-Awali dengan Bismillah, dan akhiri dengan Alhamdulillah-
**
"Sesungguhnya seorang yang satu hari tidak membaca Al-Quran, sungguh hatinya “kalbaitil khorbi” seperti rumah kosong." {H.R. Tirmidzi}
**
"Barang siapa tidak mencintai untuk agama dan membenci untuk agama, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki agama." (Abu Abdilah al-Shdiq)
"Apa kamu sudah gila! Uang sebanyak itu mau kamu ganti dengan seorang wanita yang berjilbab. Benar-benar konyol."
Suara lantang itu berasal dari Satrio, pemilik perusahaan ternama yang tidak lain adalah ayahnya Angga. Ayah dari pemuda yang hampir berusia 30 tahun.
"Please, Papi. Semua demi kebahagiaan putramu ini. Apakah Papi tidak ingin melihat aku, anak semata wayangmu serta penerus perusahaanmu bisa menikah dengan wanita yang dia cintai? Ayolah Papi," Angga tak mengenal lelah, dia terus berusaha meyakinkan ayahnya itu bahwa Nayla akan menerima lamarannya dan menjadi istrinya. Mereka akan hidup bahagia, seperti cerita di dalam dongeng, namun hidup tidak sebercanda itu. Semua sudah di atur oleh Allah, di lauhul mahfudz.
"Oke, jika itu sudah menyangkut kebahagiaan putra Papi, maka apapun akan Papi korbankan. Papi mendukung usahamu." ucap Satrio sambil memeluk putra yang sangat ia banggakan itu.
"Thanks, Papi. Angga mencintai Papi." ucapnya bahagia. Kini langkahnya untuk mendapatkan Nayla tinggal berapa langkah lagi.
Seolah Nayla memang jodohnya, membuat ia semakin yakin bahwa tidak akan mendapat penolakan dari Nayla.
Angga sudah menyusun targetnya, dia akan segera menghubungi Albert untuk menyatakan keinginannya itu, dia benar-benar sudah tidak sabar.
"Hallo Mister Albert. Temui saya di kantor sekarang." ucap Angga, setelah mendengar Albert menyetujui ucapannya, sambungan telepon langsung ia matikan.
"Hati-hati, Papi yakin kamu akan segera menikah dengan Nayla, Sayang." Satrio memberikan semangat pada Angga, membuat anaknya semakin optimis.
"Alhamdulillah, Sayang. Ibu sangat bahagia..., akhirnya Nay bisa pulang ke rumah lagi. Ibu rindu masak bareng Nay." ucap Diana sambil membantu Nayla masuk ke dalam kamarnya.
Keadaan Nayla sudah membaik, napasnya tidak lagi sesak. Dan pinggir bibirnya sudah tidak lagi bengkak, hanya meninggalkan bekat hitam saja yang perlahan sudah membaik.
"Nay istirahat ya. Nanti Ibu bangunin kalau mau masuk zuhur." titah Diana dan di balas anggukan oleh Nayla. Memang dia merasa lelah dan ingin istirahat sejenak, karena di rumah sakit Nayla sulit untuk tertidur.
Diana kembali menutup pintu kamar Nayla. Dia melihat sosok Albert sudah tidak ada lagi di tempatnya setelah mendapat telepon yang katanya sangat penting.
Diana mengembuskan napas gusar. Ia segera menuju dapur untuk memasak makanan kesukaan Nayla. Diana sudah berubah, ia berusaha untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, tidak ada yang terlambat dan Allah selalu menerima taubat seorang hamba, hingga nyawa berada di kerongkongan.
Setelah hampir satu jam Diana berkutik dengan dapur, kini masakannya telah selesai. Ia akan membangunkan Nayla, karena tiga puluh menit lagi waktu zuhur.
"Diana, ada yang ingin saya bicarakan!" ucap Albert tegas.
Albert berdiri lima meter dari posisi Diana. Tanpa sepatah katapun Diana mengikuti Albert yang menuju ke ruang keluarga.
"Bagaimana keadaan Nayla? Apa dia sudah membaik?" tanya Albert sebelum ia memulai topik yang akan dibahasnya.
