ini Nayla merasa benar-benar tertampar oleh materi yang di sampaikan.
Ya, materi yang telah selesai di sampaikannya yaitu, 'Allah Maha Baik'.
Hal yang paling menampar Nayla yaitu, kata-kata yang dapat menyadarkan Nayla, bahwa dia bukanlah manusia baik, hanya saja Allah menutupi semua aib-aibnya, sehingga dia terlihat baik di mata manusia.
Padahal segala keburukan yang ada, dan dosa yang bagaikan buih di lautan terus saja bertambah. Namun, karena Kemahabaikan Allah, Dia tutupi semua dosa-dosa itu. Bahkan akan Allah hapuskan semuanya, semua dosa itu akan Allah hapuskan jika seorang hamba benar-benar bertaubat. Dan menjalankan semua kewajibannya. Tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari hal itu. Bahkan dengan bangganya menyombongkan semua yang ia punya. Sadarkah diri, bahwa semuanya adalah titipan dari Illahi.
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)
"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 54)
"Ya Rabb, maafkan hamba, Engkau selalu menutupi aib-aib hamba, sehingga manusia sering mengira bahwa hamba adalah manusia yang baik. Padahal, hamba masih sering melanggar Perintah-Mu." ucap Nayla lirih.
Meisya ikut menangis, dia memeluk tubuh Nayla. Meisya pun merasakan hal yang sama, dia juga bukanlah manusia yang baik. Melainkan hanyalah seorang hamba yang berlimpa dosa.
Setelah melaksanakan shalat, Meisya dan Nayla akan pulang, tetapi Nayla masih bergejolak dengan hatinya.
Nayla merasa sangat berat jika harus melangkahkan kakinya menuju rumah itu. Tapi mau bagaimana lagi, semua adalah takdir yang terbaik untuknya.
Nayla menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang mampu menenangkan hatinya, suara itu benar-benar indah. Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang keluar dari mulut lelaki itu mampu membuat hati Nayla bergetar.
"Siapa yang mengaji itu?" tanya Nayla pada Meisya dengan serius.
Meisya diam sejenak, dia berusaha mencerna suara yang sedang mengaji itu. "Oh, itu Kak Ilham, anak ustadz Habib." jawab Meisya, dia sudah biasa mendengar suara yang sangat indah itu.
Muhammad Ilham Al-Habib, anak dari ustadz Al-Habib. Ilham adalah seorang lelaki alim, dia mendapatkan banyak penghargaan dari prestasinya. Bukan hanya pintar dalam hal agama, Ilham juga pintar dalam pendidikan.
"Meisya, ustadz muda itu..., eh maksud aku kak Ilham itu terkenal ya di sini?" tanya Nayla memastikan.
Meisya mengangguk menanggapi ucapan Nayla, setelah itu dia segera bersiap untuk pulang.
Hampir lima menit Meisya mengamati Nayla yang masih setia duduk di dalam masjid, Meisya juga ikut menikmati lantunan ayat suci yang di bacakan oleh sosok Ilham.
"Nayla, mau pulang nggak nih?" tanya Meisya, saat sosok Ilham telah mengakhiri bacaan Al-Qur'an-nya. Sedangkan Nayla masih setia terduduk seperti tidak ingin pergi dari masjid itu.
Nayla gelagapan, dia baru tersadar dari lamunannya. "Ehh, iya Mei. Ayo." Nayla segera berjalan mendekati Meisya.
Sepanjang perjalanan Nayla tidak bisa mengalihkan pikirannya. Lantunan ayat suci Al-Qur'an masih teringat oleh Nayla.
"Nay, kamu sakit?" Meisya memegang dahi Nayla, sejak tadi dia bingung kenapa Nayla hanya diam dan fokus membawa mobil. Biasanya dia selalu mengajak Meisya bercerita, walau hanya hal-hal kecil yang mereka bahas.
"Ehh, nggak kok." Nayla mengembangkan senyumnya sekilas. Entahlah, dia juga bingung kenapa sedari tadi memikirkan sosok suara merdu yang terekam di ingatannya.
Nayla berhenti di ambang pintu. Kakinya terasa berat untuk melanjutkan langkahnya memasuki rumah megah itu. Segala kesakitan yang dia rasakan di rumah itu seakan membuat dia ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Darling. Why?"
Nayla terkejut, saat sosok Albert muncul tepat di hadapannya. Nayla tersenyum malas, ingin sekali Nayla tidak mau melihat wajah Albert sehari saja. Dari awal ia melihat lelaki itu hingga detik ini, tidak ada rasa cinta ataupun kasih sayang yang tumbuh dari hatinya.
