-Awali dengan Bismillah, dan akhiri dengan Alhamdulillah-
**
"Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat." {Ibnu Qayyim}
©Indahnursf
"Kamu kenal saya?" tanya Ilham penasaran.
"Ya, saya salah satu dari yang datang di kajian rutin yang Ustadz sebagai pematerinya." jawab Nayla, dia menyeka ujung matanya yang masih mengeluarkan cairan bening.
Ilham mengangguk, walau dia tidak tahu siapa wanita di balik hijab ini, tapi dia yakin wanita itu adalah penduduk di sekitar sini.
"Kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu bersedih?" Ilham memberanikan diri untuk bertanya. Dia tidak bermaksud untuk ikut campur urusan orang lain, dia hanya ingin mencoba untuk membantu wanita itu.
"Hatiku hancur." ucap Nayla pelan, dia terisak lagi.
"Kamu putus cinta?" Ilham memastikan.
Nayla tercengang mendengar ucapan Ilham. 'putus cinta'. Sungguh ini lebih sakit dari pada putus cinta.
"Apa yang mau aku putusin. Nyatanya cinta halal belum aku dapatkan." ucap Nayla spontan.
"Oh, maaf. Aku kira masalahmu sama seperti perempuan yang lain. Menangis karena putus cinta sama manusia, yang terkadang membuat miris, orang itu bukanlah mahromnya." lanjut Ilham. Dia ikut terhanyut dalam pembahasan yang tidak di sengaja itu.
"Ini lebih sakit dari putus cinta. Aku bingung harus bertahan atau justru pergi. Aku tidak menyukai dia," Nayla semakin terisak. Kenapa setiap hari kebimbangan dan kegalauan selalu dia rasakan. Sulit sekali untuk menerima keadaan, bukan berarti Nayla tidak bersyukur. Hanya saja, Nayla takut imannya menjadi turun karena berhadapan dengan orang yang benar-benar menguras emosinya.
"Shalatlah. Mintalah petunjuk pada Allah. Allah mengujimu karena kamu mampu. Dan kamu bertahan hingga detik ini, karena kamu mampu. Memang terkadang manusia akan berada pada titik akhir dari kelemahannya. Semua itu membuat ia harus memilih dari dua pilihan. Bertahan atau pergi." Ilham mencoba untuk memberikan saran dan masukan pada gadis di balik hijab.
"Bagaimana perasaanmu, selama 20 tahun tidak bertemu orangtua kandungmu. Dan saat bertemu ternyata ayah kandungmu itu tidak satu keyakinan denganmu? Dan, ayah kandungmu selalu bertolak belakang dengan latar belakang kehidupanmu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nayla.
"Eh, maaf. Maksud saya, ustadz." Nayla membenarkan ucapannya yang seolah menganggap lawan bicaranya adalah teman sebaya. Padahal lawan bicaranya adalah orang yang ilmu pemahamannya lebih tinggi dari Nayla, walau usianya dan ustadz muda ini tidak beda jauh.
"Jangan seperti itu. Saya lebih senang di panggil nama, karena saya masih fakir ilmu. Masih belum pantas menyandang panggilan ustadz. Hanya berbagi apa yang pernah saya dapatkan dari guru saya." ucap Ilham merendah.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang. Apakah kamu orang baru di sini?" tanya Ilham.
"Iya, saya baru berapa bulan di sini." Nayla memang baru berapa bulan tinggal bersama orangtua kandungnya, namun bagi Nayla seperti sudah berpuluh tahun. Hidup dalam perbedaan yang sulit untuk di satukan.
"Maaf, apakah kamu anaknya seorang Turis? Maksud saya bapak Lambertus Albert?" Ilham mencoba memastikan tebakannya.
"Karena beberapa bulan lalu, terdengar berita tentang kedatangan anak bapak Albert." lanjutnya.
"Iya, Albert ayah kandung saya. Kamu mengenalnya?"
