Tiga bulan setelah menikah, Bian dan Dine akhirnya mengambil bulan madu selama sepuluh hari. Mereka memilih Selandia Baru, tetapi tidak tinggal di properti keluarga Emery. Rumah sewaan itu kecil, berdinding kayu, dan menghadap danau yang airnya berubah warna tiap beberapa jam. Ada perapian yang harus dinyalakan sendiri dan kunci pintu yang harus diputar dua kali supaya benar-benar terkunci.
Hari pertama berjalan tenang. Mereka bangun terlambat, berjalan kaki tanpa tujuan, dan makan malam di dapur dengan piring yang bukan milik siapa pun. Udara dingin dan bersih, jenis dingin yang membuat orang tidur lebih nyenyak daripada biasanya.
Keputusan untuk tidak menempati properti keluarga itu dibuat Dine tanpa banyak penjelasan, dan Bian tidak menuntut penjelasan. Rumah keluarga selalu datang bersama penjaga, juru masak, dan seseorang yang melaporkan kedatangan mereka kepada orang lain. Sepuluh hari itu terlalu sedikit untuk dibagi dengan pihak ketiga mana pun.
Hari kedua, Bian menerima kabar pusat keamanan biologis mengalami kebocoran data. Ponselnya bergetar tiga kali berturut-turut sebelum pukul tujuh pagi. Ia duduk di meja dekat jendela, membuka laptop, dan menghabiskan empat jam dalam rapat daring. Suaranya rendah dan terkendali, tetapi jarinya mengetuk permukaan meja sepanjang waktu.
Dine pergi berjalan sendiri setelah memberi tahu, bukan diam-diam. Ia mengambil jaket, mengatakan akan ke tepi danau, dan menutup pintu pelan supaya tidak mengganggu rapat. Angin di luar membawa bau air dan rumput basah. Ia berjalan sampai sepatunya kotor dan pikirannya berhenti berputar.
Ada bagian dari dirinya yang ingin marah, dan ia membiarkan bagian itu bicara sepanjang jalan setapak sampai lelah sendiri. Marah pun tidak akan menghentikan kebocoran data di gedung yang jaraknya ribuan kilometer. Yang bisa ia tuntut bukan agar dunia berhenti mengetuk, melainkan agar suaminya tidak berpura-pura ketukan itu lebih penting daripada seluruh sepuluh hari ini.
Bian merasa bersalah ketika melihat istrinya kembali menjelang sore, wajahnya merah oleh angin.
"Aku merusak perjalanan kita," katanya.
Dine melepas jaket dan menggantungnya di sandaran kursi.
"Kamu menghadapi masalah nyata. Yang menentukan adalah apa yang dilakukan setelahnya."
Bian menyerahkan penanganan kepada direktur setelah fase darurat selesai dan mematikan notifikasi nonkritis. Ia melakukannya di depan Dine, satu per satu, supaya bisa dilihat dan bukan sekadar dijanjikan. Kebocoran ternyata berasal dari kesalahan konfigurasi, bukan sabotase baru. Kabar itu datang malamnya, dan untuk pertama kalinya Bian tidur tanpa ponsel di dekat bantal.
Pada hari berikutnya, giliran Dine menerima telepon tentang pasien penting di Animalia. Ia berdiri di depan perapian sambil mendengarkan, dan tangannya sudah meraih tas sebelum ia sadar sedang melakukannya. Ia hampir mengubah penerbangan, tetapi kepala klinik sudah menangani dengan benar dan menyebutkan langkah demi langkah yang tidak bisa Dine bantah.
Ia menutup telepon, duduk, lalu tertawa pendek pada dirinya sendiri.
"Aku juga sulit percaya orang lain mampu tanpa aku," akunya.
Malam itu mereka membicarakannya di depan perapian, dengan api yang harus disulut ulang dua kali karena kayunya lembap. Keduanya menyadari hal yang sama dari sisi berbeda: bukan pekerjaan yang mengganggu perjalanan itu, melainkan keyakinan lama bahwa dunia akan runtuh kalau tangan mereka dilepas sebentar saja. Keyakinan itu terasa seperti tanggung jawab, padahal lebih dekat ke rasa takut.
