Beberapa tahun kemudian, Dea pulang membawa pasangannya, seorang peneliti bernama Raka Mahendra. Mobil sewaan mereka berhenti di depan pagar menjelang sore, berdebu karena jalan pesisir yang panjang dan berlubang di beberapa tempat. Ia memberi tahu orang tuanya sebelum datang dan meminta mereka tidak menyusun rencana pernikahan. Permintaan itu disampaikan lewat telepon, dua kalimat saja, dan Dine menuliskannya di kertas tempel di pintu kulkas supaya tidak ada yang lupa dan tidak ada yang berpura-pura lupa.
"Kami belum memutuskan menikah," katanya, begitu sepatunya dilepas di teras.
Bian menahan banyak pertanyaan. Ia merasakannya menumpuk di tenggorokan seperti dulu, daftar yang tersusun sendiri tanpa diminta: keluarganya siapa, kerjanya di mana, penghasilannya berapa, niatnya apa. Ia menelan semuanya dan menyodorkan tangan lebih dulu. Dine hanya meminta Raka menceritakan dirinya sendiri, bukan daftar pencapaian.
Raka duduk agak kaku di kursi rotan yang berderit tiap kali ia bergeser, memutar gelas tehnya sebelum bicara. Ia bercerita tentang kampung tempat ia dibesarkan, tentang ayahnya yang menjual es dan ibunya yang menjahit, tentang kenapa ia memilih meneliti air alih-alih hal lain yang lebih menghasilkan uang. Ia mengaku pernah mengetahui nama Emery sebelum mengenal Dea, tetapi tidak tertarik bekerja di perusahaan. Ia menyebutnya terus terang, tanpa mengecilkan dan tanpa menyanjung, dan itu membuat Bian diam-diam melunak. Ia dan Dea memiliki perbedaan mengenai tempat tinggal serta anak dan belum menemukan jawaban. Dea tidak memotong ketika bagian itu disebut; ia justru mengangguk, seolah senang perbedaan itu diletakkan di atas meja sejak awal, di depan orang tuanya, bukan disimpan untuk nanti.
"Bagus kalian membicarakannya sebelum membuat acara," kata Dine.
Dea mengetahui kalimat itu berasal dari sejarah panjang ibunya. Ia tidak bertanya lebih jauh, tetapi ia menatap ibunya sedetik lebih lama, dan Dine membalasnya dengan senyum tipis yang tidak perlu diterjemahkan oleh siapa pun di ruangan itu.
Malamnya mereka makan di halaman dekat pohon Dre. Meja panjang dikeluarkan, lampu gantung kecil dinyalakan, dan angin membawa bau asin dari arah laut bersama suara serangga malam. Tidak ada penilaian diam-diam atau penyelidikan latar belakang oleh Bian. Ketika merasa khawatir, ia bertanya langsung kepada Dea apakah pemeriksaan keamanan dasar dibutuhkan. Pertanyaan itu diajukan pelan, di dapur, sambil membawa tumpukan piring kotor, dan ia sudah menyiapkan diri untuk ditolak. Dea menolak dan Bian menerima. Ia hanya mengangguk sekali, meletakkan piring di bak cuci, lalu kembali ke halaman seperti tidak terjadi apa-apa. Di dadanya masih ada sisa gelisah yang tidak hilang hanya karena ia menahannya, tetapi ia sudah belajar membedakan antara melindungi dan mengendalikan, dan ia tahu di mana garis itu berada. Dulu ia melewatinya tanpa merasa bersalah. Sekarang ia berhenti di depannya, dan berhenti pun ternyata masih terasa berat setiap kali.
Setelah Dea serta Raka kembali ke penginapan, Dine dan Bian duduk di teras. Lampu di halaman dimatikan satu per satu, menyisakan cahaya kuning di dekat pintu dan bayangan daun yang bergerak di lantai semen. Usia telah memperlambat langkah mereka, tetapi kebiasaan berbicara sebelum bertindak tetap memerlukan usaha; keduanya tahu itu bukan sifat yang tumbuh sendiri, melainkan otot yang harus terus dipakai supaya tidak mengecil.
