Enam bulan setelah pembicaraan di tepi danau, Dine dan Bian membuka kembali topik anak sesuai kesepakatan. Hujan baru berhenti sore itu, dan bau tanah basah masih naik dari halaman depan. Di ruang keluarga lampu belum dinyalakan; sisa cahaya dari jendela jatuh miring di lantai kayu, memanjang sampai ke kaki meja. Dre tidur di antara dua bantal, perutnya naik turun pelan, sama sekali tidak peduli pada percakapan yang sedang disiapkan dua manusia di dekatnya.
Mereka duduk tanpa agenda lain. Itu bagian dari kesepakatan mereka: topik ini tidak boleh diselipkan di sela urusan lain, tidak boleh dibicarakan sambil membalas surel, tidak boleh dijadikan penutup rapat rumah tangga tentang tagihan dan jadwal. Ponsel keduanya tergeletak telungkup di meja. Dine memegang cangkir yang isinya sudah tidak panas dan memutar-mutarnya pelan, menunggu dirinya sendiri cukup berani untuk memulai.
Ia mulai dari bagian yang paling mudah dikatakan. Dine masih ingin memimpin program yayasan selama satu tahun lagi. Program itu baru berjalan setengah jalan, dan ia hafal betul bagian mana yang akan goyah kalau ia melepasnya sekarang. Ada janji kepada klinik-klinik kecil di daerah yang belum ia tunaikan, dan janji semacam itu tidak bisa dititipkan begitu saja kepada orang lain.
Ia menyebutkan satu per satu apa yang harus diserahkan seandainya ia berhenti: jadwal pelatihan, daftar wilayah yang masih antre, negosiasi harga obat yang baru setengah selesai. Bian mendengarkan tanpa memotong, meski ia tahu sebagian besar pekerjaan itu bisa dibeli waktunya dengan uang. Ia sudah belajar bahwa menawarkan uang pada saat seperti ini terdengar seperti menawarkan jalan keluar dari sesuatu yang tidak dianggap Dine sebagai masalah.
Namun Dine juga mengaku, dengan suara yang lebih pelan, bahwa ia mulai membayangkan memiliki anak. Dahulu bayangan itu selalu datang bersama rasa takut: takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan tubuhnya sendiri, takut menjadi seseorang yang keputusannya diambil alih orang lain atas nama kebaikan. Sekarang bayangan itu masih membawa takut, tetapi bukan hanya takut.
"Aku ingin, tapi bukan sekarang juga," katanya.
Bian merasa lega. Kelegaan itu datang begitu cepat sampai ia sempat malu, sebab artinya ia memang sedang menunggu sebuah jawaban. Lalu ia menyadari sesuatu yang membuatnya duduk lebih tegak: kelegaannya dapat berubah menjadi tekanan. Kalau Dine tahu suaminya lega karena penundaan, Dine juga akan tahu suaminya sedang menunggu ujungnya. Menunggu adalah bentuk tekanan yang paling sopan sekaligus paling sulit ditolak.
"Kapan pun kamu siap, kita bicara lagi. Aku juga perlu belajar soal pembagian pengasuhan, bukan cuma menunggu hasil."
Ia mengucapkannya dan langsung sadar betapa sedikit yang benar-benar ia ketahui. Ia tidak tahu berapa kali bayi harus disusui semalam, tidak tahu cara menopang kepala bayi yang belum kuat, tidak tahu apa pun selain bahwa ayahnya dahulu hampir tidak pernah ada di rumah dan tidak seorang pun menganggap hal itu aneh. Pengakuan itu ia simpan untuk dirinya sendiri, tetapi ia memutuskan akan mengurusnya.
Dari situ mereka sepakat berkonsultasi mengenai kesehatan reproduksi tanpa langsung memulai program kehamilan. Ruang tunggu klinik pagi itu dingin, berbau pembersih lantai, dan penuh pasangan yang saling diam. Dine mengisi formulir dengan tulisan yang rapi berlebihan, kebiasaan lamanya setiap kali gugup. Bian duduk di sampingnya tanpa mengambil alih pena, meski tangannya sempat bergerak ingin membantu.
Pemeriksaan menunjukkan tidak ada masalah mendesak. Dokter menjelaskan angka-angka itu tanpa kesan sedang menjual harapan. Ia menegaskan usia serta kondisi mereka perlu dipertimbangkan, tetapi keputusan tetap milik pasangan. Kalimat terakhir itu diucapkan sambil menutup map, dan Dine menyimpannya jauh lebih lama daripada seluruh hasil laboratorium yang mereka bawa pulang.
