-Awali dengan Bismillah dan akhiri dengan Alhamdulillah-
"Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak."
(Khalifah Ali bin Abi Thalib)
"Albert, kamu benar-benar keterlaluan. Dia anak kita, dia putri kita, darah daging kita. Kenapa dengan teganya kamu menyakitinya. Albert..., aku sangat menyayanginya. Aku mohon, ini adalah perbuatan terakhirmu menyakiti hati dan fisiknya, aku mohon." ucap Diana lirih.
Diana tak berhenti menangis. Dia benar-benar merasa sesak saat melihat darah terus keluar dari ujung bibir Nayla, dan juga dari hidungnya. Hingga dua jam Nayla masih belum sadarkan diri.
Nayla sempat kritis karena kekurangan darah. Sosok Albert yang memiliki badan besar dan kuat membuat Nayla yang kecil tidak berdaya. Sungguh, Diana tidak tega melihat Nayla tersakiti bahkan oleh lelaki yang dia cintai sekalipun.
"Please! Berhenti menyalahkan saya. Kamu tahu kan saya tidak menyukai agama kalian. Jadi jangan memancingku akan hal itu. Aku juga menyayangi dia, Nayla putriku!" ucap Albert membela diri.
Allah telah menutup mata hatinya, sehingga ia benar-benar sulit membedakan antara kebenaran dan kebathilan. Dengan tangannya sendiri ia telah menyakiti putrinya yang ia katakan kalau ia mencintainya, sungguh humor tidak selucu itu.
Diana memilih diam, ia menyandarkan kepalanya di dinding. Ia terus beristighfar, dan berdo'a agar Nayla segera sadar. Ia benar-benar takut kehilangan Nayla, karena kekuatannya hanyalah Nayla. Diana ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu pada putrinya itu.
"Permisi, Nona Nayla sudah sadar. Silakan jika ingin menemuinya. Tetapi jangan memaksakan pasien, karena Nona Nayla harus banyak istirahat." Instruksi suster, setelah keluar dari ruangan dingin itu.
Diana langsung masuk, ia melihat sosok Nayla kini sedang shalat, membuat Diana berhenti tepat di samping bangsal Nayla. Diana meneguk salivanya. Sosok Nayla benar-benar menampar dirinya yang selalu lalai akan kewajiban sebagai seorang hamba.
Saat Diana akan membawa Nayla ke rumah sakit beberapa jam yang lalu, ia melihat jilbab Nayla sudah ternodai oleh darah. Dia berinisiatif mengambil selembar jilbab di lemari Nayla untuk di bawanya ke rumah sakit.
Usahanya tidak sia-sia, saat Nayla sudah di gantikan pakaian dengan pakaian rumah sakit, di saat itu juga Diana memberikan jilbab yang ia bawa untuk di pakaikan pada Nayla.
Cukuplah ia yang mengumbar aurat, tapi bagi Diana dia ingin agar Nayla tetap menjaga auratnya dan menjaga kesuciannya. Cukuplah ia yang terlalu kotor, namun tidak untuk Nayla. Baginya Nayla adalah gadis yang suci dan bisa menjaga kesuciannya itu.
Air mata membasahi wajah Diana, dia belum shalat ashar. Tetapi putrinya yang baru sadar langsung melaksanakan shalat. Dia benar-benar merasa tertampar karena hal itu, Diana segera berlari menuju musholla rumah sakit. Sesak di dadanya benar-benar tak bisa di tahan lagi.
Tepat selangkah lagi Diana akan memasuki batas suci masjid di rumah sakit itu. Langkahnya terhenti, ia tidak layak untuk masuk ke tempat ibadah yang suci itu. Dirinya terlalu kotor dan terlalu hina, hatinya menolak untuk masuk ke dalam masjid.
Badan Diana terasa lemas, air matanya semakin tak bisa di bendung lagi. Ia menangis. Ya, Diana menangis dan badannya jatuh ke lantai. Ia benar-benar terisak.
Allah sangat baik padanya sehingga dikirimkan malaikat dalam hidupnya yang selalu membuatnya bangga, Diana sangat mensyukuri nikmat itu. Do'a anak shalihah adalah nikmat bagi orangtua.
Beberapa pasang mata menatap Diana heran, namun tak ia hiraukan. Ia benar-benar ingin bertaubat sebelum Allah mengakhiri hidupnya. Dan sebelum ia terlambat. Karena banyak mayat di dalam kubur yang ingin di hidupkan lagi hanya untuk beribadah dan bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla.
