-Awali dengan Bismillah, akhiri dengan Alhamdulillah-
**
Dari Anas Radhiyallahu 'Anhu. berkata, Rasulullah bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa memilikinya akan merasakan kelezatan iman, yaitu jika ia mencintai Allah dan Rasulullah melebihi cintanya kepada yang lain; Jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Allah dan jika ia enggan kembali kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya, sebagaimana ia enggan dimasukkan ke dalam neraka.”
(H.R. Bukhari – Muslim)
"Nayla ..., duduk!"
Suara Albert benar-benar mengejutkan semua yang ada di ruangan itu, termasuk Diana. Ia melihat kilatan mata Albert menunjukkan kemarahannya.
Nayla menoleh sekilas kemudian dia kembali berlari menuju kamarnya. Dia benar-benar kecewa pada Albert. Untuk kesekian kalinya Albert menyakiti hati Nayla. Padahal Albert adalah ayah kandungnya.
"Hmm, baiklah kami permisi dulu. Sepertinya Anda harus menjelaskan semua perjanjian kita pada putri Anda, tuan Albert yang terhormat. Kami tunggu dua hari lagi. Jika dua hari lagi penolakanlah yang kamu terima, maka siap-siap kebangkrutan menyerang Anda. Selamat malam, selamat beristirahat." Satrio menjabat tangan Albert dan kemudian berlalu di iringi Angga dan Ratna--istri Satrio.
"b******k!" umpat Albert.
"Albert tunggu!" Suara pekikan Diana, namun Albert tak menghiraukannya. Dia terus berjalan dengan langkah yang besar menuju kamar Nayla.
Diana yakin ini adalah situasi yang serius dan ia tahu Albert akan menyakiti Nayla. Jujur, Diana tidak akan menerima Nayla di sakiti lagi. Cukup kemarin putrinya mendapatkan perlakuan kejam dari Albert.
"Nayla .... Buka pintunya!" suara Albert semakin jadi.
Nayla yang menangis dalam sholat taubatnya hanya bisa pasrah. Kini ia sudah berada di raka'at terakhir. Air matanya sedari tadi sudah tak bisa di hentikan. Nayla berusaha untuk memasrahkan semuanya pada Allah.
Buarrrrrr
Suara Albert membuka paksa pintu kamar Nayla. Ia melihat Nayla sedang khusyu' dalam berdo'a. Nayla terus berdo'a, ia tidak memperdulikan siapa saja yang kini masuk kamarnya dengan paksa.
"DASAR ANAK KURANG AJAR!" bentak Albert, ia semakin mendekati Nayla.
"Albert, dia anakmu. Darah dagingmu. Jangan sakiti dia!" Diana berusaha mencegah langkah Albert. Namun, apalah daya ia hanya wanita lemah.
"Pokoknya kamu harus menikah dengan lelaki kaya, anak teman Daddy, agar perusahaan Daddy tidak bangkrut. Kamu tuh jadi anak harus patuh sama orangtua!" Bentak Albert.
Albert menarik mukena yang di pakai Nayla. Dia menjambak mukena itu hingga beberapa helai rambut Nayla terlihat.
Nayla menangis, ia tidak bisa melawan, dirinya terlalu lemah. Diana berusaha untuk menghentikan Albert, namun tangan gagah milik Albert membuat dirinya terjatuh.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menikah dengan lelaki yang tidak memiliki iman dalam dirinya!" ucap Nayla lantang.
Prakkkk
Satu tamparan hangat mendarat di wajah mulus Nayla. Ujung bibirnya yang belum sepenuhnya sembuh kini mengeluarkan darah lagi.
Nayla beristighfar, dia tidak menyangka kalau ia akan merasakan tamparan untuk yang kedua kalinya. Sungguh, ini benar-benar menyakitkan.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Suara Albert naik satu oktaf.
Albert menarik paksa tangan kiri Nayla, namun tangan kanan Nayla di tahan oleh Diana. Dia tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Nayla, bahkan suaminya sendiri.
"Jangan pernah sakiti dia. Pukul aku saja Albert .... Pukul aku saja." Diana berucap lirih. Dia benar-benar tidak mau Nayla kembali di siksa Albert.
"Jangan ikut campur. Saya akan menghukum bagi orang yang tidak patuh dengan saya di rumah ini." Albert melepaskan paksa tangan Diana dari lengan Nayla.