"Lumayan, masih dalam kondisi pemulihan." gumam Diana malas. Jujur saja, dia masih kesal dengan Albert. Semua yang terjadi pada putrinya itu karena ulah brandalnya.
Albert mengangguk. Dia menyeruput kopi yang baru saja diberikan oleh salah satu ART. Diana menatap Albert serius, sambil mendengarkan apa yang akan di sampaikannya.
"Nanti malam Nayla akan di lamar oleh seorang pengusaha muda. Tolong dandani dia secantik mungkin, dan ajari dia berkata yang sopan pada tamu. Dan beritahu ART untuk memasak makanan yang istimewa. Saya tidak terima ada kecacatan nanti malam, mengerti?!" Intruksinya, seketika membuat Diana syok. Apa yang di katakan Albert benar-benar di luar dugaannya.
Nayla baru satu jam pulang dari rumah sakit. Bahkan keadaannya saja masih dalam tahap pemulihan, tapi, dengan wajah tanpa dosanya Albert akan mendatangkan orang yang akan melamar Nayla. Sungguh itu membuat Diana semakin kesal.
"Siapa pemuda itu?" tanya Diana penasaran.
Albert menyunggingkan senyumnya, "Dia pemuda yang tampan. Nayla tidak akan susah bila menikah dengannya. Kekayaan dan aset perusahaan saya sudah bersatu dengan perusahaan milik ayahnya. Jadi, jangan meragukan dia lagi. Putrimu itu akan baik-baik saja, bahkan dia akan bahagia dan menjadi putri raja. Siapkan saja apa yang saya perintahkan. Saya tidak terima ada kecacatan." Albert mencium pucuk kepala Diana. Setelah itu dia langsung pergi entah ke mana.
Diana takut pemuda yang akan melamar putrinya bukan laki-laki yang baik. Diana kembali teringat akan peristiwa masa lalunya, yang menurutnya benar-benar kesalahan yang fatal dalam hidupnya.
Karena cinta buta, ia seakan dibutakan oleh cinta itu. Mata hatinya seakan tertutup, perbedaan agama tidak membuatnya menghentikan keinginannya untuk menikah dengan Albert, hingga berujung pada perpisahan saat Nayla lahir di dunia.
"Jadi, Ibu harus qadha puasa ya, Nay?" tanya Diana saat mendengar penjelasan dari putrinya.
"Iya, Bu. Karena yang Ibu tinggalin itu adalah puasa wajib. Dan yang wajib harus di ganti." titah Nayla. Diana mengangguk paham.
"Yasudah besok akan Ibu coba. Makasih ya Sayang, sudah mau bantuin Ibu." Diana memeluk Nayla, ujung matanya berair, ia benar-benar terharu bisa mendapatkan hidayah dari Allah, dia tidak akan menyia-nyiakan hidayah itu, dan akan ia pertahankan.
"Iya, Bu. Sudah menjadi kewajiban Nay untuk mengingatkan pada kebaikan. Nay ingin masuk syurga sama Ibu dan Almarhumah Mama Siska." ucap Nayla. Dia rindu pada sosok wanita yang telah membesarkannya itu.
Nayla baru menyadari bahwa Allah benar-benar mencintainya. Ia di kirimkan dua ibu sekaligus dalam hidupnya. Di kirimkan keluarga yang bisa mendatangkan pahala untuknya. Beserta keluarga besar Abdurrahman yang selalu menerimanya. Nikmat sekali hidup dalam jalinan ukhuwah islamiyah, di pertemukan karena Allah, dan di pisahkan juga atas izin Allah.
"Aamiin. Doakan Ibu ya, Sayang." pinta Diana tulus. Nayka mengamini ucapan ibunya.
"Hmm, Nay. Ibu mau nanya, boleh?" Diana menatap wajah sendu Nayla. Wajah pucat tetapi terlihat begitu indah dengan senyuman manis Nayla.
"Iya, Bu. Tidak ada larangan untuk Ibu bertanya sama Nay." Nayla menyandarkan kepalanya di bahu Diana.
"Nay, sudah ada calon? Atau Nay sedang menyukai seseorang saat ini?"
Deggg,
Nayla terkejut mendengar pertanyaan ibunya itu. Detak jantungnya berdegup di luar batas normal. Entahlah, Nayla bingung kenapa ia bisa seperti itu.
