Program nasional yang dipimpin Dine meningkatkan jumlah pasien rujukan ke Animalia. Setiap pagi ruang tunggu sudah penuh sebelum pintu resmi dibuka: kandang jinjing bertumpuk di dekat dinding, seekor anjing tua terengah di bawah kipas, dan telepon yang tidak pernah diam lebih dari lima menit. Ruang klinik tidak lagi cukup, tetapi Dine tetap menolak tawaran jaringan mewah yang datang hampir setiap bulan.
Tawaran itu selalu terdengar masuk akal di halaman pertama. Gedung baru, alat lengkap, gaji staf naik. Baru di halaman ketiga muncul kalimat mengenai hak menentukan tarif dan pemilihan pasien. Dine sudah cukup lama membaca dokumen semacam itu untuk tahu bahwa yang dibeli bukan kliniknya, melainkan hak untuk menolak hewan yang pemiliknya tidak mampu membayar.
Maka ia menyusun koperasi dokter hewan bersama tiga klinik kecil. Mereka berbagi laboratorium, ambulans hewan, dan jadwal spesialis tanpa menjual kepemilikan masing-masing. Rapat pertama berlangsung di ruang belakang salah satu klinik, di atas meja periksa yang dilapisi taplak plastik, dengan kopi yang dituang ke gelas bekas selai.
Pembagian tanggung jawab dibahas sampai larut. Siapa menanggung biaya bahan bakar ambulans, bagaimana kalau dua klinik membutuhkan spesialis yang sama pada jam yang sama, siapa yang menandatangani ketika salah satu pemilik sedang keluar kota. Dine memaksa semuanya ditulis, sekalipun terasa berlebihan di antara orang-orang yang sudah saling kenal bertahun-tahun. Justru karena saling kenal, katanya, semua orang nanti akan sungkan menagih kalau tidak ada tulisannya.
Bian menawarkan sistem distribusi Emery untuk mengantar obat ke daerah. Ia menyampaikannya di rumah, di sela makan malam, dengan nada seringan mungkin agar tidak terdengar seperti tawaran pemilik perusahaan kepada istrinya. Dine menerima hanya setelah kontrak ditinjau independen dan harga dibandingkan dengan penyedia lain.
Peninjauan itu memakan waktu tiga minggu. Dua penyedia lain diminta memberikan penawaran resmi, lengkap dengan jadwal pengiriman ke wilayah paling jauh. Emery menang bukan karena namanya, melainkan karena armadanya memang sudah melintasi jalur itu setiap Selasa.
Dine menyimpan seluruh berkas perbandingan itu di lemari koperasi, bukan di rumah. Ia ingin siapa pun yang kelak mempertanyakan kerja sama tersebut dapat membuka mapnya sendiri tanpa harus bertanya kepadanya lebih dahulu. Ketelitian semacam itu memakan waktu dan tidak pernah dipuji siapa-siapa, tetapi ia sudah cukup sering melihat bagaimana kecurigaan tumbuh subur di ruang yang gelap.
"Kamu masih memeriksa setiap tawaranku seperti jebakan," kata Bian bercanda.
"Karena suamiku memiliki terlalu banyak perusahaan."
Ia mengatakannya sambil tersenyum, tetapi keduanya tahu kalimat itu bukan sepenuhnya lelucon. Kerja sama berjalan baik selama beberapa bulan, sampai salah satu manajer Emery menggunakan logo Animalia dalam iklan produk pakan. Iklan itu terpasang di papan besar dekat pintu tol, dan seorang staf klinik memotretnya dari dalam angkot lalu mengirimkannya ke grup dengan tanda tanya panjang.
Dine meminta iklan dihentikan dan ganti rugi dibayarkan kepada koperasi. Ia menulis surat itu dua kali. Versi pertama terlalu marah; pada versi kedua ia membuang seluruh kalimat yang menyebut nama suaminya, karena surat itu harus tetap berdiri seandainya dibaca orang yang tidak tahu siapa menikah dengan siapa.
Manajer itu mengira hubungan Dine dengan Bian berarti izin tidak perlu formal. Dalam pemeriksaan ia mengatakannya terang-terangan, seolah itu penjelasan yang meringankan, bukan pengakuan. Bian menjatuhkan sanksi melalui prosedur, bukan lewat panggilan telepon di luar jam kerja, dan meminta seluruh anak perusahaan mengikuti pelatihan konflik kepentingan.