Diana menghapus air matanya, ia segera memutar tubuhnya untuk kembali ke rumah sakit. Ia putuskan hari ini adalah hari terakhir ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hamba. Jika Allah mengizinkannya untuk tetap hidup di dunia ini hingga esok hari, maka dia akan mencoba membenahi semuanya.
"Ibu,"
Diana mengangkat kepalanya, dia baru sadar kalau kini telah berada kembali di dalam ruangan Nayla. Ia melihat Nayla seorang diri. Ke mana sosok Albert yang semula bersamanya?
Perlahan Diana berjalan mendekati Nayla, ia melihat senyuman dengan wajah teduh menghiasi wajah cantik Nayla. Tubuh Diana bergetar, ia tidak tega melihat hidung Nayla dengan alat pernapasan. Ia benar-benar merasa bersalah.
Wajah Nayla terlihat begitu pucat, dan matanya terlihat lelah. Diana memeluk tubuh dingin Nayla. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika Allah mengambil Nayla dalam hidupnya untuk selamanya.
Sungguh, Diana tidak siap kehilangan Nayla untuk kedua kalinya.
"Ibu jangan nangis." titah Nayla, ia menghapus air mata ibunya, walau hatinya masih terasa sakit, namun Nayla berusaha untuk ikhlas terhadap takdir yang telah Allah tetapkan dalam hidupnya.
"Maafin Ibu, Nay. Ibu tidak bisa melindungimu. Ma--afkan Ibu." ucap Diana lirih.
Nayla mengelus lembut wajah Diana yang terlihat sudah berkeriput. Wajah pucat Nayla masih memancarkan sebuah senyuman. Senyuman kedamaian dan ketabahan.
"Kenapa harus minta maaf, Bu? Semua atas izin Allah. Tidak ada yang bisa di salahkan." ucap Nayla. Ia mencoba untuk memasrahkan semuanya pada Allah Ta'ala. Karena manusia tidak ada daya upaya, semua atas kehendak Rabb-Nya.
"Kita tengah mengalami kebangkrutan yang sangat besar, Mister. Bagaimana jika Papi saya tahu hal ini. Mister benar-benar ceroboh, kita telah mengalami kerugian lebih dari lima belas milyar. Bagaimana ini bisa terjadi Mister Albert?" suara itu naik satu oktaf.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu mengatur napasnya yang naik turun. Baru kali ini dia mengalami kerugian yang sangat besar, bagaimana jika Ayahnya tahu akan hal itu. Sudah di pastikan Albert dan Ayahnya akan menjadi musuh, bagaimana dengam rencananya? Semua bisa berakhir dengan sia-sia.
"I'm so sorry, Rangga. Because, I'm unintentionally. Please, jangan beritahu papimu." pinta Albert. Dia benar-benar telah melakukan hal fatal. Kerugian kali ini benar-benar besar, Albert memikirkannya bagaimana ia bisa membayar kerugian itu.
"Bagaimana saya tidak memberitahu Papi saya Mister Albert. Kerugian ini benar-benar besar. Cabang di Indonesia bisa tutup semuanya karena kecerobohan ini. Bagaimana saya bisa menutupinya dari Papi saya?" suara Rangga naik satu oktaf. Urat di lehernya terlihat wajahnya merah murka.
Begitu juga dengan Albert, wajah putih pucatnya itu berubah menjadi merah. Sorot matanya benar-benar menyeramkan, siapa saja yang melihatnya pasti akan menganggapnya seperti harimau yang sedang lapar.
Drttttt
Ponsel Albert yang ia letakkan di atas meja Rangga bergetar. Menandakan ada panggilan masuk. Semula Albert tidak ingin mengangkatnya, tetapi yang tertulis di layar adalah nama Nayla. Bagaimanapun Albert merasa bersalah pada Nayla, walau itu hanya sebagian kecil dari rasa puasnya.
"Albert, apa kamu tidak mau ke sini? Minta maaflah pada Nayla. Tunjukkan padanya kalau kamu memang menyayanginya, tunjukkan padanya jika kamu memang sosok ayah yang baik."
Raut wajah Albert semakin marah. Dia belum selesai dengan masalah besarnya saat ini, ditambah dengan rentetan ucapan dari istrinya--Diana. Membuat Albert semakin murka.
"AKU SEDANG SIBUK!"
Albert segera mematikan panggilan itu. Pikirannya benar-benar kacau. Dia semakin kesal dengan keadaan yang ada, ingin sekali ia melampiaskan semuanya ke tempat yang bisa memberikannya kenikmatan dan kebahagiaan walau hanya sesaat.
"Nayla?" Rangga yang semula emosi perlahan mereda saat sekilas ia melihat nama Nayla yang terpampang di ponsel Albert tadi.