"Hmm, Nay belum mikirin hal itu, Bu. Nay masih mau memperbaiki diri, dan memantaskan diri. Urusan jodoh, biarlah Allah yang mendekatkannya dengan Nay." ucap Nayla, ia berusaha tersenyum dari raut ketegangannya, agar suasana tidak terasa kaku.
Diana mengangguk, dia masih ragu dengan lekaki yang di maksud Albert. Akankah lelaki itu sesuai dengan yang di inginkan oleh Nayla, setiap wanita pasti menginginkan calon imamnya adalah lelaki yang baik dan beriman.
Apakah lelaki yang akan di bawa Albert sesuai dengan keinginan Nayla? Diana ragu akan hal itu.
"Ada apa, Bu? Tumben Ibu bahas tentang jodoh?" tanya Nayla tersenyum heran.
"Nay, tadi Daddy mengatakan sesuatu sama Ibu tentang Nay." Diana mencoba untuk memberitahu Nayla. Hanya satu yang ia inginkan, yaitu kebahagiaan putrinya, itu saja.
"Tentang apa, Bu?" Nayla tampak penasaran.
"Jadi gini, nanti malam akan ada lelaki yang datang ke rumah. Dia akan melamar Nay, kata Daddy dia adalah anak dari teman Daddy, dan pemilik aset kekayaan dari sebagian perusahaan cabang yang Daddy punya. Dan ia adalah seorang lelaki yang sudah mapan." Diana menjelaskan sesuai dengan informasi yang ia dapatkan dari Albert. Ia tidak ingin menutupi perihal apapun pada Nayla, ia ingin hubungannya terus seperti ini dengan putrinya, cukup sudah puluhan tahun ia membuang waktunya dengan dosa yang ia lakukan dengan sengaja.
Diana ingin yang terbaik untuk Nayla. Hanya itu. Karena hanya dengan mendoakan dan memberikan yang terbaik untuk Nayla, setidaknya bisa menebus kesalahannya di masa lalu.
Nayla terdiam. Sungguh, dia belum memikirkan hal itu. Nayla ingin meneruskan perjuangannya untuk melanjutkan pendidikannya dan menjadi seorang dosen. Itulah mimpinya sejak dulu.
"Nak, kita lihat saja nanti malam ya. Jika memang Allah menjodohkan Nay sama dia, pasti ada saja jalannya. Ibu tidak memaksa Nay, apapun keputusan yang Nay ambil nanti malam itu adalah yang terbaik. Ibu selalu mendukung Nay. Insyaa Allah, Nay tidak akan salah pilih." ucap Diana, dia memberi semangat pada Nayla saat melihat ekspresi Nayla yang sulit diartikan.
"Iya, Bu. Do'akan yang terbaik saja ya, untuk Nay." balasnya dan semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah selesai shalat isya' bersama ibunya, Nayla harus di dandani sesuai permintaan Albert. Awalnya Nayla menolak, namun Albert langsung yang memintanya pada Nayla. Lelaki paruh baya itu berjanji tidak akan menyuruh Nayla untuk bermake up terlalu menor.
"Bu, Nay nggak mau pake bulu mata palsu. Dan nggak mau alis Nay di cukur. Dan Nay juga nggak mau pake make up yang terlalu tebal. Semua itu di larang agama, Bu." ucap Nayla dia sudah ingin menangis.
"Iya Nak, nanti Ibu akan bantuin Nay. Nggak akan menor kok." Diana menenangkan Nayla.
Setelah menghabiskan waktu hampir 30 menit, kini Nayla sudah selesai ber-make up. Ia menggunakan gamis berwarna putih, atas permintaannya dengan Diana bahwa ia tidak mau jika menggunakan jilbab yang tidak menutupi d**a.
Diana mengerti, dia melakukan semua sesuai dengan permintaan Nayla. Kini gadis berusia lebih dari dua puluh tahun itu terlihat benar-benar cantik. Wajah imut dengan hidung mancung dan bibir tipisnya membuat Nayla semakin cantik.
"Anak Ibu benar-benar cantik. Wajar saja banyak yang mau sama Nay." Puji Diana sambil menangkupkan tangannya di wajah Nayla.