"Semua warga di sini mengenal bapak Albert." jelas Ilham.
Nayla tersenyum samar, dia tidak heran jika sosok Albert banyak di kenal masyarakat, Meisya pun pernah cerita pandangan masyarakat terhadap sosok Albert, yang tak lain adalah ayah kandung Nayla.
"Terkenal karena keangkuhannya? Atau terkenal karena kekerasannya?" Nayla to the point.
"Terima kasih, ustadz. Saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang baik seperti Ustadz." gumam Nayla. Dia tersenyum samar ke arah lelaki yang berdiri dua meter darinya.
"Allah mempertemukan kita bukan suatu kebetulan. Melainkan takdir dari-Nya." ucap Ilham. Dia menatap sekilas sosok Nayla. Gadis bertubuh imut itu kentara sekali dia sedang tidak baik. Sorot matanya memancarkan kepedihan.
"Maaf kalau saya sampai bercerita masalah saya pada Ustadz Ilham. Saya bukan cengeng, hanya saja saya bingung untuk melakukan sesuatu. Terlebih saya tidak mengenal siapa pun di sini selain Meisya." Nayla berkata lirih.
"Tidak masalah, saya bersyukur jika bisa membantu kamu walau hanya sebagai pendengar." gumam Ilham.
"Semoga Allah membalas semua kebaikan Ustadz. Dan semoga Allah masih mengizinkan saya mendengar tausiyah dari Ustadz." balas Nayla. Dia memejamkan matanya beberapa detik. Berusaha untuk menetralkan detak jantungnya dan menenangkan pikirannya.
"Bersabar dan berdoa. Meminta yang terbaik pada Allah. Saya berdoa semoga Allah segera memberikan jalan keluar untuk ujianmu." gumam Ilham. Nayla mengamini dalam hati.
"Kalau saya boleh tahu, kamu selama ini tinggal di mana?" tanya Ilham penasaran.
Nayla terdiam, dia menatap sekilas sosok Ilham, kemudian kembali menunduk. Nayla mengembuskan napas panjang, berat sekali rasanya jika mengingat kehidupannya yang nyaris berubah 180 derajat.
"Hmm. Afwan. Tidak usah di jawab. Mending sekarang kamu pulang. Jangan lupa tersenyum. Senyum itu bisa mengurangi rasa sesak dalam hati, dan jangan lupa bersyukur." Ilham memberi saran. Kemudian dia mengucap salam dan berlalu pergi.
Setelah selesai melaksanakan salat subuh berjama'ah, Ilham segera pulang ke rumahnya. Dia masih memikirkan tentang mimpinya semalam.
Baru kali ini Ilham bermimpi seperti itu, mimpi yang tidak biasanya. Apa arti dari mimpi itu? Itulah yang ada di benak Ilham sejak tadi. Memimpikan seseorang yang baru di kenalnya. Sungguh, itu membuat Ilham benar-benar bingung.
Kenapa bayangan perempuan tadi terus terngiang di pikiranku.
Ilham segera istighfar. Dia tidak mau mengikuti bisikan syaitan, dia tahu dia tidak ada ikatan apapun dengan perempuan bernama Nayla, yang menangis di hadapannya kemarin siang.
Di sisi lain Ilham tidak menyangka, seorang Albert yang terkenal akan kekejamannya dan keangkuhannya mempunyai seorang putri yang baik hati seperti Nayla. Terlebih utamanya Nayla seorang Muslim, yang berbeda keyakinan dengan Albert.
"Bertahan di satu atap dengan orang yang berbeda keyakinan itu cukup sulit. Apalagi jika orang yang tidak memiliki toleransi."
Ucapan Nayla masih terngiang di ingatannya. Ya, Ilham bisa mengerti bagaimana sulitnya bagi Nayla yang harus berhadapan dengan sosok Albert. Ilham baru mengenal Alber, namun, hampir seluruh penduduk tahu dengan sikap Albert.