Di dalam mobil, tidak ada yang bicara selama beberapa kilometer. Dine menempelkan pelipisnya ke kaca yang dingin dan memperhatikan lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Ada rasa lapang yang aneh: bukan kegembiraan, melainkan perasaan bahwa pintu itu masih terbuka dan mereka boleh berdiri di ambangnya selama yang mereka mau.
Kabar konsultasi bocor setelah seseorang melihat mereka di klinik. Tiga hari kemudian judul berita sudah berbunyi bahwa pewaris Emery sedang dipersiapkan, lengkap dengan foto buram dari sudut parkir. Ada kolom komentar yang menghitung usia Dine dan memperkirakan jadwal terbaiknya, seolah rahim seseorang adalah kuartal keuangan yang boleh dianalisis siapa saja.
Dine marah karena tubuhnya kembali diperlakukan sebagai urusan perusahaan. Kemarahannya tidak meledak; ia justru menjadi sangat rapi, mencuci gelas yang sudah bersih, meluruskan tumpukan buku yang sudah lurus. Bian mengenali tanda itu dan tidak menawarkan kalimat penghibur yang murah.
Bian meminta tim komunikasi tidak mengonfirmasi apa pun, termasuk membantah. Membantah pun berarti mengakui bahwa perut istrinya layak menjadi topik. Dewan keluarga punya pendapat lain; mereka ingin mengeluarkan pernyataan mengenai kelangsungan generasi Emery, sesuatu yang menurut mereka akan menenangkan pasar. Ia menolak di ruang rapat yang dingin, di depan wajah-wajah yang tidak terbiasa ditolak.
"Anak kami, jika ada, bukan rencana suksesi," katanya.
Dine memberikan pernyataan singkat melalui akun Animalia bahwa kunjungan medis bersifat pribadi. Ia menulisnya sendiri, menghapus dua kali, dan pada akhirnya tidak menjelaskan hasil atau rencana. Ia sadar setiap detail yang ia berikan akan menjadi pintu bagi pertanyaan berikutnya, dan pintu semacam itu tidak pernah benar-benar bisa ditutup kembali.
Tekanan publik membuat Dine sempat ingin menunda pembicaraan sama sekali. Menunda terasa seperti perlindungan: kalau tidak ada yang diputuskan, tidak ada yang bisa diberitakan. Dalam konseling, di ruangan kecil dengan kipas yang berputar terlalu berisik, ia menyadari keputusan itu juga berarti membiarkan orang luar mengendalikan waktu mereka.
"Aku tidak mau mempercepat karena mereka, tapi juga tidak mau menunda karena mereka," katanya.
Mereka menetapkan evaluasi enam bulan berikutnya, ditulis di kalender bersama seperti jadwal vaksin Dre, tanpa upacara apa pun. Sementara itu, Bian mulai menata cuti orang tua di Emery Holding. Ia tidak menyusunnya hanya untuk dirinya, melainkan untuk seluruh pekerja tanpa membedakan ayah dan ibu, termasuk mereka yang bekerja di gudang dan di armada distribusi.
Prosesnya sama sekali tidak romantis. Ada perdebatan panjang soal biaya, ada manajer yang bertanya apakah pria benar-benar perlu cuti, ada angka yang harus dihitung ulang tiga kali sebelum masuk akal. Bian mengerjakannya pelan-pelan, tanpa sekali pun mengumumkannya sebagai hadiah untuk istrinya.
Dine membaca rancangan aturan itu di meja makan dengan pensil di tangan, lalu mencoret satu kalimat yang menurutnya masih membuka celah bagi atasan untuk menekan bawahan. Bian menerima coretan tersebut tanpa membela diri.
Ia melihat kebijakan itu sebagai jawaban yang jauh lebih nyata daripada janji bahwa kelak ia akan dibantu. Janji hanya hidup selama orang yang mengucapkannya masih ingat. Aturan tertulis tetap ada meski penulisnya sedang sibuk, sedang lelah, atau sedang tidak berada di rumah. Malam itu Dine tidur lebih cepat daripada biasanya, dan Dre pindah ke bantal ketiga tanpa meminta izin siapa pun.