"Ibuu, benarkah begitu?" tanya Nayla malu.
"Iya Sayang, Nay sangat cantik. Karena kecantikan Nay membuat orang banyak menyukai Nay." lanjut Diana.
Seketika Nayla menghapus senyum manis dari wajahnya. Seakan iya tersedak sesuatu. Benarkah apa yang di katakan ibunya barusan? Karena wajahnya yang cantik membuat banyak orang menyukainya.
Allah. Itu sangat menyakitkan bagi Nayla.
"Bu, Nay nggak mau banyak orang menyukai Nay karena fisik. Nay sadar, wajar saja cadar itu diwajibkan jika wajah bisa mengundang syahwat." ucap Nayla. Dia menunduk.
Apakah wajahnya sudah mengundang syahwat laki-laki? Atau hanya menjadi bahan ketertarikan saja. Hati Nayla menjadi di penuhi rasa bersalah. Bersalah pada diri sendiri dan terutama pada Illahi Rabbi.
"Non Nayla, Mister Albert menyuruh Non turun sekarang. Tamu sudah datang." ucap salah satu ART yang memberi kabar pada Nayla.
Diana tersenyum, dia percaya Albert pasti mencarikan lelaki yang terbaik untuk Nayla. Walau Albert pernah menyakiti Nayla, namun Diana tahu Albert juga menyayangi Nayla.
"Ayo Sayang, kita turun." Diana menuntun Nayla hingga keduanya sudah berada di ruang tamu.
Nayla masih menunduk, dia tidak berani mengangkat kepalanya. Nayla terus menyebut asma Allah. Entahlah sejak tadi Nayla merasa hatinya sedang tidak baik.
"Oh, Darling." Albert memeluk Nayla, menyadarkan Nayla dari lamunannya.
Diana menuntun Nayla agar duduk di sebelah Albert. Di hadapan mereka ada tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan paruh baya.
Laki-laki di hadapan Nayla yang bernama Angga, tengah tersenyum penuh kemenangan. Nayla malam ini benar-benar cantik. Sungguh, dia semakin mencintai Nayla.
"Baiklah, sesuai permintaan anak saya dia akan melamar Nayla, putrinya Albert. Sesuai perjanjian yang sudah kita sepakati bahwa Angga akan di nikahkan dengan Nayla." ucap lelaki yang berada di sebelah Angga, tak lain adalah Satrio.
Nayla mendongakkan pandangannya, apa yang di maksud oleh mereka? Kesepakatan? Kesepakatan apakah yang sudah mereka janjikan.
Bukan hanya Nayla, Diana pun terkejut. Apa yang diucapkan lelaki bernama Satrio itu berbeda dengan yang diucapkan oleh Albert siang tadi.
"Maaf, Pak, Buk..., sebelumnya saya mau nanya. Sesuai kesepakatan? Maksudnya kesepakatan apa ya, saya tidak mengerti." Nayla berusaha untuk bersuara. Rasa penasaran sudah memenuhi hatinya.
Satrio tertawa sumbang. Dia tidak menyangka dibalik liciknya sosok Albert, terlahir seorang putri yang cantik, shalihah, dan juga jujur. Albert benar-benar beruntung.
"Bukan hanya cantik ya, tapi Nayla juga gadis yang lugu. Wajar saja Angga menyukainya." Kekeh Satrio.
"Albert dan saya sudah ada kesepakatan bahwa akan menikahkan kamu dengan Angga, jika hal itu terjadi maka semua kerugian yang Albert lakukan di cabang perusahaan akan terhapuskan." lanjutnya.
Albert tersenyum, tapi tidak dengan Diana dan Nayla. Keduanya terkejut, terlebih lagi Diana. Untuk kedua kalinya Albert mengkhianatinya, apa yang Albert ucapkan tidak sama dengan yang Satrio ucapkan.
"Baiklah, sekarang kita tentukan tanggal pernikahannya." titah Satrio. Nayla terkejut bukan main, ini bukanlah sebuah lamaran pernikahan melainkan sebuah paksaan.
"Sebentar, saya ingin berbicara dengan suami saya dan putri saya." Diana melirik Albert dan langsung menarik tangan Nayla untuk masuk ke dalam.