Ilham seakan ikut berperan dalam ujian yang Nayla hadapi, saat Nayla menceritakan siapa dia sebenarnya dan siapa sosok Albert itu.
"Lindungilah dia Ya Rabb, dia perempuan shalihah. Istiqomahkan hatinya dalam ridho-Mu." ucap Ilham saat ia selesai berdo'a. Ilham yakin, ujian Nayla cukup membuatnya harus lebih kuat. Walau pada kenyataannya Nayla hanyalah seorang wanita lemah.
Di sisi lain, Nayla baru selesai berdo'a. Hampir satu jam ia melabuhkan do'a-do'anya pada sang Khalik, Pemilik segala yang ada di langit dan di bumi. Dan atas izin-Nya lah semua ini terjadi.
Nayla memutuskan untuk tetap pulang dan bertahan bersama kedua orangtuanya setelah mendengar saran dari Ilham.
"Ingatlah, Allah akan selalu menguji hamba-hamba-Nya. Maka, kita harus hadapi ujian itu dengan bersabar dan berdo'a, ujian datang karena bukti kecintaan-Nya kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Bisa jadi Allah mengujimu untuk meninggikan derajatmu, dan dicatat sebagai hamba yang bertaqwa. Dan bisa jadi Allah ingin memberikan hidayah pada kedua orangtuamu melalui kamu, maka bersabarlah dan jangan lupa untuk selalu mendo'akan mereka. Wallahu'alam bishawab."
Kata-kata Ilham kemarin sedikit namun sangat bermakna bagi Nayla. Apa yang dikatakan Ilham benar. Bisa jadi Allah akan mengirimkan hidayah pada kedua orangtuanya melalui dirinya.
Sekeras apapun hati seorang manusia, jika Allah berkata Kun Fayakun. Maka tidak ada yang bisa berkuasa. Semua lemah dan atas izin Allah semua terjadi.
"Nay, cantik banget." Suara Diana mengalihkan pandangan Nayla yang semula menatap dirinya di kaca.
Nayla tersenyum, kemudian dia mencium tangan ibunya, "Ibu juga cantik." balas Nayla.
"Nak, boleh Ibu bertanya satu hal?" ucapnya kemudian duduk di tempat tidur Nayla.
Sejak ia menginjakkan kakinya di rumah besar itu, Nayla perlahan bisa memaafkan kesalahan ibunya. Ya, karena hanya dengan ikhlas hatinya bisa menjadi damai.
Allah telah mengatur sedemikian rupa, jadi harus disyukuri dan ikhlas. Allah Sebaik-baik Penolong.
"Jangan ragu untuk bertanya pada Nay, Bu. Tanyakan saja." jawab Nayla, dia menyandarkan kepalanya di bahu rentah sang ibu.
Nayla rindu akan kasih sayang. Dulu, saat ia masih SMA hingga seminggu sebelum Mamanya meninggal, Nayla paling suka menyender dan memeluk Mamanya.
Siska dan Diana memang mirip. Hal itulah yang membuat Nayla bisa menyayangi Diana seperti ia menyayangi Siska, sosok bibi yang seperti ibu sendiri bagi Nayla.
"Nay, jika seseorang ingin bertaubat tetapi dosanya sudah sangat banyak. Apakah Allah masih menerima taubat itu?" tanya Diana, dia menatap Nayla nanar.
Nayla tersenyum, lalu memegang kedua tangan ibunya, dia mengecup lembut tangan itu. Wanita yang akan ia sayangi. Ia akan berusaha menghapus semua rasa kesal, dendam, amarah, dan kesedihannya pada Diana, ibu yang telah melahirkannya.
"Bu, Allah selalu menerima taubat seorang hamba, hingga nyawa sampai di kerongkongan. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Allah Maha Baik, Allah Maha Penyayang, dan Allah Maha Pengampun." Nayla memeluk ibunya yang menangis tersedu.