Sedangkan gadis itu berusaha meronta. Namun gerakannya tidak membuahkan hasil. Albert semakin murka padanya, dia langsung menyeret Nayla hingga menuju tangga.
"Laa illaha illallah. Muhammadar Rasulullah." Nayla berucap lirih. Dia memasrahkan semuanya pada Allah. Jika memang takdirnya akan merasakan siksaan, maka dia akan berusaha ikhlas.
"Nayla, kamu mau menerima lamaran Angga. Atau kamu akan merasakan pedihnya penderitaan." Albert mencekik wajah Nayla. Membuat Nayla sulit bicara.
Darah terus keluar dari ujung bibir Nayla. Mata Nayla sudah berkunang-kunang, seakan mata indah itu akan tertutup sebentar lagi.
"Lebih baik saya menderita di dunia, daripada saya harus menanggung pedihnya siksa neraka." ucap Nayla.
"Orangtua mana, yang tega menikahkan anaknya demi kekayaan. Itu semua sama saja seperti.... Menjual anaknya sendiri." lanjutnya.
Plakkkk
Tamparan kedua Nayla rasakan di wajahnya. Nayla tersenyum hambar. Ia yakin, kuasa Allah akan menolongnya. Allah bersama hamba-hamba yang sabar.
"Albert! Hentikan. Demi Allah, saya akan membencimu jika kamu berani menyakiti Nayla." Diana memekik histeris. Lagi-lagi darah segar keluar dari hidung Nayla.
Untuk kedua kalinya pemandangan menyedihkan ini Diana saksikan di depan matanya sendiri. Sungguh, andai bisa di gantikan, maka biarkan ia saja yang merasakannya. Diana tidak ridho jika Nayla merasakan sakit.
"Kalau kamu menikah sama Angga apa saja yang kamu minta bakal ia kabulkan. Kamu tidak mau hidup mewah? Hah! Jangan munafik Nayla. Jangan munafik!" Albert berucap dengan ekspresi sarkistik.
Nayla terus mengeluarkan air mata, begitu juga dengan Diana. Kakinya terkilir karena tangan Albert yang telah mengenai badannya sehingga ia sedikit terpental.
"Atas nama Allah. Saya tidak mau hidup mewah di atas murka Allah. Biar saya hidup sederhana..., asal ridho Allah selalu menyertai saya. Biarkan saya mempertahankan keimanan saya, demi Allah saya tidak akan rela menggadaikan keimanan saya hanya karena kekayaan semata." ucap Nayla, kemudian ia terpingsan.
Albert semakin murka, ia akan menyeret Nayla dari atas hingga menuruni sepuluh anak tangga, Diana menarik kaki Nayla sekuat tenaganya. Ia tidak akan mengizinkan Albert melakukan tindakan yang lebih kejam lagi pada Nayla.
Melihat apa yang telah Albert lakukan saja sudah cukup membuat Diana murka.
"Aku mohon, jangan sakiti dia. Aku janji, aku akan berusaha membujuknya agar mau menikah dengan Angga aku mohon Albert, aku mohon." Diana berkata lirih.
Diana berjalan mendekati Nayla dan memeluk tubuh lemah Nayla. Darah masih keluar dari ujung bibir Nayla, Diana menghapus darah itu menggunakan ujung jilbabnya.
Ya, Diana saat ini sudah berjilbab. Walau jilbabnya hanya di lilit saja, setidaknya ia sudah melakukan perubahan. Dan semuanya membutuhkan proses. Selangkah demi selangkah.
"Baiklah, saya pegang janjimu sebagai Ibu. Saya melakukan ini agar otak anakmu ini bisa kembali normal. Semua demi kebaikannya, tapi anakmu ini terlalu munafik, Diana. Hah! Kalian berdua sama saja."
Albert melangkah pergi setelah mengatakan itu. Ia seakan tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan pada putrinya sendiri.
Beberapa ART yang menyaksikan menatap Nayla iba. Diana meminta bantuan beberapa ART untuk membantunya membawa Nayla ke rumah sakit.
"Bisa kita bicara sebentar, Bu."
Dokter yang baru saja keluar dari ruangan IGD menatap Diana dengan beribu pertanyaan. Diana tidak menjawab, seakan kerongkongannya tidak kuat untuk mengeluarkan kata-kata. Ia mengikuti ke mana dokter itu akan mengajaknya.
