Aula Yayasan Edrea pagi itu berbau kopi encer, kertas baru, dan sedikit kapur dari papan tulis yang belum sempat dilap. Kursi lipat berjejer sampai menempel dinding belakang, sebagian besar sudah terisi sejak pukul tujuh oleh peserta yang datang dari kota-kota kecil di pesisir. Ada yang membawa ransel berisi baju ganti, ada yang masih memakai sepatu berlumpur karena semalam menolong induk kambing beranak. Spanduk di panggung dicetak sederhana, huruf hitam di atas kain putih, tanpa logo perusahaan mana pun. Kipas angin gantung berputar pelan, menimbulkan derit tipis yang lama-lama tidak lagi didengar siapa pun.
Yayasan Edrea mengadakan pelatihan ke seratus. Angka itu terasa besar di kepala panitia; mereka sempat mengusulkan tema yang gagah, sesuatu yang bisa dipajang di dinding dan difoto. Dine diminta memberi judul acara dan memilih Seratus Pilihan, bukan Seratus Keberhasilan. Ia menimbang kata itu berhari-hari, membolak-baliknya seperti membolak-balik hasil pemeriksaan yang meragukan. Keberhasilan adalah kata yang menutup pintu; ia membuat orang takut mengakui yang gagal. Pilihan adalah kata yang membuka pintu, karena pilihan selalu boleh ditinjau ulang.
Ia berdiri di depan tanpa podium, tangan kirinya menahan siku kanan, kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.
"Setiap pelayanan lahir dari pilihan kecil," katanya. Ia berhenti sebentar, membiarkan kalimat itu turun sampai ke baris paling belakang. "Bertanya, mencatat, mengakui ketidaktahuan, dan meminta bantuan."
Ruangan diam beberapa detik. Bukan diam yang canggung, melainkan diam orang yang sedang mencocokkan kalimat itu dengan kejadian di klinik masing-masing. Seorang peserta di baris ketiga menunduk mencatat, ujung pulpennya bergerak cepat, dan Dine merasakan sesuatu yang hangat naik di dadanya. Bukan bangga. Lebih mirip lega. Ia teringat dirinya yang dulu, yang mengira menjadi dokter berarti tidak boleh terlihat ragu di depan pemilik hewan, dan yang butuh bertahun-tahun untuk mengerti bahwa kalimat paling menyelamatkan justru pengakuan bahwa ia belum tahu.
Bian duduk di baris belakang. Rambutnya mulai memutih, terutama di pelipis, dan gangguan irama jantungnya tetap terkontrol; ia membawa kotak obat kecil di saku dalam jasnya, kebiasaan yang dulu ia tolak dan kini ia jalani tanpa keluhan. Ia tidak lagi memegang posisi di Emery, tetapi sesekali memberikan kuliah tata kelola di kampus dan di forum pengusaha muda. Ia menyukai kursi belakang. Dari sana ia bisa melihat punggung orang-orang yang mendengarkan istrinya, dan ia tidak perlu memasang wajah untuk siapa pun.
Faris hadir membawa laporan bahwa Emery telah menghapus sisa hak pewarisan otomatis dalam struktur perusahaan. Ia menyerahkan map tipis itu di sela rehat, di meja kecil dekat termos, seolah isinya urusan biasa yang tidak perlu diumumkan. Saham keluarga tetap ada sebagai kepemilikan ekonomi, tetapi tidak memberikan jabatan. Bian membaca dua halaman pertama, lalu menutup mapnya dan meletakkannya di pangkuan. Dulu kalimat semacam itu akan terasa seperti kehilangan; sekarang terasa seperti pintu yang akhirnya dipasangi engsel yang benar. Faris tidak menunggu ucapan terima kasih. Ia menuang kopi, berdiri sebentar di dekat jendela, lalu masuk kembali ke aula bersama peserta yang lain seperti orang biasa yang datang untuk belajar.