"Nay lelah, mau istirahat." ucap Nayla, dia segera masuk tanpa menatap wajah Albert. Dia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya yang menurutnya sudah terlalu penat.
"Darling? Come on baby." Albert tersenyum lebar. Baru kali ini Nayla melihat Albert sebahagia ini.
"Why, Dad?" Nayla menatap Albert malas.
"Ckck, smile! Your smile it's beautiful." Alber merangkul bahu Nayla.
Nayla menahan rasa panas di dadanya. Sungguh, berhadapan dengan Albert benar-benar ujian kesabaran dan keimanan.
Nayla tersenyum sekilas, setelah itu dia kembali menunduk. Nayla benar-benar merasa risih berada di dekat Albert, padahal darah yang ada di tubuhnya itu, adalah keturunan darah lelaki yang berada di hadapannya.
"Nanti malam, akan ada hadiah terindah untukmu. Persiapkan dirimu, semua kebutuhan nanti malam akan di bawa ke kamarmu, Darling." jelas Albert.
Nayla menarik napas panjang. Drama apa lagi yang harus dia perankan?
"Oh, yeah. Nanti malam jangan kenakan pakaian kuno itu. Please, Darling. Sekarang ini jaman sudah modern, model baju sudah sangat banyak. Kamu tinggal pilih saja mau yang mana. Oh, apakah Daddy harus mencarikan design khusus untukmu? Daddy yakin, kamu tidak terlalu tahu tentang mode berpakaian. Di negara maju, jarang sekali orang menggunakan pakaian sepertimu. Pakaian seperti itu sudah tidak berlaku lagi. Kuno sekali itu, berpakaian seperti berselimut. Hah, benar-benar lucu." Albert tertawa sumbang. Ucapannya seolah memojokkan gamis dan jilbab panjang yang setiap hari Nayla pakai.
Nayla menahan amarah yang meluap di dalam hatinya. Dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya jika itu sudah berurusan dengan kewajiban yang di perintahkan oleh Allah kepada setiap hamba.
Penilaian Albert mengenai pakaiannya benar-benar di luar batas, di mana rasa toleransinya? Terlebih lagi yang ia katakan itu adalah anaknya sendiri.
"Dakwah itu tidak mudah. Banyak sekali rintangan yang harus kita hadapi. Jangan pernah lelah untuk berdakwah, ingatlah bahwa ujian yang kita hadapi saat berdakwah, tidak sebanding dengan ujian yang Rasulullah hadapi. Jadi, jangan pernah menyerah. Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah juga akan menolongnya dan meneguhkan hatinya." Ucapan Ilham beberapa hari lalu saat mengisi tausiyah kajian rutinitas mereka. Masih terngiang di dalam pikiran Nayla.
"Mohon maaf, saya tidak membutuhkan desainer manapun dan model pakaian berbentuk apapun itu. Saya tidak membutuhkan semuanya, terima kasih atas kebaikan anda. Jika anda menginginkan saya tetap berada di sini, saya mohon dengan hormat agar tidak mengganggu dan mengusik kehidupan saya. Ya, saya tahu, niat anda baik. Karena anda menyayangi saya, dan begitu juga dengan saya. Saya menghargai anda sebagai Ayah kandung saya. Maka dari itu, jangan pernah melarang saya, dan apa yang sudah ada pada diri saya. Saya pun begitu, jadi sekali lagi saya mohon dengan hormat, jangan mengusik hidup saya jika menginginkan saya di sini." Nayla menarik napas panjang. Dia berusaha untuk tidak berkata kasar dan tetap berdakwah dengan cara halus. Ini adalah ujiannya untuk menyebarkan agama Allah.
"Ini adalah pakaian yang semestinya di pakai oleh setiap kaum wanita di luar sana. Ini pakaian yang anda anggap seperti selimut, kelak akan membantu para wanita yang memakainya menuju syurga. Ya, karena Allah menghargai setiap wanita, maka Allah perintahkan untuk menutup aurat bagi setiap wanita yang sudah baligh. Bukan mengumbarnya dengan cara berpakaian kurang bahan. Aurat adalah harga mati! Saya mohon, jaga ucapanmu. Berpikirlah sebelum berbicara, berpikirlah sebelum bertindak. Kelak apa yang anda ucapkan, akan diminta pertanggung jawaban. Jangan sampai karena ucapanmu itu, membuat semua amal baikmu di hapuskan di hadapan Allah. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosamu." Nayla menghapus air matanya, dan dia segera memutar posisinya. Rasa lelah dan niatnya untuk beristirahat seakan hilang begitu saja. Yang dia arasakan saat ini adalah mengadu kepada Allah, mencurahkan semua rasa sedihnya.