"Bu, kenapa pasien bisa separah itu. Setelah pemeriksaan ini bukanlah penyakit, tetapi ini seperti bekas pukulan. Maaf, Bu. Bukan saya ingin ikut campur, tetapi kalau saya boleh tahu apa yang di alami pasien?" dokter muda itu menatap Diana penuh tanya.
Beberapa hari lalu Nayla juga ia tangani. Tetapi luka dan sakitnya tidak separah sekarang. Hal itu membuat sang dokter bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada salah satu pasiennya ini.
Diana menarik napas panjang, ia tidak ingin mengingat kejadian yang baginya meninggalkan trauma yang mendalam. Ia ingin agar semuanya berakhir.
Andaikan menyakiti orang tidak berdosa, maka Diana akan menyakiti Albert. Ia ingin melaporkan tindakan Albert kepada pihak berwajib. Namun, semua ART tidak mau menjadi saksi, karena mereka tahu bagaimana kejamnya Albert jika ada yang melanggar aturannya.
Diana masih bingung untuk mengatasi semuanya. Kenapa semakin hari Albert semakin tega menyakiti Nayla. Bagi Diana, keputusan yang diambil Nayla tidak ada yang salah, ia melakukan semuanya karena Angga memang bukan calon suami yang baik. Ia terlalu menyombongkan harta kekayaannya. Diana tahu, bahwa sebagian dari warisan kekayaan almarhumah kakaknya dan kakak iparnya di berikan pada Nayla. Namun Albert tidak mengetahui itu, Diana mengatakan kalau kakaknya mengalami kebangkrutan yang hebat sebelum ia meninggal, dan Diana telah menyuruh Nayla agar mengikuti kata-katanya.
Menikah itu sekali, dan menikah bukanlah hal yang mudah. Jika sudah mengucapkan janji suci dengan menyebut nama Allah dan di hadapkan dengan saksi, maka tidak ada yang main-main. Dan tidak salah jika Nayla menginginkan calon suaminya adalah orang yang beriman, semua orang pun akan melakukan hal yang sama. Bukankah begitu?
"Putri saya di pukul ayahnya karena tidak mau menikah dengan lelaki yang telah ia pilihkan. Ya, saya tahu alasan Nayla menolak. Dan saya pun setuju dengan putriku, ia tidak hanya memikirkan untuk dunia yang bersifat fatamorgana saja, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal nanti, akhirat." jelas Diana, dia menyeka ujung matanya.
Dokter tampan di hadapannya ini seakan menyimak setiap cerita yang barusan ia ucapkan. Diana tahu bahwa luka yang ada di wajah Nayla itu berupa pukulan, daripada dokter dan suster mengira ia yang memukuli Nayla, lebih baik ia ceritakan yang sebenarnya.
"Assalaamu'alaaykum, afwan Bang, Arfan terlambat. Tadi ada satu pasien yang harus Arfan tangani. Sebenarnya Arfan mau menolak untuk menanganinya, karena sudah habis jam praktek Arfan, dan itu juga pasien perempuan. Sedangkan dokter perempuan sedang ada tugas semua, jadi Arfan yang handle. Karena Arfan adalah dokter yang harus menolong saudaranya atas izin Allah. Jadi harus berusaha konsisten dan harus bersikap profesional. Karena sumpah dokter kita tidak boleh memilih pasien." ucapnya sambil tersenyum.
Ucapan itu sebagian besar termotivasi dari Ilham, orang yang selalu memberinya asupan nasihat-nasihat yang baik, sehingga ia menanamkan itu dalam kehidupannya.
"Wa'alaaykumussalaam. Ya, tidak masalah. Menunggu itu tidak akan membosankan jika waktu menunggu di gunakan juga untuk muroja'ah." balasnya, ia segera menyeruput coffee latte yang ia pesan sejak 15 menit lalu.
Ilham kini berada di sebuah cafe yang beraroma khas coffee latte. Ia sudah membuat janji pada adiknya, bahwa mereka akan bertemu di cafe.
Arfan mengangguk, ia setuju dengan ucapan Ilham. Walaupun sedang menunggu, amal kebaikan tetap harus berjalan. Arfan masih teringat tentang cerita wanita paruh baya tiga puluh menit lalu.