"Bukan, istri saya yang telepon pakai ponsel Nayla." jawab Albert malas.
Seketika akal muslihat Rangga dapatkan. Ya, ia akan memulai permainannya dengan menggunakan keadaan yang ada.
"It's okey, Mister saya beri waktu satu minggu untuk mengganti semua kerugian ini. Jika dalam satu minggu Mister tidak bisa melunasinya, maka biarkan Papi saya yang bertindak akan hal ini. Silakan Mister keluar dari ruangan saya." titah Angga dengan sedikit tersenyum.
Senyum itu bukanlah senyum perdamaian, melainkan senyuman licik dengan tatapan mata penuh kemenangan.
Albert segera keluar saat mendengar intruksi dari Angga. Lelaki berusia hampir 30 tahun itu benar-benar membuatnya geram. Ia bisa kehilangan semua aset kekayaan yang ia punya. Semua benar-benar sial. Albert tak berhenti mengumpat saat telah berhasil keluar dari ruangan Angga.
Berbeda dengan Angga, dia tersenyum dan tertawa. Seakan keberhasilanlah yang ia dapatkan, seolah uang yang di alami kerugian oleh mereka tidak ada apa-apanya.
Angga tersenyum sarkistik. Senyum yang mengisyaratkan bahwa dia akan memulai untuk mencapai keinginannya. Tidak akan bisa marah sosok Papi kebanggaannya itu pada dirinya, jika itu menyangkut kebahagiaannya.
Ya, itulah yang ada di pikiran Angga. Dia benar-benar telah jatuh hati, jatuh sejatuh-jatuhnya pada sosok perempuan shalihah berperawakan sedikit Barat. Wajah itu benar-benar membuat Angga jatuh hati. Sudah berapa bulan ini ia memendam rasa itu.
Dia adalah Nayla. Wanita yang selalu berusaha memperbaiki dirinya dan meningkatkan keimanannya. Dia adalah Nayla, wanita akhir zaman yang berusaha untuk menjadi shalihah dan taat pada agama.
Rangga mengambil minuman alkohol yang ada di dalam lemari pendingin di dalam ruangannya. Ia meminum minuman itu sambil tertawa. Seakan-akan ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan sebentar lagi.
"Oh sayang. Kamu akan jadi milikku. Wajahmu telah mengalihkan duniaku, Nayla Albert. Ayahmu pasti sangat menyetujui jika aku akan melamarmu. Tenanglah sayang, aku akan menikahimu. Oh sayangku, Nayla yang manis."
Rangga tertawa semakin puas. Foto Nayla tersenyum manis masih menghiasi ruang kerjanya, tepatnya ia simpan di dalam laci kecil. Foto itu ia dapatkan dari ponsel Albert. Lelaki asal Amerika itu benar-benar mudah untuk di dekati. Cukup iming-imingkan saja dengan uang dan jabatan, maka apapun akan ia lakukan.
"Ya Allah, Nay. Cepat sembuh ya, aku beneran nggak tahu kalau kamu masuk tumah sakit."
Meisya yang baru mendapat kabar dari Nayla kalau ia masuk rumah sakit, saat ia menghubungi Nayla kemarin sore. Dan pagi ini Meisya datang bersama ibunya menjenguk Nayla.
"Cuma sakit biasa kok, Mei. Jangan cemas gitulah." ucap Nayla tersenyum. Diana yang melihat Nayla seakan tidak membenci perbuatan Albert sama sekali, Diana bersyukur karena Nayla benar-benar sosok perempuan yang sabar.
"Cepet sembuh ya, Nay. Kemarin aku datang kajian tuh sepi tanpa kamu. Bikin aku galau," ucap Meisya yang duduk di samping bangsal Nayla.
"Oh iya, kemarin ada yang nyariin kamu Nay. Ya Allah, aku tuh nggak nyangka banget Ustadz muda nan tampan itu nyariin kamu." kekeh Meisya, membuat Nayla mematung tidak percaya.
Benarkah sosok Ilham mencari dirinya? Ada apa?
"Nay, sudah lama ya kenalan sama Ustadz Ilham?" Meisya semakin penasaran.
Nayla di buat kikuk oleh pertanyaan Meisya. Tanpa diketahui oleh temannya itu bahwa Nayla setelah pulang dari kajian kembali lagi ke masjid itu. Dan qadarullah, dia bertemu dengan Ilham, ustadz muda yang memiliki banyak penggemar.
"Hmm, baru berapa hari." jawab Nayla ragu.