Nayla merasa bahwa apa yang di ucapkan oleh Ilham kemarin benar-benar terjadi. Mungkin Allah ingin memberikan hidayah pada kedua orangtuanya melalui dirinya. Ya, tidak ada yang tidak mungkin.
Husnudzon.
"Tapi Nay, Ibu banyak sekali dosanya. Ibu selalu meninggalkan kewajiban Ibu sebagai seorang muslim. Ibu tidak menutup aurat Ibu sebagaimana mestinya. Ibu sering menyalahkan takdir Allah. Dan, Ibu--" Diana kembali terisak. Kini dia menangis semakin jadi, air matanya benar-benar tumpah ruah.
Nayla ikut menangis. Bahagia, sedih, senang, bercampur menjadi satu. Dia bahagia, Allah mengabulkan do'anya. Do'a yang hampir setiap habis shalat ia panjatkan, ia labuhkan doa'nya pada Sang Pencipta.
"Bu, pernah mendengar kisah Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu. Sahabat terdekat Rasulullah? Bahkan ia seorang Amirul Mukminin yang artinya Pemimpin Umat Muslim. Umar bin Khattab yang terkenal dengan gelar Al-Farooq, yang artinya yaitu 'orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebathilan'. Dia adalah orang yang sangat membenci Islam, bahkan beliau sempat berencana ingin membunuh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam." Nayla menyeka ujung matanya, air matanya benar-benar sulit untuk di kendalikan. Cairan bening itu terus keluar, saat ia kembali teringat akan kisah salah satu sahabat nabi yang bernama Umar bin Khattab.
"Umar bin Khatab adalah sosok orang yang tegas, pemarah, dan juga keras. Ia sangat memusuhi kaum Muslimin. Tetapi, Allah datangkan hidayah padanya. Dikisahkan, pada suatu malam Umar datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan salat Rasulullah Shallallahu 'Allaihi Wasallam. Waktu itu, Rasulullah membaca surah Al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy”.
Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40 dan 41 (yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan syair). Lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat ke 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan dukun) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam." Nayla menjeda ucapannya beberapa detik.
"Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya, dan ia bermaksud ingin membunuh Rasulullah Shallallahu 'Allaihi Wasallam. Dalam perjalanannya, beliau bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau ke mana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lalu lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.” Kemudian Umar segera bergegas mendatangi saudara perempuannya yang sedang belajar Alqur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.”
Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Saudaranya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan itu Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudara perempuannya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya. Ketika melihat wajah saudarinya berdarah, Umar menjadi iba kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.
Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.
Ketika Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, “Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.”
Waktu itu, Rasulullah SAW sedang berada di rumahnya.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam."
(Sumber : https:/amadan.sindonews.com)
Diana semakin menangis. Dia memeluk tubuh mungil Nayla sambil sesegukan. Dia benar-benar terharu terhadap kisah Umar bin Khattab. Dulu, saat ia masih kecil, ayahnya sering bercerita tentang sahabat Rasulullah, salah satunya yaitu Umar bin Khattab. Tetapi, karena Diana berbeda dengan sosok Siska, dia tidak mau mendengar, hanya mengetahui namanya saja.
Hingga hari ini Allah hadirkan Nayla, anak kandungnya. Diana bersyukur, karena Nayla di besarkan dan dididik oleh pasangan yang baginya lebih baik dari sosok dirinya sendiri. Siska dan Arya, saudara kandungnya dan kakak iparnya itu telah mendidik Nayla dengan benar. Hingga Nayla bisa menjadi wanita tangguh dan shalihah seperti saat ini.
"Bu, Allah memberikan hidayah pada orang-orang yang Dia kehendaki. Jika Ibu mendapatkan hidayah itu, maka genggamlah hidayah itu hingga akhir hayat. Karena, hidayah tidak bisa di dapatkan oleh sembarang orang. Dan jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada, karena kita tidak tahu batas usia." titah Nayla, dia menghapus air mata yang sudah membasahi wajah ibunya.