Albert mematung memandangi setiap langkah kaki Nayla, dia berpikir keras tentang semua ucapan Nayla barusan.
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Toleransi tanamkan dalam dirimu."
Setelah mengatakan itu Nayla benar-benar pergi. Namun dia tidak membawa mobil, dia berlari ke arah kanan.
"Darling."
Albert memanggil Nayla, namun suaranya itu tidak membuat Nayla memutar langkahnya.
"Sial. Fanatik sekali dirimu, dear." ucap Albert. Dia membanting pintu dengan sangat keras.
Beberapa pasang mata menatap Nayla bingung. Namum gadis yang di tatap itu tidak peduli, dia terus berlari. Yang ada di dalam pikirannya saat ini yaitu 'masjid'.
Ya, hanya ke masjid ia akan tenang. Hanya mengadu kepada Allah hati menjadi nyaman. Hanya dengan shalat membuat hati jauh dari maksiat.
Nayla berhenti di depan pintu masjid. Masjid yang setengah jam lalu dia datangi untuk menimbah ilmu bersama teman-temannya, termasuk Meisya.
Kini masjid itu sudah sepi, shaf bagian perempuan sudah kosong. Hanya terdengar suara dari shaf laki-laki. Suara seseorang yang sedang mengaji.
Nayla tertegun saat mendengar suara itu jelas sekali, suara mengaji yang dulu menyambutnya saat pertama kali memasuki masjid itu.
Isak tangis Nayla semakin jadi, saat mendengar surah yang di bacakan oleh lelaki itu. Surah yang menjelaskan tentang kekuasaan Allah.
Allah Pemilik Kerajaan. Allah Pemilik apa yang ada di Langit dan di Bumi. Semua yang ada di bumi Allah ciptakan untuk hamba-hamba-Nya. Jika hamba itu beriman dan mensyukuri nikmat yang Allah beri, maka Allah akan menambah nikmat itu.
Isak tangis Nayla semakin jadi. Dia benar-benar menangis, tidak bisa mengontrol air mata yang keluar. Seolah mengalir begitu saja.
Nayla memutuskan untuk mengambil wudhu, namun saat ia selesai berwudhu rasa sesak itu kembali terasa. Alhasil Nayla menangis lagi, dia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya.
Hanya Allah yang mengetahui apa yang ia rasakan saat ini. Manusia tidak ada daya dan upaya, semua atas izin Allah.
Setelah hampir 5 menit tangis Nayla belum juga reda. Matanya terlihat lelah dan membengkak. Hidungnya memerah dan suaranya serak. Namun Nayla tidak peduli akan hal itu. Ucapan Albert seakan terus berputar dalam memori otaknya. Setiap ucapan Albert selalu membuatnya kesal. Namun, ucapan hari ini, benar-benar di luar dugaan Nayla.
"Laa tahzan,"
Nayla tersentak saat mendengar suara seseorang dari balik hijab. Lelaki itu memberikannya beberapa lembar tisu. Nayla mematung kaku, apakah suara tangisnya tadi benar-benar mengganggu orang lain.
Sungguh, Nayla di luar kesadarannya. Dia menangis sesuai dengan kondisi dan suasana hatinya saat ini. Hingga ia melupakan posisinya di dalam masjid yang masih ada orang lain.
Perlahan Nayla mengambil tisu yang diberikan oleh lelaki di balik hijab itu, Nayla berusaha menghentikan tangisnya.
"Syukron," ucap Nayla.
"Afwan, jika telah mengganggumu. Saya hanya berpesan, janganlah kamu bersedih. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar."
Deggg,
Nayla terkejut, dia baru sadar bahwa lelaki yang sedang mengajaknya berbicara saat ini adalah Ilham. Ustadz muda yang selalu menyampaikan materi saat waktu kajian.
Ilham seakan tahu permasalahan yang sedang Nayla hadapi. Ucapannya seakan menyadarkan Nayla, bahwa dia harus kuat. Dia harus terus meneruskan dakwah Rasulullah. Menolak yang bathil, dan menegakkan kebenaran di manapun dia berada dan dengan siapapun, jika salah, maka akan tetap salah dan jika benar, maka tidak ada kata lain selain benar.
"Ustadz Ilham?" tanya Nayla, memastikan.
Info : Hijab adalah pembatas. Yang bisa membatasi sesuatu. (Pembatas masjid antara shaf ikhwan dan akhwat, itu bisa di sebut sebagai hijab).
-Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an dalam segala hal-
**
Allah SWT berfirman:
لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
lakum diinukum wa liya diin
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)