Mereka menetapkan satu jam kerja setiap pagi dan sisanya bebas kecuali keadaan darurat. Jam itu dijalankan berdampingan di meja yang sama, dan ketika habis, laptop ditutup betulan. Aturan sederhana itu membuat keduanya dapat menikmati perjalanan tanpa berpura-pura pekerjaan tidak ada, dan tanpa membiarkannya memakan seluruh hari.
Di tepi danau, duduk di batu besar yang permukaannya dingin menembus celana, mereka membicarakan anak lagi. Dine belum ingin segera mencoba hamil. Ia mengatakannya langsung, tanpa memperhalus, karena ia sudah pernah menghabiskan bertahun-tahun menjaga perasaan orang dengan cara menyembunyikan keinginannya sendiri. Ia ingin menjalani program yayasan setidaknya satu tahun.
Bian mengangguk lama sebelum menjawab. Ia mengaku siap menunggu, tetapi bertanya kapan mereka akan meninjau kembali, karena menunggu tanpa titik tinjauan pernah membuatnya menebak-nebak, dan menebak-nebak selalu berakhir buruk untuk mereka berdua.
"Enam bulan lagi," kata Dine. "Bukan tenggat untuk hamil. Hanya waktu untuk bicara ulang."
"Setuju."
Air danau bergerak pelan di bawah mereka. Seekor burung terbang rendah lalu hilang di balik barisan pohon.
Dine merasakan sesuatu mengendur di dadanya setelah kata itu diucapkan. Bukan karena keputusannya berubah, melainkan karena untuk pertama kalinya ia membicarakan anak tanpa merasa sedang diperiksa. Tidak ada yang menghitung usianya, tidak ada yang menyebut kewajiban, dan tidak ada yang menunggu jawaban demi diteruskan kepada orang lain di ruangan sebelah.
Sisa hari-hari itu diisi hal yang tidak akan menarik diceritakan kepada siapa pun. Mereka salah membaca peta dan berjalan satu jam lebih jauh dari seharusnya. Bian belajar menyalakan perapian tanpa mengasapi seluruh ruangan. Dine tidur siang di kursi dekat jendela dan bangun dengan bekas kain di pipi. Tidak ada satu pun dari itu yang pantas difoto, dan justru karena itu semuanya terasa milik mereka sendiri.
Malam terakhir, Bian memberikan surat, bukan hadiah mahal. Kertasnya diambil dari laci rumah sewaan itu dan tulisannya agak miring karena ditulis di pangkuan. Isinya daftar hal yang dipelajarinya selama tiga bulan menikah: memberi kabar, meminta izin sebelum melindungi, dan tidak menganggap solusi tercepat selalu terbaik.
Dine membacanya dua kali, lalu meminta pena.
Dine menambahkan satu baris di bawahnya: tidak menunggu sampai marah untuk mengatakan kebutuhan.
Mereka menandatangani surat itu dengan tanggal, memakai pena yang sama supaya warnanya seragam, melipatnya menjadi tiga, lalu menyimpannya untuk dibaca pada ulang tahun pernikahan.
Dine menaruh surat itu di dalam buku, lalu memindahkannya ke amplop karena takut hilang. Ia sadar sedang memperlakukan selembar kertas seperti dokumen penting. Mungkin memang begitu. Selama ini kesepakatan di antara mereka selalu diucapkan, dan yang diucapkan mudah sekali diingat dengan versi yang paling menguntungkan diri sendiri.
Saat pulang ke Jakarta, udara panas menyambut mereka di pintu pesawat seperti sesuatu yang tidak pernah pergi ke mana-mana. Masalah rumah tangga belum selesai. Pekerjaan masih menuntut, keluarga tetap memiliki pendapat, dan masa lalu belum hilang dari internet.
Namun kali ini mereka pulang ke rumah yang namanya ditulis bersama, tempat dua orang belajar bahwa pernikahan bukan akhir cerita, melainkan latihan panjang untuk tidak kembali main belakang dalam bentuk apa pun.