"Bantu Ibu, Nay. Bantu Ibu. Ajari Ibu agar bisa menjadi wanita lebih baik lagi. Ajari Ibu shalat dan mengaji, Nay." Pinta Diana dengan bersungguh-sungguh.
Nayla mengangguk dan kembali memeluk ibunya, "Iya Bu, Nayla akan bantu Ibu. Kita akan sama-sama belajar menjadi hamba yang berada di jalan kebenaran. Kita akan sama-sama belajar, Bu." ucap Nayla.
"Nayla sayang Ibu. Nayla ingin agar Ibu dan Daddy bisa berubah. Nayla ingin kita semua bisa berada di syurga-Nya Allah. Nayla ingin sekali mendengarkan dua kalimat syahadat itu terucap dari mulut Daddy." ucap Nayla.
Nayla menatap nanar mata ibunya. Dia berharap suatu saat nanti, Allah mengabulkan do'a yang selalu ia panjatkan. Ia ingin mendengar dua kalimat syahadat terucap dari bibir Albert. Ayah kandungnya Nayla.
Tanpa Nayla dan Diana sadari Albert tengah mendengar ucapan keduanya dari balik pintu. Wajah Albert benar-benar terlihat memerah, matanya menjelit, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa ngeri.
"TIDAK AKAN MUNGKIN!"
Pintu yang semula tertutup kini terbuka lebar. Sosok Albert dengan napas yang tidak beraturan menatap Nayla dan Diana dengan tatapan membunuh.
Nayla terkejut melihat sosok Albert. Dia langsung beristighfar agar tidak terbawa bisikan syaitan, dan menghadapi semuanya dengan sabar dan ikhlas.
Prakkkkkk.
Lima jari besar itu kini mendarat di wajah putih Nayla. Mata Albert menunjukkan sebuah kebencian, kebencian yang tidak pernah Nayla lihat sebelumnya.
Sosok Albert saat ini benar-benar seram dan menakutkan. Perlahan air mata Nayla jatuh bersamaan dengan jatuhnya darah kental dari ujung bibir Nayla. Diana yang menyaksikan putri yang sangat ia sayangi terluka segera ia menghentikan tindakan Albert yang menurutnya keterlaluan.
"SAMPAI SAYA MATI PUN SAYA TIDAK AKAN MELAKUKANNYA."
Albert menarik paksa jilbab panjang yang Nayla pakai. Dengan sekuat tenaga Nayla menahan tangan Albert agar tidak membuka jilbabnya. Bagi Nayla, auratnya harga mati. Tidak ada yang boleh melihat auratnya sembarangan kecuali mahramnya.
"Sejak dulu saya membenci ini, saya selalu sabar dan menahannya. Saya benci ini, buka kerudungmu. Saya benci ini." ucap Albert napasnya semakin tidak beraturan.
"ALBERT! HENTIKAN!" teriak Diana tidak terima putrinya di perlakukan dengan sangat kasar.
Nayla tidak bisa melawan, badannya terasa sangat lemah dan matanya sudah berkunang-kunang. u*****n kasar Albert masih bisa ia dengar, namun dia tidak bisa menjawab.
Bibir Nayla terus mengeluarkan darah. Dia terus merapalkan asma Allah. Beristighfar, karena sebaik-baik penolong yaitu Allah Azza Wajalla.
"Saya membenci kain ini, Nayla. Saya membenci agamamu. Kalian semua sok suci!" Albert kembali menarik kerudung Nayla, hingga beberapa helai rambut Nayla terbuka.
"Laa hawla wa laa kuwwata illa billah."
Bruakkkk
-Utamakan Shalat dan Membaca Al-qur'an Dalam Segala Hal-