Nayla menahan air mata, ia tak kuasa untuk bersuara. Badannya masih terasa lemas dan pinggir bibirnya masih terasa sakit. Ia yakin Allah tak pernah salah menjodohkan hamba-Nya.
"Apa yang kamu lakukan, Albert! Apa maksudmu? Kamu bilang orang akan melamar Nayla, bukan langsung memutuskan ke jenjang pernikahan. Bahkan kita tidak tahu apakah Nayla menerima atau menolak lamarannya." Suara Diana naik satu oktaf. Dia benar-benar kesal atas perlakuan Albert terhadap Nayla.
Albert terkekeh mendengar rentetan pertanyaan Diana. Menurutnya lucu, bagaimana mungkin Nayla akan menolak lelaki kaya seperti Angga, pikirnya.
"Please. Darling, kamu tidak akan menolak Angga kan? Dia lelaki kaya. Seluruh aset perusahaan keluarganya akan jatuh ke tangannya. Apapun yang kamu minta pasti akan terpenuhi. Hidupmu tidak akan menderita, Darling. Percayalah, semua baik-baik saja. Daddy sudah mengenal Angga. Dia laki-laki yang baik dan hartanya berlimpah ruah." ucap Albert sambil menatap Nayla penuh keyakinan.
Nayla langsung beristighfar mendengar ucapan Albert. Dia tidak membutuhkan itu semua. Sama sekali tidak. Karena kebahagiaan yang hakiki yaitu kebahagiaan atas ridho Illahi Rabbi.
"Daddy, Nay tidak pernah menginginkan seseorang yang kaya harta. Nay tidak membutuhkan harta, Daddy. Nay hanya ingin kelak yang menjadi calon imam Nay adalah laki-laki yang beriman dan bertaqwa pada Allah. Hanya itu." Nayla menatap Albert sendu, ia berharap agar Albert mengerti dirinya.
Untuk kali ini saja, Nayla ingin berdamai dengan Albert. Terlalu letih baginya untuk berdebat dan membangun konflik baru lagi.
"Hhmm, Mister Albert. Kita tidak punya banyak waktu. Apakah masih mau di lanjutkan?" Wanita paruh baya dengan dandanan super menor itu membuat ketiganya kaget.
"Oh tentu. Akan kita lanjutkan." Albert langsung menarik Diana agar segera kembali ke ruangan.
Nayla menarik napas jengah, ia lelah dengan semua ini. Harta, harta, dan harta. Apakah itu sumber kebahagiaan mereka? Tidak sadarkah kalau semua itu adalah titipan yang sewaktu-waktu akan di ambil kembali oleh Allah, Sang Pemilik Segalanya.
Semuanya kembali lagi ke rungan, Angga tak berhenti tersenyum. Baginya malam ini benar-benar bahagia, impian terbesar untuk bisa menjadikan Nayla istrinya akan tercapai sebentar lagi.
"Sebelumnya, saya ingin bertanya kepada Tuan Angga. Izinkan saya bertanya," ucap Nayla, setelah ia memilih diam akhirnya ia akan angkat bicara.
Karena diam saat ini bukanlah pilihan yang baik.
"Yes of course, Darling." ucap Albert, seraya tersenyum.
"Apa yang membuat anda ingin menikahi saya, tuan Angga? Dan apakah kamu sudah siap lahir dan batin untuk menjadi seorang imam?" Nayla bertanya serius.
Ruangan itu terlihat tegang, terutama Albert. Peryanyaan Nayla membuatnya kesal. Diana tahu Nayla akan melakukan yang menurutnya terbaik. Diana mendukung semua keputusan Nayla.
"Kamu sangat cantik, Sayang. Wajahmu membuatku selalu memikirkanmu. Senyummu itu menari-nari di dalam otakku. Sungguh, aku sangat mencintaimu." ucapnya. "Urusan siap ataupun tidak siap itu urusan kecil dan gampang." lanjutnya dengan angkuh.
"Jika karena wajah ini kamu ingin menikah dengan saya. Bagaimana jika suatu hari Allah mengambil wajah ini, apakah cintamu itu hilang dan kamu akan meninggalkan saya?" Suara Nayla naik satu oktaf.