Syahid Arfan Al-Ghifari, seorang dokter muda yang menyandang gelar sebagai dokter yang mendapatkan nilai tertinggi lulusan tahun ini. Begitu ia selesai mengemban pendidikan S-1nya ia langsung di tawarkan oleh beberapa rumah sakit besar ternama di kota Bandung. Tetapi ia memilih rumah sakit di mana ada kakaknya di sana sebagai dokter umum yang sedang mengambil gelar sebagai dokter ahli bedah.
Bukan karena Arfan orang yang manja yang selalu ingin terus bersama Ilham--kakaknya. Tapi, ia ingin belajar dari kakaknya, bagaimana menjadi seorang dokter yang baik.
Ilham dan Arfan hanya berbeda usia satu tahun lebih. Begitu Ilham menyandang gelar dokter umum, ia langsung bekerja di rumah sakit ternama dan beberapa bulan lalu ia mengambil gelar spesialis bedah, yang harus ia emban beberapa tahun lagi.
"Bang, tadi pasien terakhir yang Arfan tangani, kasihan sekali. Luka lebam bekas pukulan terlihat jelas di wajahnya. Ujung bibirnya sobek, tetapi, walau ia dalam keadaan tidak sadarkan diri, pakaiannya tetap syar'i. Kaus kaki masih ia kenakan, dan jilbabnya yang kena bercak darah masih di pakainya." Arfan menjelaskan kronologis pasien terakhir yang ia tangani hari ini.
Arfan menyeruput coffee yang baru saja datang, ia masih memikirkan perempuan yang ia tangani tadi. Ia merasa kasihan, tetapi ia tidak tahu kronologis secara detail dari apa yang dialami gadis itu.
"Kasihan sekali. Di zaman sekarang, orang sulit menghargai perempuan. Padahal syurga ada pada ridhonya." timpal Ilham ikut prihatin mendengar cerita Arfan.
"Ya, itu benar. Arfan lihat ibunya menangis tiada henti. Seperti menyesali sesuatu. Tapi Bang, memar dan lebam di wajahnya itu benar-benar serius. Seperti bekas hantaman keras yang mengenai wajahnya. Bahkan darah terus-terusan keluar dari hidung dan pinggir bibirnya. Ini adalah kali pertama Arfan menangani pasien yang terluka karena ulah manusia." Arfan melanjutkan ucapannya, entahlah sejak tadi ia mengkhawatirkan pasien itu.
"Kita bantu do'a, Fan. Semoga ia diberi kesembuhan dan Allah selalu melindunginya. Wanita itu berharga, karena wanita adalah perhiasan yang harus di jaga. Semoga yang melukainya segera sadar dan bertaubat." Ilham ikut merasa iba dengan topik pembicaraan dari adiknya itu--Arfan.
"Ingat Albert, waktumu terus berjalan. Ini adalah hari terakhirmu, dan kami membutuhkan jawabannya. Jika hingga pukul dua belas malam nanti kamu tak memberikan jawaban, maka saya akan menuntut semua kerugian yang saya alami karena ulahmu." Satrio tersenyum sarkistik pada lawan bicaranya.
Sedangkan Albert sudah semakin murka, hingga detik ini Nayla masih kritis. Albert benar-benar membabi buta. Ia bingung harus melakukan apa, jalan keluar dari masalahnya adalah Nayla.
Hanya Nayla yang bisa ia jadikan kunci untuk menyelamatkan semuanya. Pikir Albert.
Albert tak pernah perduli apakah Nayla mau atau tidak. Baginya Nayla harus tetap menikah dengan orang kaya dan mengangkat nama baik perusahaannya yang terancam gugur di beberapa cabang.
"Baiklah, urus saja semua pernikahannya. Saya yang menjamin kalau Nayla akan menikah dengan Angga. Tenang saja, dia anak yang baik dan penurut." ucap Albert penuh keyakinan.
Seketika Angga langsung berdiri, akhirnya selangkah lagi ia sampai pada puncak keinginannya, yaitu menjadi pendamping hidup Nayla.
Setelah mendiskusikan tentang pernikahan Nayla dan Angga. Albert langsung menuju rumah sakit, dia akan menemui Diana dan Nayla. Ini adalah masalah serius, ia harus meyakinkan semuanya akan aman.
Setelah lima belas menit, Albert sampai di rumah sakit di mana Nayla di rawat. Ia langsung menuju ke ruangan Nayla, ini adalah kali keduanya Albert ke rumah sakit selama dua hari Nayla di rawat di sana.