Ada bagian dari dirinya yang ingin memecat orang itu hari itu juga. Ia menahannya, sebab keputusan yang lahir dari rasa tersinggung selalu terlihat seperti pembelaan pribadi, dan pembelaan pribadi persis hal yang sedang ia coba hapus dari cara perusahaan bekerja.
Dine tidak melunakkan tuntutan karena takut disebut memanfaatkan posisi. Ia juga tidak meminta hukuman lebih berat demi menunjukkan independensi. Dua-duanya sama-sama godaan; dua-duanya sama-sama membuat keputusan bergantung pada hubungan mereka, bukan pada kesalahan yang benar-benar terjadi. Ia menghitung angka kerugian koperasi, mengirimkannya, lalu berhenti di situ.
Koperasi kemudian membuka pusat rawat darurat malam hari. Kebutuhannya sudah lama terlihat: hewan yang tertabrak selalu datang lewat tengah malam, ketika semua klinik tutup dan pemiliknya menyetir berputar-putar mencari lampu yang masih menyala. Ruangan disiapkan dengan dua meja, satu mesin anestesi bekas yang diperbaiki, dan jadwal jaga yang ditempel di pintu.
Dine tidak menjadi kepala tunggal. Jabatan itu diberikan kepada dokter yang memiliki pengalaman gawat darurat lebih panjang, seseorang yang tangannya jauh lebih tenang ketika darah tidak mau berhenti.
"Kamu tidak ingin namamu di papan?" tanya Nola.
"Aku ingin pusatnya bekerja ketika aku tidur."
Nola menatapnya sebentar, lalu mengangguk sambil menyeruput minuman dinginnya. Ia mengenal Dine cukup lama untuk tahu bahwa kalimat itu bukan kerendahan hati yang dibuat-buat, melainkan hasil dari bertahun-tahun bangun pukul dua pagi karena tidak ada orang lain yang bisa dipanggil.
Perubahan itu memberinya waktu pulang lebih teratur. Untuk pertama kalinya, Dine dapat mengambil dua hari libur tanpa memeriksa grup klinik setiap jam. Hari pertama tangannya masih otomatis meraih ponsel setiap dua puluh menit; hari kedua ia baru membukanya menjelang sore, dan mendapati semuanya sudah diselesaikan tanpa dirinya.
Rasanya campur aduk. Ada lega, ada pula sedikit hampa yang tidak berani ia akui keras-keras. Ia membiarkan perasaan itu lewat dan tidak menjadikannya alasan untuk menelepon siapa pun.
Pada hari kedua ia sempat duduk lama di teras, memperhatikan Dre mengejar bayangan daun di lantai, dan menyadari ia tidak ingat kapan terakhir kali melakukan hal sesederhana itu. Tubuhnya terasa berat dengan cara yang berbeda dari lelah bekerja, seperti orang yang baru berhenti berlari dan baru sempat merasakan kakinya sendiri.
Di rumah, ia dan Bian memasak bersama. Dapur berbau bawang yang terlalu lama di wajan, dan uap dari panci menempel di jendela. Saus kembali terlalu asin, tetapi kali ini Bian tidak menyalahkan resep. Ia hanya menambahkan air, mengangkat bahu, lalu mencicipinya lagi dengan wajah orang yang siap menerima kekalahan.
"Animalia tumbuh tanpa menjadi milik Emery," kata Dine.
"Dan Emery belajar bekerja sama tanpa membeli semuanya."
Mereka berdiri berdampingan di depan kompor, bahu bersentuhan, tidak buru-buru menyudahi kalimat itu. Di luar, hujan mulai turun tipis dan suara air yang jatuh ke atap seng tetangga terdengar seperti tepuk tangan yang malas.
Dre mengeong meminta makan, mengakhiri percakapan mereka dengan cara yang tidak bisa dibantah. Ia menggosokkan badannya ke kaki Dine, lalu ke kaki Bian, adil kepada keduanya. Rumah itu tetap memiliki satu penghuni yang tidak peduli tata kelola perusahaan.