Dea bergabung melalui video dari kampus tempat ia melanjutkan studi. Wajahnya muncul di layar proyektor, agak pucat karena lampu ruang laboratorium, rambut diikat asal, dan di belakangnya rak berisi botol sampel bernomor. Penelitiannya mengenai kesehatan laut serta rantai pangan memenangkan pendanaan independen. Ia menjelaskan dengan cepat, sesekali menahan tawa ketika sinyalnya tersendat dan suaranya terpotong di tengah kata, dan peserta bertepuk tangan sebelum ia sempat menutup penjelasannya. Dine menatap layar itu lebih lama daripada yang ia sadari. Di layar itu ada perempuan muda yang bicara soal air, ikan, dan angka, tanpa satu pun kalimat tentang siapa orang tuanya. Justru itu yang membuat tenggorokan Dine terasa penuh, dan ia harus berpura-pura membetulkan mikrofon supaya suaranya kembali rata.
Usai acara, ketika kursi-kursi sudah dilipat dan aula kembali menjadi ruang kosong yang bergema, Dine dan Bian mengunjungi pohon Dre. Sore turun pelan, udara berbau tanah yang baru disiram. Batu kecilnya sudah tertutup lumut, hijau gelap dan lembap, hampir menyatu dengan rumput di sekitarnya. Mereka membersihkannya bersama, jongkok berdampingan, memakai sikat bekas dan air dari botol. Lutut Bian berbunyi ketika ia menekuknya, dan ia pura-pura tidak mendengar bunyi itu. Lumut yang terkelupas menempel di kuku mereka, berbau tanah dan air lama. Huruf yang dipahat di batu itu muncul kembali sedikit demi sedikit, dangkal dan sederhana, seperti nama yang ditulis anak kecil di pasir.
"Kalau tidak ada Dre, kita mungkin tidak bertemu," kata Bian. Suaranya rendah, matanya tetap pada batu itu.
Dine menyapu lumut terakhir dengan ibu jarinya sebelum menjawab. "Kalau tidak ada Dre, mungkin kita bertemu dengan cara lain. Jangan membebani kucing dengan takdir."
Bian menoleh, alisnya terangkat sedikit, dan senyumnya muncul tanpa ia rencanakan. "Kamu masih merusak romantismeku."
"Itu pekerjaanku seumur hidup."
Mereka tertawa. Tawa yang tidak keras, jenis tawa yang hanya bisa tumbuh setelah bertahun-tahun saling menahan dan saling memaafkan, dan seekor burung di dahan atas terbang karena merasa terganggu.
Pada malam itu, mereka membuka arsip surat lama. Kotak kayunya berdebu di bagian tutup, dan engselnya berderit ketika diangkat. Isinya tertata menurut tahun, dari pesan pertama Bian hingga surat ulang tahun pernikahan. Mereka membacanya bergantian di bawah lampu ruang tengah, kaki Dine terlipat di sofa, kacamata baca Bian melorot ke ujung hidung. Beberapa kalimat membuat malu; ada kalimat Bian yang terlalu yakin pada dirinya sendiri, ada kalimat Dine yang terlalu sopan sampai menyembunyikan marahnya. Beberapa menunjukkan betapa jauh pola mereka berubah, dan justru bagian itu yang membuat keduanya lama terdiam.
Dine mengambil kertas kosong dan menulis satu surat lagi. Tulisannya masih miring dan cepat seperti dulu: kami tidak berhasil karena selalu memilih benar. Kami bertahan karena pilihan yang salah dapat disebut, diperiksa, dan diperbaiki.
Bian membaca dari balik bahunya, lalu meminta pulpen itu. Ia menimbang sebentar, seperti orang yang tahu satu kalimat bisa menentukan cara anaknya membaca seluruh hidup orang tuanya. Bian menambahkan: dan tidak disembunyikan di belakang pasangan.
Surat itu dilipat dua, dimasukkan ke amplop tanpa nama pengirim, lalu disimpan untuk Dea tanpa kewajiban menjadikannya pedoman. Keduanya sepakat soal itu tanpa perlu membahasnya panjang-panjang. Ia hanya catatan dua orang, bukan hukum bagi generasi berikutnya. Lampu ruang tengah dimatikan, kotak kayu itu kembali naik ke rak, dan rumah menjadi sunyi dengan cara yang tidak lagi menakutkan siapa pun di dalamnya.