"Diana, bagaimana keadaan Nayla?" tanya Albert to the point. Ia melihat Nayla masih terbaring lemas dengan alat infus di tangannya. Matanya masih tertutup rapat.
"Seperti yang kamu lihat. Untuk apa kamu menanyakannya, kamu juga tidak sayang padanya. Saya benar-benar kecewa padamu, Albert." ucap Diana, ia mengalihkan pandangannya seolah tak mau melihat wajah keturunan Amerika itu.
"Hah! Bodoh sekali jika kamu mengira saya tidak menyayanginya. Saya melakukan ini agar dia sadar. Bahwa yang dia lakukan itu salah dan melanggar aturan-aturan yang saya buat." Albert duduk di sebelah Diana. Ia menatap istrinya yang membuang pandangan darinya.
"Jika kamu saja tak mau di langgar aturan yang kamu buat, begitu juga dengan Tuhan. Jadi, hargailah agama kami, jika kau tak suka maka diam, bukan bertindak dengan tingkah bodohmu itu." Suara Diana naik satu oktaf. Dia masih kesal dengan perbuatan Albert.
"Ya, kali ini saya mengalah. Saya sedang malas berdebat. Saya ke sini hanya ingin memberi kabar bahagia buatmu selaku ibu Nayla," Albert menjeda ucapannya. "Nayla akan tetap menikah dengan Angga, sesuai perjanjian yang telah kami sepakati. Pernikahan akan di lakukan dua bulan lagi, semua akan di atur sedemikian mewah. So, jangan takut anakmu tidak bahagia, Diana. Tugasmu hanga menjadi ibu yang baik untuknya, selebihnya itu urusanku." lanjutnya, ia berkata dengan santainya tanpa memperdulikan ekspresi Diana yang sudah seperti orang yang tersambar api, ia benar-benar bingung dengan pola pikir Albert.
"Baiklah, saya mau istirahat dulu. Kabari saya jika Nayla sudah siuman. Oh ya, saya sudah pesan makanan. Nanti ada suster yang membawakannya ke sini." titah Albert. Diana masih mematung, kerongkongannya seakan tercekik.
Semua ucapan Albert seakan sulit untuk di cerna oleh Diana.
"Aku mencintaimu, Dear." ucap Albert dan mencium kepala Diana yang tertutup jilbab.
Sudah sejak Nayla masuk rumah sakit, Diana menggunakan jilbab. Walau jilbab itu hanya ia lilitkan di kepala, dan rambutnya masih suka terlihat, namun ia sudah berusaha untuk menutup auratnya. Begitu juga dengan pakaiannya, ia menggunakan gamis panjang pemberian Nayla kala itu. Dan khusus hari ini, Diana menggunakan salah satu gamis milik Nayla, ia merindukan Nayla. Ia berharap agar Nayla segera pulih.
"Cantik juga kamu pakai pakaian seperti Nayla. Tapi, lebih cantik lagi kalau kamu berpakaian terbuka. Orang jahat seperti kamu, mana mungkin bisa taubat. Dan percuma saka taubat, dosamu sudah memenuhi isi dunia, Diana." ucap Albert, dan kemudian ia keluar ruangan tanpa menghiraukan ekspresi Diana yang sudah memerah.
"Ya Allah, apakah hamba seburuk itu? Apakah hamba sejahat itu? Apakah benar tidak ada lagi ruang untuk hamba bertaubat? Astaghfirullah." Diana berucap lirih, ia menangis. Perkataan Albert barusan telah menohok hatinya. Imannya kembali goyah, apakah ia memang tidak pantas untuk berubah?
"Bu, tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pernah melakukan dosa. Selagi Allah masih memberi kesempatan, maka bertaubatlah. Tidak ada taubat yang tidak di terima oleh Allah, jika hamba tersebut taubat dengan sungguh-sungguh, dan benar-benar bertaubat. Hinaan, cacian, bahkan makian itu sudah biasa. Semua itu Allah datangkan untuk meninggikan derajat kita, dan jangan sampai tergoyah. Kita tidak butuh penilaian manusia, sebab Allah lah yang menilai kita. Allah Maha Mengetahui."
Ucapan Nayla kala itu membuat Diana menghapus pikiran buruk yang terlintas di benaknya barusan. Seolah Diana mampu merekam ucapan Nayla dengan baik, ia mendengar dan menerapkan apa saja nasihat yang diberikan oleh putrinya itu.