"Oh iya Mei, kajian kemarin temanya apa?" Nayla berusaha mengalihkan topik. Dia tidak mau membahas soal Ilham terus-terusan. Entahlah hatinya seakan kembang kempis saat nama Ilham terdengar olehnya.
"Para Perempuan Tangguh. Oh iya, tema itu di ambil karena permintaan dari anak pak RT--Ayunda. Dan karena kebaikan hatinya, pihak Ikhwanul Muslimin menerima request itu dan di sampaikan pada Ustadz Ilham." Terang Meisya, Nayla mengangguk antusias.
"Sayang sekali aku tidak bisa membersamai. Padahal aku ingin sekali mendengar materi itu." Mata Nayla berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa rugi jika tidak bisa datang ke tempat yang dapat memberinya banyak ilmu yang bermanfaat.
"Yaudah, aku ceritain ya. Tapi gak bisa seperti tausiyah ustadz Ilham, tetapi Insyaa Allah, bermanfaat." ucap Meisya terkekeh. Nayla langsung mengangguk antusias.
"Wanita tangguh pertama dan salah satunya yaitu Maryam binti Imran. Wanita muslimah yang harus kita teladani keimanannya terhadap Allah Ta'ala. Maryam adalah wanita terbaik sepanjang masa. Wanita terbaik dalam kurun sejarah wanita. Banyak kaum hawa mencari idola dan suri teladan. Namun mereka tidak tahu siapa kiranya yang pantas diteladani. Yang lain, ada yang punya idola, tapi terkadang hanya nafsu dan salah langkah. Apakah wanita muslimah tahu tentang Maryam? Tahukah wanita muslimah bahwa Allah telah memujinya sebagai wanita dalam peradaban manusia? Allah ﷻ berifman,
“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (Q.S. Ali Imran: 42)
Dialah pemuka kaum wanita di syurga. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah ﷺ, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (H.R. Hakim 4853).
Maryam, ayahnya adalah Imran, laki-laki shaleh dari Bani Israil. Ibunya adalah wanita shalehah yang telah menyerahkan putrinya yang masih dalam kandungan untuk berkhidmat kepada Allah.
(Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Ali Imran: 35)
Dan putranya Maryam adalah seorang rasul dari kalangan ulul azmi, Isa bin Maryam ﷺ. Imran--ayah Maryam, wafat saat anaknya ini masih dalam kandungan ibunya. Ibu Maryam selalu berdo'a pada Allah agar menjauhi anak-anaknya dari bisikan syaitan.
“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” (HR. Bukhari 4548 dan Muslim 2366).
Maryam lahir dan tumbuh dewasa dengan dibekali ilmu-ilmu agama dan selalu di ajarkan untuk beriman. Maryam tumbuh dengan iman yang kuat. Ia selalu menjaga kesuciannya, dan menjaga pandangan dan batasannya pada yang bukan mahramnya. Hingga suatu hari, Allah mengutus Malaikat Jibril agar menyerupai sosok laki-laki yang sempurna, seperti di dalam firman Allah,
“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (Q.S. Maryam: 17-18)
Masyaa Allah, sungguh iman Maryam benar-benar kuat. Ia tidak tergoda dengan ujian yang Allah berikan. Maryam menyuruh lelaki itu agar segera menjauh darinya. Namun, lelaki itu yang tak lain adalah Malaikat Jibril, ia berkata pada Maryam,
Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (Q.S. Maryam: 19)
Dan, pada saat itu Allah memberikan Nabi Isa untuk Maryam. Saat itu Maryam belum menikah, tetapi Allah berikan janin di dalam rahimnya. Sehingga membuat Maryam dikucilkan bahkan dikatakan sebagai wanita yang sudah tidak suci lagi. Mendengar semua ucapan-ucapan manusia, Maryam hanya bisa bersabar dan berserah diri kepada sang Illahi Rabbi. Hingga Maryam melahirkan buah hatinya--Isa. Bayi itu pun memberitahu kepada seluruh penduduk yang menghina Maryam bahwa ia adalah manusia yang telah di utus oleh Allah Azza wa Jalla.
“Aku adalah hamba Allah, Dia memberiku Al-kitab dan menjadikan diriku seorang Nabi,” jawab Isa membela ibunya. Padahal saat itu, ia masih bayi dan masih dalam gendongan sang ibu." Begitulah kisahnya." ucap Meisya.
Bukan hanya Nayla yang menangis mendengar kembali kisah itu, tetapi Diana juga ikut menangis. Begitu juga Meisya yang menjelaskan kisah itu sesuai dengan yang ia dapatkan dari kajian kemarin.
“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.” (Q.S. Al-Maidah : 75).
Note : (Dikutip dari beberapa sumber)
-Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an dalam segala hal-