"Menurutmu mereka akan menikah?" tanya Bian.
"Bukan keputusan kita."
Bian tersenyum ke arah gelap. "Aku tahu. Aku hanya bertanya pendapat."
Dine bersandar, memandang dahan pohon Dre yang bergerak pelan di atas pagar. Ia menimbang dua kemungkinan itu di kepalanya, dan menyadari bahwa keduanya sama-sama bisa ia terima. Itu hal yang dulu tidak mungkin ia rasakan. "Mungkin. Mungkin tidak."
Angin naik sebentar, membawa bau laut dan bau kayu basah, lalu reda lagi. Mereka duduk tanpa bicara cukup lama sampai lampu terakhir di rumah tetangga ikut padam.
Keesokan pagi Dea berangkat kembali ke pusat penelitian. Ranselnya berat sebelah, dan ia menolak dibantu seperti biasa sejak umur sepuluh tahun. Ia tidak membawa cincin, kewajiban meneruskan perusahaan, atau naskah kehidupan yang disusun orang tua. Yang ia bawa hanya kotak bekal, jaket lapangan yang sudah pudar warnanya, dan alamat penginapan berikutnya di secarik kertas. Di ambang pintu ia memeluk ibunya agak lama, lebih lama daripada biasanya, lalu memeluk ayahnya sambil menepuk punggungnya dua kali, cara yang sama seperti waktu ia masih kecil dan tidak ingin terlihat sedih.
Dine dan Bian mengantarnya sampai gerbang. Pagi itu masih berembun, aspal basah, dan suara mesin terdengar terlalu keras di jalan yang belum ramai. Mereka melambai, mobil itu berbelok, dan mereka tidak mengikuti kendaraan setelah hilang di tikungan. Bian sempat menahan langkah satu detik lebih lama, lalu berbalik lebih dulu menuju rumah.
Di ruang keluarga, foto orang tua Dine, orang tua Bian, Dre, Dea, serta perjalanan mereka berdiri tanpa disusun sebagai silsilah kekuasaan. Tidak ada yang diletakkan lebih tinggi, tidak ada bingkai yang sengaja dibuat lebih besar untuk menandai siapa yang paling berkuasa. Debu tipis menempel di kaca, dan cahaya pagi masuk miring dari jendela timur, jatuh persis di bingkai kayu paling kecil. Beberapa foto sudah menguning di sudutnya. Ada wajah-wajah yang pernah saling menyakiti dengan diam, ada yang pernah menutupi kebenaran demi menjaga nama, dan semuanya tetap dipajang tanpa disunting. Setiap gambar menyimpan kesalahan dan kasih sayang dalam ukuran manusia.
Bian menggenggam tangan Dine. Telapaknya kering dan hangat, jari-jarinya tidak selentur dulu, dan ia menggenggam agak lama sebelum akhirnya membuka suara.
"Dulu aku datang ke akadmu dan berteriak ada orang main belakang."
"Kamu membuat keributan besar."
Ia tertawa pendek, lalu diam agak lama. "Kalau waktu diulang, apa kamu ingin aku tidak datang?"
Dine memikirkan pertanyaan itu. Ia tidak menjawab cepat; ia jarang menjawab cepat untuk hal yang benar-benar penting, dan Bian sudah lama berhenti mendesaknya. "Aku berharap kebenaran datang jauh sebelum akad. Tapi dengan keadaan saat itu, aku tetap memilih mengetahuinya."
"Dan sekarang?"
"Sekarang kita tidak perlu berteriak dari belakang. Kalau ada yang berubah, kita katakan dari depan."
Mereka berdiri berdampingan melihat pagi. Di luar, embun mulai menguap dari pagar besi, dan seekor kucing liar menyeberang halaman tanpa menoleh ke arah mereka. Tidak ada jaminan seluruh pilihan mereka benar. Tidak ada pula rahasia yang sengaja diletakkan untuk mengendalikan jalan pasangan.
Kisah yang dimulai dengan seseorang main belakang berakhir dengan dua orang memilih hidup dari depan—terlihat, terdengar, dan dapat dipertanyakan.