Nayla benar-benar tidak menyangka ternyata ada orang yang mencintai wajahnya, bukan mencintai ia karena Allah.
Astaghfirullah, Nayla terus mengucap istighfar.
Benar apa yang sering ia dengar. Semua yang Allah berikan pada manusia adalah ujian. Setiap yang ada adalah ujian, dan bagaimana kita bisa menjalani ujian itu dengan sebaik-baiknya.
Wajah cantik itu ujian, ujian yang cukup berat bagi seorang perempuan. Bagaimana cara ia untuk menjauhkan dari pikiran kotor dan pandangan jahat oleh lawan jenisnya. Begitu juga dengan wajah yang sederhana, itu juga ujian. Ujian bagaimana seorang perempuan bisa menghargai pemberian Tuhan, dan mensyukuri setiap apa yang ada. Ya, semuanya adalah ujian. Dan sebaik-baiknya ujian yaitu ujian yang mendekatkan hamba kepada Tuhan-Nya.
"Pemikiranmu terlalu kuno, Nayla. Jaman sekarang ini sudah modern. Jika itu memang terjadi, kita akan melakukan pengobatan. Jaman sekarang sudah banyak dokter ahli dalam operasi plastik dan sebagainya. Itu tidak akan sulit. Please! Berpikirlah yang logis dan sesuaikan dengan jaman, Nayla." Angga terkekeh. Nayla benar-benar wanita yang langkah menurutnya.
Selain polos, Nayla juga gadis yang kuno dan berpikir sangat sempit. Begitulah pandangan Angga tentang Nayla.
"Dan saya tidak akan melakukan itu tuan Angga. Karena itu di larang dalam agama Islam. Tuan Angga beragama Islam?" Nayla semakin kesal, ucapan Angga sama sekali tidak ada unsur mensyukuri nikmat Allah. Selalu menunjukkan keangkuhan dan kesombongannya, padahal ia tak lain hanyalah manusia lemah.
"Ya, saya Islam. Tapi tidak kuno." ucapnya dengan lantang.
"Kuno? Yang dimaksud Islam kuno itu seperti apa, Tuan? Bisakah jelaskan pada saya?" Kini Nayla berdiri, ia semakin di uji dengan mendengar ucapan Angga.
"Yang kamu lakukan dan yang kamu pikirkan itu adalah kuno. Dan yang kamu pakai di atas kepalamu itu juga kuno. Please, Nayla! Bukalah matamu. Lihatlah dunia ini, tinggalkan hal yang sudah tidak modern itu. Kita hidup di jaman modern, Nayla." ucap Angga semakin angkuh.
Innalillahi.
Allah. Air mata Nayla membasahi wajahnya. Untuk kedua kalinya ia mendengar orang menghina kain yang bisa menyelamatkannya dari panasnya api neraka.
Astaghfirullah. Manusia begitu di butakan oleh duniawi, Seakan kedua matanya tertutupi oleh permainan dunia. Ia beragama Islam, tapi ia juga yang melawan aturan-aturan agamanya.
"Saya sengaja tidak mengajakmu pacaran. Ya, karena saya tahu wanita fanatik seperti dirimu tidak akan mau di ajak pacaran. Maka dari itu saya memutuskan akan melamarmu saja. Tanpa adanya pacaran." lanjut Angga. Ia menyeruput minuman yang sudah disiapkan oleh salah satu ART Albert.
Diana memeluk tubuh bergetar Nayla. Seakan tidak ada yang memperdulikan tangisan Nayla. Diana ikut menangis melihat air mata Nayla, walau ia baru belajar mengenai Islam, tapi Diana tahu ucapan Angga tadi sudah melampaui batas.
"Maaf semuanya. Mungkin saya akan menyakiti kalian. Tapi saya tidak bisa menerima lamaran Angga. Jika kalian mengerti, maka kalian akan paham kenapa saya menolak lamarannya. Terima kasih atas niat baik kalian semua. Saya mewakili Ayah saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Selamat malam, dan semoga Allah mengampunimu, tuan Angga. Wassalaamu'alaaykum."
-Utamakan Shalat dan Membaca Al-qur'an Dalam Segala Hal-