"Nay, cepatlah sadar sayang. Ibu rindu. Allah hadirkan hidayah untuk ibu, melalui kamu, Nayla. Cepatlah sembuh, Sayang. Ibu ingin meraih surga Allah, bersamamu." Isak tangis Diana semakin jadi.
Tangan Nayla bergerak pelan, membuat Diana tersadar dari kesedihannya. Betapa bahagianya ia melihat Nayla mengedipkan matanya. Apakah Allah telah mengabulkan do'a-do'anya?
"I--bu." suara Nayla terdengar serak.
"Nayla, apa masih terasa sakit, Nak?" tanya Diana khawatir. Ia segera menekan bell yang terletak di dekat bangsal, untuk memanggil dokter.
"Nay di mana? Kepala Nay masih sakit." Nayla nampak linglung, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh area ruangan.
Ruangan VVIP itu terlihat sepi sunyi. Hanya ada Diana dengan mata merah dan terlihat sembab. Nayla mencoba untuk mengingat kembali apa yang terjadi padanya terakhir kali.
Nayla berucap istighfar saat kenangan keji itu ia ingat. Dua hari lalu ia telah di siksa oleh Albert. Tepatnya saat sebuah lamaran dari lelaki kaya bernama Angga, yang telah ia tolak, membuat Albert menjadi murka.
Dua suster datang bersama dokter. Mereka sedang memeriksa keadaan Nayla. Setelah hampir beberapa menit, dokter dan suster itu tersenyum ke arah Diana.
"Keadaan Nayla sudah membaik. Alhamdulillah, kondisinya sudah mulai stabil. Hanya di bagian kepalanya yang masih terasa sakit, itu akibat dari benturan di kepalanya. Tetapi saya bersyukur, tidak terjadi hal serius di bagian kepala pasien." jelas sang dokter. Kali ini adalah dokter perempuan.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Dok." balas Diana, ia mencium dahi Nayla. Dokter dan suster langsung ke luar ruangan saat Nayla sudah di pastikan baik-baik saja.
"Nay, makan ya. Nanti Ibu suapin." ucap Diana, tidak sadarkan diri sudah dua hari, Diana yakin Nayla pasti lapar. Walau ada alat infus yang menjalar di tangannya.
Nayla menggeleng pelan. Ia tidak mau makan, setelah mendengar dari Diana bahwa ia sudah tidak sadarkan diri selama dua hari. Nayla menangis, berarti selama dua hari juga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hamba, yaitu sholat.
"Nay, Ibu mau beritahu yang sebenarnya sama Nay. Dan Ibu mau Nay ngelakuin apa yang Ibu minta," Diana menatap Nayla serius.
"Sebelum Nay siuman kemarin, Albert datang ke sini dan mengatakan kalau Nayla sudah resmi menjadi calon Angga ..., pernikahan akan dilakukan dua bulan lagi." Diana kembali terisak, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Nayla jika mengetahui semuanya.
Tetapi, jika tidak memberitahunya, suatu hari Nayla juga akan tahu. Dan itu akan semakin membuatnya terluka. Diana tidak ingin membuat Nayla menderita lagi. Sudah terlalu sering Nayla terluka karenanya.
Nayla yang semula sedang memakan roti, kini ia menghentikan kunyahannya. Ia seakan tidak bisa melanjutkan apa yang sedang ia kunyah, tubuhnya terasa kaku.
Diana langsung mengambil air putih, ia memberikannya pada Nayla. Tanpa disadari air mata Nayla sudah mengalir di wajahnya yang masih pucat. Wajah itu masih di penuhi lebam-lebam yang membekas.
"Tapi, Nay tidak usah khawatir. Ibu ada rencana, Ibu mohon agar Nay mau menurutinya." pinta Diana dengan sungguh-sungguh.
Nayla hanya mendengar setiap ucapan Diana. Suaranya seakan sulit untuk dikeluarkan. Ia benar-benar berharap kalau Allah tidak menjodohkannya dengan Angga. Lelaki yang hidup dengan keangkuhan dan kesombongan.
"Kamu harus pergi dari sini. Pergi dari Indonesia, dan tinggalkan Indonesia. Pergilah ke negara luar, Ibu ingin agar Nayla baik-baik saja. Ibu sudah mempersiapkan semuanya. Nay pergilah, Ibu tidak mau melihat Nay terus menderita." ucap Diana, meyakinkan.
-Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an dalam segala hal-